
Darian baru saja sampai di rumahnya ketika ia menerima pesan dari Kalila. Hatinya kacau ketika ia membaca pesan itu. Pikirannya kalut dan berkecamuk. Darian terus bertanya-tanya mengapa Kalila tiba-tiba mengirimkan pesan seperti ini.
Maafkan aku tapi sepertinya aku harus membatalkan janjiku untuk menjamumu, Ian. Aku akan membayar tas yang telah kamu belikan untukku. Aku mohon jangan hubungi aku lagi, Ian.
Darian bingung. Rasanya ia ingin langsung berlari ke apartemen Kalila dan menanyakan maksud dari pesannya ini. Namun Darian mengurungkan niatnya. Mungkin lebih baik jika ia memberikan waktu sejenak untuk Kalila berpikir kembali.
Darian masuk ke rumahnya dan mengira Hanna akan menunggunya di ruang tamu seperti biasa, namun anehnya malam ini Darian tidak melihat isterinya disana. Ia bahkan tidak menemukan istrinya di seluruh penjuru rumah.
"Bi, kemana Hanna?" Tanya Darian pada salah satu asisten rumah tangganya.
"Nyonya pergi sejak pagi dan belum pulang hingga sekarang Tuan. Tapi Nyonya tidak memberitahu akan pergi kemana." Jawab asisten rumah tangganya.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tak lama setelah menanyakan keberadaan Hanna, istrinya lalu pulang ke rumah. Darian yang melihat Hanna memasukki rumah langsung bertanya kepada istrinya itu.
"Darimana saja kamu?" Tanya Darian datar.
"Aku dari rumah temanku." Jawab Hanna berbohong.
Darian yang tidak curiga sedikit pun tidak ambil pusing meskipun isterinya berbohong. Sekarang yang ada di pikiran Darian hanyalah Kalila. Ia merasa tidak tenang karena pesan yang dikirimkan Kalila tadi dan Darian akan memastikan sendiri maksudnya dengan Kalila secara langsung.
Keesokan harinya, Darian langsung mendatangi apartemen Kalila tepat setelah ia pulang dari kantor. Darian tidak bisa berlama-lama terus mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Kalila. Ia harus mengetahuinya secara langsung dari wanita itu.
"Kalila? Kamu ada di dalam?" Tanya Darian sembari menekan bel apartemen Kalila.
Tidak ada sahutan.
Darian menekan bel itu sekali lagi. Tapi sama. Tidak ada jawaban dari penghuni unit itu. Tadi satpam yang menjaga apartemen Kalila dengan jelas mengatakan bahwa Kalila ada di rumahnya. Jadi seharusnya ada seseorang yang membuka pintu ini sejak tadi.
Tiba-tiba rasa khawatir menyergap pikiran Darian. Bagaimana jika ada sesuatu yang terjadi pada Kalila? Wanita ini tinggal sendirian dan tidak menutup kemungkinan ia sedang tergolek tidak berdaya di kamarnya. Darian segera meminta agar kepada pihak apartemen Kalila untuk memberikannya kunci cadangan agar Darian dapat masuk ke apartemen Kalila.
"Maaf, Pak. Tapi kami tidak bisa melakukannya. Kunci apartemen adalah privasi penghuni unit." Ujar salah satu karyawan yang bertugas.
Darian memutar akalnya. Bagaimana caranya agar ia bisa masuk ke apartemen Kalila? Ia khawatir sekali dengan wanita itu.
"Tapi saya adalah tunangan Kalila. Saya khawatir terjadi apa-apa dengannya karena ia tidak membuka pintunya sejak tadi." Ucap Darian berbohong.
Akhirnya setelah diskusi alot dengan pihak apartemen dan keamanan, Darian berhasil mendapatkan kunci cadangan ke apartemen Kalila. Tentunya dengan sedikit uang pelicin agar mereka tutup mulut. Dengan sigap Darian berlari ke unit Kalila lagi. Pintu terbuka dan Darian tidak melihat siapapun disana. Pikirannya makin tidak karuan. Setelah pesan membingungkan semalam, sekarang Kalila menghilang entah kemana.
"Siapa kamu?!" Seru seorang wanita dari arah belakang Darian.
Darian kenal suara itu. Suara Kalila. Wanita yang selalu ia pikirkan akhir-akhir ini. Darian menoleh dan ia melihat Kalila berdiri disana. Hanya menggunakan handuk yang diikatkan di tubuhnya.
"Ian? Bagaimana kamu bisa masuk?" Tanya Kalila tidak percaya.
"Ah, aku bisa menjelaskan semuanya, Kalila." Ucap Darian tergagap.
Lalu Kalila tersadar bahwa tubuhnya hanya tertutup selembar handuk yang pendek. Kalila buru-buru menutupi tubuhnya dengan tangannya dan mencegah Darian berjalan ke arahnya.
"Berhenti disana! Jangan mendekat, Ian. Aku akan berganti baju dulu." Ujar Kalila sambil berlari masuk ke kamarnya.
Darian hanya tertawa melihat tingkah wanita itu. Sungguh ternyata kepanikannya adalah sebuah reaksi yang berlebihan. Darian pikir sesuatu yang buruk terjadi kepada Kalila. Nyatanya Kalila hanya sedang mandi dan tidak mendengar suara bel yang berbunyi. Darian menertawakan ulahnya sendiri yang membuatnya tampak seperti orang dungu di depan Kalila.
"Bodohnya dirimu, Darian."
...****************...
