Suamiku Dilamar Sahabatku

Suamiku Dilamar Sahabatku
Keputusan Ariel


Jam enam, dokter datang untuk memeriksa Luna. "Syukurlah keadaannya semakin membaik dan bentar lagi akan segera sadar," ucap sang dokter memberitahu.


Ariel seakan memberikan isyarat, dan dokter itu mengerti. Dokter itu langsung meminta Ardi untuk masuk dan menemui Ariel. Dan di sanalah Ariel memberi isyarat kepada Papanya. Ardi yang kurang faham, langsung mengambil pulpen dan kertas kecil yang selalu ia simpan di sakunya untuk mempermudah komunikasi dirinya dan putranya.


Di sana Ariel menuliskan kata, "PULANG"


"Kamu mau pulang?" tanyanya dan Ariel menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, tapi gimana dengan istri kamu?" tanyanya.


"Buat apa aku di sini, Pa. Yang di butuhkan Luna saat ini, bukan aku. Tapi Dion." Ingin rasanya ia mengungkapkan hal itu, namun ia harus menjaga nama baik Luna. Ia tak ingin Papanya membenci Luna, terlebih Luna sudah berjuang untuk bisa melahirkan buah hatinya, yang sampai detik ini, ia bahkan belum melihatnya sama sekali.


Melihat Ariel diam, Ardi seakan mengerti. Ia langsung membawa Ariel keluar dari ruangan itu. Melihat Ariel keluar dari ruangan, Dion tersenyum senang. Ia pun bergantian masuk dan membuat dokter yang masih ada di sana, hanya cemberut kesal. Dokter itu pun segera pergi, karena malas melihat seorang istri dan selingkuhan yang tega melakukan hal menjijikkan di saat suaminya tengah sakit. Apalagi ia masih ingat, saat proses melahirkan kemaren, bagaimana mereka berdua saling support, gak taunya, malah bukan sepasang suami istri.


Dokter itu emang gak tau, apa yang terjadi sebenarnya. Ia hanya melihat apa yang tampak di depan matanya. Ia bahkan tidak tau, jika dulu ada kasus viral yang berkaitan dengan Luna, Ariel dan Laras.


Lalu Ardi, Noah dan Ariel pergi ke Ruang NICU.


Tadi Ardi dan Noah sudah melihat lebih dulu, setelah dokter memberitahu perkembangannya putri mereka (Ariel dan Luna).


Ya, Luna melahirkan seorang putri, sayangnya keadaannya tidak baik baik saja, sehingga harus di taruh di ruang NICU.


Ariel menangis melihat putri kesayangannya dalam keadaan tidak baik-baik saja.


"Kamu harus kuat sayang, kamu harus kuat demi Papa dan Mama. Kamu adalah putri kecil Papa. Papa sangat menyayangimu, Nak." Ariel menangis.


"Putrimu sangat mirip denganmu, Riel. Bahkan kalian seperti kembar, hanya saja dia versi kecilnya. Dia sangat lucu dan imut. Aku bahkan ingin sekali menggendongnya, sayangnya dokter melarangnya, karena kondisinya masih belum stabil." ucap Noah. Ariel hanya diam mendengarkan.


"Sekarang bagaimana ke depannya?" tanya Ardi.


"Ke depannya, gimana Om?" tanya Noah tak mengerti.


"Masa depan cucuku akan gelap. Mama dan Papanya akan bercerai, dan Mamanya akan menikah lagi dengan pria lain. Akankah Dion bisa menerima dan mencintai cucuku dengan benar. Dan jika kelak, Luna hamil lagi, apakah dia masih bisa bersikap adil antara anak kandung dan anak sambung?" tanyanya, sebagai seorang kakek, ia sangat mengkhawatirkan hal ini.


"Kita juga tidak bisa memisahkan dia dengan Ibunya, karena dia sangat membutuhkan ibunya untuk memberikan ASI. Sedangkan kondisi Ariel pun masih seperti ini, dan butuh perawatan khusus, dan entah kapan bisa kembali normal seperti dulu. Ariel juga tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk sementara waktu," ujarnya dengan dada yang sesak.


Mendengar hal itu, dada Ariel semakin sesak. Ia bahkan tidak mau dan tidak rela, jika putrinya yang selama ini, ia tunggu-tunggu, akan memanggil ayah untuk pria lain selain dirinya.


