The Murderer

The Murderer
BAB 49 - Rahasia Christian


Christian memperlambat laju mobil setelah memastikan Citra kehilangan jejaknya. Dia berbelok ke suatu tempat, di mana dia sudah memiliki janji temu dengan seseorang.


Suasana pinggiran sungai Alehanua itu memang sangat sunyi, dia berdiri menatap aliran sungai yang tidak terlalu deras itu. Sampai suara deru motor sport terdengar dari belakang.


Motor itu berhenti tepat di samping mobil Christian dan pengendara dengan jaket kulit serta celana kulit hitam itu, menghampirinya dengan membawa amplop coklat. Orang itu mendekat tanpa melepaskan helm yang ia kenakan.


“Siapa kamu?” Christian bahkan tidak tahu dia sedang berjanji temu dengan siapa. Hanya pesan teks dari nomer tidak dikenal yang masuk ke ponselnya dan meminta bertemu di tempat ini.


Orang itu tertawa, “Berhenti ikut campur dengan kasus ini, biarkan jaksa lain yang menangani!” Suara orang itu tersamar karena tertutup helm.


Tiba-tiba, dia melayangkan pukulan ke wajah Christian dan perkelahian sengit itu pun tidak bisa dihindari. Christian yang diserang secara mendadak tidak mampu mengimbangi serangan orang asing ini.


Pria itu mengeluarkan sebilah pisau dan dia mulai menyerang Christian dengan pisau tersebut. Aneh, serangan yang orang itu lakukan tidak bermaksud untuk melukai bagian vital tubuhnya. Setelah melukai paha Christian cukup parah, dia langsung pergi membawa amplop yang sebenarnya menjadi incaran Christian.


Itu adalah hasil tes DNA antara papa tirinya dan juga Citra yang ia minta Bara untuk menyelidikinya dan entah kenapa orang ini bisa memiliki hasil tes tersebut. Christian sendiri sama sekali tidak ingat masa lalunya, dia hanya tahu kalau dia adalah anak dari Evelyn dan memiliki papa tiri bernama Darius.


Sosok Darius begitu misterius. Mamanya menikah dengan dia saat Christian duduk di bangku SMP. Pernah suatu hari dia bertanya pada Evelyn tentang anak yang di wajahnya memiliki bekas luka bakar di dalam foto, dan Evelyn mengatakan jika itu adalah dirinya.


“Mama khawatir bekas luka bakar itu akan mengganggumu ketika dewasa, jadi Mama memutuskan membawamu ke Korea untuk operasi plastik.”


Penjelasan Evelyn terasa tidak masuk akal untuk dirinya sekarang, dia tidak memiliki ingatan masa kecil sama sekali bersama Evelyn ataupun ayah kandungnya.


Christian membuka mata, ruangan itu sedikit terang karena pantulan cahaya bulan dari retakan cermin di dinding. Lukanya masih perih. Saat ini, hanya Citra satu-satunya yang bisa membantu dia.


Tangan Christian merogoh saku celana, dia mencoba menyalakan ponselnya yang tadi sempat mati karena terbentur saat perkelahian itu. Nyala! Christian berseru dalam hati.


Dia men-dial nomer ponsel Citra, tapi tidak aktif. Berkali-kali ia mencoba dan gagal, sampai dia memutuskan untuk menyerah. Ia kembali menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah.


...----------------...


Dito mengantar Citra ke hotel yang dekat dengan kantor polisi, karena dia tidak bisa menginap di rumah orang tuanya yang masih dipenuhi garis kuning kepolisian. Sebenarnya Citra sedang tidak ingin istirahat, tapi Dito menyuruh dia untuk menjernihkan sejenak pikirannya sebelum bergabung dengan penyelidikan.


Ketika tiba di dalam kamar, Citra merogoh saku dan mengambil ponselnya. Ternyata benda itu mati karena kehabisan daya, dia pun lupa membawa charger ponsel. Akhirnya benda pipih itu, ia letakkan begitu saja di atas meja.


Citra merebahkan tubuhnya di atas ranjang, iris hazel itu menatap ke langit-langit kamar. Bayangan jasad Anto tiba-tiba melintas dipikirannya.


“Pintu rumahku tidak dirusak, Anto sendiri yang membuka pintunya. Apakah Christian pergi ke rumah saat aku kehilangan dia tadi?”


“Apa dia bisa setega itu? Lantas, tangan Anto ... menurut Rianti dan Bara, itu adalah pekerjaan seorang ahli.”


Citra berdialog dengan dirinya sendiri. Dia tidak mengerti kenapa pelaku seolah-olah mengincar orang-orang terdekatnya. God's Hand, Citra yakin semua kasus ini berhubungan dengan situs balas dendam itu.


