
Jam sepuluh pagi, kini mereka kumpul di belakang rumah sambil rujaan. Yah, setelah Luna selesai berenang dan olah raga, lalu ia langsung mandi, sholat dhuha dan pergi ke belakang rumah dimana Bibi Imah, Bibi Neni dan Dion sudah ada di sana dan sudah duduk bersila. Luna pun kumpul sama mereka dan duduk di tengah-tengah Bibi Neni dan Bibi Imah, sehingga Luna dan Dion tak berdekatan. Walaupun jarak mereka dekat, tapi setidaknya tak bersebelahan.
Bibi Imah membuat bumbunya menggunakan kacang tanah yang di sangrai, gula jawa, gula pasir, cabe rawit, garam, asam jawa dan air panas dikit. Sedangkan buahnya menggunakan mangga yang setengah matang, sehingga ada kecut-kecutnya dikit, pepaya setengah matang, jambu kristal, bengkoang, timun, nanas, jambu air dan kendondong. Cukup lengkap, karena Bibi Imah yang belanja buah di pasar dan saat Luna bilang ingin ruja'an. Bibi Imah langsung membelli bahan-bahannya.
Di saat Bibi imah membuat bumbunya, Bibi Neni dan Dion lah yang bagian ngupas dan cuci buahnya. Sehingga saat Luna datang, bumbu dan rujak sudah siap di makan.
"Enak ya makan rujak bareng gini," ujar Luna buka suara.
"Iyalah, Non. Makanya kadang Bibi Imah sama Bibi Neni gak pernah absen kalau rujaan. Apalagi makan rujak setelah habis mengerjakan semua pekerjaan, terus duduk santai gini sambil lihat taman, seger rasanya. Apalagi anginnya sepoi-sepor gini," ucap Bibi Bibi Imah.
"Ah, aku merasa menyesal kenapa aku selalu menolak setiap kali Bibi Imah dan Bibi Neni ngajak aku rujaan," Luna merajuk dengan bibir yang cemberut yang membuat Luna tampak lucu dan gemesin. Dion hanya bisa diam dan memperhatikan sikap Luna yang membuat dirinya terus saja berdebar setiap kali ada di dekatnya. Namun Dion berusaha untuk tak memperlihatkan perasaannya itu, masak baru dua hari, dia sudah berdebar tak karuan begini, gimana kalau berbulan-bulan. Dion berharap jika perasaannya itu gak membuncah hingga membuat dirinya gila karena menyukai majikannya sendiri.
"Gak papa, Non. Yang penting kan sekarang dan ke depannya, kita bebas rujaan. Non juga gak perlu merasa takut lagi. Lagian Bibi tuh yakin, walaupun Non makan banyak, nyemil banyak, asal rutin olah raga, pasti tubuh Non gak akan mekar. Lagian juga dari dulu, perasaan tubuh Non ya segitu-segitu aja, gak pernah nambah," ucap Bibi Neni.
"Benar kata Bibi Neni. Non itu susah gemuk, jadi walaupun makan banyak, gak akan ngaruh. Apalagi setiap hari Non selalu berenang dan olah raga. Gimana mau gemuk, beda sama Bibi. Kalau Bibi, sudah suka makan, ngemil, males olah raga. Di tambah tubuh Bibi emang mudah subur, jadinya ya gini, bengkak," tutur Bibi Imah.
Mereka terus berbincang sedangkan Dion seperti biasa, hanya diam mendengarkan sambil menikmati rujak yang ada di hadapannya itu. Jika di Bandung, mana mungkin ia duduk lesehan dengan para wanita dan makan rujak seperti ini. Setiap hari ia sibuk mengurus kebun tehnya, mengurus usahanya itu. Bahkan ia jarang untuk beristirahat, pagi sampai sore ke kebun, dan malamnya harinya ia mengerjakan laporan dan sebagainya. Jadi, Dion benar-benar gak ada waktu buat santai. Berbeda sama sekarang, ia malah lebih banyak duduk santainya, sambil ngemil dan rujaan seperti wanita. Bahkan ikut nongkrong dan menjadi pendengar setia.
Jam sebelas lewat lima menit, semua buah pun sudah habis tak tersisa. Bibi Imah mengambil kerupuk untuk meredakan rasa pedas. Sedangakn Bibi Neni yang pergi untuk mengambil jus yang ada di dalam kulkas, karena sebelumnya Bibi Imah sudah bikin jus buah, jadi sekarang tinggal menikmatinya saja.
