
Noah sangat senang saat tau jika Ariel pulang ke Indonesia, tapi ia juga sedih saat tau jika keponakannya itu lagi sakit. Noah pun segera membelikan boneka, dan juga baju buat Diana. Dengan semangat empat lima, ia segera pergi ke rumah sakit, andai dia tau jika Ariel sudah pulang dari kemaren, mungkin sudah dari kemaren, dia pergi menemui Ariel.
Sesampai di rumah sakit, Noah langsung segera pergi ke kamar rawat Diana, Noah sudah tau, karena tadi Ariel sudah mengirim dirinya pesan lengkap dengan tempat dan kamar di mana Diana di rawat.
Noah mengetuk pintu, dan setelah itu, ia membuka pintunya dengan pelan. Noah melihat Ariel yang kini tengah memangku putrinya, melihat pemandangan itu, Noah pun tersenyum senang. Tak menyangka, akhirnya ia bisa melihat Ariel yang bisa tertawa bahagia lagi.
"Kok gak bilang sih kalau udah pulang dari kemaren?" tanya Noah pura pura kesal.
"Maaf lupa, kemaren fikiran aku sibuk memikirkan Diana," jawabnya menyesal, karena lupa mengabari Noah.
"Sudahlah, gak papa," tutur Noah tak tega melihat wajah Ariel yang sepertinya sangat menyesal.
"Ini keponakan aku?" tanyanya sambil mendekati Diana, namun Diana malah bersembunyi dan memeluk Ariel dengan erat.
"Loh, kok sembunyi. Ini Om Noah, Om kamu sayang," ujar Noah namun Diana tetap bersembunyi dan tidak mau menatap Noah.
"Aduh, kenapa jadi gini?" tanya Noah mengeluh.
"Maaf, Diana mungkin merasa asing sama kamu," papar Ariel tak enak sendiri.
"Ya sudah gak papa. Diana, lihat Om bawa apa," tutur Noah sambil memperlihatkan dua boneka yang ia beli.
Diana menoleh malu-malu dan melihat boneka yang Noah pegang. Ia menjulurkan tangannya namun Noah menarik tangannya kembali, membuat Diana sudah siap-siap menangis.
"Jangan bikin putriku nangis dong," omel Ariel yang melihat putrinya sudah memajukan bibir bawahnya dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Haha maaf-maaf." Noah langsung memberikan dua boneka itu pada Diana. Diana pun mengambilnya dan sambil memeluk leher Ariel lagi.
"Bilang apa sama, Om?" tanyanya namun Diana tetap diam.
"Makasih, Om. Coba bilang," ucap Ariel lembut sambil mengelus rambut Diana.
"Acih," ujar Diana yang seakan mengerti, hanya saja kata-katanya masih belum jelas, dan Diana seperti masih keculitan untuk bicara selain Mama Papa dan ocehan tak jelasnya.
"Sama-sama. Om juga beliin baju lo buat Diana, mau lihat gak?" tanyanya, namun kali ini Diana tidak menoleh dan fokus melihat bonekanya.
"Hadech, aku sudah tidak di reken lagi." Mendengar keluhan Noah, Ariel pun terkekeh.
Diana memilih duduk di pangkuan Ariel dan memainkan dua boneka yang ia pegang dan tak lagi fokus sama Papa dan Omnya
"Sakit apa?" tanya Noah.
"Gagal ginjal akut," sahut Ariel.
"Astagfirullah. Kok bisa?" tanya Noah terkejut.
"Gara-gara sirup."
"Astaga," lagi-lagi Noah di buat terkejut.
"Tapi gimana kata dokter?" tanyanya.
"Enggak papa, masih bisa di sembuhkan, dan tidak perlu cuci darah atau transplantasi ginjal."
"Syukurlah, ikut lega dengarnya. Om tau?"
"Enggak, aku sengaja gak bilang, takut jika Papaku kefikiran. Biarlah Papa di sana dengan hati yang tenang, selama ini aku sudah jadi beban buat Papa. Aku gak ingin mengganggu Papa lagi." ujarnya dan Noah pun mengangguk mengerti.
"Papa." Diana memberikan bonekanya pada Ariel. Ariel pun mengambil boneka itu.
"Kenapa?" tanya Ariel dengan penuh kelembutan, lalu Diana menunjuk ke arah bajunya.
