Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Kertas Cek In Hotel


Jam sebelas malam, Luna yang mendengar suara mobil dari ruang tamu segera membuka pintu. Dan benar saja ia melihat suaminya yang sudah pulang. Sebenarnya Luna sudah mengantuk dari tadi, sayangnya ia tak bisa tidur karena perasaannya yang tengah kacau. Sedangkan Bibi Imah dan Bibi Neni, awalnya mereka ingin menemani Luna menunggu Ariel. Hanya saja, Luna menolaknya. Setelah selesai makan malam dengan bakso dan es kelaapa yang mereka beli di angkringan pinggir jalan, Luna meminta mereka istirahat agar besok bsia bekerja lagi. Karena Luna tak mau mereka kurang tidur dan akhirnya jatuh sakit.


Bibi Neni dan Bibi Imah pun tak bisa menolaknya, terlebih mereka juga sudah lelah setelah seharian beraktivitas. Jadi mereka pun masuk ke kamar masing-masing, dan hanya tinggal Luna yang menunggu Ariel sampai malam kayak gini. Dan ketika Ariel pulang, ia pun merasa lega, namun tetap saja, di hatinya ada rasa penasaran kenapa suami dan sahabatnya itu tiba-tiba menghilang dan nomer mereka sama-sama tidak aktiv.


"Mas," ucap Luna sambil mencium punggung tangan suaminya itu.


"Kok belum tidur sayang?" tanya Ariel sambil memeluk dan mencium kening istrinya.


"Belum ngantuk, kok pulangnya malam, Mas?" tanya Luna.


"Iya banyak pekerjaan tadi," jawabnya sambil masuk ke dalam. Tak lupa Luna mengunci pintu dari dalam biar tak ada orang lain masuk.


"Oh, seharian tadi di resto?" pancing Luna. Untungnya tadi dia sudah meminta semua karyawan resto untuk tak membahas dirinya yang datang ke sana hari ini. Ia juga sudah meminta Bibi Imah dan Bibi Neni serta Dion untuk tak membahas apa yang sudah ia lakukan seharian.


Karyawan resto yang tak tau apa-apa pun, hanya bisa mengangguk setuju. Mereka tak akan membahas masalah itu baik itu di depan Laras maupun di depan Ariel. Luna cukup beruntung punya karyawan seperti mereka, tanpa mau banyak tanya, dan mereka langsung mengiyakan begitu saja.


"Iya, Sayang. Tapi cuma sampai siang sih, karena setelah itu, Mas ada rapat di luar," jawab Ariel membuat Luna menganggukkan kepala.


"Kok nomernya gak aktiv, Mas?" tanya Luna lagi, saat ini mereka sudah ada di kamar. Luna menaruh tas kerja suaminya di meja dan membantu suaminya untuk buka kaos kaki dan baju yang melekat di tubuhnya.


"Iya, Hpnya drop. Mas lupa bawa charger," sahutnya. Luna lagi-lagi hanya menganggukkan kepala. Sebagian hatinya mengatakan ia harus percaya, namun sebagian lagi, mengatakan ia harus hati-hati dan waspada.


"Aku mandi dulu ya, Sayang."


"Iya, Mas."


Dan setelah itu, Ariel pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket sedangkan Luna ia membawa baju dan celana kotor suaminya ke keranjang khusus baju kotor. Namun sebelum di taruh, Luna mengecek dulu bagian saku baju dan celana, takutnya ada uang, biar gak kena di cuci. Karena dulu pernah beberapa kali, ada yang hancur, ada yang terbelah jadi tiga, ada yang utuh juga. Jadi dari pada nanti uangnya hancur lagi, Luna pun memeriksanya.


Namun bukannya uang yang ia dapatkan, ia malah mendapatkan kertas cek ini hotel bintang lima.


"Ya Allah, apa ini?" tanya Luna dengan tangan gemeteran. Ia segera mengambil kertas itu dan menyembunyikan di lacinya, ia menaruh kertas itu di tengah-tengah buku agar gak ketahuan.


