Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Di serahkan


Setelah kia mendapatkan beberapa sampel Akbar dari Nindi. Ia langsung membawanya ke rumah sakit agar tes DNA segera di lakukan.


Dokter berkata bahwa tes DNA akan terlihat setelah dua hari. Kia pun berkata kepada dokter itu semua tidak jadi masalah yang terpenting tes DNA bisa cepat di lakukan.


Dua hari berlalu.


Kia datang ke rumah sakit dan mengambil hasilnya. Semua hasinya positif bahwa Akbar adalah ayah dari Pelangi.Kia pulang dan memberikan hasil tes itu kepada Sinta.


"Kak, ini hasil DNA sudah keluar. " Kata Kia sambil menyodorkan kertas untuk Sinta.


"Ya sudah, besok kita berikan kepada wanita tua itu."


"Baiklah kak."


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajahnya itu kecewa saat mengetahui anakmu itu adalah darah daging Akbar. Apalagi dia sudah pernah memperlakukan kamu seperti dulu." Kata Sinta.


"Besok biar papa yang menemani kalian." Ucap Surya.


"Tidak perlu pah. Nanti biar aku yang mengantarkan Kia ke sana. Papa, temani mama di rumah saja bersama Pelangi dan Bella."


"Tapi, kalian tidak apa - apa? Papah takut terjadi sesuatu dengan kalian saat menemui wanita itu."


"Kita bisa jaga diri kok pah. Papah tenang saja." Sahut Kia.


"Ya sudah kalau begitu biar papah di rumah saja. Menunggu Pelangi dan Bella. " Ucap Surya.


Ke esokan harinya. Kia dan Sinta siap siap akan pergi ke rumah Dewi. Mereka menitipkan anak mereka kepada ke dua orang tuanya.


Beberapa jam kemudian mereka sampai di rumah Dewi. Di sana terlihat ada mobil yang terpakir di depan rumahnya.


Kia dan Sinta keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah Dewi.


Ting.. tong.. ting.. tong..


Tak lama pintu rumah di buka oleh Dewi. Dewi terkejut melihat mereka datang kerumah. Di sana terlihat ada Ida yang sedang duduk di ruang tamu.


Tanpa mempersilahkan Kia dan Sinta duduk dan masuk ke dalam rumah, Dewi langsung bertanya dengan sadisnya.


"Mau apa lagi kalian ke sini?!" Ucapnya dengan menantang.


"Heh, nenek tua. Lihat ini!" Ucap Sinta sambil memberikan sebuah kertas itu dengan di lempar.


Dewi menerima kertas itu lalu membuka dan membancanya. Di kertas itu tertulis bahwa karakteristik genetik bertuliskan positif dengan sampel darah dari Akbar yang ia berikan kepada Kia beberapa hari lalu. Akan tetapi Dewi masih tidak mempercayainya dan dia mengatakan bahwa Kia masih mengada ada.


"Positif. Dengan kamu memberikan surat DNA ini aku akan percaya begitu saja?!" Ucap Dewi sambil melempar kertas itu ke wajah Kia.


"Terserah ibuk, mau percaya atau tidak silahkan. Yang penting saya sudah membuktikan bahwa anak yang aku kandung adalah anak dari Akbar dan sekarang anak itu sudah lahir." Kata Kia.


"Heh kamu nenek tua yang tidak punya hati. Tanyakan semuanya pada anak - anakmu itu mereka telah menemui Nindi dalam beberapa hari yang lalu. Akbar juga bersedia memberikan sampel darahnya kepada Nindi untuk dijadikan sampel DNA. Jadi kamu jangan asal bicara. Ingat ini yang terakhir kalinya aku dan adikku ke sini! Jangan harap setelah ini kamu bisa bertemu dengan cucumu! Ingat itu! "Ucap Sinta sambil menuding wajah Dewi.


Lalu Sinta mengeret tangan Kia untuk mengajaknya pulang. Ida yang berada di samping Dewi langsung mengambil surat hasil tes DNA itu. Setelah itu ia membacanya.


Dewi kemudian diam tanpa berucap apa - apa. Dia lalu masuk ke dalam rumah dan duduk melamun setelah melihat atau membaca surat itu.


"Aku tidak habis pikir, kenapa anak - anakku mendukung wanita itu. Apa lagi Nindi. Semua ini gara - gara Nindi. Dia sudah mebuatku merasa malu kepada wanita itu." Ucapnya dari dalam hati.


"Handphone ku mana? Handphone ku!"


Dia bergegas mencari hanphone untuk menelephone Nindi. Dengan wajah penuh rasa jengkel dan marah. Ia ingin sekali memukuli Nindi karena telah ikut campur dengan urusan Kakaknya itu.


------


"Iya Hallo buk?"


"Kkaammuu, kkaamu, dasar kamu memang anak yang tidak berguna! "


"Tunggu, tunggu buk, ada apa ini? Kenapa ibu tiba - tiba telephone dan marah kepadaku? Apa salahku?"


