
"Iya bu nggak papa, sebenernya tadi ayah udah tau kalau ibu bohong tapi ayah coba nunggu ibu buat berbicara jujur sama ayah." kata ayah ku menjawab ucapan ibu ku.
"Ibu jadi merasa nggak enak kaya gini sama ayah udah bohong. Maaf ya yah." kata ibu ku pada ayah ku merasa begitu bersalah.
"Iya bu nggak papa, jangan nangis lagi ya. Nanti kalau Risna tau gimana?" kata ayah ku menjawab ucapan ibu ku.
"Em... iya yah ibu nggak nangis lagi ko. Hiks..." kata ibu ku menjawab ucapan ayah ku.
"Kata nya udah nggak nangis tapi ko malah masih nangis." kata ayah ku pada ibu ku.
"Enggak ko yah ini cuman ingus aja yang mau keluar." kata ibu ku menjawab ucapan ayah ku karena itu memang lah kenyataannya bahwa saat ini ingus ibu ku memang mendadak keluar begitu aja.
"Iya deh iya ayah percaya" kata ayah ku menjawab ucapan ibu ku.
Sementara di lain tempat tepatnya di perjalanan menuju kantin putri ku dan Sinta masih membahas tentang seseorang yang menangis itu.
"Sin tadi siapa ya yang nangis? ko aku jadi penasaran gini sama nggak tenang kenapa ya? kamu tau nggak penyebab aku bisa kaya gitu." kata putri ku bertanya pada Sinta.
"Nggak tau, sebenernya kalau boleh jujur aku juga penasaran sama yang nangis itu siapa?" kata Sinta menjawab ucapan putri ku apa adanya.
"Oh gitu ya, aku kira kamu tau Sin." kata putri ku menjawab ucapan Sinta.
"Iya kaya gitu, soalnya aku nggak tau sama sekali tapi aku memang penasaran juga sih." kata Sinta menjawab ucapan putri ku.
"Hem... gimana kalau kita tanyain ke mamah kamu aja Sin siapa tau mamah kamu tau siapa yang nangis itu. Gimana kamu mau nggak tanyain ke mamah kamu?" kata putri ku menjawab ucapan Sinta dan memberikan saran juga pada Sinta.
"Ide bagus tuh. Ya udah yuk sekarang aja kita tanyain nya." kata Sinta menyetujui saran yang di berikan oleh putri ku itu.
"Em... ya udah deh kita tanyain nya pas udah nyampai kantin aja." kata Sinta menjawab ucapan putri ku.
"Oke" kata putri ku menjawab ucapan Sinta dengan singkat.
Setelah itu percakapan di antara mereka pun berhenti dengan sendirinya dan mereka berdua lalu mulai mempercepat jalannya karena saat ini mereka berdua berada cukup jauh dari ibu nya Sinta.
Langkah demi langkah mereka berdua pun kini telah berada tepat di samping ibu nya Sinta.
Lalu tak lama setelah itu, mereka bertiga kini telah sampai di kantin. Sinta dan putri ku pun mulai memesan beberapa cemilan dan mendudukkan diri di sebuah kursi yang tersedia di sana.
"Sin duduk yuk di sana. Biar enak nanti pas tanya ke mamah kamu nya." kata putri ku pada Sinta.
"Boleh yuk ke sana" kata Sinta menjawab ucapan putri ku.
"Yuk" kata putri ku menjawab ucapan Sinta dengan singkat.
"Eh... bentar aku kasih tau mamah dulu ya." kata Sinta menjawab ucapan putri ku.
"Iya Sin" kata putri ku menjawab ucapan Sinta.
Next Episode...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