
Umur Pelangi kini sudah jalan enam bulan ia semakin pintar berguling-guling seiring dengan semakin kuatnya otot-otot leher dan lengannya. Apa lagi dengan perkembangannya yang sangat cepat, sekarang Pelangi semakin pintar mencari cari perhatian Kia dan orang - orang di dekatnya. Di tambah lagi kelakuannya yang sangat menggemaskan. Ia juga sudah mulai bisa berbicara "aaa" dan "uuu". Setiap hari perkembangan Pelangi sangat Kia perhatikan. Mulai dari perkembangan motoriknya, sosialnya, ataupun nutrisi yang benar - benar Kia perhatikan. Kia tidak menginginkan putri kecilnya sakit seperti dulu. Kia sangat berhati hati sekali menjaga Pelangi.
Pelangi juga sudah mulai mengenal orang orang yang berada di sekitarnya. Apa lagi dengan Cleo, ia sangat antusias ketika Cleo datang ke rumah dan mengendongnya. Cleo dan Pelangi sudah seperti memiliki ikatan batin. Setiap Cleo pamit pulang kepada Pelangi, pasti Pelangi selalu merengek menanggis seperti tidak ingin di tinggalkan oleh Cleo.
Semenjak Pelangi hadir di kehidupan Kia semua yang di jalani Kia sekarang terasa begitu sempurna apa lagi kebahagiaan itu telah datang di kehidupannya. Begitu pula dengan Cleo. Cleo memang bukan dari anggota keluarga Kia, tetapi dia juga merasakan kebahagian yang Kia rasakan saat ini.
Entah sampai kapan Cleo akan berterus terang kepada Kia mengenai isi hatinya yang semakin lama perasaan dia kepada Kia semakin besar. Cleo ingin sekali menyatakan perasaanya kepada Kia. Namun, dirinya takut jika Kia belum bisa menerimanya atau membenci dirinya saat dia sudah menyatakan perasaanya itu. Karena Cleo juga tidak ingin jauh dari Pelangi. Pelangi sudah Cleo anggap seperti anaknya sendiri. Ia akan terus bersabar sampai nanti Kia sudah bisa membukakan pintu hatinya untuk orang lain.
Mungkin memang banyak yang berkata bahwa menunggu itu membosankan. Namun, tidak untuk Cleo, karena dirinya benar - benar tulus mencintai Kia dan juga Pelangi. Setiap hari Kia selalu di temani Cleo di rumah barunya itu. Karena Cleo selalu merindukan Pelangi, tiada hari tanpa melihat dan bermain dengan Pelangi. Sehingga dirinya tidak mau kehilangan kesempatan melihat perkembangan Pelangi.
"Hallo cantik."
"Siap yang cantik? Aku atau pelangi mas? Ha.. ha.. ha.." Kata Kia sambil bergurau.
"Dua duanya juga boleh. Kamu sudah sarapan belum? "
"Bleum mas, aku juga udah laper banget.
"Ya sudah mari kita makan.aku sudah membawakan makanan."
"Ya ampun, kamu baik banget sih mas."
"Dari dulu tahu."
Merekapun tertawa bersama. Selama ini, Kia belum mempunyai perasaan apapun kepada Cleo. Dimata Kia, Cleo adalah sahabat terbaiknya. Ia belum bisa menerima seseorang pun untuk menempati hatinya itu. Apa lagi ia saat ini sedang disibukan dengan mengurus Pelangi. Dirinya tidak sadar bahwa sudah memiliki rasa kepadannya dan sudah mulai mencintainya.
----------
Ternyata selama ini kehamilan yang di alami Kayla mengalami kendala. Bayi yang dia kandung ternyata tidak bisa berkembang dengan baik di dalam perut. Mau tidak mau bayi itu harus segera di keluarkan dari dalam perut. Sedangkan umur kandungannya saat itu sudah berjalan empat bulan setengah. Ketika Kayla mengetahui janinnya tidak berkembang dan harus melakukan tindakan kuret ia seperti tidak menerima dengan semua yang terjadi kepada dirinya. Ia selalu menyalahkan Akbar atas kehilangan anaknya itu. Karena semenjak masalah itu, saat Akbar membohongi Kayla, Kayla jadi uring uringan setiap hark dan semenjak itulah Kayla berfikir bahwa kehamilannya bermasalah karena Akbar.
"Semua yang terjadi itu karena kamu mas. Aku benci sama kamu. Aku harus kehilangan anakku semua karena kamu." Kata Kayla sambil memukul mukuli tubuh Akbar.