"Sabar jeng. Sabar. "


"Aku tidak bisa menerima ini semua. Mereka telah menghinaku. Gara - gara anak bodoh ini! "Ucap Dewi sambil berteriak - teriak dengan wajah yang sangat marah.


"Ibuk, ibuk ini kenapa? "


"Kamu masih bertanya kenapa?! kenapa kamu berani - beraninya ikut campur urusan kakakmu Akbar dengan Kia?! Kenapa kamu menolong wanita itu meminta sampel darah dari Akbar?!"


"Aku hanya tidak mau melihat kak Akbar menderita dan kehilangan anaknya saja buk."


"Dasar bodoh!" Ucap Dewi sambil menutup telephonenya.


Lalu dewi meminjam handphone ida untuk menelphone Kayla. Karena Dewi ingin berbicara dengan Akbar. Sebab setiap Dewi menelphone Akbar mengunakan nomor telephonenya Akbar tidak pernah mau mengangkat telephone dari ibunya semenjak ia pergi meninggalkan kota itu.


"Hallo mah."


"Ini ibuk Kay, owh ibuk. Ada apa buk?"


"Berikan telephonenya kepada Akbar. Sekarang." Kata Dewi sedikit membentak.


"Baik buk, sebentar saya cari mas Akbar dulu ya buk." Kata Kayla sambil berjalan menuju Akbar.


Dewi sudah tidak sabar ingin bicara dengan Akbar. Setelah beberapa detik Akbar menerima telephone itu dan berbicara kepada Dewi.


"Kenapa buk? Ada apa?" Tanya Akbar.


"Apakah kamu sudah benar - benar tidak ingin berhubungan dengan ibu?"


"Akbar sibuk buk."


"Tega kamu ya sama ibuk? Ibuk selu menunggu kabar dari kamu. Tapi kamu sama sekali tidak pernah memberikan kabar untuk ibuk?! " Ucapnya sambil menanggis.


"Akbar di sekarang tidak bunya banyak waktu luang buk. Aku juga jarang sekali memegang handphone. Ada apa ibuk menelfone ku?"


"Kenapa kamu tega dengan ibuk nak?!"


"Tega bagaimana?"


"Kenapa kamu memberikan sampel darahmu kepada mantan istrimu?!"


"Aku hanya ingin mengetahui jika anak itu benar - benar darah dagingku atau bukan. Apakah aku salah?"


"Aku tidak habis pikir dengan kamu dan juga adikmu itu. Kalian sudah merendahkan ibukmu sendiri kepada wanita itu. Ingat ya Akbar, yang merawat dan membesarkan kalian itu ibuk. Bukan orang lain. Ibuk mati matian berjuang untuk kalian berdua supaya mempunyai hidup yang layak. Tapi balasan kalian kepada ibuk seperti ini. Baiklah kalau begitu, jika kalian berdua sudah tidak menganggapku sebagai orang tua kalian. Mulai sekarang hiduplah tanpa ibuk. Ibuk tidak akan lagi mengusik usik kehidupan kalian atau rumah tangga kalian berdua. Jika memang semua yang ibuk lakukan itu salah di mata kalian, ibuk minta maaf. Ibuk akan pergi meninggalkan kalian. Dan satu lagi jangan pernah kamu mencari ibu lagi! " Ujarnya sambil mengancam Akbar dengan menanggis dan mematikan telephonenya.


"Buk, ibuk, hallo buk." Tiba tiba telefonenya di matikan oleh Dewi.


Setelah itu Dewi menutup telephonenya dan memberikan handphonenya kepada Ida. Rasa benci terhadap Kia kini semakin membara - bara, sebab Kia telah mempermalukan dirinya di depan Besannya itu. Ia menyuruh Ida untuk meninggalkan dirinya saat itu. Karena saat itu ia ingin menyendiri dahulu. Ida pun mengerti maksud Dewi, ia juga merasa tidak enak hati kepada dewi, sebab ia telah melihat kejadian tadi. Apa lagi ia telah membaca sendiri hasil tes DNA yang di berikan oleh Kia. Ida pun pergi meninggalkan rumah Dewi dan kembali pulang.


Kayla bertanya kepada Akbar hal penting apa sehingga Dewi baru pertama kalinya berkata dengan membentak Kayla saat di telephone tadi. Akan tetapi Akbar tidak menceritakannya kepada Kayla. Ia khawatir jika Kayla mengetahuinya pasti ia akan uring - uringan.


Namun, Kayla mencurigai sesuatu yang sedang Akbar sembunyikan. Ia pun menelfone mama dan menanyakan sebenarnya yang terjadi. Ida menceritakan semuanya kepada Kayla.


Kemudian setelah Kayla mendengarkan semua cerita dari Ida. Ia pun langsung bertanya kepada Akbar dan menyuruhnya untuk menceritakan yang telah terjadi sebenarnya.


"Ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi!" Kata Kayla dengan raut muka sedang marah.


"Maksud kamu?" tanya Akbar.


"Ceritakan apa yang sudah terjadi saat ini, kepadaku mas!"


Bersambung...


❇️❇️❇️❇️❇️