
Hanya satu petunjuk samar yang Citra peroleh dari penyelidikan hari ini, ia membuka pintu ruangan dan urung masuk ke dalam. Haris nampak duduk di kursi Faisal dan membelakangi pintu.
Citra hanya menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan, kemudian ia pun akhirnya masuk ke ruangan itu.
"Selamat sore, Ndan!" sapa beberapa anggota di ruangan itu dan membuat Haris refleks berdiri lalu memberi hormat pada Citra.
Citra tersenyum dan berlalu masuk ke ruang kerjanya. Ia sama sekali tidak ingin menoleh kepada Haris.
"Jak, Jaka ... aku ada salah ya, sama komandan? Kok dari kemarin Iptu Citra tidak ramah ke aku," bisik Haris pada salah satu rekannya.
Orang yang bernama Jaka itu mencondongkan tubuhnya dan balik berbisik pada Haris, "Kursi ini dulu punya rekan Iptu Citra, kamu pernah dengar soal kasus Pria Tangan Tuhan?"
Dahi Haris mengernyit. "Pembunuh berantai salib terbalik itu?" tanyanya pelan.
Jaka mengangguk. "Ipda Faisal adalah pelakunya, dia dan Iptu Banyu Aji adalah tersangka kasus itu. Yang akhirnya—"
Suara berdeham dari belakang membuat Ipda Jaka menghentikan ucapannya.
"Ipda Jaka!" Citra sudah berdiri di belakang mereka berdua.
"Siap, Komandan!"
"Kalian berdua ikut saya!" perintah Citra pada kedua bawahannya itu.
Haris dan Jaka mengekor di belakang sang komandan. Mereka saling bertukar tatap tidak mengerti, Citra menyerahkan kunci mobilnya kepada Haris.
"Kamu yang nyetir!"
"Siap, Ndan!"
Tak lama kemudian mereka pun meluncur menembus jalanan Manggala yang sudah mulai menggelap. Haris mengikuti arah yang ditunjuk oleh Citra menuju ke bantaran kali Antara. Mereka ternyata akan mengintai daerah itu, di mana menurut informasi Anto, ada mobil box yang datang untuk membawa Bu Maryam.
"Kalian perhatikan terus jalan yang ada di seberang sana dan saya akan mencari CCTV sekitar wilayah ini!" perintah Citra.
"Siap, Ndan!" sahut mereka bersamaan.
Citra keluar dari mobil, suasana pinggiran kota Manggala itu sudah sangat sunyi, padahal jam baru menunjuk pukul setengah tujuh malam. Mungkin beberapa penghuni rumah kardus itu sedang berkeliaran di jalanan.
Ia terus berjalan sembari menengadah mencari benda kecil yang biasa menjadi kunci jawaban sebuah kasus. Rekaman CCTV akhir-akhir ini sering menjadi bukti pendukung yang akurat untuk penyelidikan. Namun, nihil.
Dalam perjalanan kembali ke mobil, Citra bertemu dengan sosok kecil yang sedang sibuk mengais sampah di sudut jembatan kecil yang menghubungkan jalanan setapak dengan tepian kali itu. Ia memicingkan mata untuk memperjelas penglihatannya di tempat yang hanya disinari cahaya bulan redup.
"Anto!" Citra terkejut ketika mendapati bayangan kecil itu adalah Anto. Bocah yang ia temui siang tadi. Anto tersentak dan sontak menoleh ke arah Citra, di wajah bocah itu terukir garis senyum saat melihat sosok yang mengejutkan dirinya.
"Kakak polisi!" Ia berseru girang dan berlari menghampiri Citra.
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Citra heran sambil mengacak-acak rambut lepek bocah kumuh itu.
Dia nyengir lebar. "Ish, tangan kakak nanti kotor." Anto menepis halus tangan Citra, "lapar, Kak. Jadi, saya cari remahan roti atau sisa makanan yang biasa orang buang, di sini. Orang kaya suka buang-buang makanan," jawabnya dengan ringan.
Miris Citra mendengar jawaban seperti itu keluar dari bibir seorang anak kecil. Dia mengelus kepala Anto. Matanya memandang sekeliling, mencari mini market atau warung yang terdekat.
Ia melihat sebuah warung tenda yang menjual burger di sudut jalan yang agak jauh dari bantaran kali. Citra mengajak Anto pergi ke sana.
"Ayo ke sana! Makanan di tempat sampah kotor, tidak bagus untuk kesehatanmu." Tanpa rasa jijik Citra menggandeng bocah itu ke warung tenda tersebut. Anto takjub melihat gambar menu yang ada di warung tenda itu.
"Kamu mau yang mana? Pilih saja." Citra menunjuk papan menu warung tersebut.
