
Gadis kecil yang sedang bermain ayunan di taman itu mengernyit, ketika melihat papanya turun dari Land Cruiser jeep hijau. Dalam hati dia bertanya-tanya, 'bukankah papa ada di dalam rumah?' Dia berhenti bermain dan turun dari ayunan kemudian berlari menyambut sang papa.
Langkah gadis kecil itu surut. Pria itu bukanlah papanya, tapi wajahnya mirip.
“Kamu pasti Citra.”
Dari dalam rumah, papanya yang asli muncul. Kedua orang di depannya itu seperti cermin. Bedanya, pria yang baru saja datang tersebut memiliki bekas luka sayat di atas mata kirinya.
“Citra, ini Om Yudi. Saudara kembar papa, Om Yudi tugas di Papua. Jadi, baru sempat datang untuk berkenalan dengan kamu.”
Gadis kecil ini akhirnya paham, jika papanya ternyata memiliki saudara kembar.
Lamunan tentang masa lalu itu buyar, ketika rush-nya yang dikemudikan Haris berhenti di depan lahan proyek bekas kawasan kumuh tempat mendiang Anto pernah tinggal. Karena tidak memperoleh petunjuk apapun dari tempat itu, mereka pun bertolak ke rumah
Proyek pembangunan apartemen mewah milik perusahaan Arthasena mulai berjalan. Citra, Haris dan Jaka semakin kesulitan menyelidiki tempat itu karena kawasan kumuh kemarin, sudah penuh dengan alat berat.
“Menurut Dokter Hendrawan, Christian yang selama ini kita curigai bukanlah Christian yang asli.” Haris mengulang penjelasan Citra ketika di kantor tadi.
Pagi itu mereka kembali pada titik nol penyelidikan. Rumah bekas barista Ryz cafe alias sang peracik kopi kemasan ber-merk KopiKu itu, terowongan bekas proyek rel kereta, kemudian terakhir gudang tempat Jaka tertangkap saat menyelidiki Dokter Hendrawan.
“Sepertinya ... perihal kopi kemasan itu, pengiriman dalam jumlah besar menuju pada satu alamat yaitu gudang tempat Jaka tertangkap kemarin.” Haris menuturkan informasi yang ia peroleh dari mantan barista Ryz Cafe itu dan mengacungkan secarik kertas berisi alamat, sambil mengemudi.
Pembahasan tentang kopi itu tidak berlanjut. Mereka kembali hanyut dalam pikiran masing-masing, hingga mobil itu parkir di depan sebuah bangunan gudang kosong. Gudang tempat Jaka tertangkap oleh para psikopat itu.
Ketiga petugas polisi itu turun, Citra memberi aba-aba untuk masuk dengan hati-hati ke dalam gudang tersebut. Kelihatannya, gudang itu sudah lama ditinggalkan. Mungkin sejak Jaka berhasil lari dan Dokter Hendrawan menyerahkan dirinya pada polisi.
Beberapa drum plastik berukuran besar terguling, begitu pula jerigen kosong yang berserakan di lantai. Haris mengangkat salah satu jerigen kosong itu, raut wajahnya berubah setelah mencium aroma menyengat dari jerigen kosong tersebut.
“Cairan formalin.” Haris menyodorkan benda kotak yang terbuat dari plastik itu kepada Citra.
Mereka terus masuk ke dalam gudang, tempat itu cukup gelap apalagi senja semakin memudar. Sebentar lagi malam akan menggantikan jingga di luar sana.
Suara benda jatuh terdengar dari tanah lapang di samping gudang yang berisi bangunan yang terbuat dari bekas kontainer. Citra segera berlari mencari asal suara itu. Tidak ada seorang pun di sana.
Namun, kobaran api muncul dari salah satu bekas kontainer yang terlihat berbeda dari yang lain. Bangunan itu memiliki jendela, terlihat jelas jika mereka sering menggunakan tempat tersebut.
“Hubungi pemadam!” perintah Citra pada Haris dan Jaka. Ekor matanya menangkap sekelebatan bayangan hitam yang berlari ke arah berlawanan dari gudang.
“Berhenti!” Citra berteriak sembari mengejar sosok tersebut, Jaka mengikuti Citra sementara Haris siaga menunggu bantuan datang. Sosok misterius itu terus berlari ke arah tepian sungai.
Dorr!
Citra terpaksa melepaskan tembakan peringatan, tapi tidak dihiraukan. Dia terus berlari menuju ke mobil van hitam yang terparkir di ujung bantaran itu. Tidak ingin buruannya lepas, Citra terpaksa membidik kaki orang tersebut.
Dorr!
Tembakan itu tepat mengenai betisnya, lagi-lagi orang itu tidak berhenti dan dia berhasil mencapai mobil van yang ternyata sudah siap untuk pergi sedari tadi.
“Sial!” Citra menendang batu yang di depannya sambil memaki.
