
Sore harinya, Luna mengajak Ariel untuk menemaninya USG. Walaupun Ariel tidak memberikan respon, namun Luna tetap membawanya, karena ia tidak mungkin membiarkan Ariel sendirian, takutnya Ariel melakukan hal yang sama seperti yang Mamanya lakukan. Bu-nuh diri saat ada sebuah kesempatan dan Luna gak mau itu terjadi.
Luna mendorong kursi roda yang di duduki oleh Ariel, menuju ruang kehamilan. Untungnya mereka berada di rumah sakit, jadi cukup jalan kaki, mereka un sampai.
Saat Luna di periksa, Ariel tetap tidak memberikan respon, bahkan saat Dokter menjelaskan anak mereka, pun. Ariel hanya diam aja. Melihat hal itu, Luna kembali sedih. Ia ingin Ariel keluar dari dunianya dan bisa berbincang lagi dengannya.
Setelah selesai USG, Luna membawa Ariel ke taman. Di sana, Luna duduk di kursi, sedangkan Ariel duduk di sampingnya dengan kursi rodanya.
"Mas, kapan kamu sembuh? Aku sebulan lagi sudah melahirkan, kamu gak kasihan sama aku?" tanyanya.
"Aku ingin kamu yang menemani saat aku lahiran nanti," ujarnya sekali lagi.
"Jujur, aku takut Mas. Aku takut, bagaimana saat aku melahirkan, aku gagal," ujarnya menitikkan air mata.
"Misal aku gak selamat nanti, tolong jaga buah hati kita ya. Dan aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena selama ini aku sudah jadi istri yang membangkang, suka ngeluh dan suka seenaknya sendiri. Aku sadar, akulah penyebab kehancuran rumah tangga kita. Maafin aku." tuturnya. Sambil mengusap air mata.
"Jujur, aku takut. Aku takut, aku gak selamat saat melahirkan anak kita. Aku takut mati. Bagaimanapun dosa aku masih numpuk dan amal aku masih sedikit. Aku juga sudah bikin kamu seperti ini, entah berapa banyak dosa yang sudah aku perbuat," ungkapnya. Kini Anabelle berpindah duduk, ia duduk di bawah, di bawah kaki suaminya. Tapi gak duduk juga sih, ia seperti berdiri, tapi kakinya di tekut ke tanah, jadi ia seperti posisi berdiri.
Anabelle memegang kedua tangan Ariel dan menatap wajah Ariel yang masih terlihat kosong.
"Aku benar-benar, minta maaf. Aku mohon, tolong sadarlah kembali, jangan seperti ini. hiks hiks ...." Anabelle menangis, ia menangkupkan kepalanya di paha sang suami sambil terus menggenggam tangan sang suami.
Entah kenapa, hati Ariel tersentuh, namun ia masih diam dan hanya air mata yang keluar.
"Aku menyesal, aku sangat menyesal," ungkapkan sekali lagi.
"Misal aku mati, dan anak kita hidup, tolong rawat dia dengan baik. Serta jika surat cerai itu di keluarkan, tolong simpan ya." ujarnya yang masih ingat dengan surat cerai yang di ajukan dan akan keluar sebulan lagi.
Ariel tetap tak meresponnya, hanya saja ia mengeluarkan air mata. Dan saat Luna mendongak, menatap wajah Ariel lagi, ia kaget melihat Ariel menangis. Luna pun menghapus air matanya.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanyanya.
"Maaf, maaf. Maaf sudah bikin kamu kayak gini," ucapnya sekali lagi sambil mencium punggung tangan Ariel berulang-ulang.
"Tolong sadarlah kembali, demi aku, demi anak kita," tuturnya. Ada harapan yang begitu besar di hati Luna, yaitu Ariel yang bisa kembali seperti dulu dan tak seperti raga tanpa nyawa.