The Murderer

The Murderer
BAB 31 - Epilog Psychopat Revenge (Revisi)


Aroma obat-obatan menyeruak ke dalam indera penciuman Citra begitu ia tersadar, perih dan nyeri terasa di bagian dada kirinya. Entah sudah berapa lama ia tertidur, air matanya yang tidak pernah sekali pun menetes kini mengalir deras tanpa meminta ijin.


Ia tidak pernah menyangka jika dirinya akan mengalami tragedi yang sangat mengerikan seperti itu. Pandangan Citra menyapu sekeliling ruang rawat inap VVIP itu, ia bisa melihat papanya tertidur pulas dengan wajah kelelahan di sofa, sedangkan sang mama tidur berbantal lengan di sisi ranjangnya.


Ada rasa bersalah dan lega di hati Citra, dia merasa lega karena kasus itu telah terpecahkan. Namun, ia merasa sangat bersalah karena tidak menyadari dengan cepat tentang Faisal maupun Banyu Aji, karena dia sibuk mengejar Andrian dan Bara.


Mamanya terbangun, ia melihat putri angkat mereka itu sudah sadar dan kemudian langsung berlari memanggil dokter. Beberapa dokter datang memeriksa Citra, mereka kagum melihat daya pulih polisi wanita ini.


"Kamu seperti seekor kucing," ejek sebuah suara yang tidak asing di telinganya. Benar saja, Andrian muncul dari pintu yang terbuka itu. Ia meletakkan sebuah buket bunga di nakas sisi tempat tidur Citra.


"Aku nyaris saja tidak mau membantu operasi-mu. Namun jika aku lakukan, maka aku akan menyalahi sumpahku sebagai seorang dokter," ujar Andrian masih dengan nada sinis.


Citra hanya tersenyum kecut. Dia masih tidak sanggup membalas ejekan dokter ahli anastesi itu, Andrian lantas ikut mengamati dokter yang memeriksa luka Citra.


Setelah selesai, rombongan dokter itupun berlalu dari sana. Tinggallah Citra, Andrian beserta kedua orang tua Citra.


"Daya pulih kamu hebat," puji Andrian sembari memeriksa infus Citra.


"Padahal kamu nyaris mati karena hanya tinggal beberapa sentimeter saja, peluru itu bisa menembus jantungmu! Dasar perempuan ceroboh!" Andrian terus saja mengejek pasiennya itu.


Terus menerus diejek tanpa bisa membalas, Citra memalingkan wajahnya. Namun ia tersenyum tipis, ia cukup senang masih bernapas sampai detik ini.


Sebuah berita eksklusif tentang kasus pembunuhan berantai itu diliput muncul di layar televisi, tepat saat papanya menyalakan benda kotak tersebut. Tidak hanya media cetak, media elektronik pun ramai memberitakan hal tersebut, termasuk pengunduran diri walikota terpilih Freddy E.Yosef dan dia juga mengakui semua kejahatannya di masa lalu.


Kepolisian menjadi sorotan, karena dianggap tidak teliti dalam menyaring calon polisi baru. Masyarakat menuntut agar penyaringan masuk ke kepolisian lebih ketat lagi, termasuk pemeriksaan psikologi. DID adalah gangguan kepribadian yang jarang bisa di deteksi oleh mata telanjang.


Tiap kepribadian memiliki sifat dan perilaku yang berbeda dari kepribadian asli, tidak seperti pribadi asli yang tidak mampu mengingat dan merasakan yang alter ego-nya lakukan, Para alter ego itu, mereka akan memiliki ingatan, rasa sakit, trauma, juga dendam dari kepribadian aslinya, karena mereka adalah wujud pelarian diri seseorang untuk menghindari kenyataan pahit dalam hidupnya.


Citra kembali mengingat hari-harinya bersama Faisal, meskipun kadang orang itu lambat dan menyebalkan, Citra sangat nyaman bekerja sama dengannya.


Pintu kamarnya terbuka, Bara muncul dari balik pintu bersama Rianti dengan buket bunga dan parcel buah di tangan Bara. Dokter forensik itu menyunggingkan senyuman lebar, dia seperti sedang merasa sangat bahagia.


"Wah, wah ... Inspektur wanita jagoan kita terkapar sekarang," ledek Bara mengingat Citra yang sangat tegas ketika sedang bertugas.


Di balik alat bantu oksigen yang berembun Citra tersenyum getir, seandainya dia bisa memukul pria itu, ia akan memukulnya. Bara, dia masih merasa bersalah karena tidak mempercayai penjelasan pria ini dulu.


