Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Dewi Terpeleset


Tetnyata selama ini Dewi sakit ia di rawat di rumah sakit beberapa wakt lalu. Tanpa satu pun anak - anaknya yang tahu kalau Dewi pernah masuk Rumah sakit. Ia mulai gelisah dengan keadaan yang sekarang ia jalani. Ke egoisannya membuat dirinya menjadi ttidak bisa terkontrol. Akan tetapi kebenciannya terhadap Kia semakin hari bukannya semakin mereda tapi semakin hari kebenciannya semakin sangat membencinya. Sedangkan dirinya tidak pernah bertemu dengan Kia. Akan tetapi kebenciannya semakin membara.


Suatu ketika dirinya terpeleset di kamar mandi dan ia terjatuh. Untung saja masih ada bik Yanti di sana. Bik Yanti yang menolong Dewi saat dirinya terjatuh dan membawanya ke rumah sakit. Lalu Bik Yanti memberikan kabar kepada Akbar dan juga Nindi bahwa nyonya sedang berada di rumah sakit lagi. Saat mereka mendapatkan kabar ibunya masuk rumah sakit, merekapun pulang untuk menemui atau membesuk Dewi.


Nindi yang pertama kali membesuk Dewi di rumah sakit. Ia langsung memeluk ibunya itu yang masih terbaring dan pingsan. Dokter yang sedang memeriksa Dewi, menyuruh Nindi agar segera meninggalkan ruangan itu. Karena dokter akan memeriksa Dewi. Nindi duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruang pasien tersebut. Tak lama dokter keluar, lalu Nindi mendekat dan bertanya kepadanya mengenai kondisi ibunya saat ini. Dokter menjawab bahwa ibunya tidak apa - apa.


"Dok, gimana keadaan ibu saya sekarang."


"Ibunya baik baik saja. Akan tetapi ada cedera di bagian kakinya."


"Lalu bagaimana dok, supaya ibuk saya bisa cepat pulih dari cederanya?"


"Untuk sementara waktu, ibu Dewi lebih baik jangan terlalu banyak beraktifitas. Dan mulai sekarang beliau harus mengunakan kursi roda agar cendera di kakinya tidak terlalu parah. Mungkin membutuhkan banyak waktu untuk mempulihkan kakinya itu. Karena tulang orang yang sudah berusia lanjut berbeda dengan tulang anak muda pada umumnya. Nanti saya akan memberikan obat pereda rasa nyeri untuk ibu Dewi. "


"Baik dok terimakasih. "


"Kalau begitu saya permisi."


"Iya dok."


Setelah ia menanyakan kepada dokter kondisi Dewi saat itu, Nindi langsung bergegas menemui ibunya yang sudah sadarkan diri. Ia lalu memeluk ibunya itu, akan tetapi Dewi menyorong badan Nindi yang akan memelunya itu karena ia tidak ingin di peluk.


"Untuk apa kamu datang ke sini?" Tanya Dewi dengan mata yang marah.


"Buk , aku menghawatirkan mu." Jawab Nindi.


"Pergi saja sana! Aku tidak butuh kalian! Biarkan aku seperti ini dan mati sekalipun tanpa kalian!"


"Ibuk, aku mohon, hilangkan lah sifat ibu yang egois ini. Aku sangat sayang kepadamu buk."


"Sayang? Kamu bilang kamu sayang kepada ibu? Dari segi mana? Aku juga tidak membutuhkan kasih sayang dari kalian! Kalian sudah aku besarkan, aku berikan semua fasilitas yang baik, kalian juga sudah ibuk besarkan sorang diri. Tapi mana balasan kalian kepadaku!"


"Buk Nindi minta maaf jika memang yang Nindi lakukakan membut ibuk menjadi marah besar kepada Nindi."


"Kamu tahu apa yang sudah terjadi setelah kamu ikut campur dalam masalah kakakmu itu? Dia sudah kehilangan calon bayinya. Semua ini karena kamu sudah membantu wanita yang tidak tahu diri itu! Kamu senang sudah membuat kakak kamu menderita dengan kehilangan calon bayinya itu! Puas kamu sekarang?!"


