
Chris duduk di hadapan Alejandro. Pria tua berumur 68 tahun dengan rambut panjang yang diikat. Di usianya yang sudah tua, pria itu tetap terlihat bugar.
"Aku dengar kartel Deadly Nuevo akan melakukan transaksi ilegal di perbatasan dua hari lagi," kata Chris bersandar di kursi.
"Apa rencanamu?" tanya Alejandro bangkit dari kursi kebesarannya. Ia berjalan menuju lemari penyimpanan anggurnya. Melihat botol anggur dengan tahun pembuatan yang lebih lama.
"Tentu saja mengambil keuntungan dari transaksi itu. Lalu menyumbangnya seperti biasa," jawab Chris.
"Lakukan dengan hati-hati Chris. Mereka cukup kuat," katanya memperingati Chris.
"Aku tau itu. Kali ini kita harus berhasil melumpuhkan kartel mereka," balas Chris menyeringai.
"Aku percaya kamu bisa melakukannya," kata Alejandro meneguk wine nya. Chris mengambil gelas dan menuang wine kedalam gelasnya.
"Penelope ingin bertemu denganmu," kata Alejandro. Penelope adalah cucunya yang tertarik dengan Chris. Sayangnya Chris menolaknya terang-terangan. Alejandro tidak tau siapa wanita yang akan meluluhkan hati pria di depannya.
"Aku tidak bisa. Aku tidak ingin membuatnya berharap padaku," ucap Chris dingin.
"Aku tidak akan memaksamu meskipun dia cucuku Chris. Aku menghargai keputusanmu. Saranku, sebaiknya kamu segera menemukan pendampingmu. Usiamu sudah 30 tahun," tukas Alejandro menghembuskan asap rokoknya. Chris tidak menggubrisnya. Ia tidak peduli dengan saran Alejandro. Lagi pula sangat banyak wanita yang menginginkannya menjadi pendamping pria seperti dirinya. Hanya saja ia tidak ingin. Chris tidak menyukai hal-hal yang membuatnya terikat.
******
New York, 10.00 am
Zara kembali ke Amerika dua hari yang lalu. Ia kini tinggal bersama dengan ayahnya yang merupakan seorang Arsitek ternama. Frank Fuler. Duda paruh baya yang ditinggalkan istrinya yang selingkuh dengan pria lain. Frank membesarkan putri semata wayangnya sendiri. Istrinya seolah lepas tangan dengan tanggung jawabnya. Kejadian itu sudah cukup lama. Sejak Zara Fuler berusia 12 tahun.
"Pagi sweety. Sudah dua hari ini kamu bangun terlambat," kata Frank menaruh pensil dan kertas ditangannya di meja.
"Kamu mau kemana?" tanya Fuler melihat penampilan putrinya dari atas hingga ke bawah.
"Cafe bibi An," jawab Zara santai.
"Astaga sweety, hanya ke Cafe bibi An saja tapi penampilanmu berlebihan sekali. Seorang fashion designer memang berbeda," ujar Frank menggeleng-gelengkan kepalanya melihat penampilan putrinya. Rok pendek, atasan crop, kacamata hitam, sepatu booth dengan tinggi hingg ke lutut. Dan topi klasiknya. Jangan lupa dengan lipstik merah menyala di bibirnya.
"Aku suka itu dad. Bagaimana memadu padankan setiap pakaian. Kegiatan yang sangat menyenangkan," ujar Zara terkekeh.
"Sepertinya aku harus segera pergi dad. Cacing di perutku sudah mulai konser," kata Zara memeluk ayahnya lalu pergi.
Zara tiba di depan sebuah Cafe minimalis dengan pengunjung yang selalu ramai di kota New York.
"Oh lihatlah tatapan mereka," batin Zara berjalan masuk ke dalam Cafe. Ia menjadi bahan perhatian di sana sekarang.
Zara memilih masuk ke ruangan pemilik Cafe itu.
"Hai Bibi An," sapa Zara.
"Ya Tuhan.. kamu kah itu Zara ," ujar Bibi An terkejut melihat Zara berjalan mendekatinya.
Zara memeluk Bibi An. "Iya Bibi, ini Zara yang dulu sering berutang di Cafe mu," ujar Zara terkekeh. Bibi An merupakan kerabat jauh ayahnya. Oleh sebab itu mereka terlihat dekat.