"Astaga, Ian. Bagaimana bisa kamu masuk ke apartemenku?" Ujar Kalila sembari menyajikan segelas kopi tanpa gula pada Darian.
"Bagaimana kamu tahu kalau aku suka kopi tanpa gula?" Tanya Darian penasaran.
"Benarkah? Aku tidak tahu, Ian. Aku hanya membuatnya seperti yang biasa aku minum. Aku selalu minum kopi tanpa gula." Jawab Kalila.
"Astaga, aku tidak menyangka kalau kita memiliki begitu banyak kesamaan, Kalila." Ucap Darian.
"Ian, kamu belum menjawab pertanyaanku." Kata Kalila mengingatkan Darian.
"Oh iya, maafkan aku. Sebenarnya aku kesini untuk menanyakan maksud pesanmu semalam. Tapi aku jadi khawatir karena kamu tidak kunjung membuka pintu meskipun aku sudah membunyikan bel berkali-kali. Maafkan aku jika membuatmu kaget, Kalila." Jelas Darian.
Kalila hanya mengangguk-angguk sambil meneguk kopinya. Rambutnya yang basah hanya tersisir asal-asalan dan membuatnya tampak sangat seksi. Darian bahkan tidak bisa mengalihkan padangannya dari wanita itu. Terlebih lagi setelah ia melihat pemandangan Kalila hanya mengenakan handuk tadi.
"Jadi apa maksud pesanmu semalam, Kalila? Kenapa kamu tidak bisa menemuiku lagi?" Tanya Darian bingung.
"Aku yang harus bertanya kepadamu, Ian. Kenapa kamu berbohong kepadaku soal statusmu. Kamu bilang kalau kamu belum beristri, tapi nyatanya tidak kan." Balas Kalila.
"Apa maksudmu Kalila?" Darian kembali bertanya pada Kalila.
"Kemarin istrimu datang kesini. Ia menamparku dengan keras di koridor apartemen. Ia menunjuk-nunjuk dan menuduhku sebagai perusak rumah tangga orang. Bagaimana bisa aku tahu kalau pria yang pergi denganku sudah memiliki istri? Kamu saja berbohong kepadaku, Ian." Ucap Kalila lagi.
"Dia mempermalukan aku di depan setiap penghuni apartemen. Menuduhku dengan kata-kata hina seolah aku ini telah merebutmu darinya. Hatiku sakit dan harga diriku terluka, Ian." Sambung Kalila melebih-lebihkan kejadian yang sebenarnya terjadi.
Darian berang. Berani-beraninya Hanna mempermalukan Kalila di depan orang ramai? Tangan Darian mengepal karena emosi. Kalila melihat perubahan ekspresi Darian dan ia merasa menang di dalam hati. Langkah keduanya sudah hampir berhasil.
"Dan aku sudah berjanji kepada Hanna untuk tidak akan menemuimu lagi, Ian. Aku tidak bisa terus menerus menemui suami orang." Tutur Kalila.
"Tapi kenapa Kalila? Kenapa kamu tidak bisa menemuiku? Hanna tidak ada kaitannya dengan hubungan kita." Bujuk Darian berharap agar Kalila merubah pikirannya.
"Karena aku mencintaimu, Ian!" Seru Kalila berusaha membuat Darian mengerti.
Darian terhenyak mendengar kata-kata Kalila. Di satu sisi hatinya melonjak kegirangan karena sudah berhasil membuat Kalila mencintainya. Dan di sisi lain, ia takut Kalila benar-benar akan meninggalkannya.
"Apa katamu, Kalila? Kamu mencintai aku?" Ulang Darian lagi.
Kalila mengangguk. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena Kalila tidak ingin Darian melihatnya menangis.
"Iya, aku mencintaimu. Tapi aku tidak bisa mencintai seorang pria yang beristri, Ian. Itu hanya akan menyakitiku karena pada akhirnya pasti kamu akan memilih untuk kembali pada istrimu." Ucap Kalila sambil tersedu menangis.
Darian mendekat ke samping Kalila. Ia lalu memeluk Kalila dengan erat. Mencoba menenangkan tangisnya.
"Aku juga mencintaimu, Kalila. Walaupun kita baru bertemu beberapa kali, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Kamu selalu ada di kepalaku setiap saat, Kalila. Dan aku sadar aku juga telah jatuh cinta kepadamu. Jadi aku mohon jangan tinggalkan aku, Kalila." Ucap Darian sambil menatap dalam ke arah Kalila.
"Tapi bagaimana dengan istrimu, Ian? Aku tidak mau dipermalukan lagi seperti kemarin. Lebih baik aku memendam cintaku sendirian daripada harus dicap sebagai perebut suami orang." Tutur Kalila pelan.
"Jangan khawatir, Kalila. Aku akan melindungimu dari siapapun bahkan Hanna sekalipun. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita berdua. Aku akan membuat Hanna menerimamu bagaimanapun juga." Ujar Darian sembari menangkup wajah Kalila dengan tangannya dan menatap mata wanita itu serius. Jempolnya mengusap air mata yang mengaliri pipi indah Kalila.
"Benarkah? Kamu janji, Ian?" Tanya Kalila.
Darian tersenyum pada Kalila.
"Iya, aku janji."
Kalila tersenyum bahagia dan memeluk Darian dengan erat. Bagai mendapat durian runtuh, hati Kalila penuh oleh rasa bahagia atas kemenangannya. Namun bukan karena ia menang atas cinta Darian. Tapi karena rencana keduanya berjalan dengan mulus.
Oh, Darian. Seandainya kamu tahu bahwa aku adalah mimpi burukmu.