Wanita Buronan

Wanita Buronan
Rencana Hanna


Kalila benar-benar terus mengganggu pikiran Hanna akhir-akhir ini. Bukan hanya ia berhasil masuk ke dalam hubungannya dan Darian. Kalila bahkan bisa membuat Darian untuk tidak pulang ke rumah. Sudah dua minggu ini Darian tidak pulang menemui Hanna sama sekali. Dan Hanna sudah tahu pasti kemana suaminya pergi. Kemana lagi jika bukan ke tempat selingkuhannya yang baru.


Dan Hanna tidak bisa diam saja melihat Darian pergi ke pelukan wanita lain. Hanna bukanlah Kinanti yang tidak bisa melawan. Hanna adalah wanita tangguh dan licik. Ia mampu menghancurkan setiap orang yang mengancam kebahagiaan dan keinginannya.


"Nyonya, apakah Nyonya mau saya buatkan sesuatu?" Tanya asisten rumah tangga Hanna berhati-hati.


Hanna melirik wanita tua itu dengan tatapan dingin.


"Buatkan saya sarapan sekarang." Jawabnya ketus.


Sedari tadi Hanna terus menerus memutar otaknya. Bagaimana caranya agar ia bisa menyingkirkan Kalila dari hidup Darian? Hanna mengira hidupnya akan aman dan damai ketika sudah menjadi istri sah Darian. Tapi siapa yang mengira ternyata Hanna mau tidak mau harus menggunakan sisi kriminalnya lagi. Sisi yang sudah lama ia pendam semenjak menjadi Nyonya Darian Chatra Wijaya.


Asisten rumah tangganya lalu menyajikan sepiring nasi goreng dan segelas kopi pada Hanna. Hanna menyendoknya ke mulutnya dengan kesal karena ia tidak kunjung menemukan rencana yang bagus. Seolah otaknya sudah tumpul karena terlalu lama hidup enak dan damai di dalam istana milik Darian. Hanna mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Kepalanya terus mencari solusi yang paling efektif untuk masalahnya.


Tiba-tiba sebuah ide cemerlang terlintas di kepala Hanna. Senyum liciknya tersungging. Ia yakin benar rencananya ini akan berhasil.


...****************...


Kalila memasangkan dasi Darian dengan rapi di lehernya. Senyumnya mengembang manis membuat hati Darian berbunga-bunga. Darian lalu mendaratkan ciuman lembut di puncak kepala kekasih barunya itu.


"Kamu bahagia denganku, Sayang?" Tanya Darian lembut.


Kalila menatap Darian lamat-lamat. Tentu saja ia bahagia. Sebentar lagi Darian dan Hanna akan jatuh dalam lubang yang mereka buat. Tidak lama lagi, balas dendam Kalila akan mutlak terlaksanan.


"Bahagia, Sayang. Aku bahagia sekali bisa bersama kamu." Jawab Kalila tersenyum palsu.


Kalila lalu memeluk erat Darian dan membenamkan kepalanya di dada Darian yang bidang. Pria itu balas melingkarkan tangannya di pinggang Kalila dan membenamkan hidungnya di rambut Kalila yang wangi.


"Bisakah kamu tidak usah bekerja hari ini?" Pinta Kalila dengan manja.


Darian tertawa. Ia benar-benar sudah bertekuk lutut dibuat Kalila. Bahkan suara Kalila saja terdengar seperti musik yang sangat merdu baginya.


"Kalau aku bisa, aku sangat-sangat ingin melakukannya, Sayang. Kalau aku bisa, aku akan disini seharian bersamamu. Tapi maafkan aku, hari ini aku tidak bisa melakukannya. Ada rapat penting yang harus kulakukan." Ucap Darian sembari menangkup wajah Kalila yang kecil dengan kedua tangannya.


Kalila cemberut. Pura-pura merajuk untuk mencari perhatian Darian. Tapi pria itu malah tertawa dan mencubit hidung Kalila pelan.


"Aku benar-benar harus pergi ke kantor sekarang, Kalila Sayang. Berhenti memelukku seperti ini ya." Ucap Darian lembut kepada Kalila yang masih memeluknya erat.


Tapi Kalila tidak menurutinya. Ia masih enggan melepaskan pelukan Darian.


"Lalu kalau kamu pergi dan aku kesepian disini, siapa yang akan menemaniku?" Tanya Kalila manja.


Darian semakin menjadi-jadi karena tingkah Kalila. Egonya sebagai seorang pria makin membesar melihat kekasihnya yang sangat manja kepadanya. Darian merasa Kalila benar-benar mencintainya dan tidak bisa hidup tanpanya.


