The End Of Revenge

The End Of Revenge
Bab 13: Restoran


Madrid, 06.00 pm


Chris sedang berada di restoran yang ada di Madrid untuk mengisi perutnya yang kosong setelah seharian berada di kantor dan melewatkan makan siangnya. Dia tipe pria gila kerja karena ingin mengumpulkan uang sebanyak mungkin dan memperbanyak bisnisnya.


Dari kejauhan seorang wanita terlihat ragu untuk mendekati Chris. Takut jika ia salah orang. Cukup lama ia meyakinkan dirinya, hingga ia memberanikan dirinya mendekati Chris.


"Chris.." panggil Oriel pelan menyentuh pundak Chris.


"Ya Tuhan... Aku ternyata tidak salah orang," ucap Oriel senang. Namun rasa bahagia itu tidak berlangsung lama. Chris menatapnya dengan tajam membuat ekspresi wajah Oriel berubah.


Chris meletakkan sendoknya, mengambil sapu tangan dan menyeka mulutnya. Chris hendak berdiri namun Oriel menahannya.


"Lepaskan," ucap Chris dingin.


"Chris.. apa kamu tidak ingin pulang dan berkumpul bersama kami. Kami merindukanmu nak. Ayahmu pasti akan senang bertemu denganmu," kata Oriel. Lagi-lagi Oriel hanya mendapat tatapan dingin dari Chris. Tatapan yang selalu ia dapatkan dari pria itu.


"Aku belum lupa saat dimana Axton Halburt membuang ku. Berhentilah bersikap seolah kalian menginginkan kehadiranku," kata Chris dingin. Oriel menggelengkan kepalanya.


"Bukan___" Chris mengangkat tangannya pertanda jika dirinya tidak ingin mendengar penjelasan dari Oriel.


"Anda hanya membuang waktu berhargaku saja," kata Chris lalu pergi.


"Mama senang kamu baik-baik saja," ucap Oriel tulus sebelum Chris semakin menjauh.


Chris masuk ke dalam mobilnya. Terdiam, kedua tangannya mer.emas setir mobil. Sangat kuat hingga membuat tangannya memerah.


********


Chris menghunjam milik wanita dibawahnya dengan kuat, membuat wanita itu kesakitan. Chris seolah meluapkan emosinya hingga melakukan kekerasan pada wanita yang berada dibawahnya. Chris tidak peduli dengan rasa sakit yang dirasakan wanita itu. Bahkan kedua tangannya mencekik leher wanita itu. Semakin wanita itu kesakitan, Chris semakin senang.


"Tu... Tuannn..hhhh... Le..paskan..." ucap wanita itu kesakitan.


"To.. Long... Lepaskannnhhh," ucap wanita itu dengan nafas tersenggal. Ia mencoba melepaskan tangan Chris. Sangat sulit sekali. Tenaga pria itu benar-benar kuat.


Chris melepaskan cekikannya setelah ia mengalami pelepasannya.


"Huh... Huh.. Huh..." wanita itu hampir mati jika Chris tidak melepaskannya.


"Keluar jika kamu masih ingin hidup," kata Chris dingin menatap wanita di sampingnya yang terlihat meraup udara sebanyak-banyaknya.


Takut, wanita itu lalu memungut pakaiannya dan pergi dengan langkah kaki yang cepat. Ia masih menginginkan nyawanya. Chris benar-benar seperti monster. Persetan dengan imbalan yang belum diterimanya. Ia lebih peduli dengan nyawanya. Ia tidak akan pernah berhubungan dengan pria itu lagi.


Agustin cukup terkejut melihat penampilan seorang wanita yang baru saja berpapasannya dengannya di tangga. Memprihatinkan, dia terlihat ketakutan. Rambut dan pakaiannya yang acak-acakan. Bibir dan hidung mengeluarkan darah. Bekas cakaran di leher.


Hanya melihat wanita itu saja, Agustin tidak berani menemui Chris saat ini. Ia takut dirinya terkena imbas. Sebaiknya ia menghindarinya untuk sesaat.


Agustin masuk ke dalam ruang kerja Chris dan menaruh map coklat yang dibawanya di atas meja kerja Chris dan mengirim pesan ke nomor Chris. Selama satu minggu ini, ia berada di New York untuk mengumpulkan data-data tentang wanita bernama Eve. Agustin yakin, setelah ini hidup Eve tidak akan baik-baik saja. Eve berhubungan dengan masa lalu Chris.