Api itu perlahan padam, bangunan itu sudah hangus. Bara dan Citra masuk ke bangunan tersebut tanpa menghiraukan peringatan para pemadam.
“Sepertinya ini digunakan sebagai klinik atau laboratorium.” Bara berkata sambil menunjuk sekeliling tempat itu yang memiliki beberapa matras, tiang untuk menggantung infus dan juga tabung-tabung reaksi yang menghitam karena terbakar.
“Komandan!” Teriakan Haris menarik perhatian Citra. Dia pun bergegas menghampiri bawahannya tersebut.
Jari Haris menunjuk gundukan tanah janggal dan berjumlah cukup banyak di sisi lain bangunan yang terbakar tadi. Mereka berdua mendekati gundukan-gundukan tanah yang lebih mirip seperti kuburan massal.
Rasa penasaran Citra mendorong dirinya menggali salah satunya dengan sebatang linggis yang ada di dekat sana. Pemandangan mengerikan muncul setelah ujung besi itu menyentuh sesuatu dan Citra mencoba mengambil benda itu dengan tangannya.
Benda putih kusam itu dia jatuhkan kembali, tubuhnya limbung sehingga ia ikut jatuh terduduk di atas tanah.
“I—itu tu—lang manusia, Ndan.” Suara Haris bergetar seiring tubuhnya yang juga ikut gemetar.
“Panggil petugas forensik kemari!” perintah Citra, tapi Haris bergeming. “Cepat!” teriaknya kemudian.
“Si—siap, Ndan!” Haris bergegas lari dan memanggil petugas forensik termasuk Bara.
Ketika sampai di titik yang ditunjuk oleh Haris, para petugas forensik itu pun mulai menggali dibantu dengan petugas patroli yang ada. Semua orang diliputi aura kengerian karena yang mereka gali memang kuburan massal yang entah sudah berapa lama dibuat.
Bara menyusun tulang-belulang yang mereka temukan. Dia berseloroh dengan nada geram, “Gila. Mereka benar-benar orang yang tidak waras!”
“Satu lubang mereka gunakan untuk mengubur dua sampai tiga orang sekaligus. Bukan hanya itu, korban mereka tidak hanya orang dewasa. Lihat, kerangka ini milik seorang bocah yang setidaknya masih berusia sepuluh tahun!” Nada emosi tergambar jelas pada suara Bara yang bergetar. Dia menarik napas dan menggeretakkan giginya karena kesal.
Bisu, mereka yang terlibat dalam penggalian kuburan massal itu tiba-tiba membisu mendengar ucapan Bara. Pelaku ini lebih gila dari psikopat yang mereka tangani kemarin. Setidaknya Banyu Aji dan Faisal membunuh karena dendam. Mereka juga tidak melukai anak kecil.
“Dokter Bara, di sini ada dua jasad yang kelihatannya masih baru. Mereka baru akan mengalami pembusukan!” Salah seorang petugas forensik berteriak memanggil Bara mendekat ke tempatnya.
Citra dan Haris mengekor di belakang Bara, memang benar mayat yang dikubur itu terlihat masih lumayan utuh. Setidaknya Bara bisa mengautopsi jasad itu dengan sedikit lebih mudah.
“Bawa semua ke rumah sakit!” Bara memerintahkan para petugas itu membawa penemuan mereka untuk diperiksa. “Sepertinya aku akan kerja lembur lagi selama beberapa hari,” keluhnya sambil berlalu pergi.
“O, iya. Kau tahu apa yang aku temukan di sana?” Dia urung melangkah, kemudian berbalik dan bertanya pada Citra sembari menunjuk bekas kontainer yang terbakar tadi dengan ibu jarinya. Sementara yang ditanya hanya menatap dia dengan heran.
“Beberapa lembar kertas yang kelihatannya berisi formula entah itu obat-obatan atau racun.” Bara menjawab sendiri pertanyaannya.
Alis kedua petugas itu bertaut, 'apa sebenarnya yang sedang para psikopat ini cari? Apakah mereka terlibat dalam sindikat obat terlarang ataukah mereka adalah pedagang gelap organ tubuh manusia?' Banyak pertanyaan berkecamuk dalam benak Citra.
Paling tidak selain Dokter Hendrawan, mereka memiliki satu orang ahli lagi. Lantas apa sebenarnya tujuan mereka?
...----------------...
Akhirnya mereka semua kembali ke kantor dan lembur untuk memecahkan kasus ini segera. Saat Citra sedang membereskan berkas-berkas di meja, amplop coklat tanpa keterangan maupun nama menarik perhatiannya. Dengan hati-hati ia membuka segel amplop tersebut.
Beberapa lembar foto di dalam amplop tersebut, membuat kaki Citra tidak mampu menopang tubuhnya. Citra terduduk lemas di kursi kerjanya dengan tangan menggenggam erat selembar foto yang paling membuatnya syok.
...****************...