The End Of Revenge

The End Of Revenge
Bab 11: Dia Milikku


Manhattan, 10.00 pm


Setelah menyelesaikan kegiatan panasnya dengan salah satu wanita sewaannya, Chris meminta Agustin membawa berkas-berkasnya ke ruang kerja miliknya. Chris tidak akan bisa tidur dengan cepat, ia memiliki gangguan tidur. Oleh karena itu, Chris memilih bekerja di malam hari untuk menyibukkan dirinya.


Agustin membawa berkas-berkas di tangannya dan memberikannya pada Chris.


"Anda ingin minum?" tanya Agustin. Chris mengangguk. Pria itu lalu mengambil anggur untuk mereka.


"Aku ingin kita kembali ke Madrid besok. Siapkan semuanya Agustin," kata Chris membuka lembaran berkas-berkasnya.


"Baik Sir," kata Agustin. Ia kemudian menuang wine ke dalam gelas.


Agustin duduk di kursi, ia terlihat ingin menanyakan sesuatu pada Chris. Tapi ia takut karena hal itu akan menyinggung perasaan bosnya.


"Katakan saja," ucap Chris seolah bisa membaca pikiran Agustin.


"Apa anda tidak ingin menemui keluarga anda sebelum kembali?" tanya Agustin berharap Chris tidak marah.


Chris terdiam, menghentikan pergerakan tangannya yang sedang membuka lembaran berkas di depannya.


"Kau tau Agustin, aku sudah muak dengan pertanyaanmu itu, ini terakhir kalinya aku mendengarnya dari mulutmu, atau kamu tidak akan bisa menggunakan mulutmu itu selamanya," balas Chris dingin. Agustin mengangguk. Chris tidak pernah main-main dengan perkataannya.


"Cukup awasi saja mereka."


"Drrrrt...drrtttt...drrrrtt.." ponsel Chris bergetar. Pria itu melirik sekilas layar ponselnya.


"Anak kecil ini lagi," gumam Chris mengangkat teleponnya.


"Apa kakak tahu, Shane sekarang sudah punya kekasih," kata Zara.


"Lalu?"


"Tentu saja aku ingin meminta bantuan dari kakak. Aku tidak ingin dia bahagia. Menyebalkan sekali," balas Zara kesal karena Chris tidak peka.


"Bagaimana bisa pecundang itu memiliki kekasih," ujar Chris meremehkan Shane.


"Ck... Sepertinya aku tidak salah. Kamu memang menyukai pecundang itu," kata Chris mengejek Zara.


"A..apa.. itu tidak akan pernah terjadi. Bagaimana bisa aku menyukai musuhku," kata Zara gelagapan. Chris terkekeh. Zara tidak bisa berbohong padanya. Chris tentu tahu jika Zara menyukai Shane sejak dulu. Hanya saja ia terlalu gengsi mengingat Shane adalah korban bullying ya dulu. Ia malu mengakui kekalahannya.


"Ah.. sudahlah. Bicara dengan kakak tidak ada gunanya," kata Zara cemberut mematikan ponselnya.


"Dasar kekanak-kanakan," batin Chris mematikan ponselnya.


"Cari tahu semua tentang wanita itu!" Perintahnya pada Agustin.


"Baik Sir, akan saya lakukan."


******


Eve sedang melakukan rutinitas malamnya sebelum tidur. Memakai skin care di wajahnya. Ponsel miliknya berdering.


"Astaga.. Shane..." gumam Eve. Baru saja mereka mengakhiri panggilan vidio 5 menit yang lalu dan pria itu menghubunginya lagi. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan Shane. Eve meraih ponselnya dari tempat tidurnya.


"Ya Tuhan.. Aku pikir Shane. Ternyata nomor baru," kata Eve terkekeh.


"Halo.." ujar Eve.


"Tinggalkan Shane, dia milikku," ucap seorang wanita membuat Eve mengerutkan keningnya.


"Sepertinya anda salah orang," kata Eve mencoba tenang walau sebenarnya ia mulai gelisah.


"Aku bilang tinggalkan Shane. Sebelum kamu menyesalinya."


"Aku tidak akan percaya dengan semudah itu Nona," ujar Eve.


"Oh benarkah. Kita lihat saja nanti," ucap wanita itu mengakhiri panggilannya.


Eve menggenggam ponselnya, entah mengapa kepercayaannya pada Shane mulai goyah. Walau sebenarnya ia tidak percaya dengan perkataan wanita itu. Besok ia akan menemui Shane dan bertanya langsung pada pria itu. Ia tidak ingin hal seperti ini merusak hubungan mereka.