"Aaaaaaaaaa .... bodoh, seharusnya aku dulu tidak membiarkan Luna membawa Laras ke Jakarta. Seharusnya aku tidak memperdulikan permohonanya itu, seharusnya aku tidak mengambulkan permintaan konyolnya itu, seharusnya aku tidak mendengarkan perkataannya yang terus mendekatkan aku dengan Laras. Sialan, sial, sial, sial. Jika tidak ada Laras, mungkin aku tidak akan lumpuh kayak gini, aku tidak akan kehilangan nama baik aku, dan nama baik keluarga besar Mama dan Papa aku, aku juga tidak akan mendapatkan tatapan benci dari semua orang terutama keluarga besarku. Seharusnya aku kini hidup sehat dan sibuk mengelola resto, dan mengelola saham saham milikku. Seharusnya saat ini Mama masih hidup dan tengah bahagia. Seharusnya aku yang mendampingi Luna saat ia hamil, mengabulkan semua permintaan dia saat mengidam. Aku yang akan menjadi orang pertama yang akan bawa dia ke rumah sakit, menemani dia saat berjuang melahirkan buah hati kami, bukan pria lain. Dan seharusnya saat ini, semuanya baik baik saja, bukan malah seperti ini. Semuanya hancur berantakan. Hidupku hancur, karena Laras. Aa ... bodoh bodoh bodoh. DAri kecil aku gak pernah dekat dengan wanita lain selain Mama dan Luna. Tapi kenapa aku bisa terkecoh seperti ini. Kenapa aku bisa dengan bodohnya masuk ke dalam jebakan Luna. Ya, Luna seakan ingin menjebaknya dengan menghadirkan wanita lain dalam hidupnya, lalu memintanya mendekatinya dan setelah aku terjerat ke dalamnya, Luna seakan belum puas, dia malah mengumpulkan banyak bukti dan menghancurkan nama baikku di depan banyak orang." Ariel berteriak dalam hati. Ia mengepalkan kedua tangannya.


Rumah tangganya hancur, dan kini ia bukan hanya akan kehilangan mama dan istrinya, tapi juga anak perempuannya. Tiga wanita yang sangat berarti, tapi harus pergi karena kesalahan dirinya, dan semua itu karena Luna. Dia yang sudah menjembatani dirinya dan Laras.


Menjembatani adalah menghubungkan, atau menjadi perantara


"Terus gimana, Om?" tanya Noah yang bingung, otaknya buntu.


"Apa kita bawa aja Ariel keluar negeri, biarkan dia cari hiburan di luar sana, sambil menyembuhkan fisiknya dan luka batinnya. Lagian mereka bentar lagi akan cerai, hanya tinggal surat cerai datang aja dari pengadilan agama," usul Noah. Ia juga tidak ingin Ariel terlihat menyedihkan di mata mereka semua.


"Iya, mungkin itu lebih baik. Ariel, kamu mau kan, Nak?" tanyanya.


Ariel sebenarnya berat, ia ingin melihat perkembangan putri kecilnya itu setiap harinya, tapi dengan kondisi seperti ini, ia bahkan gak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa melihat tanpa bisa menyentuhnya. Lalu apa gunanya dia ada di sana, jika tidak bisa menjadi ayah yang baik buat putrinya itu. Terlebih, jika ia terus berada di dekat Luna, ia juga tidak yakin, bisa segera sembuh, mengingat Luna akan terus menyindirkan dan membuka luka batinnya yang membuat dirinya terus menerus merasa bersalah hingga menjadi beban tersendiri untuknya.


Terlebih ada Dion yang akan menemani Luna, ia hanya akan jadi orang bodoh yang hanya bisa diam melihat keromantisan mereka berdua. Dan lagi, setelah Luna selesai masa iddah, mereka akan menikah dan tak mungkin Ariel datang tiap hari ke sana, bagaimanapun ia harus menghormati Dion sebagai suami barunya Luna.


Keluarga Luna pun juga sudah menerima Dion, entah apa yang Dion berikan pada mereka, hingga mereka begitu mudahnya luluh pada Dion dan mau menerima Dion dengan tangan terbuka. Sedangkan saat ia datang, mereka seakan menjauh dan terkesan menjaga jarak.


"Nak, mau kan?" tanyanya sekali lagi. Dan Ariel pun menganggukkan kepalanya.


Melihat hal itu, Ardi dan Noah pun tersenyum senang.


Luna sudah mendapatkan rumah, mobil dan juga resto serta uang tabungan mereka selama ini. Luna juga mempunyai banyak perhiasan dan berlian yang selalu ia belikan hampir setiap bulan. Dan juga barang barang brandet. Ariel yakin, Luna tidak akan kekurangan uang.


