
Adi Hutabarat masuk ke dalam rumah dengan wajah masam. Dia langsung menjatuhkan dirinya di atas sofa, Citra dan Rita mengikuti kepala rumah tangga Hutabarat itu masuk ke dalam.
Melihat wajah Adi yang begitu marah, Citra tidak berani menatap papa angkatnya itu.
Dengan sorot mata penuh emosi dan nada yang jelas berisi kemarahan, Adi bertanya, "Kenapa sikapmu sangat tidak sopan kepada Evelyn tadi?"
Citra terdiam. Dia hanya mengetuk-ngetukkan kakinya di lantai. "Bukankah dia sangat aneh? Dia seperti terobsesi dengan segala kesempurnaan, keteraturan dan keseragaman!"
Melihat suasana tegang di antara ayah dan anak itu, Rita segera menengahi. "Istirahat sana! Besok pagi kamu harus menemani Chris melihat apartemen."
Wanita yang biasanya sangar di kantor polisi itu hanya bisa menuruti perintah sang mama. Ia masuk ke dalam kamar, kemudian mengganti gaun berwarna pink itu dengan kaos polos oversize berwarna hitam dan sebuah training.
Ia sedang tidak bisa dan sedang tidak ingin beristirahat malam ini. Citra duduk di kursi kerjanya, berkas tentang pembunuhan tunawisma itu kembali ia baca. Laporan visum dan juga beberapa foto lokasi kejadian yang sudah berulang kali ia lihat, tetap tidak membuat dirinya menemukan petunjuk.
Ketika sedang larut dalam pemikirannya tentang kasus itu, ponsel di atas nakas berbunyi.
Citra bangkit dan meraih ponsel tersebut. Ia segera menjawab panggilan itu ketika melihat nama Haris tertera di layar.
"Ha—halo, komandan, ada mayat lagi ... ada mayat tunawisma ditemukan lagi!" ujar Haris dengan napas yang tersengal-sengal.
"Dimana?"
Haris yang napasnya sudah mulai teratur memberikan alamat TKP itu. "Terowongan bekas proyek rel kereta api, yang pernah kita datangi."
Tanpa pikir panjang Citra menyambar jaket parka yang tergantung di belakang pintu. Ia bahkan tidak mengganti training dan kaos oblongnya. Dengan terburu-buru dia pergi tanpa memperdulikan teriakan kedua orang tuanya di ruang tamu.
Rita dan Adi saling bertukar pandang. "Mau kemana anak itu malam-malam begini?" gumam Adi sambil menatap penuh tanya ke arah istrinya. Wanita itu hanya bisa mengendikkan bahu.
Mesin Rush-nya meraung tanda sang pemilik melajukan kendaraan itu dengan kencang. Citra ingin tiba di TKP secepatnya. Ia bahkan tidak perduli dengan jalanan yang licin karena hujan deras malam itu.
Citra menarik resleting dan memakai hoodie jaketnya, dia bahkan lupa membawa jas hujan dan payung. Kakinya melangkah di atas tanah basah dan cukup licin jika hanya menggunakan sandal rumah seperti yang ia pakai saat ini.
Udara malam itu cukup dingin. Apalagi Citra hanya mengenakan training rumahan, Haris yang melihat komandannya dari kejauhan, segera berlari dan memayungi Citra.
Tangan Citra mendekap dadanya. Rianti, dokter forensik yang cantik itu berdecak jengkel ketika melihat dirinya.
Ia menggoyangkan jari telunjuknya di depan wajah Citra. "Kamu memang membawa kutukan kematian," sindirnya tajam. "Aku rasa aku butuh kehadiran Bara saat ini."
Kedua wanita itu saling tatap, Citra hanya bisa tersenyum kecut. Kenyataannya Rianti memang benar, kematian selalu mengikuti dirinya. Ia bahkan takut jika dia akan kehilangan rekan sekali lagi.
"Jangan melamun!" Rianti menegurnya sambil berjongkok di sisi jasad pria berusia sekitar tiga puluh delapan sampai empat puluh tahunan yang terbujur kaku tak bernyawa itu.
"Kematiannya diperkirakan beberapa jam yang lalu, mungkin ia dibunuh sekitar pukul lima atau enam sore. Seorang tunawisma lain menemukan dia tergantung di mulut terowongan sebelah sana," lanjut Rianti. Mereka berdua melihat ke arah ujung tempat yang lumayan gelap tersebut.