"Apa calon bayi? Selama ini Kayla hamil? Kenapa kak Akbar tidak menceritakan semuanya kepada ku?"


"Ya karena kamu itu orang bodoh! Sudah sarjana tapi otak masih saja tidak bisa di pakai!"


"Lalu Nindi harus bagaimana buk? "


"Pergi saja dari sini! Aku tidak ingin melihatmu!"


"Tapi buk,"


"Keluar ibuk bilang! Ibuk ingin sendiri!"


Lalu Nindi keluar meninggalkan Dewi di kamar pasien. Selama Nindi di rumah sakit ia selalu mencari - cari perhatian ibuknya supaya emosinya mereda kepada Nindi.


Beberapa hari kemudian Dewi sudah membaik namun dirinya masih di bantu oleh kursi rodanya. Aktifitas yang ia jalani selama ini mengunakan kursi rodanya itu. Nindi pun beberapa hari belakangan ini yang selalu menemani dan merawat ibunya itu.


Tak lama terdengar suara bell pintu rumah berbunyi. Nindi membukakan pintu rumah itu. Ternya Akbar yang datang bersama Kayla untuk membesuk ibunya. Mereka bersamalaman dengan Dewi. Tapi Dewi meminta Nindi untuk membantunya mendorong kursi roda itu menuju kamarnya. Ia seperti tidak menyukai kedatangan Akbar. Akbar dan Kayla juga merasa Dewi tidak menyukai kedatangan mereka


Nindi pun tidak membatah permintaan ibunya itu. Ia langsung membantu ibunya untuk mendorong kursi roda ibunya masuk ke dalam kamar. Setelah ia berada di dalam kamar, Nindi bertanya kepada ibunya.


"Ibu tidak ingin menemui kak Akbar dan juga istrinya itu?"


"Sudahlah enggak usah cerewet. Keluarlah. Aku ingin istirahat."


"Baiklah kalau ibu akan istirahat."


Keluarlah Nindi setelah membantu menurunkN Dewi dari kursi rodanya itu. Lala ia pergi menemui kakaknya.


"Sepertinya ibu masih marah keadaku ya Nin?"


"Kayaknya sih begitu."


"Huh, ya sudahlah biar nanti aku yang mengurusnya."


"Mungkin besok aku akan kembali ke kontraan ku dulu kak. Aku sedang ada pekerjaan. Karena aku mau menyelesaikan persidangan klien ku untuk proses hak asuh anak."


"Ya tidak apa - apa, selesaikanlah pekerjaan mu. Di sini biar aku dan Kayla yang mengurus ibuk."


Beberapa hari kemudian Nindi meninggalkan ibunya untuk empat hari ke depan karena ia akan menyelesaikan pesidangan klienny. Setelah Nindi pergi, Kayla berusaha untuk merawat dan melayani ibu mertuanya itu. Dewi masih mau untuk bicara dan meminta tolong kepada Kayla.


Namun tidak dengan Akbar, Dewi masih menaruh amarahnya kepada Akbar. Akan tetapi Akbar tetap berusaha membuat ibunya itu mau berkata kepadanya. Setiap kali Akbar yang melayani dari menyuapi makanannya dan lain - lain Dewi selalu menolak. Sehingga akhirnya Akbar memohon mohon kepada ibunya agar mau untuk berbicara dan menerima semua yang ia lakukan untuk ibunya.


"Buk, biar Abar yang menyuapin ibuk ya? "


"Kayla, nak, kamu saja ya yang menyuampi ibuk. "


"Iya buk, " Kayla datang dan melihat bahwa di sebah Dewi ternyata ada Akbar yang duduk memegangi piring dan sendok.


Ketika itu Kayla masuk dan melirik ke arah Akbar.


"Kayla, kamu saja ya yang menyuapi ibu."


"Baik buk."


"Buk, Kenapa ibuk benar benar marah kepada Akabr? Apa salah Akbar? Mengapa ibuk memperlakuan Akbar seperti ini?"


