
Setelah Nindi pergi, Cleo pun juga ikut pamit untuk kembali pulang. Cleo juga berpamitan kepada Sinta karena ia akan pergi untuk beberapa hari. Karena ia ada kepentingan bersama ibunya.
"Kak Sinta, saya pamit pulang dulu ya kak. Owh, iya saya juga mau pamit mungkin untuk beberapa hari ini aku tidak ke sini kak."
"Loh kenapa?"
"Saya ada acara kak dengan keluarga."
"Owh, ya sudah enggak apa - apa. Salam ya untuk keluargamu Cleo."
"Iya kak. Emm, Kia kamu baik - baik ya sama dedeknya. Enggak usah keluar - keluar dulu kalau aku belum ke sini ya." Ucap Cleo sambil tertawa manis.
"Memangnya kamu scurityku ya, kalau aku pergi harus menunggumu kesini.Ha.. ha.. ha.." Kata Kia.
"Ya, bukannya gitu. Kamu kan sudah hamil tua. Aku takut aja dedeknya kenapa kenapa gara - gara bundanya bandel. Dedek kecil yang ada disana, om pergi dulu ya. Kamu jaga bundamu baik - baik. Kalau bundamu pergi sendiri coba kamu ingatkan dengan tentangan lembut kamu ya." Ucap Cleo dengan membungkukkan badannya lalu menghadap di depan perut Kia yang sudah besar sambil berbicara.
"Kalau begitu saya permisi ya kak." Kata Cleo lagi.
"Iya hati - hati Cleo."
"Hati - hati ya mas."
Saat itu Cleo berjalan meninggalkan Sinta dan Kia. Sintapun masuk ke dalam rumah bersama Kia. Ia juga masih melanjutkan perbincangannya mengenai Nindi yang telah datang ke sini.
"Adiknya Akbar kesini dan berkata seperti itu bukan karena dia berpura - pura baik denganmu?"
"Tidak kak. Aku tahu gimana sifatnya. Dia berbeda dengan keluarganya. Jadi kakak tidak perlu khawatirkan semuanya."
"Benar? Karena kakak sudah benci sekali dengan keluarga Akbar setelah dia membuat hati kamu hancur."
"Tidak usah di pikirkan lagi. Aku yakin kak, suatu saat mereka pasti menyesali perbuatannya sendiri."
"Tapi tadi kakak seperti mendengar kalau Akbar sudah menikah dan menetap pindah jauh dari kota ini?"
"Iya memang dia sudah menikah. Aku juga baru mengetahui ini semua dari Nindi. Nindi yang menceritakannya. Katanya dia ingin pergi dengan wanita barunya itu jauh dari ibunya kak.
"Dasar dia memang laki - laki berengsek enggak punya otak. Dia itu seperti boneka untuk ibunya. Di suruh kesana mau, di suruh ke sini juga mau. Biarkan saja wanita tua yang egois itu di tinggalkan oleh anak - anaknya. Biar dia hidup sendiri tanpa ada anak - anaknya di sampingnya. "
"Sudahlah kak biarkan semua menjadi urusan mereka. "
"Iya sih. Memang itu sudah bukan urusan kita lagi. Tapi kalau kakak megingat ingat perkataan wanita tua itu, kakak menjadi geram sekali. Tangganku ini ingin sekali mengampar wajahnya dan memaki maki dia.
"Berurusan dengan mereka itu tidak ada gunanya kak. Kita hanya menghabiskan waktu saja."
"Iya bener sih."
Selesai berbincang - bincang bersama kakaknya itu. Kia pergi ke kamarnya. Ia meletakan tas di atas kasur. Lalu ia memegang handphonenya dan membuka gallery fotonya. Masih ada beberapa fotoyang ada di handphonenya ketika dirinya sedang bersama Akbar.
"Aku memang di anggap hina oleh keluargamu mas. Ternyata kamu lebih hina dari aku. Semua jawaban itu terbukti bahwa kamu meninggalkan ku bukan karena alasan yang pernah kamu ucapkan kepadaku. Tetapi alasan itu sudah terbukti bahwa ternyata kamu hanya ingin menikahi wanita teman kecilmu itu. Aku tidak habis pikir dengan mu. Begitukah sifat aslimu. Aku sudah tidak akan memperdulikan mu lagi.Cinta dalam hidupku kini seakan mati. Biarkan semua ini ku jadikan pedoman dalam hidupku. Aku akan menutup rapat - rapat hati ini." Ucapnya sendiri dikamar. Lalu Kia menghapus satu persatu foto - foto kenangan saat bersama Akbar waktu itu. Karena ia tidak ingin lagi melihat wajah Akbar.
