
Charles memutus sambungan listrik rumah tersebut, walau mereka memiliki generator cadangan, pasti akan butuh waktu cukup lama untuk menyalakannya. Mata elang pria ini sudah terbiasa melihat dalam kondisi gelap, ia bisa langsung menemukan ruang kerja Pak Freddy.
Kenop pintu ruangan itu ia putar, di dalam ruangan yang disinari temaram cahaya lilin, Pak Freddy bisa melihat samar sosok asing yang sedang memasuki ruang kerjanya ini. Pria tua yang sedang dirundung duka karena baru saja kehilangan putrinya itu tidak berteriak dan seolah sengaja menunggu kedatangan orang tersebut.
"Kau yang telah membunuh putriku bukan?!" hardik Pak Freddy geram. Charles diam, ia mengunci pintu ruangan tersebut, lalu berjalan mendekati Pak Freddy sembari menyenandungkan satu melodi yang mampu membuat raut wajah Walikota itu jadi pucat pasi.
"Apa Anda masih ingat melodi lagu ini, Pendeta Ebenaizer yang terhormat?" desis Charles, ia dan mantan pimpinan panti asuhan Benedict itu — kini berhadap-hadapan.
"Lagu yang Anda nyanyikan jika bermain petak umpet dengan anak-anak panti yang tak berdosa itu," lirihnya lagi.
Kening pria yang sudah mulai keriput itu mengernyit, ia sadar betul jika sebenarnya panti asuhan itu hanyalah kedok belaka di masyarakat.
Di masa lalu — ia memperdagangkan mereka, memalsukan data para pengadopsi, bahkan ia mendengar selentingan kabar tentang beberapa anak perempuan yang diadopsi warga asing itu dijadikan pekerja **** komersial di bawah umur, ada juga beberapa anak laki-laki yang menjadi korban predator anak yang berkedok sebagai ayah angkat. Semua berjalan dengan memberi kompensasi yang besar untuk Ebenaizer pribadi dan bukan panti asuhan.
"Ingatkah kau dengan anak laki-laki yang tewas itu? Apakah ia bersalah karena memiliki kekurangan?" tanya Charles dengan suara serak. "Lantas seorang gadis kecil yang kau perkosa bersama Johan, sehingga ia akhirnya meninggal, karena luka infeksi di organ vitalnya. Tanpa ada rasa bersalah dari Anda dan b******n itu, kalian tutup mulut!"
"Lalu, anak-anak yang kau jual kepada para predator anak, jika mereka ada di hadapanmu sekarang, mungkin mereka akan dengan senang hati melihatmu meregang nyawa di tanganku!" racaunya.
Ia beralih ke belakang Pak Freddy dan mencengkeram bahunya dengan sedikit keras. Sebuah pisau bedah ia keluarkan dan menempelkannya di leher walikota ini. Tiba-tiba lampu ruangan menyala, terdengar suara berisik dari luar ruangan, para penjaga dan juga ajudan Pak Freddy menggedor pintu ruangan tersebut.
"Pak ... Pak Walikota! Anda baik-baik saja, Pak?!" seru seseorang dari balik pintu.
Mereka berusaha mendobrak pintu itu karena Pak Freddy tidak kunjung membukanya. Walikota ini berusaha melawan, ia ingin membuka kedok psikopat gila yang telah menimbulkan kekacauan dalam hidupnya. Leher Pak Freddy sudah sedikit tergores dan darah mengucur di logam stainless itu.
Dengan sedikit keberanian, meskipun tenaganya masih kalah kuat dengan Charles, ia menarik tangan kekar itu menjauh dari lehernya. Perlawanan Pak Freddy membuahkan hasil, walau pun ia hanya seorang pendeta, dulunya ia juga seorang pelatih taekwondo.
Senjata Charles jatuh, mereka bergulat dengan sengit di lantai. Tepat ketika ia mencekik Pak Freddy, pintu ruangan itu berhasil terbuka, Charles kemudian lari menuju jendela besar di belakang meja Pak Freddy dan melarikan diri. Sebelum ia melarikan diri, sang walikota berhasil menarik masker dan memukul keras bahu pria itu.
Petugas keamanan pun menelepon pihak kepolisian, tidak lama kemudian — petugas polisi datang untuk mengamankan rumah Pak Freddy.
