
Hari ini kandungan Luna tepat empat bulan, dan tadi malam, Luna membuat syukuran kecil-kecilan di panti asuhan terbesar di Bandung. Yah, sengaja Luna membuat syukuran di panti asuhan agar yang mendoakan bayi yang ada dalam kandungannya, bukan hanya keluarga terdekatnya saja, tapi juga anak-anak panti. Sekalian Luna juga ingin berbagi kebahagiaan dengan mereka semua.
Namun, walaupun Luna sudah buat syukuran, Mommy Ocha pun juga buat syukuran lagi di mensionnya. Begitupun dengan sang Bunda, walaupun jauh, Bunda dan Lintang juga membuat syukuran dengan mengundang tetangga kanan kiri serta keluarga dan kerabat terdekatnya.
Di saat Luna tengah bahagia, tiba-tiba ia mendapatkan pesan, bahwa Papa Ardi meninggal di Dubai. Mendengar hal itu, tentu jiwa Luna bergetar. Bagaimanapun Papa Ardi sudah seperti Papa kandungnya sendiri. Dan kini, mendapatkan kabar yang tidak mengenakkan, membuat ia merasa sesih.
"Kenapa sayang?" tanya Dion.
"Papa Ardi meninggal, Mas," balas Luna dengan wajah sendunya.
"Papa Ardi?" Dion mengernyitkan dahi, karena gak kenal dengan sosok yang bernama Ardi.
"Papanya Mas Ariel."
"Ya Tuhan, kalau gitu ayo kita ke sana sekarang," ajaknya.
"Masalahnya, Papa Ardi sekarang ada di Dubai dan akan di makamkan di sana," balas Luna, kali ini dengan wajah lesu.
"Hemm ... ya sudah kita cukup doakan dari sini aja. Semoga Papa Ardi di terima di sisiNya. Dan di hapuskan segala dosa-dosanya. Serta di tempatkan di tempat terindah." tutur Dion. Sebenarnya bisa aja, dia mengajak Luna berangkat ke Dubai, hanya saja, ia tak bisa melakukannya karena Luna yang kini tengah hamil.. Terlebih kandungannya juga sedikit lemah sehingga Luna tidak bisa bepergian jauh.
"Iya, Mas."
Sedangkan di tempat yang berbeda, Ariel kini merasakan patah hati yang terdalam. Kini, ia seakan kehilangan sebagian nyawanya. Dulu Makanya, kini Papanya. Sekarang ia sudah tidak punya orang tua lagi, kini ia hanya punya Diana, yang selalu ada di dekatnya. Karena Dania, walaupun dia juga anak kandung, tapi Dania hidup bersama Ardi dan juga Lestari. Dan Dania pun sudah nyaman bersama mereka, Ariel juga tak mungkin memperebutkan Dania, karena ia sadar diri, bahwa Ardi sudah mengorbankan banyak hal buat putrinya. Jadi ia tak akan mengambil Dania dari mereka, kecuali mereka sendiri yang menyerahkan Dania padanya.
Noah dan Ariel merasa sangat kehilangan, sedangkan Diana yang belum tau apa-apa, malah asyik bermain sendiri.
Sungguh hari ini, adalah hari yang sangat berat untuk mereka lalui. Sayangnya sampai detik ini, keluarga besar baik dari pihak Makanya Ariel, maupun Papa Ariel belum juga mau memaafkan, hanya karena kesalahan Ariel di masa lalu.
Jujur, Ariel merasa ini semua adalah salahnya. Bagaimana tidak, andai dulu dia tidak tergoda dengan Laras, mungkin Mamanya gak akan frustasi dan bunuh diri. Lalu saat ini, Papanya pun juga ikut meninggal setelah berbulan-bulan dia merasa kesepian sejak kematian sang Mama.
Andai Mamanya masih hidup, mungkin Papanya juga masih hidup. Dan mungkin mereka bahagia, main bersama cucu yang sangat mereka nantikan.
Tapi, semua kini telah pergi. Ariel hanya bisa menghapus air mata yang tiada henti.
"Papa?" panggil Diana, ia berjalan ke arah Ariel, dan menghapus air mata air yang terus berjatuhan.
"Papa, angan angis. Diana cedih." Diana juga ikut mewek, melihat Papanya nangis, ia juga ikut nangis.
Ariel berusaha untuk tersenyum, ia juga tak ingin menangis, ia juga tidak mengerti kenapa air matanya trus keluar, padahal ia sudah beberapa kali menghapusnya.
Diana mencium pipi Ariel dengan pelan, lalu mengelus rambut Ariel layaknya orang dewasa.
Melihat perhatian putrinya yang begitu besar, membuat hati Ariel menghangat. Ya, setidaknya ia masih punya Diana, ia harus kuat menjalani kehidupan yang begitu pahit.