"Kayla ibuk mau minum, tolong ambilkan minum ibuk ya."


"Baik buk. "


" Buk, tolong jelaskan apa salah Akbar?"


"Kayla sayang. "


"Iya buk."


"Kamu keluar sebentar ya."


"Baik buk." Ucap Kayla sambil saling melihat Akbat dan meletakan piring nya di atas meja. Kemudian ia keluar pergi meninggalkan Dewi dan juga Akbar di dalam kamar.


"Kamu masih tanya apa salah kamu?!"


"Aku tidak tahu apa yang di inginkan ibuk saat ini? Kenapa ibuk marah kepadaku dengan tidak jelas seperti ini?"


Pppllaaakk !


Ketika itu Dewi beranjak dari tempat tidurnya dan menampar Akbar yang sedang berlutut di hadapan Dewi.


"Gara - gara sifat cerobohmu itu aku harus kehilangan cucuku yang selama ini sudah aku nantikan - nantikan. Kenapa kamu masih saja mempunyai rasa empati kepada mantan istrimu itu? Dan kenapa kamu tidak sama sekali memperduikan istrimu yang sedang hamil itu!"


"Ibuk, ibuk salah paham. Calon bayi aku dengan Kayla itu tidak ada karena bayinya tidak bisa berkembang baik di dalam rahim buk. Bukan karena Akbar."


"Tetapi itu semua karena kamu. Kamu sudah sangat ceroboh. Kamu tidak memeprduikan saat Kayla hamil. Kamu justru pergi untuk memberikan sampel darahmu kepada wanita itu dan kamu meninggakan Kayla di rumahs sendirian dengan cara kamu membohongi Kayla. "


"Tidak buk. Akbar hanya ingin tahu apakah anak Kayla itu anakku juga. Darah dagingku. Mengapa kalian semua menyudutkan ku?" Ucap Akbar kepada Dewi.


"Menyudutkan kamu bilang?! Kamu itu seharuanya lebih mementingkan istrimu itu dari pada orang lain yang tidak jelas! Kamu juga mengapa tidak pernah mau menerima atau memberikan kabar setelah menikah kepada ibuk? Kamu secara tidak langsung menganggap ibuk itu benalu kan?


"Tidak ibuk, Akbar tidak pernah menganggap ibuk itu benalu atau yang lainnya. Akbar hanya ingin hidup mandiri tanpa merepotkan ibuk lagi."


"Alasan! Kamu itu sekarang sudah tidak lagi mendengarkan apa yang ibuk katakan! Kalau memang kamu sudah tidak menganggap ibuk ini orang tuamu, silahkan kamu pergilah jauh dan tidak usah kembali lagi. Ibu juga tidak akan melarang atau mencarimu! Untuk apa aku sudah susah payah membesarkan anak - anakku tetapi kalian begitu menyepelekan ibuk."


"Maafkan Akbar buk. Tolong jangan berkata seperti itu buk. Abar mohon." Kata Akbar merengek rengek kepada Dewi.


"Kalau kamu masih mau mendengarkan ibuk. Mulai besok tinggallah di sini tidak perlu kamu jauh - jauh meninggakkan kota ini. Supaya Kayla cepat hamil lagi."


"Tapi buk, Aku.." ucap Akbar saat akan melanjutkan perkataannya.


"Ya sekarang terserah kamu! Kalau kamu mau menganggap ku ibumu, turuti semu omonganku! Jika tidak silahkan kamu pergi dari sini dan jangan anggap aku ini Ibumu lagi! Kata Dewi dengan mengancam Akbar.


Kayla mendengarkan pertengkaran dari luar kamar Dewi. Dewi dan Akbar bercekcok dengan nada keras.


"Ternyata ibu mertuaku benar benar sayang kepadaku. Dia lebih mendukung aku ketimbang wanita itu. Dia juga menyalahkan mas Akbar atas apa yang dia lakukan." Ucap Kayla di dalam hatinya.


Bersambung...


❇️❇️❇️❇️❇️