
Jaka melangkahkan kakinya perlahan, tanah di sekitaran sungai itu cukup becek setelah hujan mengguyur pinggiran kota Manggala. Satu-satunya jalan untuk mengetahui tentang Dokter Hendrawan adalah menyusuri tempat awal mereka bertemu dengan pria tersebut. Suasana gelap dan mendung membuat jarak pandang Jaka pendek.
Ia akhirnya menemukan jalanan yang menghubungkan pinggiran sungai ke kawasan pemukiman warga, pemukiman itu begitu padat. Rumah bertipe sederhana yang saling berdempetan, ciri khas pemukiman warga pinggiran kota.
Di gang ini jarak pandang Jaka lumayan tertolong dengan temaram cahaya lampu jalanan. Angka digital di arloji G-Shock miliknya sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tidak heran jika tempat itu sudah sangat sunyi, hanya suara televisi yang terdengar samar dari beberapa rumah.
Seseorang yang berjalan sempoyongan menabrak tubuh Jaka. Tangannya memegang botol alkohol, isi botol tersebut sudah hampir habis. Ia menunjuk kesal pada Jaka. “Hati-hati kalau jalan, Bung!”
Jaka melewati orang mabuk itu dan mengabaikannya, ia sendiri tidak tahu apa yang sedang dia cari di gang sempit ini. Tuhan ternyata sangat baik padanya. Neon box usang yang sudah tidak menyala itu menjadi jawaban pencariannya.
Apotek Hendrawan
Praktek dr. Hendrawan, Sp.OT
Rumahnya terlihat kosong, sisa-sisa hujan masih menjelma jadi gerimis. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah itu.
“Anda mencari Pak Dokter?” Jaka terlonjak kaget tiba-tiba ada suara terdengar dari belakangnya.
Seorang gadis remaja berdiri sekitar lima puluh sentimeter darinya. Satu tangannya memegang sebuah payung dan yang lain memegang kantong plastik berisi gorengan.
“Anda mencari Pak Dokter?” Gadis itu mengulangi pertanyaannya tadi.
“I—iya.”
Dengan tangan yang masih memegang gorengan, gadis itu menunjuk ke arah yang berlawanan dengan sisi Jaka datang tadi.
“Saya tadi lihat Pak Dokter jalan ke sana. Sepertinya sedang terburu-buru.”
“Terima kasih ya, kamu cepat pulang. Sudah malam, tidak baik untuk anak gadis sepertimu.” Jaka tersenyum simpul lalu berjalan dengan cepat menuju arah yang ditunjuk gadis tadi.
Ujung gang itu merupakan pertigaan. Memutuskan untuk mengikuti insting, Jaka berbelok ke arah kanan. Ia terus menyusuri jalanan sempit yang makin lama makin gelap. Dengan berbekal senter dari ponselnya, jalan itu buntu.
Ada pagar kawat yang menutup ujung jalan tersebut membatasi jalan dengan halaman yang sangat luas. Bangunan mirip gudang besar ada di sisi kanan jalanan. Sedangkan halaman tersebut berisi beberapa kontainer bekas yang sudah tidak terpakai.
Tanpa pikir panjang, Jaka mencoba peruntungannya. Jika ia beruntung, maka gudang itu tidaklah terkunci. Entah kenapa instingnya mengatakan jika Dokter Hendrawan masuk ke dalam.
Terbuka! Jaka berseru dalam hati. Karena pintu gudang itu tidaklah terkunci, ia pun melangkah dengan hati-hati. Tampaknya ini hanya penghubung menuju halaman yang luas tadi.
Suara kakinya sedikit menggema di dalam ruangan kosong tersebut. Namun tidak ada reaksi dari sudut dalam gudang itu, berarti gudang ini kosong tanpa penjaga dan hanya berisi beberapa tumpuk kardus serta jerigen kosong.
Jaka akhirnya menemukan pintu yang ia bisa melihat cahaya lampu bohlam berwarna kuning dari dalam. Ia mendekat perlahan, berusaha untuk tidak menimbulkan suara sedikitpun. Terdengar dari dalam sedang terjadi perdebatan sengit antara dua orang lelaki.
“Aku tidak bisa lagi mengikuti permainan kalian!” Pemilik suara tersebut seperti pria yang sudah cukup berumur.
“Hanya kakek yang bisa melakukan ini untuk kami! Kakek ahlinya.” Kali ini suara pria yang jauh lebih muda terdengar.
Hening sejenak, lalu pria muda itu mulai berbicara lagi, “Aku janji, ini adalah yang terakhir.”
Karena berusaha melihat siapa yang ada di dalam, Jaka tidak sengaja menjatuhkan beberapa buah jerigen. Suara berisik tersebut membuat orang yang ada di dalam ruangan itu keluar sebelum Jaka sempat kabur.