"Kenyang juga ya, makan rujak," ucap Dion membuat Bibi Imah terkekeh.
"Mungkin beberap bulan Mas Dion kerja di sini, badan Mas Dion akan bengkak juga kalau gak olah raga," tutur Bibi Imah.
"Sayangnya, aku suka olah raga, Bi. Kalau malam, dua jam sebelum tidur, aku selalu usahakan olah raga bentar, walaupun hanya setengah jam," balas Dion.
"Oh pantas tubuh Mas Dion kayak tentara, jadi karena suka olah raga juga toh," ujar Bibi Imah.
"Iyalah, Bi. Aku kan harus jaga kesehatan dengan rajin olah raga, walaupun bentar yang penting rutin," jawab Dion.
"Emm berarti Mas Dion ini kayak Non Luna ya, sama-sama olah raga," kata Bibi Imah.
"Iya, mungkin Bi," sahut Dion terkekeh.
"Mas Dion, nanti kalau sudah selesai, tolong panasin mobilnya ya. Ntar lagi kita berangkat ke resto," cakap Luna memberitahu.
"Siap, Non. Kalau gitu, biar aku panasin dulu." ujar Dion sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Aku duluan ya, Bi," pamit Dion.
"Iya, Mas," jawab mereka kompak.
"Bi, aku juga mau siap-siap, untuk makan siangnya, kayaknya aku makan di resto aja. Bibi masak buat kalian berdua aja," ucap Luna memberitahu.
"Iya, Bi."
Dan setelah itu, Luna pun masuk ke dalam kamarnya, karena ia sudah selesai mandi tadi. Jadi ia gak perlu mandi lagi. Cukup sikat gigi, cuci muka, dan ganti baju. Tak lupa ia menyemprotkan parfum di bajunya agar tak bau kecut. Tak butuh waktu lama, ia pun keluar dengan memakai tas berwarna coklat muda yang berisi dompet dan hpnya itu.
Dion membuka pintu belakang, sehingga Luna langsung masuk ke dalam mobil dan setelah itu, Dion pun menutup kembali pintunya dengan pelan. Lalu ia berjalan ke pintu depan dan duduk di belakang kemudi.
"Mas Dion, gak bilang kan ke Mas Ariel kalau aku akan ke resto hari ini?" tanya Luna.
"Enggak, Non."
"Sip, soalnya aku ingin kasih kejutan buat dia," ujar Luna dan Dion pun menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, merekapun saling diam, Dion yang fokus menyetir dan Luna yang sibuk main Hp. Saat Dion fokus menyetir, tiba-tiba ada kucing hitam yang tiba-tiba melintas di depan mobil, membuat Dion mengerem mendadak.
"Ada apa, Mas Dion?" tanya Luna terkejut, ia bahkan sampai terhuyung ke depan.
"Ada kucing hitam lewat, Non," jawabnya.
"Tapi gak sampai di tabrak kan?" tanya Luna cemas.
"Enggak kok, Non."
"Syukurlah," ujar Luna sambil mengusap dadanya yang masih terkejut itu.
"Maaf ya, Non," ucap Dion merasa bersalah sudah membuat Luna terkejut.
"Gak papa, ya sudah lanjut aja, yang penting kucingnya beneran gak papa kan?" tanya Luna memastikan.
"Enggak papa, Non. Karena kucingnya tadi lari langsung melintas gitu aja, dan saya juga buru-buru ngerem jadinya gak sampai nabrak," ucap Dion sambil melanjutkan kembali jalannya.
Dion emang aku-kamu kalau ngomong sama Bibi Imah atau Bibi Neni. Tapi kalau sama Luna, ia memanggil dirinya saya, karena Dion merasa gak nyaman kalau ngomong non formal dengan majikannya itu.
"Mas, kata orang tua dulu, kalau kita dalam perjalanan terus ada kucing hitam lewat depan kendaraan kita, akan ada bahaya. Mas Dion percaya gak?" tanya Luna hati-hati.
"Enggak, Non. Itu kan cuma mitos, Non. Saya gak percaya kayak gituan," jawab Dion, Luna yang mendengarnya pun mengangguk-anggukkan kepala.
"Sama aku juga gak percaya sih," gumam Luna membuat Dion terkekeh mendengarnya.
Tak lama kemudian, mereka pun sudah sampai di parkiran depan resto. Luna turun tepat depan pintu resto, dan setelah itu, Dion pun pergi untuk memarkirkan mobilnya itu, takutnya Luna lama di dalam. Jadi ia bisa cari udara segar dulu sambil main Hp.