"Bisa jelaskan kronologinya?" tanya Banyu Aji kepada salah seorang petugas keamanan ketika sudah berada di dalam rumah Pak Freddy.
Di sisi lain, tampak pria tua itu sedang diobati oleh seorang dokter, matanya melirik tajam pada Banyu Aji, entah kenapa dia sangat membenci sosok polisi itu jauh melebihi ia tidak menyukai Citra. Pandangan Banyu Aji beralih ke Pak Freddy kemudian menyapu sekeliling ruangan.
Citra dan Faisal pun tiba bersama beberapa petugas polisi yang lain, mereka menatap Banyu Aji meminta penjelasan.
"Komandan, kami menemukan ini!" seru salah seorang petugas yang langsung menyisir ruang kerja Pak Freddy.
Ia mengacungkan sebuah logam stainless kecil yang merupakan pisau bedah, dugaan Bara selama ini ternyata benar — orang itu menggunakan pisau bedah untuk membuat goresan-goresan di tubuh korbannya. Citra memasang kaos tangannya dan mengambil alih pisau bedah itu, ia mengamati logam di tangannya.
Persis seperti kata Bara dan Andrian, pisau bedah ini memiliki nomer seri. Citra membatin sambil terus menimang pisau logam tersebut.
Mungkin tidak akan terlalu sulit mencari pemilik pisau ini, toko peralatan medis di kota Manggala hanya ada sedikit. Setelah mengambil semua barang bukti yang diperlukan dan memastikan Pak Freddy baik-baik saja, mereka pun bertolak kembali ke kantor.
Di dalam mobil, Citra masih terbayang kancing manset yang ditemukan di dekat jasad Bella. Sungguh ia seperti tidak asing dengan benda itu, kancing tersebut memiliki motif unik dan khusus yang sepertinya tidak jual secara umum.
Citra mendadak menginjak rem mobilnya, lalu memutar balik rush hitam itu ke rumah, ia tiba-tiba teringat akan sesuatu dalam ingatannya tentang kancing manset yang mereka temukan di dekat jasad Bella.
Rush itu berhenti, Citra langsung melompat turun dari mobil dan masuk ke dalam, kemudian dia membongkar lemari bajunya. Jaket hitam berbahan kanvas tebal yang digantung di dalam lemari itulah alasan Citra pulang ke rumah.
Jaket ini bisa dikatakan sebagai jaket almamater khusus untuk angkatannya dulu semasa sekolah kepolisian. Citra melihat kancing yang dijahit di bagian lengan jaket tersebut, ukiran pada kancing itu sama persis dengan yang ada pada barang bukti kemarin.
Apa ini kebetulan? Atau memang tersangka pembunuhan itu adalah perwira kepolisian? Citra menjatuhkan dirinya di atas kursi lemas, ia menggantung kembali jaket angkatan itu di dalam lemari dan memutuskan segera kembali ke kantor.
Ia memutuskan untuk tidak mengatakan kepada siapapun dulu, tentang kancing manset tersebut, sampai ia sendiri memiliki petunjuk jelas — apakah itu memang milik tersangka atau hanya kebetulan terjatuh di sana. Apalagi mereka masih memiliki pekerjaan rumah mencari siapa pemilik pisau bedah yang pelaku gunakan untuk melukai Pak Freddy.
...----------------...
Toko terakhir ini bukanlah toko yang besar, tapi konon kabarnya toko inilah yang menjadi kepercayaan beberapa rumah sakit besar untuk menyediakan peralatan medis mereka.
"Semoga saja ini tokonya, Ndan," ujar Faisal kepada Citra ketika mereka sedang menunggu sang pemilik toko tersebut.
Seorang pria berusia enam puluh lima tahunan menemui mereka, dia adalah David — pemilik toko distributor alat medis ini.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Pria berwajah oriental itu tersenyum ramah kepada Citra dan Faisal.
"Selamat siang, Pak. Kami ingin menanyakan perihal pisau bedah ini, apakah Anda mengetahui kira-kira siapa pemiliknya?" tanya Faisal pada pemilik toko tanpa basa-basi.
Pria itu memasang kacamatanya, dia mengernyitkan alis, ia seperti berusaha mengingat-ingat. Pak David kemudian membuka sebuah buku besar.
"Pisau dengan seri ini ...."