Setelah beberapa menit kemudian kedua orang tua dan keponakan itu pulang ke rumah. Sore harinya saat mereka makan malam bersama, kedua orang tua Kia berkata dan berpamitan bahwa mereka akan pergi dalam beberapa hari ini keluar kota. Karena ada acara undangan reuni bersama teman kerjanya dulu.
Sedangkan minggu minggu terakhir ini dirinya sudah mendekati HPL. Ia meminta kepada papa dan juga mamanya untuk tidak pergi lama lama karena Kia membutuhkan bantuan kepada mereka saat lahiran nanti. Apabila di rumah hanya dengan Sinta dan tidak ada seorang laki - laki satupun akan sulit baginya untuk meminta pertolongan saat dirinya akan melahirkan nanti.
Nisa dan juga Surya berfikir tidak akan pegi lama - lama meninggalkan putrinya yang akan lahiran karena ia juga tahu kondisi anaknya sedang dalam keadaan hamil tua. Mereka mencoba untuk menenangkan hati putrinya agar putrinya tidak terlalu panik saat mendekati HPL.
"Iya papa dan mama tidak akan pergi lama - lama. Kamu jangan hawatir. Ingat pesan mama Kia. Wanita itu kuat. Wanita itu hebat dan wanita itu segalanya. Khodrat wanita yang paling utama adalah melahiran di saat itulah kamu sudah sempurna menjadi seorang wanita."
"Benar apa yang di katakan oleh mamamu nak. Sehebat hebatnya laki - laki, sekuat kuatnya laki - laki lebih hebat perempuan dan lebih kuat perempuan. Karena perempuan itu tangguh mereka berani menaruhkan nyawanya demi kebahagian keluarganya terutama kepada anaknya sendiri. Jadi papa yakin kamu pasti bisa melewati semua rintangan yang saat ini sedang ada di hadapan mu. Jadi jangan mudah menyerah ya putri papa yang kuat."
"Iya pah, mah, Selagi di hidupku masih ada kalian aku akan selalu kuat. Karena keluarga adalah satu satunya kekuatan untuk Kia. Besok berangkatnya hati - hati ya mah, pah."
"Iya sayang. Sini papa ingin sekali merasakan tendangan dari cucu papa." Kata Surya sambil menempelkan telapak tangannya ke perut putrinya itu."
Bayi yang ada di kandungan Kia mulai bergerak aktif di dalam perut. Ia menendang nendang kecil perut Kia. Surya merasakan gerakan cucunya yang aktif itu. Di susul oleh tangan Nisa menempel diperut Kia yang juga ingin merasakan betapa atifnya cucu mereka. Bella pun keluar dari kamar dan menghampiri Kia. Ia juga ingin merasakannya.
Dua hari setelah Surya dan Nisa pergi Cleo datang ke rumah Kia.
"Selamat pagi bumil."
"Loh kamu kok sudah pulang mas?" Kata Kia yang sedang menyapu lantai depan rumahnya.
"Kamu enggak suka ya aku ke sini?"
"Ha.. ha.. ha.. bukannya begitu, katanya kamu ada acara dan akan pergi bersama ibumu. Kok cepet banget?"
"Acaraku sudah selesai. Lalu aku kembali ke sini. Ini aku bawakan beberapa makanan kesukaanmu dan buah buahan untuk peri cantik yang ada didalam sana."
"Makasih banyak ya mas."
"Gimana? Kamu baik - baik sajakan saat aku tinggal?
"Iya aku baik mas. "
"Kamu mau minum apa? Biar aku buatkan."
"Kita jalan yuk. Ajak Bella juga. Ini kan hari minggu. Kita cari makan di luar."
"Sebentar aku panggilkan Bella dulu ya.
****
"Bel, bella?"
"Iya tante. Kenapa tan? " Sahut Bella yang berlari keluar dari kamarnya.
"Ikut tante sama om Cleo yuk."
"Kemana?"
