Wanita Buronan

Wanita Buronan
Vonis


Tak peduli betapapun Kinanti mati-matian membela dirinya, tampaknya hasil dari pertarungan ini sudah di tetapkan sejak awal. Bahkan dengan bantuan pengacara sahabat ayah mertuanya, tidak banyak yang bisa dilakukan untuk membebaskan Kinanti. Setiap bukti dan kesaksian mengarah pada Kinanti. Seolah setiap potongan puzzle itu disusun dengan rapi oleh pemain yang handal.


Hari ini adalah hari dimana persidangan terakhir Kinanti akan dilaksanakan. Selama tiga bulan terakhir persidangannya dilakukan dengan jeda yang singkat seolah kasus ini memang harus selesai secepatnya. Dan hari ini vonis terhadap nasib Kinanti selanjutnya akan dibacakan. Kelanjutan hidup Kinanti akan ditentukan hari ini. Entah ia akan menjadi manusia bebas yang bisa hidup seperti semula atau terkurung di balik jeruji tahanan selama sisa hidupnya.


Dengan susah payah Kinanti melangkahkan kakinya menuju ruangan persidangan. Kehamilan bayi kembarnya sudah memasukki usia delapan bulan. Seorang wanita normal bahkan akan kesulitan untuk sekedar bangun dari tempat tidurnya. Tapi Kinanti malah harus berjalan menuju kursi pesakitan dengan membawa perutnya yang semakin besar.


Pengacara Kinanti berjalan di sampingnya sambil menggandeng Kinanti. Pria tua itu seumuran Bapaknya. Pengacara tua bernama Binsar Hutapea. Ia sangat perhatian pada Kinanti sejak awal mula persidangan hingga sekarang. Mungkin pengacara tua itu teringat dengan putrinya yang seumuran Kinanti.


"Berat sekali hidupmu, Nak." Ucap Pak Binsar saat pertama kali bertemu Kinanti.


Dari awal bertemu saja Pak Binsar sudah tahu bahwa para polisi menangkap orang yang salah. Pengalamannya bertahun-tahun memberikannya kemampuan untuk membedakan mana yang penjahat dan mana yang bukan hanya dengan sekali lihat. Dan Pak Binsar yakin Kinanti tidak termasuk dalam golongan yang pertama. Keadaan lah yang menjebak Kinanti hingga dia harus terperosok sedalam ini sendirian.


"Kamu yakin hari ini bisa ikut sidang, Nak?" Tanya Pak Binsar sambil menuntun Kinanti berjalan melewati koridor pengadilan.


Kinanti berhenti sejenak. Nafasnya terengah-engah membawa beban tubuhnya yang semakin berat. Ia menatap Pak Binsar sambil tersenyum.


"Bisa, Pak. Bapak kan ada bersama saya jadi saya yakin pasti saya bisa melewatinya." Ucap Kinanti mantap.


Pak Binsar hanya tersenyum iba melihat anak muda di depannya ini. Bagaimana bisa wanita seumuran Kinanti sudah menghadapi masalah seberat ini? Usianya bahkan belum genap tiga puluh tahun tapi Kinanti sudah menjadi terpidana pembunuhan berencana mertuanya sendiri. Hati Pak Binsar remuk melihat Kinanti yang sedang hamil tua harus melewati berbagai cobaan dalam hidupnya.


"Suamimu mana, Nak? Kenapa Bapak tidak pernah melihatnya?" Tanya Pak Binsar sambil duduk di sebelah Kinanti.


Mereka duduk di kursi yang ada di luar ruang sidang. Menunggu namanya dipanggil untuk mengikuti persidangan.


"Entahlah, Pak. Saya juga tidak tahu. Mungkin sekarang dia sedang berpesta dengan kekasihnya." Jawab Kinanti pelan.


Sejak Kinanti ditangkap dan ditahan oleh polisi, Darian memang tidak pernah sekalipun menjenguk Kinanti. Jangankan menjenguk, menelepon untuk sekedar menanyakan kabar Kinanti saja Darian tidak pernah melakukannya. Sungguh kejam sekali Darian. Teganya ia meninggalkan istrinya yang sedang mengandung begitu saja padahal ia tahu Kinanti sangat membutuhkannya.


Setiap bertemu Kinanti, Pak Binsar selalu mempelajari fakta baru tentang wanita muda ini. Dan setiap saat itu pula rasa ibanya semakin besar. Ingin sekali rasanya ia menolong Kinanti bebas dari segala tuduhan. Tapi tidak peduli sekeras apapun ia mencoba, setiap pembelaan dan saksi yang ia ajukan selalu ditolak mentah-mentah. Seolah setiap persidangan sudah diatur alurnya dan ditentukan hasilnya oleh seseorang.


Seorang wanita berseragam panitera keluar dari ruangan dan memanggil nama Kinanti.


"Ibu Kinanti Anindira, silahkan masuk untuk mengikuti persidangan." Ucap wanita itu.


Kinanti menatap Pak Binsar dengan harapan yang sudah hampir hangus. Dengan sisa senyuman terakhirnya, Kinanti mengucapkan harapannya pada Pak Binsar.


"Semoga hasil yang diberikan adalah yang terbaik ya, Pak."


Pak Binsar hanya dapat tersenyum dan mengelus kepala Kinanti dengan penuh perhatian.


"Semoga ya, Nak."


...****************...


Palu sudah diketuk tiga kali dan vonis sudah dijatuhkan. Kinanti resmi menjadi terdakwa atas pembunuhan berencana terhadap kedua mertuanya. Karena berbagai pertimbangan dari hakim, Kinanti hanya dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara. Itu berarti Kinanti harus mendekam selama sepuluh tahun di balik jeruji besi atas kejahatan yang bahkan tidak pernah ia pikirkan.