Sepertinya Jaka sudah terjebak dan di kepung oleh para penjaga. Perkelahian sengit tidak terelakkan lagi. Namun jumlah mereka terlalu banyak, sehingga Jaka akhirnya dipaksa menyerah.
Di hadapan kedua pria tadi, Jaka berlutut dengan pergelangan kaki dan tangan yang terikat. “Bukankah kau salah satu polisi bodoh yang membuatku kehilangan ikan?” Dokter Hendrawan mengangkat dagu Jaka.
“Dia sudah melihat kakek dan tidak boleh dibiarkan hidup.” Pria muda tadi berjalan mendekat. Jaka mengenali benda di tangan pemuda tersebut. Itu adalah tali kekang anjing yang digunakan untuk menggantung para tunawisma yang tewas.
Pandangan Jaka beralih ke arah Dokter Hendrawan. Ia mencari akal, agar bisa kabur dari sini. Tiba-tiba seorang penjaga masuk dan membisikkan sesuatu kepada pemuda tadi, seringai jahat terlihat jelas di wajahnya.
“Waktunya berburu anjing liar!” Ia berseru kegirangan seperti anak kecil.
Dokter Hendrawan melirik Jaka dengan sorot mata memelas sebelum kemudian dia mengikuti pemuda tersebut keluar ruangan. Mengetahui hanya ada dua penjaga di luar, Jaka berusaha melepaskan ikatan pada tangan dan kakinya. Akhirnya ia berhasil. Dia menyerang diam-diam kedua penjaga itu sampai pingsan dan berlari keluar gudang.
Jaka terus berlari di gang yang gelap. Dia mengutuk kebodohannya yang lupa mengisi daya ponsel sebelum pergi menyelidiki. Kali ini ia hanya fokus pada jalanan dan berharap mereka tidak akan mengejar hingga ia sampai ke tempat mobilnya terparkir.
Samar suara anjing pemburu terdengar dari kejauhan. Perlahan suara itu mendekat ketika Jaka mencapai jalanan di pinggir sungai, seseorang menyergap dari belakang dan menjerat lehernya. Ia berusaha memberontak namun perlawanannya sia-sia.
Tubuh Jaka melemah. Hal terakhir yang ia lihat adalah pria muda yang tadi ada di dalam gudang. Ketika kesadarannya mulai hilang, ia teringat siapa pria muda tersebut. Namun, terlambat.
...----------------...
Pagi ini, divisi Citra kembali menerima laporan tentang pembunuhan seorang tunawisma lagi. Citra pikir, pembunuh itu sudah takut dan berhenti melakukan aksinya. Akan tetapi dugaannya ternyata salah, pembunuh itu masih berani beraksi.
Citra menuju TKP hanya dengan Haris, karena Jaka belum muncul sejak kemarin. Padahal bawahannya itu tidak terbiasa bolos kerja.
Di TKP sudah ada Bara dan Rianti, mereka terlihat pucat. “Tumben, kalian lihat mayat sampai sepucat itu ... apa rohnya mengganggu kalian?”
Rianti memukul lengan Citra kesal. “Bisa-bisanya bercanda tentang hantu di TKP penemuan mayat!”
Inspektur wanita ini tertawa kecil, dia memasang sarung tangan karetnya. Begitu kantong jenazah terbuka, raut wajah Citra berubah. Ia berbalik menatap Bara dan Rianti meminta penjelasan. Jasad ini tidak hanya kehilangan kedua pergelangan tangan. Tapi juga kaki hingga batas lutut.
“Kamu tahu bagaimana posisi mayat ini kami temukan pertama kali?” Rianti memberikan sebuah pertanyaan kepada Citra.
“Tergantung seperti biasa dengan kekang anjing?” Citra menjawab dengan enteng.
Rianti membentuk tanda silang dengan kedua tangannya. “Memang pembunuh itu masih menggunakan tali kekang untuk mencekik sang korban, tapi kali ini, dia tidak menggantung mayat ini. Melainkan ....”
“Mengikatnya seperti sedang mengikat anjing.” Bara memotong ucapan Rianti. “Bagian tubuh yang dimutilasi itu seperti sebuah trophy untuk pelaku. Ia mengambil sesuatu dari tubuh korban dan menyimpannya.”
Perasaan Citra campur aduk, berarti ucapan Anto selama ini benar. Orang-orang itu hanya menganggap para gelandangan adalah anjing liar yang harus disingkirkan.
“Psikopat gila! Dia pikir nyawa manusia itu mainan dan bagian tubuh mereka itu merupakan souvernir!?“ Haris merasa geram.
Satu jam mereka berada di TKP dan Citra baru sadar jika salah satu bawahannya belum juga tiba di lokasi. Kemana Jaka? Apa dia sedang tidak sehat? Batinnya bertanya-tanya tentang Jaka.
...****************...