"Kita cari makan. Kamu belum makan juga kan?"
"Bella ikut tan. Bella ikut. "
"Ya sudah. Sekarang Bella ganti baju terus tante juga mau ganti baju."
Cleo duduk di ruang tamu menunggu Kia dan Bella yang sedang ganti pakaian.
"Om Cleo. Bella sudah selesai. Tante belum keluar ya?"
"Belum Bel. Kamu sudah cantik sekali."
( Dengan tersenyum malu) Bella pergi ke kamar tantenya dan memanggil manggil nama tantenya.
"Tante, tan Bella udah siap nih. "
"Iya sebentar." Kata Kia sambil berjalan keluar kamarnya.
Kemudian mereka pergi bersama untuk mencari makan di luar. Saat itu Sinta sedang tidak ada di rumah, ia sedang pergi mengurus sesuatu untuk suaminya. Dan di rumah hanya ada Bella, Kia dan pembantunya. Maka dari itu Kia mengajak Bella pergi.
Saat mereka sedang asik menikmati makanannya. Kia merasa seperti tidak enak badan. Perutnya sedikit mulas, namun ia tidak begitu memperdulikannya. Selesai makan, ia melanjutkan untuk pergi berjalan - jalan ke pusat pembelanjaan perlengkapan bayi - bayi. Mereka membeli beberapa pakaian untuk bayi.
Saat mereka sedang memilih milih jumpsuit bayi salah satu pramuniaga toko itu menghampiri mereka.
"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?"
"Baik kak, saya carikan sebentar ya."
Pramuniaga itu mencarikan beberapa jumpsuit yang di inginkan Kia. Setelah semu pesanan Kia terpenuhui, ia segera menghampiri mereka.
"Permisi kak, ini pesanan istri bapak." Pramuniaga itu berkata kepada Cleo bahwa Kia adalah istrinya. Cleo sepontan hanya terdiam dan tersipu malu karena dirinya di anggap suami Kia.
"Owh, terimakasih ya kak."
Sementara itu Kia dan Bella sedang memilih baju di samping Cleo. Ia melihat pramuniaga itu memberikan barang yang Kia minta tadi.
"Em, kak tadi jumpsuit yang aku minta mana?"
"Sudah saya berikan kepada suami ibu."
"Ini kan yang kamu pesan, sudah aku bawa. Terimakasih ya kak." Kata Cleo sambil tersenyum kepada Kia.
"Ha? Suami? Om sama tante inikan hanya berteman ya kan? " tanya Bella dengan polosnya.
"Kamu ini, anak kecil ikut - ikutan saja."
Merekapun tertawa bersama. Cleo menatap wajah Kia yang memerah karena mendengar pramuniaga itu berkata bahwa Cleo adalah suaminya.
Bella pun masih ingin berjalan dan melanjutkan pergi ke timezone. Namun, Kia sudah tidak kuat lagi untuk berjalan. Ia mengajak Cleo untuk kembali pulang saat itu juga. Bella pun memahami keadaan tantenya yang sedang hamil tua itu.
"Tante capek ya?" tanya Bella.
"Kamu baik - baik saja kan Kia. " tanya Cleo
"Aku enggak apa - apa kok mas. Iya sayang, tante merasa capek saja untuk berjalan kaki. Kita pulang ya. Jalan - jalannya kita lanjutkan besok ya sayang."
"Iya tante.
"Ya sudah sekarang kita pulang." Ajak Cleo sambil mengandeng tangan Bella dan membawa beberapa barang belanjaan Kia.
Selepas itu mereka kembali pulang. Sesampainya di rumah Cleo langsung berpamitan supaya Kia bisa langsung beristirahat.
Rasa mulas yang di rasakan Kia semakin lama semakin bertambah. Ia mengira rasa mulas yang datang saat itu hanyalah kontraksi palsu saja. Namun semakin malam rasa sakit itu semakin bertambah dan ia mencoba menahan diri lalu melakukan kegiatan agar rasa sakitnya hilang.
Waktu menunjukan pukul sebelas malam, Kia masih mondar mandir berjalan di area ruang tamu. Sinta yang saat itu akan mengambil air minum di dapur melihat adiknya belum tidur dan berjalan mondar mandir di ruang tamu dengan kringat yang bercucuran dan wajahnya yang pucat.
"Kamu belum tidur?"