Kinanti terduduk lemas mendengar keputusan hakim. Tidak pernah ia mengira bahwa keputusan sederhana untuk menikahi pewaris tunggal Bara Kahuripan akan membawa hidupnya pada kesengsaraan seperti ini. Kinanti kira ia akan hidup dalam gelimang harta dan kehidupan yang serba penuh dengan kenyamanan. Namun kini ia harus menghadapi kenyataan pahit masuk dalam catatan hitam sebagai seorang kriminal.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" Tanya Pak Binsar khawatir.


Pak Binsar merasa prihatin. Hatinya hancur melihat perempuan muda ini harus melalui kehidupan yang sangat pahit dan terjal.


"Kita masih bisa mengajukan banding, Nak." Ucap Pak Binsar mencoba menghibur Kinanti.


Kinanti menggeleng lemah.


"Saya sudah tidak sanggup lagi, Pak. Saya tidak punya uang sebanyak itu untuk melanjutkan sidang dan saya tidak punya siapapun lagi di sisi saya untuk membela saya." Balas Kinanti lemah.


Semuanya sudah pupus menjadi abu. Segala impian, harapan, dan cita-cita yang pernah Kinanti bayangkan telah hangus terbakar api yang tak terlihat. Kini tidak ada apapun di masa depannya selain kegelapan. Setelah menderita karena hidup dalam belenggu kemiskinan selama masa kecilnya, kini Kinanti masih harus merasakan pahitnya hidup di balik penjara. Entah apakah hidup yang memang tidak adil atau Kinanti saja yang ditakdirkan bernasib buruk.


Dua orang sipir wanita menghampiri Kinanti dengan wajah mereka yang tampak sangar.


"Ayo Saudari Kinanti, Anda harus ikut kami untuk pindah ke lapas." Ucap salah satu sipir wanita sambil menarik Kinanti yang pasrah.


Pak Binsar merasa tidak setuju dengan perlakuan itu. Tangannya dengan sigap mencegah kedua sipir tersebut berlaku kasar pada Kinanti.


"Saudara Kinanti tetap tidak kehilangan hak asasinya sebagai manusia. Saya mohon Anda harus tetap memperlakukan dia dengan hormat." Ucap Pak Binsar tegas.


Kinanti menurunkan tangan Pak Binsar yang menghalanginya untuk dibawa. Mulutnya mengisyaratkan Pak Binsar untuk menyudahi perlawanannya. Sejujurnya energi Kinanti sudah terkuras habis dalam pertarungan ini. Ia hanya bisa pasrah menjemput nasibnya.


Kedua sipir itu menggiring Kinanti keluar dari ruangan sidang dan berjalan menuju mobil tahanan yang terparkir di belakang gedung. Di tengah perjalanannya, seorang pria tampan bertubuh atletis berdiri di hadapan Kinanti. Seorang wanita cantik dengan wajah blasteran ada di sampingnya dan menggandeng pria itu dengan mesra. Kinanti kenal benar siapa kedua orang yang berdiri di hadapannya.


"Darian? Hanna? Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Kinanti.


Kedua orang itu tersenyum penuh makna menatap Kinanti yang telah diborgol. Sang pria mendekat beberapa langkah ke arah Kinanti.


"Terimakasih untuk pengorbananmu ya, Kinan." Ucap Darian sambil berbisik pada Kinanti.


Kinanti terperanjat. Pengorbanan apa? Apa maksud Darian?


"Apa maksudmu, Mas?" Tanya Kinanti meminta penjelasan.


"Berkat kamu, aku bisa mendapatkan semuanya. Aset kedua orangtuaku, asetku, Bara Kahuripan, dan bahkan sebentar lagi aku akan menikahi Hanna. Wah, apa yang bisa aku lakukan tanpamu, Kinan? Tampaknya aku berhutang besar padamu." Kata Darian sambil tersenyum mengejek.


"Semua ini? Seluruh kekacauan ini adalah ulahmu dan Hanna? Kalian yang membunuh Papa dan Mama lalu menjebakku?" Teriak Kinan marah.


Hanna tertawa dan berjalan menghampiri Kinanti juga.


"Tidak, bukan kami yang melakukannya. Semuanya adalah takdir, Kinanti. Sayangnya takdir memberikan kartu yang buruk untukmu. Sangat buruk." Ujar Hanna sambil memandang Kinanti rendah.


Kinanti marah. Ia kesal dan ingin menerjang kedua monster di depannya ini. Semua kekacauan dan masalah ini adalah perbuatan mereka? Tapi kenapa? Apakah hanya karena mereka ingin menyingkirkan Kinanti? Apakah sebesar itu rasa benci Darian hingga ia rela mengorbankan nyawa kedua orangtuanya hanya untuk menendang Kinanti dari hidupnya? Bahkan jika Darian memintanya langsung, Kinanti akan dengan sukarela pergi dari kehidupan Darian!


Kinanti berontak dan ingin menyerang Darian namun kedua sipir yang bersamanya langsung memegangnya dengan kuat. Menariknya menjauh dari Darian dan membawanya paksa ke dalam mobil tahanan. Mata Kinanti masih menatap nanar ke arah dua orang manusia keji yang kini ada di belakangnya. Mereka berdua tertawa lepas seolah telah memenangkan sebuah taruhan besar.


Api amarah menelan Kinanti bulat-bulat. Mulai hari ini, ia bertekad akan mengungkap kebenaran yang ada dan membalaskan kematian kedua mertuanya. Meskipun itu berarti tangannya harus kotor dan berlumur darah.