
Keesokan harinya, sehabis sarapan pagi. Bunda Naila memberikan Diana ke Luna. Diana sudah mandi, sudah pakai baju yang dibelikan oleh Ardi. Yah, Bunda Naila memutuskan untuk memilih memakaikan baju yang di belikan oleh Ardi, dari pada Dion. Karena Ardi jauh lebih berhak mendapatkan hal itu, ketimbang orang lain.
Diana juga sudah minum susu, pakai susu formula karena susu milik Luna tak mau keluar. Entahlah kenapa, apa karena terlalu stres, hingga gak mau keluar atau karena alasan lainnya. Bunda Naira juga tidak mengerti.
Akhirnya Bunda Naila memberikan susu formula, toh susu formula milik Diana sangat banyak. Ardi membelikan lebih dari sepuluh dus. Mungkin ia sudah punya firasat akan hal itu. Sehingga membelikan lebih dari satu.
Bunda Naila juga sudah mengajari Bibi Imah membuat susu dengan panduan yang ada di dusnya itu. Kalau misal Luna malas untuk buat susu sendiri untuk putrinya.
"Kamu jaga Diana, jangan main hp terus. Kalau dia nangis, gendong, jangan di tidurin di kasur sampai berjam-jam lamanya, dia juga pasti lelah dan ingin di gendong. Dan misal masih nangis, kamu cek popoknya, mungkin dia pipis atau bab. Kalau basah, langsung ganti aja dengan yang baru. Kasih bedak dulu, biar gak kemerahan pan-tatnya. Dan jika masih nangis, kasih dia susu. Jangan di diemin, kamu harus peka jadi seorang Ibu. Bunda tadi sudah meminta bantuan Bibi, kalau kamu malas bikin susu sendiri, suruh aja Bibi yang buatkan," ucap Bunda Naila sambil menyerahkan Diana ke Luna.
"Iya. Bunda dan Ayah jadi ke rumah Mas Ariel." tanyanya sambil menggendong Diana dengan sangat hati-hati sekali.
"Iya. Emang kamu gak penasaran dengan keadaan mereka gimana sekarang?" tanyanya.
"Enggak tuh, biasa aja. Toh Papa Ardi yang dulu kekeh ingin merawat Mas Ariel sendiri, jadi sejak saat itu, aku lepas tanggung jawab, dan lagi hubungan aku dengan Mas Ariel sudah berakhir. Jadi aku sudah gak ada kewajiban buat merawatnya. Dan aku yakin Mas Ariel pasti baik-baik aja, mungkin dia punya alasan lain, kenapa sampai sekarang gak lihat putrinya," ujar Luna santai. Mendengar hal itu, Bunda Naira cuma geleng-geleng kepala.
"Karma itu ada, Nak. Jangan sampai kelak, gantian kamu yang menyesali sikap kamu saat ini." tuturnya.
"Hmmm." Luna bingung mau merespon gimana.
"Iya sudah, Bunda akan berangkat dulu sama Ayah dan juga Lintang. Kamu jaga diri baik-baik. Ingat, jaga anakmu dengan benar, jangan main hp terus."
"Iya, Bun."
Dan setelah itu, Bunda Naila pun pergi sama suami dan putranya.
Luna memperhatikan Diana dengan seksama. "Kamu mirip banget sih sama Papanya," ucap Luna gemas.
"Kamu rindu gak sama Papa kamu, pasti enggak ya? Kan sudah ada Mama di sini. Kamu harus tumbuh menjadi putri yang baik dan sholehah, okay. Dan semoga kelak nasib kamu itu, jauh lebih bagus, biar gak merasakan seperti apa yang Mama rasakan. Mama sangat menyayangi kamu, Nak. Maafin Mama ya Sayang, Mama gak bisa menyu-suui kamu secara langsung. Mama gak tau kenapa gak bisa keluar kayak gini. Kamu terpaksa harus minum susu Formula seperti ini. Maafin Mama, Mama merasa gagal rasanya jadi seorang Ibu." ucap Luna sambil memperhatikan Diana yang tidur terlelap. Ia baca-baca di buku dan di google, bayi baru lahir emang suka tidur.
Luna mencium buah hatinya itu. Rasanya sangat lembut dan empuk. Luna membawa Diana ke depan rumah, duduk santai di depan rumah.
"Kamu harus berjemur dulu ya, matahari di pagi hari sangat baik buat kulit kamu." ucap Luna.
Dia menggendong Diana dengan sangat hati-hati sekali, sebenarnya dia punya kereta dorong khusus bayi. Tapi entah kenapa, Luna lebih nyaman di gendong langsung seperti ini. Mungkin biar lengket aja gitu.
"Kamu tau gak sayang, Mama tidak benar-benar membenci Papa kamu, Nak. Mama juga bingung bagaimana mengungkapkan isi hati ini. Mama gak tau ke depannya harus bagaimana. Apakah kamu ingin Papa sambung atau Papa kandung? Atau selamanya, kamu cukup berdua sama Mama?" tanyanya.
"Mama takut, kamu kekurangan kasih sayang. Mama takut, kamu akan hancur karena keegoisan Mama. Di satu sisi, Mama mulai nyaman dengan calon Papa sambung kamu. Tapi di sisi lain, Mama takut kamu akan jadi anak broken home. Mama takut, jika Papa sambung kamu, tidak mencintai kamu seperti anaknya sendiri. Berbeda jika Mengajak Papa kandung kamu balikan, yang pasti, dia akan menyayangi kamu dengan sepenuh hati, atau mungkin dia akan jadi suami dan Ayah yang posesif buat kita berdua. Dia akan menjaga kita dan melindungi kita. Dia akan selalu jadi pahlawan untuk kita berdua. Tapi masalahnya,, Mama sudah mulai mati rasa. Mama tak mungkin mengajak rujuk sedangkan di hati Mama, sudah di tempati oleh pria lain. Mama bingung, Sayang. Mama bingung." Luna mengajak putrinya itu curhat, walau ia yakin, putrinya gak akan bisa mendengar dan mengerti apa yang ia ucapkan.
Setelah lima belas menit ada di luar, barulah Luna mengajak putrinya itu masuk ke dalam rumah. Ia duduk di kursi sofa ruang keluarga sambil nonton tivi.
Ia masih terus menggendong Diana, walaupun ia fokus nonton tivi, tapi masih sesekali melihat ke wajah putrinya itu.
"Oh ya, aku foto aja deh, aku kirim fotonya ke Mas Ariel lewat email. Agar dia tau perkembangannya setiap hari. Walaupun dia tidak ada di sini, setidaknya ia bisa melihat foto putrinya." Luna pun mematikan tivinya dan pergi ke kamar.
Dengan hati-hati, ia menaruh Diana di atas kasur. Lalu ia mengambil hpnya dan memotret Diana. Setelah itu, Luna menaruh Diana di kereta dorongnya, lalu ia memotretnya sekali lagi.
Setelah mendaptkan dua foto dengan hasil yang bagus, ia mengirimnya via email dengan caption, DIANA ARIELLA ALFARIZY.