
andre sekarang sudah bekerja lagi, sekarang di rumah tinggal ibuk dan ari, yang masih sekolah kelas enam SD, aku pun kini sudah berangkat kerja lagi, aku sudah mulai aktivitas lagi seperti biasa, ngurus rumah, ngurus anak anak, begitu lah pekerjaan ku setiap harinya.
akan tetapi aku tidak pernah mengeluh, aku bersyukur banget karena mendapat kan majikan yang sangat baik, dan di rumah majikan ini lah aku bisa mendapat kan banyak pelajaran hidup, yang tadi nya aku sangat sangat nol pengetahuan, di rumah bu tri aku bisa tahu banyak hal.
satu bulan berlalu, kini aku sudah satu bulan bekerja setelah libur panjang karena lebaran, sekarang aku harus semangat bekerja lagi, supaya bisa mengumpul kan uang yang banyak, agar aku bisa merenovasi rumah ibuk.
gaji aku bulan ini ternyata di naikan sama bu tri, mungkin karena aku sudah lama bekerja di rumah bu tri jadi gaji aku naik.
alangkah senang nya hati ku, karena aku bisa cepat menabung nya tinggal menunggu beberapa bulan lagi pasti aku bisa merenovasi rumah ibuk.
tring..tring..
aku melihat telfon genggam ku. ternyata yang menelfon mas anto. aku segera mengangkat nya, siapa tahu penting.
'' hallo mas''
'' hallo tia kamu lagi sibuk gak.?
'' nggak juga mas, ada apa.?
'' begini tia'' ,mas rencana nya mau merenovasi rumah., '' ini mas ada tabungan sedikit kalau kamu ada tabungan bisa nggak tambahin dulu.?
ternyata mas anto juga ada rencana mau merenovasi rumah juga, baguslah kalau mas anto juga berencana memperbaiki rumah ibuk, lebih cepat terlaksana akan lebih bagus.
'' mas anto mau pulang.?
'' tidak tia mas tidak pulang, tapi mas mau mengirim uang nya nanti kamu yang urus ya.?
'' iya mas tidak apa apa tapi aku hanya punya tabungan sedikit.
'' tidak apa apa tia, nanti yang di renovasi yang perlu perlu dulu agar uang nya cukup, yang penting pasang lantai nya dulu,
'' iya mas nanti tia atur apa saja yang perlu di benahi.
selesai telfonan sama mas anto, aku langsung melanjut kan pekerjaan ku menyetrika baju, karena anak anak sekarang sudah bertambah besar jadi sudah bermain sendiri, tinggal mengawasi nya sesekali sambil mengerjakan pekerjaan yang lain.
' mbak tia..mbak tia..., teriak alif.
' iya dek sebentar, jawab ku langsung mencabut kabel setrikaan.
aku langsung berlari menghampiri alif dan alin yang sedang bermain, takut mereka kenapa napa.
' ada apa alif.? tanya ku panik, karena tidak biasanya alif berteriak.
' ini mbak alin mukanya kena tanah, ucap alif sambil menunjuk alin yang ada di depan nya.
' astafirullah, alinn kok bisa sih dek, hati hati bermain nya.
aku kaget melihat wajah alin yang sudah penuh dengan tanah, untung nya tidak kena mata.
' maaf mbak aku tidak sengaja tadi. ucap alif merasa bersalah.
' ya sudah tidak apa apa besok besok kalau bermain hati hati ya.? alin masih kecil belum mengerti, jadi jangan di ajak bermain tanah ya.?
' iya mbak, ucap alif patuh.
aku segera membawa alin ke kamar mandi dan membersih kan wajah nya, alin memang tidak menangis tetapi akunya yang takut sendiri, karena akulah yang bertanggung jawab atas keselamatan alin dan alif.
.
.
.