"Aku harus mematiskan sendiri besok," tutur Luna. Untuk saat ini, ia akan berusaha bersikap biasa aja. walaupun saat ini fikirannya semakin kacau tak menentu, namun ia akan berusaha untuk tetap biasa aja, agar Ariel tak curiga.


"Aku harap, kamu tetap setia sama aku, Mas. Karena aku tak ingin hubungan kita berakhir secepat ini. Tapi jika memang kamu tak lagi mencintai aku dan bermain dengan wanita lain. Maka walaupun berat, aku akan melepaskan kamu. Karena aku tak akan mempertahankan laki-laki pengkhianat yang hanya akan membuat aku sakit dan menghancurkan hidup aku. Aku tak ingin masa depan aku di habiskan dengan laki-laki yang tak mau di ajak kerjasama untuk membina rumah tangga yang sakinah, mawadah dan waromah. Aku masih cantik, masa depan aku panjang, aku mandiri. Aku bisa mendapatkan laki-laki yang lebih darimu. Jadi misal kamu sampai ketahuan selingkuh, bukan aku yang rugi. Tapi kamu, Mas," ucap Luna geram. Namun tangannya tetap membuka lemari dan mengambil baju dan sarung untuk suaminya itu.


Setelah selesai, ia duduk diam di kamar sambil memainkan Hpnya. Sedangkan Ariel yang sudah selesai mandi segera mengeringkan tubuh dan rambutnya lalu memakai sarung dan baju yang sudah di siapkan oleh istrinya itu.


Setelah itu, Ariel pun berbaring di samping Luna. "Kamu gak ngantuk sayang?" tanya Ariel melihat istrinya masih sibuk main Hp.


"Enggak, Mas."


"Enggak, ah. Males."


"Tumben?" tanya Ariel sambil tidur miring menghadap ke arah istrinya itu.


"Ya bosan, Mas. Oh ya Mas, Mas Ariel tau gak kalau Laras sakit?" tanyanya.


"Iya, tadi pagi dia kirim pesan ke aku."


"Oh, tadi aku ke rumahnya, tapi rumahnya kosong. Kemana ya kira-kira?"


"Masak sih, Yank. Apa mungkin Laras masuk rumah sakit?"


"Ya gak tau aku, Mas. Terus kamu gak telfon dia?" tanyanya.


"Nomernya gak aktiv, Mas."


"Kemana ya kira-kira dia?" tanya Ariel seakan ia benar-benar tidak tau apa-apa.


"Aku gak tau, Mas."


"Iya sudah, besok kamu ke sana lagi. Jenguk dia, siapa tau dia sudah pulang. Kalau belum ada, kamu coba hubungi keluarganya atau cari di rumah sakit terdekat. Kalau masih gak ketemu, kita lapor polisi aja," ujar Ariel membuat Luna tercengang.


"Apakah Mas Aril emang gak ada sangkut paunya dengan Laras? Apakah mereka emang gak ketemuan seperti fikiranku sedari tadi?" tanya Luna dalam hati.


"Kok malah bengong?" tanya Ariel heran.


"Enggak papa, Mas. Baiklah, besok aku akan ke rumahnya dan akan mencarinya ke rumah sakit terdekat jika memang masih tertutup rumahnya," jawab Luna.


"Apakah besok aku harus libur, Yank?"


"Kenapa?"


"Buat menemani kamu."


"Enggak usahlah, lagian ada Mas Dion. Dia kan sopir aku, jadi aku akan pergi sama dia. Mas kan harus kerja," ujar Luna dan Ariel pun menganggukkan kepala. Ia besok emang ada rapat penting jadi gak bisa libur gitu aja.


"Iya sudah, lanjut besok ya main hpnya lagi. Sekarang kita tidur," ajak Ariel yang merasa lelah dengan aktivitasnya seharian ini. Luna pun menganggukkan kepala, ia mematikan hpnya dan tidur di samping Ariel, hanya saja Luna tak memeluk Ariel seperti biasanya dan hanya Ariel yang memeluk Luna. Ariel pun tak mempermasalahkan hal sekecil itu. Tak lama kemudian, entah karena terlalu capek apa gimana, Ariel pun tidur lebih cepat. Sedangkan Luna, ia gak bisa tidur hinga jam tiga pagi.