The Murderer

The Murderer
BAB 23 - Tentang Si Penakut (Revisi)


Pagi ini — rumah jagal milik Pak Freddy gempar dengan sesosok mayat gadis yang menggantung di kamar pendingin. Salah seorang pegawai rumah penyembelihan hewan itu pun langsung menghubungi pihak berwajib. Petugas yang tiba pertama kali di lokasi adalah Citra dan Banyu Aji karena Faisal sedang ijin untuk istirahat sebentar di apartemennya setelah selesai menemui Bara.


Melihat jasad itu, tubuh Citra agak limbung dan nyaris ia terjatuh, jika saja Banyu Aji tidak menopangnya.


"I—itu Bella, gadis yang kami cari selama ini ...." Citra berujar dengan lemas. Ia tidak mengerti mengapa Bella harus tewas juga.


Apa sang pembunuh merasa terancam dengan berita yang ditulis di Harian Mentari? Berarti Bella benar-benar mengenal orang itu, entah bagaimana gadis malang ini terlibat dengan psikopat itu. Keadaannya cukup membuat Citra merasa iba, raut wajah itu jelas menyiratkan rasa takut dan sakit.


"Kenapa bisa ...." suara Faisal tiba-tiba terdengar dari belakang mereka. Citra dan Banyu Aji menoleh bersamaan.


"Kami pikir kamu sedang istirahat?" tanya Banyu Aji kepada Faisal yang datang juga ke TKP, padahal sudah meminta ijin untuk istirahat selama beberapa jam.


"Siap! Saya kebetulan mendengar panggilan untuk Bara di laboratorium forensik, Ndan!"


"Lagi?" Kali ini Bara muncul di tengah-tengah mereka. Dia menunjuk mereka berdua dan menggelengkan kepala sambil berdecak sebal.


"Lagi-lagi kalian berurusan dengan gadis yang sudah mati! Bisakah kalian sesekali membawakan aku gadis yang manis dan masih bernapas tentunya?" Bara masih saja menggerutu dan berdecak. Meski begitu, ia selalu menyelesaikan laporan visum korban-korban itu sesuai tenggat waktu yang sudah ia janjikan bahkan lebih cepat.


"Gadis ini cantik. Sayang dia harus mati muda." Ia bergumam sendiri sambil mengambil beberapa gambar jasad sebelum diturunkan. Beberapa anggotanya sibuk menyisir tiap sudut ruang pendingin itu.


Bara menggantung kameranya di leher, ia kemudian ikut membantu beberapa petugas menurunkan jasad Bella dengan hati-hati. Karena suhu yang dingin itu, membuat jasad Bella sedikit membeku.


Ketiga petugas polisi itu berpencar sementara Bara nampak memicingkan mata, ia menangkap sesuatu yang berkilat di bawah lantai tempat jasad Bella tadi tergantung. Ia mendekati benda itu, ternyata sebuah kancing manset yang unik — jika bukan berasal dari jas, dia sudah pasti berasal dari jaket kulit atau kanvas. Jarang sekali jaket berbahan katun menggunakan kancing seperti itu.


"Cit ... Citra!" seru Bara memanggil Citra. Inspektur wanita ini menoleh dan mendatangi Bara, ia melihat dokter forensik itu — sedang memegang sebuah benda yang cukup kecil. Sekilas dia langsung tahu itu adalah sebuah kancing manset.


"Mungkin kancing ini tidak sengaja tersangkut dan lepas dari baju pelaku," ujar Bara.


"Aku pernah melihat kancing seperti ini, tapi di mana ya." Citra mengetuk-ketuk dahinya dengan jari. Ia berusaha mengingat, karena kancing seperti ini tidak asing untuknya.


Mereka kembali sibuk dengan tugas masing-masing, dan Citra membiarkan pikirannya melayang. Ia sedang mencoba menyelami pikiran sang pembunuh, jika saja ia mampu untuk memposisikan dirinya sebagai sang pelaku, mungkin ia bisa cepat memahami modus operandinya. Citra memejamkan mata mencoba konsentrasi.


"Kamu sedang apa?" tegur Banyu Aji membuat Citra nyaris terlonjak kaget dan dia tidak menjawab. Ia hanya mendelik galak pada rekan sejawatnya tersebut, mana mungkin dia mengatakan kalau sedang membayangkan jadi pembunuhnya.


"Citra!" Bara memanggil Citra lagi.


"Goresan ini — kamu tahu? Setelah sering berurusan dengan korban-korban si Tangan Tuhan itu, aku jadi bisa menebak samar alat yang ia gunakan, tapi ...." Alis Citra naik menanti Bara melanjutkan ucapannya, tapi dokter ini hanya mengusap-usap dagunya yang mulai ditumbuhi jenggot halus.


"Bercukurlah, penampilanmu sangat menyedihkan!" ejek Citra terkekeh.


Bara mencebik. "Memangnya karena siapa penampilan gantengku ini jadi tidak terawat — seharusnya aku mengambil cuti saja kemarin!" sindirnya melirik Citra yang masih terkekeh dan berusaha menghentikan tawanya.


"Tapi apa? Kamu belum meneruskan penjelasanmu tadi," tukas Citra. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada dan kakinya mengetuk-ketuk lantai.


"Aku belum yakin saja, kemungkinan pelakunya menggunakan pisau bedah, untuk membuat goresan itu," Bara akhirnya melanjutkan ucapannya.


"Pisau bedah? Berarti dia seorang dokter?" tanya Citra lebih meminta pendapat kepadanya.


Pria di sampingnya itu diam dan mengendik, reaksi Bara membuat Citra langsung terpikir jika pelakunya adalah Andrian. Namun, saat penculikan Angelica, dokter itu memiliki alibi yang kuat? Apakah tunangannya sengaja bekerja sama dengan Andrian?


