Senyuman Sang Buah Hati

Senyuman Sang Buah Hati
Kak Sinta


"Kak, sejak pertama kali aku masuk di kehidupan mas Akbar, ibu mertuaku sudah sangat mengingin seorang cucu. Setiap kali aku bertemu atau betatap muka dengan ibu mertuaku. Dia selalu saja bertanya kepadaku tentang kesuburan kandungan ku. Ia sering kali bertanya kepadaku, perihal satu garis atau dua garis. Namun, setiap kali aku menjawab pertanyaannya dengan mengatakan hasil yang sama, hanya satu garis yang muncul, ibu mertua ku selalu marah marah kepadaku kak."


"Terus?"


"Mulai dari situlah, ketenangan dalam rumah tanggaku tergoyahkan kak." Ucap Kia. Ia menceritakan semua perilakuan ibu mertuanya kepada Sinta.


Dan ia juga menceritakan suaminya yang tiba - tiba berubah kasar kepadanya saat ia sedang bersamanya waktu lalu. Dengan menceritakan apa yang telah di alaminya air matanya tak terbendung. Ia menanggis mengingat kejadian di mana suaminya itu pernah menampar pipi Kia.


"Apa, Akbar pernah main tangan?! Keterlaluan! Tapi apakah Akbar mengerti dengan perlakuan ibunya kepadamu?"


"Dia tidak terlalu banyak mengetahui sikap ibunya kepadaku kak. "


"Lalu apa yang Akbar lakukan saat ia tahu kamu di perlakukan seperti itu kepada mertuamu?"


"Mas Akbar hanya mengatakan aku harus banyak bersabar saat menghadapi ibunya itu."


"Gila ya suamimu itu! Kakak tetap enggak bisa terima semua perlakuan suami dan ibu mertuamu itu. Mereka sudah keterlaluan dengan membuatmu merasa sedih. Harusnya kalau memang mereka menginginkan anak atau cucu mereka harus selalu banyak berdoa dan mendukungmu. Mereka pikir anak itu seperti barang yang tiba - tiba bisa di beli langsung begitu saja! Kita temui mertuamu itu besok."


"Tidak perlu kak, kita hanya membuang buang waktu saja ke sana. Karena aku sudah hafal dengan sikap mertuaku kak."


"Enggak bisa dek, kakak harus temui mertua kamu itu. Kakak akan tayakan kenapa ia mengusik - usik rumah tangga anaknya. Apa maksudnya sampai membuat kamu harus berpisah dengan suamimu. Hingga tega membuat rumah tangga anaknya hancur."


"Kak, Kia benar benar sudah merasa lelah dan capek dengan semua ini. Kia tidak ingin lagi berurusan dengan mereka. Setiap kali Kia melihat mas Akbar sakit rasanya hati Kia, kak." Kata Kia sambil menanggis dan menundukan kepalanya dengan di tahan oleh kedua tangannya.


Sinta yang melihat adiknya sedang menanggis langsung memeluknya. Ia sadar betapa sakitnya perasaan yang Kia rasakan saat ini.


"Iya kakak tahu gimana perasaanmu. Kamu yang sabar ya dek, kamu harus kuat. Kakak hanya memikirkan anakmu. Kasihan nanti anakmu. Ketika nanti ia lahir, ia tidak di dampingi oleh ayahnya." Ucap Sinta sambil mengelus elus punggung Kia.


"Aku yakin kak, aku dan anakku bisa melewati ini semua."


"Ya ampun dek, kenapa nasibmu seperti ini." Ucap Sinta sambil memeluk adiknya dari samping yang sedang duduk menanggis.


"Aku hanya ingin semua ini berakhir kak. Dan aku ingin hidup bahagia bersama anakku nanti kak. Jadi tolong kakak bantu aku mempercepat proses perceraian ini kak. Ku mohon." Kata Kia sambil memegangi perutnya yang semakin lama semakin terlihat membesar.


"Baik, kakak akan membantumu mempercepat proses perceraian. Tetapi kakak juga akan menceritakan masalah rumah tanggamu ini kepada papa dan mama. Kakak tidak ingin kamu melewati ini semua sendirian. Kamu masih mempunyai kakak, papa dan mama. Kami akan selalu bersamamu. Jadi kamu jangan pernah menutup nutupi lagi semua yang terjadi. Kakak mohon berceritalah ya dik."


"Tapi kak, jika kakak menceritakan semua ini kepada mama dan papa yang aku takutkan adalah jika menganggu kesehatan mereka kak. Aku takut papa dan mama nanti jatuh sakit mendengar kabar ini."


"Sudahlah, tidak perlu di khawatirkan, biar kakak yang mengurus semuanya."


"Terimakasih kak."


"Besok temani kakak datang ke mertuamu."


"Baik kak."


Sinta akhirnya kembali pulang ke rumah. Ia mengatakan kepada papa dan mamanya tentang apa yang telah terjadi di rumah tangga Kia. Ia menceritakan kepada papa dan juga mamanya dengan sangat berhati - hati supaya papa dan mamanya tidak jatuh sakit karena memikirkan keadaan yang di alami oleh Kia saat itu.


"Ada apa nak?" Tanya Surya.


"Mari kita duduk sebentar pah, mah."


Mereka duduk bersama, suami Sintapun ikut duduk.


"Aku kemarin pergi ke rumah adek." Kata Sinta.


"Loh ada keperluan apa kamu ke sana Sin?" Tanya Surya.


"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kalian. Tetapi aku minta papah dan mamah jangan terlalu memikirkan semuanya. Biar sinta dan mas Ibnu yang akan menemani Kia menyelesaikan masalah ini."


"Ada apa sih Sin? Kia baik baik sajakan? Kandungannya baik baik sajakan?" Tanya Nisa dengan raut muka khawatir.


"Tenang mah, semua baik baik saja. Kia dan janinnya sehat semua." Jawab Sinta.


"Lalu ada apa dengannya." Tanya Surya.


"Jadi sebenarnya keadaan rumah tangga Kia saat ini sedang dalam proses berpisah."


"Maksud kamu?" Tanya Nisa sambil menatap ke arah Sinta dengan raut muka binggung.


"Iya, Kia dan Akbar saat ini sedang dalam proses perceraian."


"Apa?!" Ucap Surya.


"Kenapa bisa sampai seperti ini?" Tanya Nisa.


"Kasihan Kia, dia sedang mengandung namun suaminya justru meninggalkan dirinya." Ucap Ibnu. Ibnu adalah suami dari Sinta.


"Jadi benar firasat mama kemarin pah. Kia menutup - nutupi semuanya." Ucap Nisa.


"Kemarin adik meceritakan semua perlakuan mertuanya selama ini. Kia di tuntut untuk hamil. Sedangkan dari awal pernikahan sampai sekarang Kia berjuang keras untuk bisa hamil. Namun nyatanya mertuannya itu tidak memahami tentang apa yang Kia perjuangkan. Mertuanya hanya bisa menuntut dan menuntut Kia supaya cepat hamil mah."


"Memang dia pikir anak bisa di dapat dengan mudah?! " Kata Nisa dengan suara sedikit kesal.


"Kia menutup - nutupi semua ini kepada kita. Ia tidak ingin mama dan papah jatuh sakit."


Akhirnya Sinta mencerikan semuanya kepada mereka.


Bersambung..


❇️❇️❇️❇️❇️