"Kenapa dengan bajunya, mau di ganti?" tanyanya namun Diana yang tidak terlalu mengerti hanya menganggukkan kepalanya.
"Diana kok bisa langsung lengket gitu sama kamu?"
"Entahlah, mungkin karena ikatan batin anak dan Ayah. Sejak ketemu, Diana langsung lengket gitu dan langsung bilang Papa."
"Alhamdulillah ya. Walaupun lama tidak bertemu, namun Diana seakan mengenali kamu sebagai Papanya."
"Iya, aku bersyukur banget."
"Luna mana?"
"Tadi dia pamit pulang, mungkin ada urusan."
"Oh, kamu baik-baik aja sama Luna?"
"Emang aku kenapa dengan Luna?" tanyanya pura-pura tidak mengerti.
"Apakah hatimu sudah tidak sakit lagi seperti dulu?" tanyanya.
"Sedikit, tapi karena ada Diana, jadi hati dan fikiranku di alihkan."
"Syukurlah, Diana bisa menjadi obat buat kamu."
Dan Ariel pun menganggukkan kepala, tanda setuju.
"Papa." Diana memanggil Ariel lagi.
"Kenapa?" tanyanya dan Ariel melihat Diana yang tengah mengantuk.
Ariel pun menggendongnya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan.
"Kamu padahal baru kemaren jadi Ayah, tapi kamu seperti sudah tau apa yang harus kamu lakukan," tutur Noah merasa kagum.
"Mungkin karena insting aja, aku mengikuti kata hatiku," balas Ariel dengan suara pelan agar tidak menganggu putrinya yang lagi ngantuk berat.
"Oh ya itu ada roti, kalau mau." ujar Ariel sambil menunjuk roti yang ada di kresek hitam.
"Enggak deh, aku sudah kenyang," tolak Noah, bukannya gak mau atau apa, tapi perutnya emang kenyang karena sebelum ke sini, dia sudah makan banyak.
Setelah Diana tidur, barulah Ariel menaruh di brangkar dengan pelan. Lalu menaruh bantal guling di samping kanan dan kirinya, agar Diana tidak jatuh ke samping.
Ariel juga tetap duduk di samping brankar sambil memperhatikan putrinya yang tertidur pulas.
"Kamu nanti balik lagi ke Dubai?" tanya Noah.
"Aku gak tau, lihat keadaannya nanti. Ini aja Diana gak mau jauh dari aku, dan aku pun juga tidak bisa jauh-jauh dari putriku. Hatiku sudah seperti terikat olehnya. Belum lagi Diana sekarang kan lagi sakit, jadi aku gak tau, masih bingun," jawab Ariel.
"Terus Om gimana?" tanyanya.
"Papa masih tetap di dubai, aku memang tidak memperbolehkan untuk pulang dulu, biarlah Papa tenang di sana, dari pada pulang, banyak tetangga dan saudara yang masih tidak suka sama aku dan Papa."
"Terus kamu mau tinggal di mana setelah ini?"
"Aku akan cari apartemen terdekat aja, biar bisa jenguk putriku."
"Hemm, kamu pasti gak bebas ya setelah ini. Kalau Diana sudah boleh pulang, itu artinya, dia akan pulang bersama Luna dan kamu gak mungkin ke rumah itu lagi kan dan menganggu hubungan Luna sama Dion."
"Itulah yang aku fikirkan. Aku gak mau di anggap pebinor. TApi aku juga rasanya berat jika jauh dari putriku, entahlah." Ariel hanya bisa menghela nafas berat. Ia mengusap lengan putrinya dengan pelan.
Jujur, Ariel sangat menyayangi Diana, ia bahkan seakan tidak mau jauh dari Diana lagi, walaupun sebentar. Jika Luna mengizinkan, Ariel ingin Diana tinggal bersamanya, tapi ia juga tidak mungkin menjadi egois. Bagaimanapun selama ini, Luna sudah banyak berjuang, dari hamil, melahirkan, menjaganya dari kecil sampai sekarang, dan tidak mungkin dirinya tiba-tiba datang dan mengambil Diana darinya. Ariel tidak ingin menjadi orang yang egois lagi, lebih baik dirinyalah yang mengalah walaupun sangat berat sekali tentunya.