"Aku berjanji akan segera pulang setelah rapat ini selesai, Kalila. Sejujurnya aku juga tidak bisa jauh darimu dalam waktu yang terlalu lama. Tapi untuk sekarang aku benar-benar harus pergi, Sayang. Izinkan aku ya?" Pinta Darian sambil tersenyum menatap Kalila.


"Huft! Sudahlah, kamu bisa pergi ke kantor sekarang. Biarkan saja aku mati bosan sendirian disini." Gerutu Kalila.


"Aku akan mengirimkan sesuatu untukmu nanti. Agar hatimu merasa lebih baik sambil menungguku pulang kantor." Ucap Darian sambil melangkah meninggalkan apartemen Kalila.


Kalila mengantarkan Darian ke pintu apartemennya dan melambaikan tangannya. Dalam hatinya ia berlonjak senang karena akhirnya pria sialan itu pergi dari rumahnya. Sungguh Kalila merasa jengah harus bersandiwara seolah mencintai Darian sepenuh hatinya. Namun walaupun tidak menyukainya, Kalila harus tetap melakukannya demi balas dendam.


...****************...


Ponsel Kalila berdering. Ia baru saja mendapatkan telepon dari resepsionis di lantai bawah yang mengatakan Kalila mendapatkan kiriman dari seseorang. Kalila berpikir itu pasti kiriman dari Darian. Pria itu sudah berjanji akan mengirimkan sesuatu untuk Kalila sebelum ia pergi ke kantor tadi.


Kalila lalu berjalan menuju lift dan turun ke lobby apartemennya. Ia menemui resepsionis yang tadi meneleponnya untuk mengambil kirimannya.


"Ibu Kalila, ini ada paket untuk ibu." Ucap resepsionis yang bertugas.


Kalila menerima paket itu.


"Dari siapa, Mbak?" Tanya Kalila penasaran.


"Tadi kurirnya bilang paket ini dari Pak Darian, Bu."


"Oh, dari Darian ya, Mbak. Baiklah, terimakasih ya Mbak." Ucap Kalila sambil berjalan meninggalkan lobi apartemennya.


Sesampainya di unitnya, Kalila segera duduk di ruang TVnya dan mulai membuka paket itu. Ia sangat penasaran apa isi paket yang dikirimkan Darian.


"Kue? Tumben sekali Darian mengirimkan aku kue." Gumam Kalila saat melihat isi paket itu.


Kalila mencoba menghubungi ponsel Darian karena ingin mengucapkan terimakasih kepada pria itu. Walaupun terasa janggal mendapatkan kiriman kue di hari biasa seperti ini, tetap saja Kalila dengan senang hati menerimanya. Karena Darian tidak mungkin memberikan sesuatu yang tidak enak untuknya bukan?


"Rezeki itu tidak boleh ditolak, Kalila." Gumamnya lagi.


Dengan cepat Kalila mulai membuka kemasan kue itu dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Kalila lalu memindahkan satu potong ke piringnya dan mulai menyendokkan ke mulutnya. Sesuap demi sesuap.


"Hmmm, kue ini enak sekali." Ucap Kalila sembari menikmati opera cake yang ada di piringnya.


Tanpa terasa satu potong kue sudah habis masuk ke perut Kalila. Ia lalu beranjak dari kasurnya untuk mengambil air minum di lemari pendingin. Namun tiba-tiba kepalanya menjadi sangat pusing dan perutnya sangat mual. Kalila tergopoh-gopoh berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


HUEK! HUEK! HUEK!


Kalila terduduk lemas di lantai kamar mandi. Ia yakin semua ini karena kue yang barusan ia makan. Karena sejak pagi Kalila belum mengkonsumsi apapun. Jadi sakit perut yang mendadak ini pasti karena kue kiriman itu. Namun Kalila tidak mengerti mengapa Darian mengirimkan kue yang buruk seperti itu kepada Kalila? Rasanya mustahil jika Darian ingin membunuhnya kan?


Kalila berjalan keluar kamar mandi untuk sekali lagi mengecek kue itu. Namun kepalanya kembali pusing. Lantai tempatnya berpijak terasa bergetar hebat seperti sedang gempa. Pandangannya terasa berputar-putar dan sangat sulit bagi Kalila untuk berdiri dengan seimbang.


BRUKKK!!!


Kalila tumbang dan jatuh pingsan. Hal terakhir yang ia ingat adalah dering ponselnya yang terus berbunyi. Entah siapa yang meneleponnya.