"Belum kak. "
"Kenapa? Kamu juga kringat dingin? Kamu baik - baik saja kan?"
"Kak, dari tadi siang aku merasakan perutku mulas kak. Tapi semakin lama rasa mulas ini berubah seperti sembelit dan rasa sakinya semakin kuat kak."
"Janga - jangan kamu mau melahirkan."
"Tapi HPL ku masih kurang satu minggu lagi kak. Auw, auw, aduh kak, perut Kia sakit banget."
"Ya ampun Kia. Air ketuban kamu sudah merembes. Kita ke rumah sakit sekarang. Kamu tahan dulu ya aku akan titipkan Bella ke tetangga. Sebentar ya."
Sambil berjalan mencari bantuan tetangganya Sinta menelfone Cleo dan menyuruhnya agar ia cepat - cepat datang ke rumah dan menolong Kia yang akan melahirkan malam itu.
Cleo yang mendapatkan kabar dari sinta bergegas pergi ke rumahnya. Ia mengendarai mobilnya dengan sangat kencang. Biasanya jarak yang ia tempuh saat akan menuju rumah Kia memakan waktu kurang lebih satu jam, malam itu ia sampai di rumah Kia hanya dengan waktu tiga puluh menit saja. Karena ia benar - benar menghawatirkan kondisi Kia.
Air ketuban Kia semakin lama semakin keluar banyak. Ia sangat merasakan kesakitan yang begitu luar biasa. Badannya sudah mulai lemas, kringatnya bercucuran dengan sangat deras dan tubuhnya sudah mulai tergeletak di lantai ruang tamu. Ia mencoba menarik nafas dengan perlahan - lahan ia keluarkan dari mulutnya seperti yang pernah di ajarkan saat disenam ibu hamil.
Namun, itu semua tidak mengurangi rasa sakitnya. Ia berteriak memanggil - manggil Sinta dengan tubuhnya yang terselampai di lantai keramiknya. Ia menanggis karena tidak tahan degan rasa sakit yang sedang ia rasakan saat itu.
Cleo datang dan memarkirkan kendaraanya di depan pintu. Ia melihat Kia yang sedang terbaring di lantai langsung membopongnya untuk masu ke dalam mobil. Sinta berlari dari luar gerbang rumahnya dan menyuruh Cleo untuk cepat cepat membawanya ke Rumah sakit. Sinta saat itu masih menunggu tetangagnya yang akan menjaga Bella, ketika tetangganya sudah datang ia menyusul Cleo ke rumah sakit. Pembantu rumahnya itu tidak menginap karena dia hanyalah tentangganya sendiri.
Cleo pun langsung pergi dan membawa Kia ke rumah sakit. Ia mengemudi mobilnya denagn sangat kencang dan berhati - hati sambil tangan kirinya memegang perut Kia. Badan Kia pun semakin lama semakin sangat lemas karena tenaganya habis untuk menahan rasa sakit. Rasa sakit di perutnya itu terus muncul dan ditambah punggungnya yang sudah mulai terasa panas. Ia sudah tidak bisa memikirkan apa - apa lagi.
"Kia, tahan sebetar ya. Ini kita sudah mau sampai. Kamu harus kuat Kia."
"Sakit banget mas. Auw, auw. " sambat Kia.
"Iya aku tahu bagaimana rasanya. Kamu harus banyak berdoa Kia. Sabar ya, ini kita sudah mau sampai."
"Auw, mas."
Sesampai di rumah sakit Cleo langsung keluar dari mobilnya dan membopong Kia langsung menuju ruang UGD. Ia berteriak meminta bantuan kepada petugas yang ada di sana agar segera menangani Kia.
Para petugas medis yang berada di UGD seketika langsung menangani Kia. Kemudian ada salah satu perawat yang langsung menelephone dokter agar pasien segera di tangani karena air ketuban Kia sudah keluar cukup banyak.
Kia masih merintih rintih menahan rasa sakit yang begitu hebat. Sedangkan Cleo masih berada di samping Kia, ia mencoba menenangkan hati dan juga pikiran Kia. Ia memegang tangan Kia dan menemaninya. Saat itu Cleo benar benar tidak tega melihat wajah Kia yang begitu pucat dan lemas. Tanpa ia sadari air matanya pun ikut menetes melihat kesakitan yang sendang Kia alami. Ia melihat betapa keras perjuangan seorang wanita saat akan melawan takdir.