Citra melihat sekeliling terowongan, beberapa tugas forensik masih sibuk mengambil gambar TKP. Seperti yang sudah-sudah, tidak ada yang aneh dengan tempat itu.
"Do you need some help, Ladies?" Suara seorang pria tiba-tiba terdengar dari belakang Haris, sontak membuat mereka bertiga kompak menoleh ke asal suara tadi.
Mata Rianti berbinar senang. Citra pun menyunggingkan senyum lebar melihat siapa yang muncul di lokasi itu. "Bara!"
Bara mengerlingkan mata kepada dua wanita tersebut. Dia mendekat, entah kenapa ia berjongkok dan mengendus bibir mayat itu. Kemudian dia melihat sekeliling seperti mencari sesuatu.
"Apa ada bungkus makanan yang kalian peroleh di antara barang bukti itu?" Ia bertanya pada salah satu petugas forensik yang sedang memasukkan beberapa barang bukti ke dalam kantong plastik bening.
Petugas itu mengerutkan kening. Ia kembali melihat kantong-kantong bening yang sudah berisi berbagai macam benda itu.
Tangannya kemudian meraih dua plastik yang berisi botol minuman kosong. Satu buah botol air mineral dan satu lagi minuman kopi. "Kalau makanan tidak ada yang kami temukan, tapi kedua botol minuman ini tergeletak dua puluh meter dari tempat jasad di gantung."
Ia mengambil kantongan tersebut. Bara sudah menggunakan sarung tangan untuk mengeluarkan kembali kedua botol minuman itu dan membuka tutupnya. Kemudian kembali mengendus botol-botol tersebut sama seperti yang ia lakukan kepada mayat tadi.
Kening Bara berkerut, ia kemudian mengembalikan barang bukti tersebut kepada petugas forensik. Dia lantas kembali ke tempat Rianti dan Citra yang tampak hanya memperhatikan dia dari kejauhan. Bara mengikat sebagian rambutnya yang mulai gondrong itu.
Dia tersenyum, matanya melirik Rianti sambil berkata, "Aku rasa, aku akan mengambil alih lagi ruanganku."
Binar bahagia jelas terlihat di iris mata berwarna turquoise itu. Rianti merangkul koleganya, ia meninju lengan Bara.
"Dengan senang hati, aku kembalikan singgasanamu, welcome home doctor stranger." Rianti membungkukkan badan dengan anggun seperti seorang puteri raja.
Mereka bertiga tertawa. Hanya menyisakan Haris yang diam dan terheran-heran.
Inspektur dua ini menatap ketiga orang tersebut tanpa bicara, ia hanya membatin. Bisa-bisanya mereka tertawa dalam keadaan seperti ini. Dasar aneh!
"Kalian sudah bisa membawa jasad itu ke rumah sakit!" Dua petugas yang memasukkan mayat ke kantong jenazah itu menuruti perintah Bara dan menutup resleting kantong berwarna kuning tersebut.
"Apa kalian lihat-lihat! Belum pernah lihat orang terburu-buru keluar dari rumah?"
Bara melengos, sementara Haris pergi dan pura-pura tidak melihat apapun. Rianti hanya bisa menahan tawanya. Sungguh malam ini mereka melihat versi kacau dari seorang Inspektur Citra Deborah Hutabarat.
Satu jam kemudian, Citra sudah menyulut gulungan nikotin yang terjepit di sela jarinya itu di dalam kamar. Ia menyandarkan tubuh di kursi.
Iris hazel itu menatap langit-langit kamar. Pikirannya menerawang ke kasus penemuan mayat tadi. Bajunya yang basah sudah berganti dengan baju kering.
Matanya melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjuk jam 02.00 dini hari. Citra mematikan rokok yang belum habis setengah batang. Dia kemudian memilih untuk mengistirahatkan sejenak tubuh dan pikirannya.
...----------------...
Suara dering ponsel itu membangunkan Citra. Dia menggapai-gapai udara, sampai akhirnya tangannya berhasil meraih benda berlayar datar itu. Mata Citra masih belum bisa terbuka sempurna, tapi samar ia melihat nama Bara tertera di layar.
Rasa kantuk Citra hilang seketika saat mengetahui dokter gila itu yang menelepon. "Halo, kenapa, Bar?" Citra menjawab teleponnya masih dengan suara mengantuk.
"Kamu bisa ke rumah sakit sekarang? Temui aku di ruanganku." Suara Bara terdengar sangat antusias. Citra tahu benar, jika dia seperti itu, pasti ada sesuatu yang ia temukan.
