The End Of Revenge

The End Of Revenge
Bab 9: Bunga Lily


"Huhft.... dasar kepala tidak bisa diajak kompromi," gumam Zara memutar kepalanya.


"Kosong? Kemana mereka?" batin Zara. Meja nomor 10 itu kini sudah kosong. Hanya ada bekas peralatan makan di atas meja.


"Ah itu mereka," batin Zara mengambil tasnya. Lalu berjalan dengan cepat mengikuti sepasang kekasih itu. Zara hanya mengikuti nalurinya saja.


"Bughh...."


"Akhh.." Eve meringis kala seorang wanita menabrak punggungnya.


"Hei perhatikan jalanmu," teriak Shane. Wanita yang menabrak kekasihnya itu bahkan tidak peduli. Dengan santainya masuk ke dalam mobilnya lalu pergi.


"Are you okay?" tanya Shane. Eve lalu mengangguk.


Lagi-lagi Zara kesal melihat Shane dan kekasihnya. Zara mere.mas setir mobilnya.


"Tunggu saja permainan selanjutnya," gumam Zara menyeringai lalu pergi.


"Awas.." Shane menarik tubuh Eve. mobil Zara hampir menyerempetnya.


"Dasar wanita gila," teriak Shane emosi. Beraninya dia bertingkah kasar pada kekasihnya.


"Aku akan memberinya pelajaran. Aku pikir Cafe ini memiliki cctv," kata Shane merengkuh tubuh Eve.


"Lupakan saja Shane. Mungkin dia sedang banyak masalah," kata Eve.


"Tapi tidak harus melampiaskannya pada orang lain bukan. Dia hampir mencelakai mu," balas Shane.


"Sudahlah.. kita pergi saja. Bukankah kamu bilang ingin menemaniku ke makam orang tuaku," kata Eve menatap Shane. Pria itu lalu mengangguk.


*******


Pagi Hari Sebelum Eve pergi ke Cafe.


"Nona aku ingin bunga lily," ucap Eve pada perempuan muda yang sedang menjaga toko.


"Tunggu sebentar, saya akan merangkainya Nona," ucap penjaga toko.


Seorang pria turun dari mobil berwarna hitam. Memakai kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga sebatas sikunya. Kacamata hitam bertengger di atas tulang hidungnya yang mancung.


"Selamat datang di Mia Florist ada yang bisa s___"


"Bunga lilly putih," ucap Chris dingin memotong perkataan penjaga toko itu. Bukan hanya penjaga toko itu saja yang terkejut. Eve yang berdiri tak jauh dar pria itu juga terkejut.


"Baik Tuan, saya akan merangkainya," ucap penjaga toko.


"Nona, ini pesanan anda."


"Ah iya. Terima kasih," kata Eve ramah, mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya lalu membayarnya.


"Maaf Tuan, bunga lily putihnya sudah habis. Nona itu adalah pembeli terakhir kami," kata pelayan menunjuk Eve.


"Bagaimana kalau warna yang lain saja. Atau bunga yang lain," kata pelayan itu.


"Ibuku hanya menyukai bunga lily putih saja," balas Chris datar lalu pergi.


Entah mengapa, Eve mengejar pria itu, hanya mendengar kata ibu saja Eve seperti tergerak untuk membantunya, "tunggu," kata Eve membuat langkah Chris berhenti. Chris memutar tubuhnya dan berhadapan dengan Eve.


"Tuan, anda bisa membawa bungaku saja. Berikan ini pada ibu anda. Saya bisa membeli bunga lain untuk ibuku," kata Eve menyodorkan bunga miliknya. Chris hanya menatap datar Eve, lalu menilai penampilan wanita didepannya. Terlihat biasa saja.


"Kau tau. Aku tidak terbiasa menerima pemberian orang. Tidak perlu menarik perhatianku. Aku tau maksudmu," ucap Chris masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Eve berdiri dengan mata membulat.


"Ck.. Dasar sombong. Apa katanya tadi? Apa dia berpikir jika aku sedang mencari perhatiannya. Yang benar saja. Aku jadi menyesal. Entah kenapa tadi aku melakukannya. Sial sekali. Aku doakan dia tidak mendapat bunga lily putih," ucap Eve kesal lalu pergi.


******