
Kalila berdiri di depan pintu apartemen lamanya. Apartemen yang ia beli dengan menjual sebagian aset pemberian mertuanya. Wanita itu lalu menekan empat digit kode akses yang ada di kenop pintunya. Bunyi bip bip terdengar dan pintu itu pun terbuka. Tanpa ragu Kalila mendorongnya dan masuk ke dalam.
Senyum Kalila tersungging. Akhir-akhir ini suasana hatinya sangat baik. Rencana balas dendamnya mutlak dieksekusi dengan sempurna. Tawa kemenangan Kalila meledak dengan puas.
"Hahaha! Seperti inikah rasanya kemenangan?!" Seru Kalila bahagia.
Kalila lalu berjalan ke arah kamar mandinya. Cuaca sangat panas dan ia ingin menyegarkan dirinya sejenak dengan berendam di bathtub. Setengah jam kemudian, ia selesai mandi dan segera membungkus tubuhnya yang aduhai dengan piyama mandinya.
BIP BIP BIP BIP
Kalila menoleh ke arah pintu. Ia mendengar seseorang menekan kode aksesnya. Ada yang berusaha masuk ke dalam apartemennya. Matanya mengamati dengan saksama sosok yang akan membuka pintu.
"Niko?" Ucap Kalila senang.
Wajah pria itu makin cerah ketika melihat wanita yang dicintainya ada di hadapannya. Selama ini Niko sesekali berada di apartemen Kalila untuk membersihkan dan mengurusnya. Dan hari ini, sebuah kejutan menyenangkan bagi Niko untuk dapat melihat Kalila berdiri di depannya.
Dengan bersemangat, Niko mempercepat langkahnya dan memeluk Kalila yang menyambutnya dengan tangan terbuka. Keduanya berpelukan begitu erat dan Niko yakin air matanya sedikit menetes karena rasa rindu yang sangat memenuhi hatinya.
"Aku sangat merindukanmu, Kalila." Bisik Niko pelan.
Kalila membenamkan kepalanya di dada kokoh Niko. Ia mengangguk tanpa mengangkat kepalanya.
Entahlah, mungkin karena rasa kangen yang teramat sangat. Atau mungkin karena aroma segar Kalila yang baru saja mandi. Niko merasa sangat bergairah sekarang. Ia memegang dagu Kalila lembut dan mendongakkan wajahnya. Kalila menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Maukah kamu bercinta denganku, Kalila?" Tanya Niko hati-hati.
Kalila tidak menjawabnya. Alih-alih ia langsung menangkap bibir Niko dalam ciumannya yang sangat memabukkan. Permainan menjadi panas dengan begitu cepat. Niko menggendong Kalila masuk ke dalam kamarnya tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Sepersekian menit kemudian, keduanya sudah menyatu dalam pergolakan yang penuh gairah.
Di siang hari yang terik itu, hanya suara ******* Niko dan Kalila yang saling tumpang tindih memenuhi kamar. Keduanya benar-benar dimabuk cinta dan gairah, saling memadu kasih antara satu sama lain. Persatuan yang selama ini selalu mereka tahan untuk lakukan akhirnya terjadi. Dan Kalila tidak menyesalinya sedetik pun.
...****************...
Niko memeluk tubuh Kalila yang berbaring di sampingnya dari belakang. Ia mencium bahu terbuka Kalila. Mereka baru saja menyelesaikan permainan cinta yang begitu hebat dan kini keduanya hanya terbungkus selimut bersama.
"Apa kabarmu, Kalila?" Tanya Niko pelan.
Kalila membalikkan tubuhnya dan menghadap Niko. Senyumnya tersungging lembut di bibirnya. Tangan Kalila terangkat dan mengelus pipi Niko dengan penuh kasih sayang.
"Tidak pernah lebih baik dari ini, Niko." Jawab Kalila.
Kali ini Niko yang tersenyum bahagia. Akhirnya hari-hari yang ia lewati dengan rasa khawatir akan keselamatan Kalila akan segera berakhir. Hanna, satu-satunya wanita yang akan mengancam hidup Kalila sudah jatuh gila. Dan Darian, sekarang tergolek di kursi roda. Kondisi mereka sudah sangat aman sekarang.
"Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Niko sambil mengelus-elus kepala Kalila.
"Apa lagi? Tentu saja mengambil alih Bara Kahuripan, Niko." Jawab Kalila mantap.
Kalila lalu merapatkan dirinya dalam pelukan Niko yang berbaring di sisinya. Kini wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Keduanya dapat merasakan tatapan intens satu sama lain yang seolah membakar akal sehat mereka.
"Dan untuk itu aku butuh bantuanmu." Sambung Kalila serius.