Sesekali ia tampak mengacak-acak rambut pendeknya yang mulai memanjang itu, Banyu Aji diam-diam memperhatikan Citra, dia menatap Citra dengan tatapan penuh arti dari kejauhan dalam diam.


Hari ini sama saja seperti kemarin, mereka hanya menemukan mayat, dengan petunjuk dan bukti yang minim. Namun, penjelasan Bara tentang alat yang digunakan pembunuh itu untuk membuat goresan pada jasad, membuat Citra mengunci Andrian sebagai calon tersangka.


...----------------...


Hipotesis Bara tentang alat yang digunakan oleh pembunuh itu untuk menyayat dan membentuk salib terbalik serta kutipan ayat Al-Kitab adalah pisau bedah, membuat Citra semakin mencurigai ahli anastesi dari Rumah Sakit S tersebut.


"Saya tidak akan basa-basi lagi, dimana Anda berada dua hari belakangan ini?" tandas Citra tanpa intro ketika ia menemui Andrian di rumah sakit.


"Wow ... wow ... tunggu dulu, apakah saya sedang diinterogasi di ruang terbuka?" tanya Andrian sambil mengayun-ayunkan tangannya.


"Tolong jawab saja pertanyaan saya!" tegas Citra lagi. Andrian tampak menatap Citra dengan ketus, dia kemudian memberikan sebuah agenda kecil yang berisikan jadwal kegiatan dokter itu.


"Anda bisa lihat sendiri, dua hari ini jadwal operasi saya padat dan semalam saya masih berada di rumah sakit sampai detik ini!" jelas Andrian dingin. "Kalau tidak percaya ... silahkan tanya perawat ICU dan beberapa dokter yang saya bantu operasinya!" imbuhnya kali ini dengan nada suara kesal.


Sejak kemarin Citra menginterogasinya secara tidak langsung seolah dirinya itu adalah si tersangka, Andrian sangat tersinggung, hanya mentang-mentang dia adalah anak panti itu, lalu dia dianggap terlibat?


"Anak panti asuhan itu yang seusia dengan kita banyak di luaran sana, ya, saya memang diadopsi dari Panti Asuhan tapi bukan panti asuhan Benedict, melainkan Panti Asuhan Kasih Ibu, yang masih beroperasi sampai sekarang. Jika tidak yakin dengan penjelasan saya, silahkan temui pengurus panti di sana! Saya juga menjadi donatur tetap di panti itu!" tantang Andrian.


"Lantas kenapa nama Anda ada di daftar anak panti asuhan Benedict?!" cecar Citra dengan nada suara tinggi.


Andrian menghela napas panjang. "Coba Anda perhatikan baik-baik data tersebut! Saya dipindahkan ke Panti Asuhan Kasih Ibu tanpa alasan jelas oleh pendeta Ebenaizer!" Andrian bersikukuh. "Apa alasan Anda menginterogasi saya seperti ini seolah saya ini tersangkanya?" desak Andrian kepada Citra.


"Goresan yang membentuk salib terbalik dan kutipan ayat itu berasal dari pisau bedah. Anda adalah seorang dokter ahli yang keluar masuk ke ruang operasi!" papar Citra masih keras dengan pendiriannya.


Tak disangka Andrian malah tertawa terbahak-bahak, ia sampai memegangi perutnya. Sembari menyeka air matanya ia menatap Citra dengan tatapan serius. Mata coklatnya itu menatap lekat pada inspektur wanita ini.


"Tolong dengarkan saya, alasan Anda untuk menuduh saya itu sangat tidak jelas! Pertama saya ini ahli anastesi bukan ahli bedah dan anastesi tidak memerlukan pisau bedah, kedua temukan dulu pisau bedah itu, pisau itu memiliki nomer seri jika itu memang milik seorang dokter!" tegas Andrian.


Citra mengerutkan alisnya, tiba-tiba ia merasa sangat bodoh dan ia tidak berpikir jernih ketika akan menemui Andrian. Setelah perdebatan sengit itu, Citra meninggalkan Andrian yang mencibir melihat kepergiannya, pria ini pun kemudian kembali lagi ke ruangnya.


......................


Malam itu, hujan deras tiba-tiba mengguyur kota Manggala, Angelica masih terbaring dengan kondisi yang sama, ia terus saja menatap kosong langit-langit kamarnya.


Seseorang membuka pintu ruang rawat inap tempatnya dirawat dan kemudian menguncinya dari dalam. Mata Angelica membelalak ketika melihat orang tersebut berjalan mendekat ke arah ranjang tempat ia berbaring.


Tolong! To-tolong! Angelica hanya mampu berteriak dalam hati, sementara orang itu semakin dekat ke arahnya.


Akhirnya, orang itu pun berdiri di sisi ranjang Angelica. Bibir wanita ini masih kaku, tapi ketika ia menyadari siapa yang mendatanginya, ia menjadi sedikit lega. Seringai lebar di wajah orang tersebut membuat Angelica sadar sepenuhnya jika dialah orang yang membuat kondisinya seperti ini.


Orang ini pun mengambil bantal yang sedang dipakai Angelica dan membekap gadis itu tanpa belas kasihan. Kaki Angelica menendang-nendang dan berusaha memberontak, sampai akhirnya gerakan wanita ini menjadi lemah, dan ia pun berhenti bergerak, juga berhenti bernapas.


Setelah memastikan Angelica tewas, ia lalu mengambil sebuah pisau stainless yang ada di saku jaketnya. Ia menggoreskan salib terbalik di telapak tangan Angelica dan sebuah kutipan ayat dari Alkitab, sama seperti korban-korbannya dahulu.


Wahyu 21:8 (TB) Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua."


...****************...