"Saya tidak punya uang, Kak," lirih Anto.
"Kakak yang bayar. Kamu mau yang mana?" tanya Citra geli.
Dahi bocah itu pun serta merta berkerut seolah sedang berpikir keras. Kemudian jarinya menunjuk sebuah gambar chicken burger besar dengan double cheese.
Tampak binar gembira di mata Anto, hidungnya bergerak-gerak mencium aroma burger yang sedang diracik sang penjual. Sekilas tadi Citra melihat lirikan sinis dan jijik dari penjual burger ini.
Akhirnya empat porsi burger dan empat minuman dingin sudah di tangan Citra. Ia kemudian memberikan dua kantong kepada Anto.
"Terima kasih, Kak!" serunya. Sangat jelas sekali jika bocah ini merasa senang.
"Kamu mau pulang?" tanya Citra sembari berjalan menuju arah pemukiman rumah kardus.
Anto mengangguk. Ia melompat-lompat kecil kegirangan. Tangannya satu memegang kantong berisi burger itu dan satu lagi menggenggam tangan Citra.
Dari kejauhan Haris dan Jaka menatap heran pada komandan mereka yang biasa bersikap dingin pada bawahannya. Pemandangan kali ini menunjukkan sisi lain dari sosok Iptu Citra yang hangat. Senyuman itu sangat jarang mereka lihat ketika dia sedang bertugas.
Citra mengantar Anto sampai ke ujung jalan pemukiman rumah kardus itu. Ia lalu kembali dengan membawa dua kantong burger untuk Haris dan Jaka.
"Kalian makan dulu!" perintahnya sembari menyodorkan kantongan itu.
Ia kemudian berdiri dan bersandar di depan mobil, tangannya merogoh saku untuk mengambil sebungkus rokok. Citra menyulut rokoknya dan menghisapnya sambil menatap langit malam.
Haris dan Jaka saling sikut melihat sisi Citra yang melankolis itu.
"Komandan ...." tegur Haris ragu, dia sedikit takut untuk memulai percakapan dengan wanita garang ini.
Citra menoleh. "Ya!" sahutnya ketus.
"Sebenarnya, apa yang sedang kita cari di sini?" tanya bawahan barunya itu penasaran.
"Mobil box." Citra menjawab pendek tanpa mengalihkan pandangan dari seberang. Haris semakin heran. Apa hubungan kasus ini dengan mobil box? Ia membatin.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Tidak terasa tiga jam sudah mereka melakukan pengintaian sia-sia, Citra memutuskan untuk kembali saja ke kantor kemudian pulang ke rumah.
Rush itu melaju membelah malam. Mereka bertiga larut dalam kesunyian, tidak ada suara melainkan hanya suara mesin mobil saja. Citra menurunkan Haris dan Jaka di depan kantor sedangkan ia sendiri langsung pulang.
...----------------...
Lampu dalam rumahnya menyala, Citra sama sekali tidak ingat pernah menyalakan lampu itu karena dia sendiri jarang pulang. Ia memarkir mobilnya dan bergegas turun. Dengan hati-hati membuka pintu rumah yang sudah tidak terkunci.
Apakah papa dan mama datang? Citra bertanya-tanya dalam hati. Tiga pasang sepatu yang dua di antaranya adalah milik orang tuanya. Lalu sepasang lagi ia tidak tahu milik siapa.
"Nah, ini dia Citra, sudah pulang rupanya!" Seorang wanita menyambutnya dengan pelukan hangat. Dia adalah mama angkat Citra.
Sementara di sofa, papanya terlihat duduk berdampingan dengan seorang pria yang berusia kurang lebih sama dengan Citra.
"Ma, kenapa tidak memberi kabar kalau mau datang?" tanyanya sedikit protes.
Wanita yang sudah menjadi mama angkatnya sejak tiga puluh tahun lalu itu, hanya tersenyum dan mengajak Citra duduk.
"Ini Christian, anak sahabat papamu," mamanya memperkenalkan pria yang ada di samping sang papa.
Citra mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan pria itu. Iris berwarna abu-abu gelap miliknya melirik Citra dengan lirikan penuh misteri.
"Sudah, kita lanjut ngobrolnya besok saja, kamu lelah 'kan, Nak?" tanya papanya.
Ia mengangguk, karena sebenarnya dia sedang tidak ingin berbincang maupun berbasa-basi. Dia butuh istirahat malam ini, setelah mendengar sedikit cerita papa serta maksud dan tujuan pria itu ikut dengan mereka.
Citra pun berpamitan untuk istirahat. Tubuhnya sudah cukup letih dengan kasus ini dan orang tuanya sedang mengadakan blind date antara dia dan pria bernama Christian tersebut.
...****************...