
Seminggu kemudian, Tuhan memberi keajaiban pada Anto, bocah itu membuka mata. Andrian segera menghubungi Citra yang saat itu sedang berdebat dengan atasannya.
Tanpa menghiraukan teriakan Kepala Polisi Rindra, ia berlari menuju tempat parkir. Citra menyalakan mobilnya dan menginjak pedal gas dalam-dalam, dia ingin segera bertemu Anto.
Rush itu parkir seenaknya saja di pelataran parkir luar rumah sakit, ia berlari menyusuri koridor yang mengarah ke ruangan ICU. Di sana ada Jaka yang menunggu.
"Dokter Andrian dan beberapa dokter lain sedang memeriksanya," ujar Jaka menahan Citra yang akan merangsek masuk.
Tak lama kemudian Andrian keluar dengan tersenyum lebar.
"Bocah itu kuat, dia hebat. Kamu boleh menemuinya, tapi dia belum bisa diajak bicara!" tegas Andrian.
Citra mengangguk dan langsung masuk ke dalam ruangan itu. Di dalam, dia sempat mematung sejenak, Anto melirik Citra dengan tatapan sayu. Ia bisa melihat senyum bocah itu dibalik embun alat bantu pernapasannya.
Dia menarik kursi yang ada di samping nakas di sisi ranjang Anto, dia memegang tangan kurus itu. Jari-jemari Citra mengusap lembut kepala Anto.
"Kamu istirahat dulu, ya. Nanti kakak polisi kembali lagi," ujar Citra. Anto mengangguk lemah, dia kembali menutup matanya dan tidur.
Citra menemui Andrian yang sedang bercakap-cakap dengan Jaka, ketika dia akan kembali ke kantor.
"Aku titip bocah itu, ya!" pinta Citra pada Andrian. Dokter itu mengacungkan jempolnya.
"Jaka, kamu jaga di sini dulu. Kalau ada apa-apa, tolong hubungi saya!" perintahnya kemudian pada Jaka.
Inspektur dua itu memberi hormat kepada atasannya. Walaupun ia tidak mengerti kenapa Iptu Citra begitu memperhatikan bocah gelandangan itu.
Ponsel di kantong jaket Citra berbunyi.
"Mama." Ia menghela napas berat.
"Iya, Ma."
"Kamu malam ini tolong pulang cepat ya, Nak. Mama Christian mengundang kita makan malam," ujar mamanya.
"Ta—tapi, Ma ...."
"Jangan ada tapi-tapian. Pokoknya malam ini kamu harus di rumah!" tegas Rita.
"Baik, Ma." Citra akan menuruti titah sang mama jika sudah bernada tegas seperti itu. Jika tidak, mamanya akan datang ke kantor dan menyeretnya pulang.
Citra melajukan mobilnya pelan-pelan, ia terus berpikir tentang penyebab kematian aneh kedua tunawisma itu. Apalagi pak tua di terowongan kemarin terlihat sangat ketakutan.
Dia ketakutan saat mengetahui tangan kedua jasad itu hilang. Seolah ia pernah mengalami peristiwa yang sama sebelumnya, pikiran Citra terus berkecamuk. Ia membelokkan mobilnya ke arah terowongan tempat pak tua itu tinggal.
Derap kakinya menggema, tempat itu sedikit lengang, mungkin mereka sedang mencari rongsokan untuk dijual ataukah sedang mengemis di jalanan. Ia tidak melihat sama sekali pak tua yang kemarin ada di ujung terowongan itu.
Berapa kali pun ia bolak-balik, pak tua itu tidak dia temukan. Citra berusaha mencari di sekitar terowongan itu, para tunawisma yang ia tanyai pun tidak tahu kemana pak tua itu pergi.
"Kau mencari pak tua pemarah itu?" tegur sebuah suara.
Citra tersentak. Seorang pemuda dengan pakaian compang-camping berdiri di belakangnya.
"Ke mana bapak tua itu pergi?"
"Dia dijemput oleh seorang pria yang mengaku sebagai anaknya, sepertinya ia orang terpelajar dan kaya," jawab pemuda tadi.
"O, iya, pria itu mengendarai mobil mewah," imbuhnya.
Kenapa kasus yang aku hadapi selalu membuatku pusing! Belum lagi mama yang memaksaku untuk bertemu dengan orang tua Christian! Citra hanya bisa menggerutu dalam hati.
"Terima kasih atas informasinya."
----------------
"Anak mama cantik banget kalau kayak begini," puji Rita. Citra hanya tersenyum kecut, dia ingin sekali menghapus riasan yang dibuat mamanya itu.