Cleo yang masih berada di samping Kia , terus memberikan ketenangan untuknya. Sedangkan baru kali pertama ia menyaksikan perjuangan seorang wanita yang akan melahirkan anaknya.
Beberapa menit dokter datang dan langsung menangani Kia malam itu juga. Dokter menyuruh Cleo untuk keluar meninggalkan Kia. Ia menuruti apa yang diperintah oleh dokter. Kemudian ia menunggu Kia di luar ruang tunggu operasi.
Kala itu jaket yang ia kenakan sedikit basah terkena air ketuban, karena ia sudah membopong Kia tadi. Akan tetapi semua tidak jadi masalah untuk dirinya. Yang terpenting nyawa Kia dan juga bayi yang Kia kandung selamat semuanya.
Ia menunggu sendirian di sana sambil duduk dengan rasa penuh kecemasan. Tak lama Sinta datang sambil membawa beberapa barang keperluan bayi yang baru saja di lahirkan. Ia datang lalu mendekati Cleo yang sedang gelisah.
"Cleo. Bagaimana dengan Kia?"
"Kia sedang di tangani oleh doter kak."
"Semoga semua selamat dan sehat."
"Amin kak."
Sinta melihat raut wajah Cleo yang saat itu benar - benar menghawatirkan kondisi Kia. Ia menduga bahwa Cleo seperti menyukai Kia, di lihat dari perhatian yang selama ini ia berikan untuk Kia.
"Sudahlah, kamu jangan cemas. Mari kita doakan semoga semuanya akan baik - baik saja Cleo. "
"Iya kak. Aku berharap semua selamat dan lahir dengan sehat."
"Amin."
Kemudian mereka menunggunya di ruang tunggu. Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu namun dokter belum juga keluar dari ruangan operasi. Cleo yang kala itu sedang menunggu dengan posisi berdiri di samping pintu semakin gelisah. Begitu pula dengan Sinta, ia mulai menghawatirkan keadaan Kia dan juga bayinya yang saat ini sedang berjuang. Sebab, ketika Sinta melahirkan Bella dulu dengan cara operasi caesar, operasinya tidak selama ini. Hanya beberapa menit saja Bella sudah lahir.
Ketika itu mereka benar benar menghawatirkan kondisi Kia. Tak lama terdengar dari dalam ruang operasi itu suara tanggiasan bayi. Cleo dan Sinta pun mulai sedikit bernafas lega setelah mendengar suara bayi menanggis.
"Kak, apakah kakak mendengarnya?"
"Iya aku mendengar suara tangisan bayi."
Serentak mereka berkata "Alhamdhulillah."
Beberapa menit kemudia suster keluar dari ruang operasi meminta salah satu keluarganya untuk mengadzani bayi itu, sementara laki - laki yang sedang berada di sana hanyalah Cleo lalu ia mengambil alih untuk memberikan adzan kepada bayi Kia yang baru saja lahir. Ia juga meminta izin terlebih dahulu kepada Sinta. Dengan senang hati Sinta menyetujuinya. Lalu Cleo bergegas untuk menemui bayi itu.
Cleo mengumandangkan adzan di telinga kanan dan menyerukan iqamah di telinga kiri dengan lembut dan penuh kasih sayang. Suaranya sangat merdu. Ia juga memberikan beberapa surah - surah pendek dan doa untuk anak Kia. Ini adalah pertama kalinya ia mengendong dan mengumbandangkan adzan untuk seorang bayi yang baru saja di lahirkan.
Ketika pertama kalinya ia memegang bayi yang masih merah kulitnya, matanya pun terlihat begitu indah, bayi mungil itu mengedipkan mata dengan sangat lucu, bibirnya yang kecil mungil tersenyum dengan sangat manis. Mengucap ucap mulut mungiknya itu yang masih terlihat berwarna merah. Tanpa Cleo sadari meneteslah air matanya melihat Kia berjuang menaruhkan nyawanya demi melahirkan malaikan kecilnya itu. Senyuman dari sang buah hati Kia membuat hati Cleo merasa begitu tenang. Betapa bahagianya Cleo saat melihat wajah mungil nan cantik itu.
Bersambung..
❇️❇️❇️❇️❇️