Mereka berdua cekikikan tanpa perasaan di dekat Citra. Dengan mengumpulkan sedikit tenaga, Citra berhasil membuka alat bantu napasnya itu.


"Bar, thank you—kalau saja—petunjuk yang kamu berikan mengantarkan aku kepada mereka. Sehingga Pak Freddy selamat ... walau aku gagal membawa Bumi hidup-hidup," ujar Citra dengan suara lemah.


Tiba-tiba apa yang Bara pernah katakan kembali terngiang di telinganya.


"Aku curiga bahwa Faisal itu adalah Bumi, aku hanya belum bisa menemukan cara untuk membuktikannya, tapi ... sejujurnya hanya dia yang memiliki akses masuk ke apartemenku selain diriku sendiri.


Ketika kamu mengatakan bahwa seluruh benda yang memberatkan ku itu ditemukan di dalam apartemenku, aku langsung menduga Faisal adalah pelakunya.


Entah dia kaki tangan ataukah memang dia sang pria Tangan Tuhan itu."


Ucapan Bara itulah yang membawa Citra untuk mempertaruhkan diri demi meminta surat penggeledahan apartemen Faisal, dan ternyata benar. Di dalam apartemen itu ditemukan foto Bara sewaktu kecil.


Akhirnya kasus ini berakhir dengan sebuah tragedi. Namun itu malah semakin memacu ambisi Citra untuk memecahkan kasus-kasus lain. Dia tidak ingin terjadi lagi penutupan kasus yang dianggap sepele, sehingga menjadi sebuah bom atom yang siap meledak kapan saja.


Pihak kepolisian harus lebih pro-aktif dalam kasus pelecehan anak seperti yang dialami Senja, atau kasus perundungan yang terkadang hanya dianggap sebagai kenakalan anak atau remaja saja. Terkadang kasus-kasus kecil seperti itu, mampu membentuk jiwa baru yang penuh dendam dan melahirkan psikopat seperti Banyu Aji dan Bumi.


Meskipun kedua orang tuanya meminta dia berhenti dari kepolisian, Citra menolak. Ia merasa bahwa di sinilah dia seharusnya berada. Untuk bisa melindungi anak-anak yatim dan anak jalanan yang tidak memiliki keluarga.


...----------------...


Hari-hari damai Citra dan timnya tidak berlangsung lama. Mereka kembali menghadapi kasus pembunuhan yang misterius dan menyasar pengemis tunawisma. Mayat-mayat itu selalu di temukan tergantung dengan keadaan kedua pergelangan tangan terpotong rapi.


Tim A divisi kriminal menjadi tonggak utama dalam penyelidikan kejahatan serius sejak berhasil mengungkap kasus 'pria tangan Tuhan' itu. Namun, posisi mendiang Faisal sebagai bawahan langsung Citra, masih kosong.


Citra sendiri berharap tidak akan pernah ada yang menggantikan posisinya. Sehingga ia tidak memiliki ke khawatiran untuk kehilangan rekan kerja lagi.


Sesosok mayat telah ditemukan kembali di pinggiran kota Manggala. Lagi-lagi mayat seorang pengemis dan tunawisma, tubuhnya tergantung di atas pohon beringin dengan dua tangan terikat keatas. Ini adalah pembunuhan keempat.


Penyebab kematiannya sama, yaitu mati lemas karena dicekik. Namun hilangnya pergelangan tangan mereka itu memperlihatkan seolah pembunuh itu seperti menjadikan potongan tangan itu sebuah souvenir. Citra kembali di hadapkan dengan psikopat yang baru, setelah kasus Faisal dan Banyu Aji.


Tim A divisi kriminal kedatangan satu anggota baru pengganti mendiang Faisal. Seorang inspektur dua pindahan dari Jogjakarta bernama Haris, mereka kembali mengejar seorang pembunuh berdarah dingin yang terlihat ingin membersihkan kota dari para pengemis dan tunawisma.


Sama seperti ciri khas pembunuhan yang dilakukan oleh seorang psikopat. Selalu rapi, terorganisir, tanpa jejak. Membuat kepolisian harus bekerja keras menemukan pelakunya, mereka sangat kerepotan karena pembunuhan ini bukanlah pembunuhan biasa.


Mampukah Citra dan rekan barunya itu memecahkan kasus aneh ini? Apakah ia akan kembali kehilangan rekan kerjanya? Simak kisahnya nanti di The Murderer-The Hanging Beggar.


...****************...