
"Ayo... Kenapa kalian diam saja. Apa kalian sudah mengaku kalah. Ayo lawan..." bentak Zara dengan penampilan yang sudah acak-acakan. Rambutnya yang awalnya rapi kini seperti rambut singa. Wajahnya mendapat beberapa cakaran.
"Pak wanita ini____"
"Saya tidak ingin kejadian ini terulang kembali jika kalian tidak ingin dipecat," kata Shane dingin memotong perkataan karyawannya. Zara yang mendengar suara Shane menoleh kebelakang. Pantas saja mereka tidak melawan lagi. Batin Zara.
Shane menatap Zara dingin, wanita didepannya tetap angkuh seperti biasanya.
"Kamu..." tunjuk Shane pada Zara.
"Ini perusahaan, bukan tempat untuk menjual diri," kata Shane datar membuat Zara membulatkan matanya. Shane tau jika wanita itu tersinggung dengan ucapannya. Itulah yang Shane inginkan. Shane bisa melihat kemarahan di mata wanita itu.
"Aku tau," kata Zara merapikan penampilannya dan kembali memasang wajah tak bersalahnya. Ya, baginya dia tidak bersalah. Merekalah yang memulai.
Beberapa pria menatap nakal tubuh Zara. Mereka tergoda dengan Zara. Siapa yang tidak akan tergoda dengan Zara. Wanita cantik dengan tubuh bak gitar spanyol.
"Bubar sebelum aku memecat kalian," ucap Shane menatap tajam karyawannya. Kerumunan itu lalu bubar menyisakan Shane dan Zara di sana.
"Ck... Tidak pernah berubah," kata Shane pergi.
"Kamu benar," kata Zara mengambil tasnya dari lantai. Ia lalu mengikuti Shane.
Shane menghentikan langkah kakinya saat menyadari Zara mengikutinya.
"Sudah kubilang ini perusahaan, bukan tempat untuk menjual diri. Pergilah. Atau aku sendiri yang akan menyeret mu keluar," kata Shane tanpa memutar tubuhnya.
Zara tertawa kuat, Shane berubah. "Si pecundang ternyata sudah berani sekarang," kata Zara.
Rahang Shane mengeras. Memutar tubuhnya dan menatap tajam Zara seolah ingin mematikannya. Zara sebenarnya takut, tapi ia tidak akan menunjukkan kelemahannya di depan pria itu.
"Tapi aku suka," kata Zara tersenyum manis. Senyumannya kali ini benar-benar tulus.
"Setidaknya sekarang aku punya lawan yang seimbang," ujar Zara mengamati wajah Shane. Pria itu bahkan tidak melihatnya sama sekali.
"Sepertinya kamu perlu bercukur," kata Zara mengusap rahang Shane yang mulai ditumbuhi rambut halus.
"Lepaskan tanganmu," kata Shane datar menepis tangan Zara. Zara menyeringai.
"Katakan pada Eve untuk mencukurnya," Kata Zara mengecup wajah Shane lalu pergi meninggalkan Shane yang terpaku di tempatnya.
*******
Madrid, 08.00 am
Chris mengerjapkan matanya saat cahaya matahari berhasil menembus jendela kamar yang mengusik tidur Chris. Pria itu mencoba Beberapa kali ia mengerjapkan mata, mengumpulkan kesadarannya. Ia baru tidur jam 4 pagi setelah mabuk karena minum alkohol 5 botol untuk menghilangkan beban pikirannya.
Chris bangun dan menyandarkan kepalanya di sofa karena semalam ia tidur di sofa.
"Shhhh.." Chris memegang kepalanya yang terasa sakit.
Lantai kamarnya berantakan karena bekas botol minumannya. Sisa-sisa rokok yang berserakan.
Chris sedikit kelimpungan saat berdiri. Pria itu sepertinya belum sadar seutuhnya.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Chris mengambil ponselnya. Ia melihat pesan masuk dari Agustin dan membacanya. Chris menghubungi Agustin untuk mengurus perusahaan hari ini karena ia ingin pergi ke markas. Chris ingin berburu di hutan. Sudah lama rasanya ia tidak mengasah keahlian memanahnya. Mengenai informasi tentang kekasih Shane, ia akan melihatnya setelah pulang berburu. Lagi pula saat ini itu tidak terlalu penting. Ia hanya tidak suka saja Jiak Shane sudah punya kekasih. Ia tidak suka melihat kebahagiaan pria itu.