"Kay, bukan kah kamu mendengar sendirikan apa yang sudah di jelaskan oleh dokter mengenai kandunganmu itu."
"Tapi awal mulanya semua itu karena kamu mas! Karena kamu yang selalu bersembunyi sembunyi di belakangku. Kamu juga tidak pernah jujur kepadaku. Kamu selalu memikirkan mantan istrimu dan anaknya. kamu juga yang sudah membuat aku selalu uring - uringan seperti ini! Kamu jahat mas, kamu jahat. " Ujar Kayla degan menangis tersengut - sungut
"Sudahlah, kita ikhlaskan apa yang sudah terjadi. Karena ini semua bukan keinginan kita. Ini semua sudah menjadi takdir dan tidak ada gunanya lagi kita saling menyalahkan. Lebih baik kita berusah agar kita bisa cepat mendapatkan anak lagi Kay." Ujar Akbar agar Kayla bisa tenang kembali.
"Mudah sekali kamu bicara seperti itu ya mas! " Ucap Kayla sambil berjalan pergi meninggalkan Akbar.
Begitulah setiap hari pertengkaran di dalam rumah tangganya, semenjak Kayla di kuret. Dan Kayla selalu meminta kepada Akbar untuk pulang kembali kepada mamanya.
Sedangkan saat dia di bawa ke rumah sakit untuk di kuret, dokter sudah berulang kali menjelaskan kepada Kayla Penyebab janin tidak berkembang adalah kelainan kromosom pada zigot, dan di sebabkan karena kelainan bentuk pada rahim yang tidak sempurna. Akan tetapi ia masih saja menyalahkan Akbar. Ketidak terimaan itu membuat rumah tangganya semakin tidak harmonis atau semakin retak. Di sisi lain Akbar pun selalu meminta maaf dan menjelaskan berulang - ulang kali mengenai kejadian itu. Akbar memahami bahwa Kayla belum bisa menerima semua yang sudah terjadi kepada calon anaknya itu.
Sebab Kayla sangat berharap bisa memberikan keturunan untuk Akbar. Karena dirinya selalu mengingat ingat tentang perkataan Dewi yang pernah dia ucapkan kepada Kia mengenai keinginannya untuk mendapatkan cucu dari Akbar. Namun itu semua sudah hanya menjadi mimpi bagi dirinya. Entah sampai kapan dirinya bisa mengandung lagi. Sebab Ia selalu berharap agar bisa cepat di berikan momongan lagi.
---------
Nindi pulang ke rumah Dewi dan ingin menjelaskan apa yang sudah dia lakukan untuk Kia. Ketika ia pulang ke rumah, Dewi tidak ingin melihat wajah anak - anaknya sekalipun itu Akbar anak kesayangannya.
Ia berfikir untuk apa mereka datang tetapi mereka sudah tidak lagi sayang terhadap dirinya. Nindi juga berusaha untuk menjelaskan kepada Dewi perihal apa yang ia lakukan. Namun penjelasan itu sama sekali tidak di dengar oleh Dewi.
"Ibuk, " Ucap Nindi sambil berlutut di hadapan ibuknya.
"Kenapa kamu kemari? Aku sudah tidak ingin melihat kalian. Bukankah aku hanyalah benalu saja untuk kehidupan anak - anakku?" tanya Dewi tanpa melihat Nindi.
"Jagan bicara seperti itu buk. Ibuk, ibuk itu akan selalu ada di hati kami. Dan kami tidak pernah menganggap kalau ibu itu benalu atau sebagainya. Coba ibuk bayangkan, bagaimana jika ibuk menjadi kak Kia saat itu. Saat sedang hamil dan mengandung anak dari kak Akbar lalu digugat cerai oleh suaminya. ibuk ini juga sama - sama seorang ibu. Ibuk juga tahu kan gimana rasanya mengandung sendirian tanpa suami di sisinya? Apa lagi dengan Kak Akbar yang sudah lama menantikan buah hatinya. Akan tetapi, ketika dia sudah mendapatkannya, justru dia harus berpisah dengan anak dan juga istrinya, dengan cara yang seperti kemarin buk. Bagaimana bisa semua ini ibuk rancang sendiri? Kenapa ibuk terlalu teropsesi dengan kenikmatan semata buk? Kenapa ibuk tidak memikirkan hati kak Akbar?" ucap Nindi dengan beraninya berkata seperti itu kepada Dewi.
