
Dulu aku sempat berpikir kalau kehidupanku tak akan pernah merasakan kebahagiaan atas apa yang menimpa ku tiga tahun belakangan ini.
Namun nyatanya aku salah. Aku sekarang bisa merasakan kebahagiaan karena memiliki suami yang menyayangi ku dan putri kecilku. Ia sangat perhatian dan selalu mementingkan kepentingan kami dari kepentingan dirinya sendiri.
"Ku kira dulu aku tak akan mendapatkan kebahagiaan tapi sekarang akhirnya aku bisa merasakan kebahagiaan." kata ku dalam hati ku.
Ya kenapa dulu aku berpikir seperti itu. Itu karena dulu aku merasakan kehancuran yang luar biasa. Terutama kehancuran sekolahku itu udah pasti tak bisa di lanjutkan lagi.
Tapi nyatanya kehancuran yang bertubi - tubi. Salah satunya yaitu bukan kehancuran karena sekolah melainkan hal yang harusnya ku dapati dari sekolah malah tak pernah ku dapati karena kejadian yang menimpa ku saat itu.
Yang mana kehancuran ini adalah saat aku melihat dan diperlihatkan oleh teman - teman ku yang telah lulus sekolah. Yang seharusnya ku dapati hal yang sama seperti mereka. Malah tak terjadi padaku saat kejadian itu menimpa kehidupanku.
"Sedih rasanya tak kala aku melihat teman - teman sekolah ku udah lulus saat ini. Harusnya aku juga seperti mereka baru lulus sekolah. Tapi apa boleh buat hidup ku berbeda dengan mereka." kata ku yang merasa sedih melihat foto teman - teman ku.
Dimana harusnya aku menerima ijazah dan surat kelulusan. Ini malah aku mendapat kan dua surat yang berbeda. Dan kalian pun pasti udah tau surat itu apa aja.
Karena surat inilah yang telah merubah kehidupan remaja ku, yang harus di paksa bersikap dewasa sebelum waktunya. Ya itu adalah surat kelahiran bayi ku dan surat atas perceraian ku dengan suami pertama ku dan ayah dari putriku ini.
Sedih itu sudah sangat jelas terpancar dalam wajahku ini kala itu. Saat mereka memposting foto perpisahan sekolah mereka . Saat itu juga aku merasa iri pada mereka yang telah menyelesaikan sekolahnya itu.
"Ya ampun ini foto - foto mereka bagus banget. Nggak kerasa udah lulus aja. Coba aja dulu aku nggak ngalami peristiwa itu. Mungkin aku juga bisa memposting foto seperti ini." kata ku setelah melihat foto teman - teman ku.
"Sedih banget tapi apa boleh buat ini sudah terjadi pada ku." kata ku lagi.
Sampai aku tak bisa berpikir jernih saat itu. Karena sepanjang hari aku hanya mengunci diri tak berbicara pada siapa pun dan tak melihat putri ku sama sekali.
Masa depan yang sudah ku rencanakan akan menjadi apa, dan berujung seperti apa pun hancur berkeping - keping dalam masalah yang ku buat ini.
Pengorbanan ke dua orang tua ku saat membiayai sekolahku yang tak bisa di bilang sedikit pun terbuang sia - sia karena kesalahan ku itu.
"Maaf yah, maaf bu, karena kesalahan ku ini. Kalian sudah mendapatkan kekecewaan." ini adalah rasa yang selalu aku rasakan pada orang tua ku.
Hancur dan merasa bersalah tak luput dari apa yang kurasakan kala itu. Ingin rasanya aku pergi dari rumah ku ini untuk memulai kehidupan baru berdua dengan putri kecil ku. Agar aku tak merepotkan dan menjadi beban lagi untuk ke dua orang tua ku ini.
"Apa aku harus pergi dari rumah orang tua ku dan hidup berdua dengan anak ku ini." kata ku pada diri ku.
"Tapi kalau aku pergi dari sini. Nanti bagaimana nasib ku." kata ku lagi pada diri ku.
Tapi nyatanya aku tak cukup berani melakukan hal itu. Karena saat itu aku belum mendapatkan pekerjaan yang tetap yang bisa menghidupi kecukupan kami kala itu. Apalagi putri ku masih kecil, nanti saat aku bekerja putri ku bersama siapa jika aku memutuskan pergi dari ke dua orang tua ku saat itu.
Apa hidup ku akan baik - baik saja setelah pergi dari ke dua orang tua ku pun tak bisa menjamin akan hidup seperti itu. Bisa jadi bukan hidup ku akan sangat memprihatinkan saat aku tak bersama ke dua orang tua ku ini.
Jadi, setidaknya aku masih beruntung ke dua orang tua ku masih mau menyayangi ku dan bayiku. Memberikan kehidupan yang layak dan tentu saja perhatian yang berlimpah untuk kami. Walau harus merasakan sakit terlebih dahulu. Tapi masih ada kebahagiaan untuk kami.
Next Episode...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