
Setelah Dewi hadir dan memberikan kesaksiannya suasana di ruangan yang awalnya berpolemik atau ricuh itu seketika berubah menjadi menyesak di hati. Bagaimana tidak, melihat wanita tua pruh baya yang memohon mohon dan berlutut untuk meminta maaf di hadapan mantan menantunya itu membuat semua orang menjadi terenyuh atau tersentuh hatinya.
Akan tetapi Akbar tidak ada sedikit pun merasa iba kepada ibunya itu. Dirinya masih tetap ingin memperjuangkan hak asuh anak itu. Dirinya berulang - ulang kali meminta kepada Nindi jalan kelaurnya. Namun, Nindi masih syok dan tidak bisa berpikir apa - apa lagi karena kenyataan pahit yang tidak pernah ia duga - duga selama ini telah Alex lakukan dengan sekejap dan sekejam itu sehingga membuat sakit di hatinya yang teramat dalam.
"Nin, ibuk menghancurkan semua rencana kita. Apa yang harus aku lakuan sekarang? Supaya hakim tidak terlalu percaya dengan semua ini." Tanya Akbar,
Akan tetapi Nindi, hanya terdiam membisu dengan tatapan yang kosong penuh kekecewaan.
"Nin, Nindi. Kamu kenapa sih. Di tanyain malah diam saja." Ucap Akbar sambil mengoyang - goyangkan bahu Nindi.
Akan tetapi Nindi sama sekali tidak mengubris atau menjawab pertanyaan Akbar. Pengacara Akbar pun juga tidak bisa lagi mencari solusi, sebab semua bukti dari tergugat sudah sangat meyakinkan hakim.
Lanjut Akbar menyuarakan perkataannya agar semua orang tidak mempercayai apa yang di katakan oleh saksi - saksi yang di hadirkan pada Kia.
"Tuan Hakim yang terhormat, saya yakin bahwa apa yang dikatakan mereka itu adalah sebuah kekeliruan. Sudah saya ucapkan lebih dari 30 kali dan berdasarkan bukti-bukti yang ada bahwa saya adalah seorang ayah yang baik untuk anak saya. Saya kira pengacara dan saksi lainnya telah berbicara dengan gamblang dan tidak menandakan apapun pada saya tentang apa yang dituduhkan oleh mereka yang telah keliru menilai kepribadian saya." ucap Akbar.
"Tidak tuan hakim yang saya hormati. Semua bukti dan saksi yang telah saya datangkan ke persidangan ini adalah bukti yang nyata sedangkan dia ( sambil menunjuk ke arah Akbar ). Dia sudah terlalu banyak membuat kebohongan. Semua bukti - bukti itu omong kosong, dia juga yang menyuruh ke dua orang ini untuk bersaksi kebohongan kepada tuan hakim." kata Kia dengan lantang.
Merekapun saling tunjuk menunjuk dan saling salah menyalahkan sehingga majelis hakim meminta semua untuk tenang di ruang persidangan. Kenyataannya banyak yang menganggap bahwa Akbar bukanlah ayah yang baik atau pun suami yang baik untuk keluarganya.
Persidangan itu terus berjalan dengan suasana yang benar benar memanas. Alasan yang Akbar keluarkan semuanya hanyala opini belakang. Dirinya selalu menuduh dan menjatuhkan Kia. Berulang ukang kali Akbar menyangkal semua bukti - bukti yang telah Kia hadirkan.
Akbar saat itu pun telah kehabisan kalimat - kalimat penuh kebohongannya, mereka sudah lebih dari satu jam sangkal-menyangkal. Kalimat-kalimat semacam “saya ayah yang baik” atau “saya suami yang baik” atau “saya laki - laki yang baik” selalu meluncur dari mulut Akbar. Hakim pun mencoba menerangkan kepada Akbar itu bahwa ia tak punya bukti yang cukup untuk memperkuat hak asuh anak itu.
"Apalagi yang harus saya katakan, Tuan Hakim! Saya ini adalah ayah yang baik, dan juga laki - laki yang baik!”
“Tidak, Tuan Hakim! Dia adalah laki - laki pendusta! Laki - laki yang tidak memiliki prinsip." tukas Kia dengan mata yang melirik ke arah Akbar dengan tajam.
"Jangan percaya pada wanita itu tuan hakim. Saya bisa menjamin masa depan anak saya sendiri kalau anak saya akan tumbuh baik dengan saya dari pada dengan ibunya yang selalu menghambur - hamburkan uang. Dia hanya menuduh saya agar saya tidak bisa mendapatkan hak asuh ini." Sahut Akbar.
Kia memang sudah tidak mau melanjutkan adu mulutnya dengan Akbar, sebab dirinya mengetahu kalau majelis hakim bisa menilai mana yang berkata jujur dan mana yang berbohong
Beberapa pertanyaan pun di berikan lagi kepada pihak penuntut. Kemudian Akbar berdiri.
"Saudara Akbar, apakah benar saudara Akbar telah membayar dua orang dalam kesaksian ini untuk mengatakan kebongan?" Tanya majelis hakim.
"Tidak, tuan hakim." Jawab Akbar.
"Saya bertanya dan tolong jawab dengan sebenar - benarnya di bawah Al- Qur'an. Saya ulangi lagi pertanyaannya." Kata majelis hakim denga mata yang memandang
----
"Saudara Akbar, apakah benar saudara telah membayar dua orang tersebut untuk mengatakan kesaksian kebohongan?" Tanya majelis hakim.
"Tidak Tuan Hakim, mereka berbicara dengan sejujur jujurnya tanpa rekayasa." Jawab Akbar.
"Saudara Akbar, apakah benar anak Pelangi pernah di rawat di rumah sakit akibat kelalean dari saudara Akbar atau keluarga saudara selama masa observasi selama tiga bulan ini?" Tanya majelis hakim.
"Memang benar tuan hakim, Pelangi pernah di rawat di rumah sakit. Itu semua karena dia terjatuh dari belajar bersepeda. Dan saya tidak lalai dalam pengawasan karena saat itu saya ada di sampingnya untuk menemani putri saya belajar naik sepeda tuan hakim." Jawab Akbar.
"Sialan, ternyata di saat Pelangi masuk rumah sakit itu juga mereka jadikan bukti untuk persidangan ini." Gumam Akbar sendirian.
"Pertanyaan terakhir. Apakah benar saudara telah mentalak istrinya? Dan kondisi rumah tangga dengan sang istri saat ini sedang dalam proses penceraian?" Tanya majelis hakim.
"Tidak, tuan hakim. Semua yang mereka katan adalah kebohongan semata. Agar mereka bisa menjatuhkan saya di depan tuan hakim." Jawab Akbar.
"Baiklah siahkan duduk." Pinta majelis hukum.
Bersambung....
❇️❇️❇️❇️❇️