Masih berjuang dengan kantuk, Citra melihat jam digital di nakas-nya. Jam 05.00 pagi, tapi ia berusaha bangun.
Tidak butuh waktu lama, Citra sudah bersiap untuk berangkat ke rumah sakit Bhayangkara. Mamanya keluar kamar tepat ketika ia sedang memanaskan mesin mobil.
Dengan heran Rita menghampiri anaknya itu. "Pagi-pagi buta begini kamu mau kemana?"
"Ke rumah sakit Bhayangkara, Ma. Citra mau ketemu dokter forensik di sana."
Wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya, terlihat raut cemas di wajah Rita. Pasti anak perempuannya ini sedang berurusan dengan kasus pembunuhan lagi.
"Kamu lagi dapat kasus pem—"
Citra memotong ucapan mamanya. "Aku berangkat dulu, Ma. Sebelum sarapan aku sudah kembali dan aku harus menemani Chris, bukan? Love you, Mom."
Rush itu melaju perlahan sampai menghilang dari pandangan Rita.
Alunan musik dari grup band Linkin' Park menggema di sudut-sudut mobil. Ia sengaja memutar musik rock agar matanya tetap terbuka, mobil itu berbelok ke sebuah minimarket 24 jam. Citra membeli segelas kopi panas dan sepotong roti.
Citra memarkir mobilnya di pelataran parkir rumah sakit, dia meminum sisa kopinya lalu turun dari mobil. Rumah sakit umum ini masih sepi. Langkah kakinya menggema di sepanjang koridor menuju ruangan Bara.
Ia membuka pintu ruangan itu. Kosong. Citra menggaruk kepalanya jengkel. "Kemana dokter gila itu?"
Ditutupnya kembali ruangan yang penuh dengan tumpukan kertas dan juga cup mie instan itu. Citra hanya bisa menggelengkan kepala melihat ruang kerja yang lebih tepatnya seperti tempat pembuangan sampah tersebut. Ia memilih untuk mencari Bara di ruang autopsi.
Benar saja, pria itu ada di sana. Dia sedang sibuk membereskan peralatan bedahnya. Jasad tunawisma semalam terbaring di atas meja logam yang dingin.
"Ada apa kamu memanggilku sepagi ini?" tanya Citra. Matanya menatap Bara meminta penjelasan.
"Bantu aku membereskan itu!" pinta Bara tanpa menjawab pertanyaan Citra.
Meskipun kesal, Citra bergerak juga membantu dokter forensik andalan ini. Mereka membereskan ruang autopsi itu bersama-sama. Sebenarnya Bara memiliki asisten, tapi, dia lebih suka bekerja sendiri. Sedangkan Rianti memang adalah teman seangkatannya, hanya saja wanita itu lebih mendalami ilmu toksikologi.
"Finally, done. Kita ke laboratorium Rianti, we'll talk there," cerocos Bara.
Citra berdecak dan memutar bola matanya.
Sesampainya di laboratorium, mereka mendapati Rianti sedang menyesap segelas kopi. Melihat kedatangan Citra dan Bara, ia menggembungkan pipinya.
Bara memukul pelan kepala Rianti dengan sebuah buku. "Bisa-bisanya kamu tidak menyadari ketiga mayat itu digantung dalam keadaan sudah tewas karena racun."
Dahi Citra berkerut. "Maksudnya?"
"Ya, mereka dicekoki racun dengan jenis yang sama," jawab Rianti kali ini. "Coba kamu perhatikan botol kopi merk ini ditemukan di dekat mayat terowongan dan juga pak tua Narto."
"Kami menemukan zat racun yang sama dengan yang ditemukan pada mayat di minuman kopi itu." Bara menimpali ucapan Rianti.
Citra mengamati foto yang ditunjukkan oleh Rianti itu. "Kopiku," gumamnya sendiri.
Ia mencatat merk minuman kopi itu di agendanya. Sepertinya minuman kemasan itu dibuat oleh usaha rumahan. "Aku akan menyelidiki dimana minuman itu dibuat dan siapa pemiliknya."
Arlojinya sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan Citra ingat sudah berjanji akan pulang saat waktu sarapan. Mengingat itu, ia kemudian pamit pulang kepada dua dokter forensik tersebut. Ia tidak ingin membuat ibu suri keluarga Hutabarat memberikan ceramah selama waktu sarapan hanya karena dia tidak menepati janji.
...****************...