Ia bergumam sembari membuka tiap lembaran buku itu, ternyata buku tersebut adalah buku daftar pemesanan alat medis dari beberapa rumah sakit.
"Ah, ini dia!" serunya. "Pisau bedah ini di buat untuk dua rumah sakit pada tahun 2010. Kami mengirimnya sekaligus dengan nomer seri yang berurutan."
"Rumah sakit apa saja itu?" ganti Citra yang bertanya. Dia kembali meneliti bukunya, kacamata baca itu melorot ke ujung hidung Pak David.
"Rumah sakit S dan Rumah sakit Kasih Ibu!" jawabnya dengan nada yakin.
"Rumah sakit bersalin yang sekaligus memiliki yayasan panti asuhan itu?" tanya Faisal memastikan keterangan pemilik toko ini.
"Tunggu! Itu adalah panti asuhan tempat dokter Andrian dulu diasuh setelah dipindahkan dari panti asuhan Benedict," tandas Citra.
"Arrgghh! Kenapa kasus ini semakin rumit saja!" keluh Faisal putus asa.
Citra pun menekan pangkal hidungnya karena kepalanya tiba-tiba terasa pening. Apakah Andrian pelakunya? Seharusnya dia baru lulus kuliah saat itu — apa mungkin?
"Terima kasih atas informasinya. Kami akan kembali lagi jika membutuhkan keterangan lain!" ujar Faisal. Mereka pun meninggalkan toko David dan memutuskan untuk mengunjungi Panti Asuhan Kasih Ibu lebih dahulu.
Sesampainya di sana, mereka langsung menemui kepala administrasi rumah sakit tersebut untuk menanyakan perihal pisau bedah yang mereka dapat sebagai barang bukti. Kepala administrasi meminta mereka menemui bagian pengadaan logistik.
Indahsari, wanita berusia tiga puluh tujuh tahun, kepala bagian logistik Rumah Sakit Kasih Ibu. Wanita dengan wajah khas Jawa dan berkulit kuning langsat itu menyambut mereka dengan ramah, ia menanyakan maksud kedatangan kedua petugas polisi ini.
"Kami ingin menanyakan tentang pisau bedah ini," jelas Faisal sembari menunjukkan foto pisau yang dia maksud. Iris mata kecoklatan milik Indahsari tampak mengamati foto yang ditunjukkan oleh Faisal, jari lentik itu pun dengan cepat mengetik sesuatu di keyboard komputernya.
"Pisau ini milik dokter Aldebaran. Tapi beliau sudah meninggal tahun 2017," tutur Indahsari. "Pisau bedah ini kami pesan pada tahun 2010 karena para dokter harus mengganti peralatannya dengan yang baru dan nomer seri ini diberikan kepada dokter Aldebaran."
"Apa kamu yakin dia sudah meninggal? Ya, saya yakin. Karena beliau adalah salah satu dokter ahli kandungan yang diandalkan di rumah sakit ini, jadi — kami datang ke pemakamannya," jawab Indahsari meyakinkan.
"Kalau tidak salah, gosipnya beliau bunuh diri. Jasadnya ditemukan di gudang rumahnya dengan leher tersayat," imbuh Indahsari.
Faisal memandang Citra. "Jika pemilik pisau ini sudah mati, lantas apa mungkin hantu bisa mengancam dan membunuh orang?" gumamnya.
"Hmm ... beliau memiliki anak laki-laki, dia juga seorang dokter, tapi saya tidak tahu dokter apa. Sesekali dokter Aldebaran sering bercerita tentang anak laki-lakinya, namanya Barry, eh, bukan .... Ah, ya! Bara, Bara Aldebaran! Nama anak laki-laki dokter itu adalah Bara."
Detak jantung mereka berdua seperti berhenti. Apakah itu Bara yang kami kenal? Apakah dia Bara yang sama? Citra bertanya-tanya dalam hati. "Apa mendiang dokter itu pernah mengatakan di rumah sakit mana anaknya bekerja?" desak Citra. Wanita itu menggeleng tidak yakin.
Langkah kedua petugas polisi ini lunglai seketika saat mendengar nama Bara disebut oleh Indahsari. Kenapa Bara tidak pernah menceritakan tentang ayahnya kepada kami? Citra tidak bisa berpikir jernih.
...****************...