Niko terkekeh.
"Apa yang bisa kulakukan untukmu, Kalila Sayang?" Balas Niko sembari menatap mata Kalila yang indah.
Kalila tersenyum lagi. Lagi-lagi senyum misterius yang sulit ditafsirkan itu.
"Tentu saja kita harus menggulingkan sang raja."
Niko memandang Kalila tidak mengerti.
Kalila menggeleng.
"Tidak. Sesuatu yang lebih sederhana dari membunuh." Ucap Kalila.
"Apa itu?" Tanya Niko makin penasaran.
"Membuat Darian buta."
...****************...
Darian baru terbangun dari istirahat siangnya. Entah mengapa, sekarang ia sangat sering merasa ngantuk. Terlebih lagi setelah makan masakan Kalila. Bahkan tidurnya bisa mencapai empat jam lebih. Sesuatu yang tidak pernah dilakukan Darian ketika ia masih sehat.
"Mungkin karena kondisi tubuhku yang buruk setelah kecelakaan." Gumam Darian mencoba menjawab pertanyaannya sendiri.
Begitu positif pikiran Darian jika hal itu menyangkut Kalila. Yang ia tidak tahu adalah Kalila selalu mencampurkan obat tidur dalam makanannya. Agar Darian tidak akan bergerak kemana-mana dan terkurung dalam rumahnya. Sementara Kalila dapat menjalankan rencana balas dendamnya.
Darian menegakkan tubuhnya dan meregangkan kedua tangannya. Ia melirik jam dan terkesiap. Ini adalah tidur siang terlama yang pernah ia lakukan. Seingatnya tadi waktu masih menunjukkan pukul 12 namun sekarang hari sudah mulai senja. Berarti Darian tidur selama enam jam! Wajar saja kepalanya terasa sangat sakit.
Darian menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Mencari sosok Kalila yang ia kira akan menunggu di sisinya. Ia lalu meraih ponselya dan mencoba menghubungi kekasihnya itu. Beberapa kali nada tunggu berdering, suara Kalila terdengar menyambut panggilan itu.
"Halo, Sayang?" Sapa Kalila lembut.
"Kamu dimana? Kenapa tidak ada di kamar?" Tanya Darian langsung.
Kalila terkekeh kecil.
"Aku di bawah, Ian. Sedang memasak makanan untuk makan malammu." Ujar Kalila.
"Hmm, baiklah. Kalau sudah selesai, segera ke kamar ya. Aku merindukanmu, Sayang." Pinta Darian manja.
Kalila mengiyakan permintaan Darian dengan ceria. Wanita itu segera mematikan panggilan dan menutup pintu depan rumah. Semua kata-katanya adalah bohong. Kalila bahkan baru sampai di rumah sehabis menemui Niko tadi. Tapi mana mungkin Darian tahu? Pria itu saja hanya bisa berbaring di kasurnya seharian.
"Sudah pulang, Kalila?" Sapa Bu Yati melihat Kalila yang melangkah masuk ke rumah. Wajahnya begitu berseri dan siapapun bisa menebak bahwa Kalila habis bersenang-senang dengan seseorang.
"Sudah, Bu. Bu Yati sudah memasak?" Tanya Kalila seraya menyembunyikan tasnya di dapur.
"Sudah, tapi mungkin tidak terlalu mirip dengan rasa masakanmu. Aku khawatir Darian akan curiga." Jawab Bu Yati sedikit gugup.
Kalila tertawa kecil.
"Tenang saja, Bu. Pria bodoh itu bahkan tidak bisa membedakan rasa jahe dan kencur. Bagaimana mungkin dia bisa membedakan masakanku dan masakanmu?" Ejek Kalila.
"Tapi tetap saja. Lebih baik kamu memeriksanya lagi. Kita harus tetap teliti, bukan?" Usul Bu Yati.
Kalila mengangguk dan mengambil sendok. Ia mencicip masakan Bu Yati dan menambahkan beberapa bumbu agar masakan itu mirip seperti buatannya. Kalila lalu mengambil sebuah botol kecil yang ada di sakunya. Bu Yati menatapnya dengan tatapan bingung.
Dengan lihai, Kalila mengambil sebutir kapsul dan membukanya. Ia lalu menaburkan bubuk di dalam kapsul itu ke dalam makanan Darian.
"Benda apa yang kamu masukkan itu?" Tanya Bu Yati penasaran.
"Ini?" Balas Kalila sembari mengangkat botol itu sejajar matanya.
Bu Yati mengangguk. Lalu Kalila tersenyum puas.
"Ini adalah tiket emas kita menuju kemenangan, Bu."