Mereka bertiga berangkat ke hotel tempat Christian bermalam. Selama belum mendapat apartemen atau rumah yang sesuai dengan keinginannya, pria itu memilih tinggal di hotel. Menurut sang mama, mama Christian datang untuk mengunjunginya.
Dia tidak begitu tahu tentang orang tua Christian, kecuali status mereka yang bercerai karena papanya sering melakukan kekerasan terhadap dia dan mamanya. Mama Christian adalah teman baik papanya, sedangkan papa pria itu sudah lama tidak terdengar kabarnya.
Evelyn atau Dr. dr. Evelyn Graciella, Sp.B, sahabat papanya itu adalah seorang dokter ahli bedah sekaligus profesor di salah satu universitas bergengsi di Medan.
Christian memesan ruangan VIP di restoran hotel tempatnya menginap, seorang wanita yang seumuran dengan mamanya tersenyum padanya. Wanita itu memiliki paras wajah yang cantik, sangat jelas bahwa ia berdarah campuran Indonesia dan salah satu negara dari barat. Sudah pasti itu adalah Evelyn, pantas saja Christian juga memiliki paras yang tampan.
"Silahkan duduk!" Christian mempersilahkan mereka duduk.
"Citra, ini Tante Evelyn, mamanya Chris." Mamanya memperkenalkan wanita tadi kepada dirinya.
"Senang berkenalan dengan putri secantik Citra." Wanita bernama Evelyn itu mengulurkan tangan pada Citra.
Citra tersenyum tipis dan balas menjabat tangan mama Christian. Ia sangat membenci acara formal penuh basa-basi seperti ini, tapi sosoknya sangat menarik perhatian Citra.
Bukan hanya memiliki paras yang cantik dengan iris mata berwarna biru terang. Wanita itu sepertinya sangat memperhatikan penampilan, ia mengenakan gaun yang senada dengan tas dan sepatunya. Sesekali Citra pun mendapati Evelyn sedang menata ulang letak piring, gelas dan bahkan sendok garpu-nya agar tetap lurus dan simetris.
Citra sangat bersyukur karena makanan yang dipesan cepat tersaji. Sebelum makan, wanita itu berkali-kali mengelap alat makannya. Cara makannya pun menarik, Evelyn memutar cup soup di depannya sehingga posisinya lurus. Lalu ia mulai menyendok cream soup itu ke mulutnya.
"Makanannya, tidak enak, ya, Cit?" tanya mama Christian.
"Eh, e—enak kok Tante," jawab Citra gelagapan. Ia malu karena terpergok sedang memperhatikan Evelyn.
Rita mencubit pelan pinggang Citra sembunyi-sembunyi melihat kelakuan putrinya yang tidak sopan itu.
"By the way, katanya kamu ini seorang inspektur polisi ya?" tanya Evelyn sembari memotong steak-nya sama besar.
Christian yang merasa Citra memperhatikan tindak tanduk sang mama berdehem.
"Ehem, mama memang orangnya perfeksionis. Semua harus rapi dan teratur," ujarnya sambil melirik Evelyn.
Mereka pun makan malam dalam suasana canggung.
"O, iya, kau sibuk apa sekarang Eve?" Pak Adi membuka suara untuk mencairkan suasana.
"You know sebagai seorang pengajar sekaligus dokter, aku jarang punya waktu luang," jawabnya dengan anggun.
Mereka kembali terlibat dalam kesunyian. Hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan keramik piring.
"Ma, besok Chris mau lihat apartemen di Greenhouse. Sepertinya kompleks apartemen itu cocok untuk Chris,"
Raut wajah Citra berubah. Greenhouse? Ia mengucap nama kompleks apartemen itu dalam hati.
"Kamu bisa temani Christian besok, Nak?" Rita menanyakan kesediaan Citra untuk menemani Christian melihat-lihat apartemen.
Citra tersentak dengan pertanyaan mamanya. Ia tertunduk dan tidak menjawab. Apartemen itu, menjadi kenangan yang masih selalu jadi mimpi buruk untuknya.
"Bisa?" Ulang mamanya lagi.
Dengan berat dan terpaksa Citra mengangguk. Dirinya tidak bisa menolak, karena besok adalah hari Minggu. Malam itu, dia tidak pernah menyangka akan diantarkan kepada sebuah petunjuk tentang teka-teki kasus tunawisma ini.
Makan malam mereka pun berakhir dengan suasana yang sangat canggung. Itu semua karena Citra memperhatikan tindak tanduk Evelyn yang dia rasa sedikit aneh.
...****************...
Bersambung...