
Setelah Suamiku selesai membersihkan tubuhnya. Ia pun langsung menghampiri ku yang sedang berada di ruang kelurga bersama putri kecilku.
Ia lalu bergabung bersama kami sambil meminum kopi yang telah aku sediain di meja. Tak lupa juga ia bertanya kepada putri ku tentang kegiatan putriku seharian ini.
Dan dengan antusias nya putri ku mulai bercerita pada suami ku ini. Yang dengan setia menjadi pendengar ceritanya.
"Sayang nya papa seharian ini ngapain aja?" kata suami ku pada putri ku.
"Em... banyak pah tadi aku main sama mamah telus tidul baleng mamah." kata putri ku dengan penuh semangat sambil dengan cadelnya.
"Oh gitu ya" kata suami ku menjawab ucapan putri ku.
"Em pah" kata putri ku menjawab ucapan suami ku.
Setelah selesai bercerita. Putri ku lalu tertidur dengan sendirinya dan suamiku pun tak tega melihat putriku tidur di pangkuan ku. Ia takut kalau nanti aku merasa pegel karena terlalu lama putri ku tidur di pangkuan ku dan posisi tidur putriku pun takut tak nyaman.
Hingga akhirnya ia menggendong putri ku kedalam kamar biar tidurnya juga merasa lebih nyaman.
"Sayang mas pindahin putri cantik ini dulu ya. Tunggu mas oke." kata suami ku pada ku.
"Iya mas" kata ku menjawabnya singkat.
Setelah itu, ia pun menghampiri ku lagi. Dan ia pun kemudian bertanya kepada ku mengenai hal yang sama kepada putri ku tadi.
"Sayang kamu tadi ngapain aja?" kata suami ku bertanya hal yang sama pada ku.
Aku juga menceritakan kepadanya dan ia pun menjadi pendengar setia ceritaku. Setelah aku selesai bercerita aku pun menanyakan hal yang sama kepada suami ku itu tentang kegiatan ia tadi.
Ia juga langsung bercerita tentang kegiatannya itu. Lalu kami pun masuk ke dalam kamar. Setelah itu kami keluar kamar lagi untuk makan malam bersama.
Usai makan kami mengobrol dulu bareng kelurga dan setelah itu kami masuk ke kamar kami untuk tidur.
Dengan perut yang sudah besar ini aku sering nggak bisa menemukan posisi tidur yang nyaman. Dan mudah sekali merasa lelah dan capek.
Tapi beruntungnya, suami ku selalu setia memijit badan ku yang pegel ini. Tak seperti dulu aku tak bisa mendapatkan perhatian dan perilaku seperti ini dari suami pertama ku itu.
"Pegel sayang. Sini biar mas pijit" kata suami ku menawarkan diri buat memijit tubuh ku.
"Boleh deh mas" kata ku langsung menyetujui ucapan suami ku.
Bukan aku mau banding - bandingin suami pertama dan kedua, tapi karena itu memang kenyataannya bahwa suami kedua ku lebih baik dari suami pertama ku dulu.
Kadang aku sempat berpikir kenapa nggak suami kedua ku saja yang ku kenal lebih dulu. Mungkin aku nggak akan mengalami peristiwa itu dengan suami pertama ku.
"Coba aja mas. Kamu datang lebih dulu dari laki - laki yang telah membuat ku mengalami peristiwa itu. Hingga akhirnya aku harus putus sekolah." kata ku yang sempat terlintas dalam pikiran ku tak kala aku mengingat kejadian itu lagi.
Tapi apa boleh buat takdir memang mempertemukan aku dengan suami kedua ku setelah aku bertemu dengan suami pertama ku itu.
Dan yang harus aku lakukan sekarang adalah aku bersyukur bisa di pertemukan dengan suami kedua ku dan mendapatkan perhatian dan cinta darinya selama ini. Hingga bolehkah aku meminta dia untuk selalu menyayangi dan mencintai ku sampai maut lah yang memisahkan kita.
Itulah yang sering ku minta agar aku tetap selalu berada disampingnya, menemaninya dan bersamanya sampai akhir, salah satu di antara kami harus pergi karena kami memang sudah waktunya berpisah.
Aku tak meminta harus di penuhi punya pasilitas yang mewah. Tapi aku meminta ia tetap memperhatikan dan peduli kepada putri ku dan aku pun sudah merasa bahagia.
Mungkin memang benar kata orang kebahagiaan itu, ngga di pandang dari pasilitas yang mereka penuhi dan miliki. Tapi karena bahagia itu saat kita selalu berada di samping orang yang membuat kita bahagia. Itu adalah kebahagiaan yang tak bisa di utarakan dengan kata - kata. Hanya bisa kita rasakan dan bagaimana kita membalas kebahagiaan yang ia berikan itu dengan sesuatu hal yang membuat ia pun bahagia.
Next Episode...
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