
Usai mendatangi rumah Ida, Akbar kembali ke rumah sakit untuk menjaga Pelangi. Ia melihat kalau Kia dan juga Cleo sudah pergi dari rumah sakit itu. Sedangkan saat itu Dewi sudah tertidur dan berbaring di sofa dekat dengan hospital bed. Lalu dirinya duduk di samping Pelangi yang sedang tertidur itu.
Setelah beberapa hari Pelangi di rawat di rumah sakit. Dokter sudah memperbolehkannya untuk kembali pulang karena keadaan Pelangi sudah mulai pulih dan membaik. Dirinya pulang bersama Akbar dan juga Dewi.
“Om,”
“Iya kenapa sayang?” jawab Akbar.
“Bunda kenapa tidak menjemput Pelangi pulang?”
“Mungkin bunda sedang sibuk nak.” Sahut Dewi.
“Sudah jangan pikirkan bundamu itu. Dia mau menjemput atau tidak, Pelangi enggak usah khawatir. Sebab ada om di sini yang selalu menjaga Pelangi. Sekarang kita pulang ya.”
“Tapi om, bunda kemarin sudah berjanji kepada Pelangi untuk menjemputnya, jika dokter sudah memperbolehkan Pelangi pulang ke rumah.”
“Sekarang Pelangi pulang bersama om saja ya. Tidak usah memikirkan bundamu yang hanya sibuk dengan urusannya.”
“Enggak mau, Pelangi ingin pulang bersama bunda. Pelangi mau bunda yang menjemput.”
“Pelangi nurut sama om! Om sudah sangat lelah mengurus kamu! Kamu jangan merengek – rengek seperti ini! Om sudah pusing tahu!” Bentak Akbar kepada Pelangi.
Waktu itu, di saat Pelangi dibentak – bentak oleh Akbar. Pelangi sangat merasa ketakutan dan dirinya bersembunyi di balik badan Dewi.
“Sayang, dengerin nenek. Sekarang pelangi Pulang bersama om dan juga nenek ya. Nanti sampai rumah biar nenek telepon bunda, agar menjemput Pelangi.”
“Enggak mau nek, Pelangi ingin pulang bersama bunda nek. Bunda. Bunda.” Teriaknya sambil menangis tersedak – sedak dan memeluk boneka yang di belikan oleh Cleo ketika datang mengunjungi Pelabgu kemarin.
“Pelangi sayang. Nenek janji deh ya. Nanti sampai rumah nenek akan menelepon bunda untuk menjemput kamu ya sayang."
“Buk! jangan selalu memanjakan dia! Kau dia sering di manja seperti ini nanti jadi ngelunjak!" ucap Akbar dengan alis di kerutkan.
“Akbar, kamu itu gimana sih! Mau kamu bentak – bentak atau kamu pukuli sekalipun dia tidak akan berani melawanmu. Yang hanya dia akan semakin takut berada di dekatmu apa lagi untuk melihatmu saja dia pasti akan semakin takut. Dia ini masih anak kecil belum tahu apa – apa! Apa lagi dia juga baru saja sembuh dari sakitnya. Ini semua juga ulah dari istrimu kan?!" ucap Dewi yang tidak tega melihat Pelangi sangat ketakutan setelah mendengar dan melihat Akbar membentak dirinya.
“Ya, itu karena dia sudah sering di manja oleh Kia buk. Jadinya seperti ini. Dia itu memang wanita yang enggak bisa mengurus atau mendidik anaknya dengan baik.” kata Akbar.
Dewi hanya terdiam dan menggeleng - gelengkan kepalanya stelah mendengarkan Akbar berkata seperti itu.
Kemudian Pelangi masih saja menangis meminta untuk Kia yang menjemputnya pulang dari rumah sakit. Akan tetapi Akbar terus memaksa Pelangi agar menuruti apa semua yang dirinya katakan.
“Pelangi kamu tidak usah manja. Sekarang kamu naik ke mobil.”
“Enggak mau. Nenek Pelangi nggak mau pulang bersama om Akbar. Pelangi ingin pulang dengan bunda nek.”
“Pelangi, sekarang kamu ikut nenek pulang ke rumah, nanti biar bunda menjemput pelangi di rumah ya.”
“Beneran ya nek.”
Kemudian pelangi masuk ke dalam mobil dengan ditemani Dewi di sampingnya sambil menggendong boneka kesayangannya itu. Sesampai di rumah, Pelangi langsung turun dan masuk kedalam kamarnya dengan ditemani Dewi. Ia masih takut melihat Akbar yang membentaknya tadi saat akan meninggalkan rumah sakit.
Di kamar Pelangi masih meneruskan tangisannya yang lugu itu. Ia sangat berharap kalau Kia menjemputnya pulang di rumah Akbar. Akbar mendatangi Dewi dan ingin berbicara berdua saja dengannya. Dewi pun keluar dari kamar Pelangi dan menemui Akbar.
“Ada apa?”
“Buk, Akbar tidak suka kalau ibuk menghubungi Kia untuk datang ke rumah ini. Apa lagi menyuruh Kia untuk bertemu dengan pelangi. Aku akan marah kepadamu buk.”
“Kenapa sih kamu tega melihat anak sekecil Pelangi harus kamu perlakukan kasar seperti itu. Bagaimana bisa Pelangi akan memanggilmu dengan sebutan ayah, sedangkan kamu saja tidak pernah bisa memperlakukan anak mu dengan lembut.”
“Ibuk. Turuti saja apa yang Akbar katakan ini. Akbar tidak suka dan tidak mau wanita itu datang ke rumah ini, apa lagi menemui Pelangi.”
“Akbar kamu mau sampai kapan seperti ini terus nak. Kasihan anakmu.”
Akbar pun mencoba mendekati lagi Pelangi. Ia memberikan beberapa permen untuk Pelangi agar putri kecilnya itu tidak takut lagi dengannya. Ia mulai perlahan – lahan mendekati anaknya yang sedang duduk di atas tempat tidurnya sambil memeluk boneka kesayangannya itu. Akbar melihat Pelangi yang selalu memeluk boneka dari Cleo itu, dirinya mulai panas. Sebab Pelangi sama sekali tidak mau menyentuh barang yang dia berikan. Apa lagi menerima permen darinya. Karena Pelangi masih takut dengan Akbar.
“Pelangi,” panggil Akbar kepada putrinya itu. Namun pelangi masih sangat ketakutan untuk mendekati dirinya. Ia justru memanggil dan ikut dengan Dewi.
“Nenek.” Ucapnya dengan suara merengek.
“Iya sayang nenek di sini.”
“Nenek pelangi takut.”
“Pelangi, lihat om nak. Om ini adalah ayah kandung kamu. Bukan om Cleo.”
“Enggak mau, ayah Pelangi hanya ayah Cleo bukan om Akbar.” Jawab pelangi.
“Pelangi. Dengerin ayah. Sekarang coba Pelangi panggil aku ayah nak.”
“Enggak mau, nenek Pelangi takut.”
“Akbar sudah sekarang lebih baik kamu istirahat. Dan beri dia waktu. Sebab dirinya baru saja pulang dari rumah sakit. Biarkan dia istirahat ya,”
“Huft! Ya sudah kalau begitu. Akbar akan ke kamar. Jaga dia baik – baik ya buk. Aku mau istirahat dulu." cakap Akbar sambil berjalan menuju kamarnya.
“Iya pastinya.”
Bersambung...
❇️❇️❇️❇️❇️