Karena merasa tidak tenang, dia pun bangun kemudian mandi untuk menyegarkan diri. Setelah itu, dia berlari ke kantor polisi dan berharap bisa menemukan jawaban, sekalian meminjam pengisi daya dari salah satu petugas di sana.


Dia pun menabrak Dito yang hendak keluar membeli kopi di minimarket 24 jam di depan kantornya.


“A—ku bu—tuh char—ger.” Dengan napas tersengal dia meminta alat pengisi daya pada Dito. Pria bertubuh sedikit gempal itu mengurungkan niatnya membeli kopi dan mengajak Citra masuk.


Beberapa polisi lama yang mengenali polisi wanita yang terkenal nekat dan keras kepala dalam menyelesaikan kasus itu, menyapa Citra. Sebenarnya kasus pembunuhan dengan mutilasi pernah dia hadapi di sini, tepat saat dirinya baru saja menjadi polisi.


Kasus tersebut, sampai hari ini masih menjadi kasus beku, korbannya juga seorang tunawisma, dia kehilangan kaki dan jasadnya menggantung dengan tangan terikat ke atas. Seperti biasa, karena tidak memiliki identitas dan keluarga, kasus itu akhirnya ditutup begitu saja.


“Kau masih ingat saat kau berdebat dengan Komandan Norman? Sikapmu persis seperti ini.” Dito sedikit me-rewind sikap Citra ketika mereka masih sama-sama menjadi polisi baru.


Senyum kecut terlihat di wajah Citra, dia memang pernah membuat keributan dengan sang komandan ketika menangani kasus beku tunawisma itu.


“Berkas kasus itu ... berkas itu masih ada?” Citra memiliki firasat jika kasus itu juga berkaitan dengan benang merah situs God's Hand.


Dito mengangguk. “Ada di ruang dokumen.”


“Tolong sambungkan ke pengisi daya untukku.” Tanpa menunggu lagi, Citra menyerahkan ponselnya dan bergegas menuju ruangan yang menyimpan dokumen itu.


Dia meninggalkan Dito yang termangu di depan pintu ruangan reskrim.


...----------------...


Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar samar dari luar sana dan membuat Christian terbangun. Dia memaksakan diri untuk berdiri, tapi sebelumnya ia sempat mengirim pesan singkat untuk Citra.


Perlahan Christian bergerak agar pemilik langkah itu tidak menyadari tempat dia bersembunyi saat ini. Apa dia juga akan membunuhku? Orang gila itu dan mamanya! Dia beringsut pergi dengan mengendap-endap sambil menghindari cahaya lampu senter yang menyusup dari kaca jendela yang buram.


Akhirnya Christian berhasil menjauh dari cahaya senter itu, tapi dia masih tetap berjalan dengan hati-hati. Dia berhasil menemukan tempat persembunyian baru dan berharap orang itu segera pergi.


Langkah kaki itu perlahan menjauh dan membuat Christian menarik napas lega, mungkin itu hanya orang yang kebetulan lewat. Merasa persembunyiannya sudah tidak aman, dia berpikir untuk segera meninggalkan bekas klinik tua ini.


Tangan pria ini meraba seuntai kalung yang melingkar di lehernya. Kalung itu ia temukan di laci meja kerja Evelyn.


Kalung berliontin bulat berisi foto anak laki-laki dan di balik liontin itu ada ukiran nama 'Gerald'. Entah kenapa ingatan Christian saat itu menjadi kacau. Bayangan tentang anak-anak sebayanya yang bermain di halaman luas, gedung berbentuk gereja, kemudian sepasang suami-istri pemilik garmen.


Itu adalah ingatan aslinya, sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia bukan Christian melainkan Gerald, salah satu anak panti asuhan Benedict yang diadopsi oleh pengusaha garmen. Mobil mereka jatuh ke dalam sungai dan menewaskan kedua orang tua angkatnya, kemudian dia pun kehilangan ingatan. Setelah itu, Gerald pun mengenali dirinya sendiri sebagai Christian.


Tidak ingin membuang waktu lebih lama, dia bersiap meninggalkan tempat itu. Langkah Gerald masih pincang, kakinya terasa kebas saat ini. Namun, ketika dia mencapai basemen ... pinggangnya terasa ditembus oleh benda tajam dari belakang.


Darah merembes melalui baju yang koyak karena pisau berjenis sangkur itu. Gerald merasa sangkur itu ditarik sang pelaku, kemudian kembali menghujam tubuhnya dan kini tepat mengenai jantungnya. Sebelum kesadaran Gerald menghilang, dia sempat melihat seringai kejam dari wajah dengan luka bakar di pipinya.


“Christian ....” Gerald membisikkan nama itu pada tarikan napas terakhirnya dan dia tumbang.


...****************...