Terlebih setiap bulan, ia selalu mengirim uang buat Luna dan uang itu tidak pernah di pakai, karena kebutuhan Luna sudah di cukupi olehnya.


Dan keuntungan saham pun sampai detik ini, masih terus mengalir di rekening Luna sebanyak dua puluh lima persen dan tujuh puluh lima persen masuk ke rekeningnya. Ariel gak akan memutuskan aliran itu, karena ia akan menganggap itu adalah uang darinya untuk dede bayi. Bagaimanapun, ia masih punya tanggung jawab penuh sebagai seorang ayah.


Dengan semua yang Luna miliki, kemungkinan besar, jika di total hampir dua puluh milliar. Uang yang berhasil Luna raih sejak ia menikah dengannya.


Dan Ariel gak bawa apa-apa, dia keluar dari rumah itu, dengan tangan kosong. Kecuali aliran saham 75% yang memang miliknya sedari awal. Yang terus mengalir sampai detik ini. Jadi, Ariel gak miskin miskin banget, walaupun ia tidak bekerja.


Untungnya dulu saat ia masih sehat dan punya banyak uang, ia selalu menghabiskan uangnya untuk beli saham di beberapa perusahaan besar. Ia tidak mengikuti jejak teman temannya yang memilih untuk menghambur hamburkan hasil jerih payah mereka demi wanita di luaran sana.


Ariel gak bisa seperti mereka. Dulu ia hanya memikirkan masa depan istri dan anak jika mereka punya anak kelak, itulah yang ARiel fikirkan. Bahkan jika pun ia membeli tas, baju wanita, sepatu wanita, semuanya untuk Luna, bukan untuk wanita lain. Buat apa membahagiakan wanita lain, jika ia punya istri yang jauh lebih berhak atas semua itu.


Dulu Ariel juga berfikir, misal dirinya dan Luna punya anak lalu dirinya meninggal. Bagaimana kehidupan mereka nantinya, tanpa ada dirinya di samping mereka. Untuk itu, ARiel bekerja lebih keras lagi, agar jika sesuatu terjadi pada dirinya, Luna dan anak mereka, tidak sampai kelaparan atau kekurangan uang. Mereka masih bisa menikmati apa yang mereka mau dan apa yang mereka inginkan.


Ariel hanya fokus sama Luna dan memikrikan masa depan mereka.


Sayangnya, Luna yang tidak mau di ajak kerjasama. Di saat ia tengah bekerja keras, buat masa depan. Ia malah menghadirkan Laras, dan akhirnya inilah yang terjadi.


Dan semua orang menyalahkannya, padahal dulu dia tidaklah sebrengsek ini, bahkan tidak pernah terfikirkan sedikitpun untuk selingkuh. Bagaimana mungkin mau berfikir untuk selingkuh, jika waktunya hanya di habiskan untuk bekerja, bekerja dan bekerja demi masa depan mereka. Walaupun dulu Ariel dan Luna belum punya anak, tapi kan Ariel harus menyiapkan semuanya dari awal, agar saat mereka sudah punya anak kelak, kehidupan anak mereka bisa bahagia dan tidak kekurangan dan bisa sekolah di sekolahan internasional dan menjadi kebanggaan orang tua, bermanfaat untuk negara dan yang lainnya.


Tidak ada niat untuk mendua, bahkan jika dia mau, sudah dari dulu dia selingkuh. Karena banyak sekali wanita yang mendekati dirinya, tapi Ariel tidak merespon mereka danĀ  malah memilih untuk menghindar. Ia hanya ingin fokus sama keluarga kecilnya. Udah itu aja, dia gak mau neka neko.


Kalau dulu ada yang mendekat, dan Ariel tidak merespon, mereka akan malu dan mundur alon-alon.


Tapi berbeda saat Luna menghadirkan Laras, walaupun Ariel sudah menjauh dan menghindar tapi karena Luna memberikan peluang dan Laras memanfaatkan peluang itu, akhirnya Ariel pun tidak tahan juga. Siapa yang tahan jika tiap hari di suguhkan dengan daging segar. Seberapa kuat dia berusaha untuk menghindar, Laras seakan berhasil menjeratnya. Dan Luna malah seakan mendukungnya. Jadi klop, Ariel seorang diri, dengan naf-su yang besar, di kasih ujian berat seperti itu, di tambah sang istri seakan memberikan dukungan, hanya orang yang punya ilmu tinggi yang bisa bertahan untuk tidak terjerat dalam lembah yang hina dan dosa.