"Ibuk, kasih sayang yang ibu berikan memang sangat begitu besar. Akan tetapi cara ibuk kepada kak Akbar semuanya salah."
"Tahu apa kamu tentang itu semua?! "
"Ibuk, Nindi berharap ibuk bisa lebih bijak dalam memutuskan segala hal. Memang aku yang meminta kak Akbar untuk menemui ku dan memberikan sedikit sampel darahnya."
"Sudah pergi saja sana! Aku tidak mau mendengar semua celotehanmu atau omong kosongmu itu ! Jangan anggap aku ini ibumu lagi. Lebih baik aku tidak mempunyai anak seperti kalian." Kata Dewi sambil berjalan di kamarnya dan menutup pintunya.
"Ibu, jangan berkata seperti itu buk. Buk. Nindi dan kak Akbar itu sayang kepada ibuk." Ucap Nindi sambil mengetuk - ngetuk pintu kamar ibunya.
Dewi benar - benar tidak menginginkan kehadiran anak - anaknya di rumah. Ia juga tidak mau bicara apapun kepada anak - anaknya itu atau mendengarkan penjelasan Nindi saat itu. Karena dia juga merasa anak - anaknya sudah tidak mau lagi mendengar apa yang ia katakan atau perduli kepadanya.
---------
Suatu saat Ida datang ke rumah Dewi. Ia datang dengan raut muka marah, ketika itu Dewi bingung melihatnya. Tidak ada hujan, tidak ada angin Ida datang dengan marah - marah. Ia pun bertanya kepada Ida karena datang dengan wajah marahnya.
"Heh, Dewi keluar kamu. " Ucap ida sambil mengetok ngetok pintu rumah Dewi.
Tak lama Dewi keluar dengan wajah binggung.
"Ada apa jeng?"
"Aku tidak terima dengan perlakuan anakmu kepada Kayla."
"Maksudnya gimana jeng, coba kita bicarakan baik - baik, mari masuk dan duduklah. "
Ida pun ikut masuk. Lalu ia melanjutkan pembicaraannya.
"Sekarang ceritakanlah ada apa jeng?"
"Bilang ya ke anakmu. Suruh mereka kembali ke sini sekarang. Gara - gara Akbar Kayla jadi kehilangan bayinya! "
"Apa? Kehilangan bayi? Kayla hamil? "
"Iya Kayla sudah hamil empat bulan. Kenapa bisa kamu sebagai orang tuanya tidak mengetahui bahwa menantumu itu hamil! Mertua macam apa kamu?!"
"Maaf jeng, aku benar - benar tidak mengetahuinya. Kamu tahu sendirikan untuk menelfone dan berbicara dengannya saja aku harus mengunakan handponemu. "
"Pokoknya aku ingin kamu bicara ke anakmu suruh mereka kembali lagi ke sini. Dan bagaimanapun caranya Kayla haris hidup di kota ini lagi! Karena Akbar sebagai kepala rumah tangga tidak pecus mengurus istri!" Kata Ida dengan nada keras.
Karena Ida berbicara dengan nada keras dan sedikit kasar, Dewi mulai emosi. Ia juga membalas omongan Ida dengan nada kasar pula.
"Hey, jaga ya omongan kamu! Aku juga harus tau duduk permasalahannya seperti apa. Kamu juga jangan asal bicara atau menghina anakku seenaknya saja! Kita juga tidak tahu apa yang sebenrnya terjadi kepada mereka. Bisa saja Kayla yang terlalu banyak tingkah dan banyak tuntutan!"
"Apa kamu bilang? Banyak tingkah? Yang banyak tingkah itu anak kamu. Kenapa dia diam - diam memberikansampel darahnya untuk Kia. Dan berbohong kepada Kayla. Dia juga berjanji akan membahagiakan Kayla! Nyatanya mana?! Sekarang aku mau, kamu menyuruh dia dan Kayla untuk kembali pulang ke kota ini lagi! " Terserah bagaimana caranya!" Ucap Ida dengan menuding Dewi.
"Mudah sekali kamu menyuruhku seperti ini! Kamu pikir kamu ini siapa!"
"Ternyata memang benar Kia. Dia memang harus pisah sama Akbar. Karena ibu mertuanya tidak punya otak seperti kamu. Sekarang aku mulai bisa melihat sifat aslimu. Aku menyesal telah menikahkan anakku dengan Akbar. Permisi." Kata Ida sambil berpamitan dan pergi meninggalkan Dewi.
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️