MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 9 : TEMPAT BARU


Leila dengan wajah pucat pasi masih tidak menyangka sekarang sedang berdiri dikamar baru yang akan dia tempati entah berapa lama. Desain interior yang sederhana, tapi lebih baik dari pada yang ada di pondoknya dan juga taman yang luas terpampang jelas dari balik jendela.


"K-kenapa bisa jadi seperti ini?"


Leila yang masih lemas memutuskan tidur terkurap diatas ranjang yang lebih empuk dari pada miliknya. Hal yang dia ingat adalah mengasuh si kembar jauh dari nenek lampir itu. Memberikan masa indah sebagai seorang anak dan berakhir disini tiba-tiba.


Ingatkan dirinya bagaimana cara dia menjelaskan kepada Ryuu nantinya.


Ketukan yang menggema membuatnya lekas bangun dan membuka pintu kamarnya barunya.


"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya yang masih lesu dengan semua yang terjadi secara tiba-tiba ini.


"Ahh, Anda pengasuh Tuan Muda, kan? Saya adalah kepala pelayan di mansion ini, Harry Priamos."


Pria yang sudah ubanan dan memiliki banyak keriput itu memperkenalkan dirinya dengan ramah dan begitupun sebaliknya, Leila juga memperkenalkan dirinya. Orang yang Leila panggil dengan Harry itu menjelaskan apa yang akan dia lakuin disini dan larangan apa saja yang tidak boleh dia lakukan.


"Kawasan terlarang di mansion ini ada di bagian barat. Tepatnya di seberang lapangan tempat pelatihan kuda liar, ada bangunan kosong yang sudah terbengkalai. Duke melarang siapa pun mendekat."


Leila yang bukan tipikal orang yang penasaran mengangguk dengan paham jika dia tidak akan mendekati bangunan tua itu. Yang ada dia pikirkan adalah bertemu dengan sosok seperti noni-noni Belanda yang ada—upgrade-tan dari Miss K dari segi bajunya sih kalau dipikir-pikir.


Hari pertama yang dia jalani adalah disaat dia ingin beristirahat setelah dibawa paksa oleh Duke yang tidak dia kenal. Seingat dia tidak membuat masa lalu itu memiliki ayah dari keluarga bangsawan atau dirinya saja yang lupa. Lagi pula sudah berapa lama dia hidup dunia ini. Leila sudah lama tidak menghitungnya.


"Leila...." Namanya yang dipanggil secara lirih membuat wanita yang disebutkan namanya itu harus mengurungkan niatnya untuk memejamkan mata.


Setelah percakapan singkat dengan Harry, Leila bersiap pergi tidur. Tapi, siapa sangka suara yang sangat dia hafal itu terdengar malam ini.


Pandangan mengedar keseluruhan ruangan dan tak menemukan siapa pun hingga selimutnya yang ditarik pelan bisa dia rasakan.


"Ugh, siapa?"


Ini benar-benar hari yang melelahkan dan dia ingin segera beristirahat. Lagi pula bertemu dengan seorang bangsawan membuat mentalnya langsung ciut dan tertekan tadi.


Bagaimana tidak coba?!


Pria bangsawan yang tidak dia ketahui namanya itu terus menatapnya dan membuatnya tidak nyaman.


"Leila, cerita. Cerita sebelum tidur," seru si kecil berkepala merah itu yang ada berada dipinggir kasur Leila yang sangat tinggi.


Pantas saja tidak kelihatan.


Leila akhirnya bangun dan melihat jika hanya ada Arden disini.


"Umm, Arden? Kenapa kau bisa kemari? Ini berada diujung mansion kau tahu, dan disini gelap. Bagaimana kau bisa kemari?" Gerutu Leila yang tidak bisa Arden pahami dengan baik.


"Cerita sebelum tidur, Leiiilaaaa~"


"Oke, Oke."


Leila mengangkat Arden untuk tidur disampingnya. Menarik selimut ke atas untuk membalut tubuh anak kecil itu. Telapak tangannya yang ada diatas perut Arden perlahan menepuk sesuatu irama.


"... Arden ingin cerita apa?" Tanya Leila yang awalnya terdiam sejenak.


Arden berbalik dan menatap pemilik netra biru azure yang terlihat sayu itu. Surai coklatnya seperti warna pohon di belakang pondok. Leila akan selalu mengingatkannya akan tempat untuk pulang.


"Terserah."


Leila menutup mulutnya yang menguap dan menatap Arden yang masih segar di depannya. Leila memutuskan menceritakan kisah kelinci dan kura-kura yang dulu ada di dunianya itu. Tidak mungkin dia menceritakan kisah Putri Salju. Bagaimanapun bisa dia menceritakan kisah yang ada unsur dewasanya itu.


"Dan... Kura-kura hijau itu... Sampai digaris finish. Mengalahkan kelinci yang sombong...."


Belum selesai Leila menceritakannya wanita itu sudah pergi meninggalkan Arden yang masih terjaga ke dalam lamunannya.


Tangan mungil Arden menggapai surai coklat seperti warna batang pohon hyperion itu. Menggesek-gesekkannya, yang membuatnya bisa merasakan seberapa lembut surai wanita yang sudah merawat dirinya dan saudara-saudaranya selama beberapa bulan terakhir.


"Umm, Leila," ucap Arden gemas dan menenggelamkan wajahnya dalam pelukan Leila yang tenggelam dalam lamunannya.


"Nyaman seperti pelukan ibu," lirih Arden yang perlahan mengikuti Leila yang tenggelam dalam alam mimpinya.


...~~~...


Leila bisa mendengar suara khas anak kecil itu memanggil dirinya sebagai Leila. Dia melihat bagaimana dirinya dulu yang masih anak-anak sedang asik bercerita dalam pangkuan wanita yang sudah berumur itu.


Pemilik surai putih kelabu itu tersenyum mendengar celotehan cucu pertamanya itu.


Apa aku dulu sekecil itu?


Leila melihat bagaimana paras yang menghangatkan hati dan memberikan kesan kenyamanan tiada tara itu menanggapi celotehan cucunya itu.


"Nanti nenek boleh ikut makan biskuit?"


"Boleh! Tapi, cuma dua aja ya. Soalnya Leila suka biskuit."


Melihat kilas balik ingatannya membuat Leila merasa bernostalgia. Hidup dengan rasa aman dan nyaman. Siapa yang tidak mau hidup seperti itu.


Leila kecil yang memiliki surai merah pekat dengan netra biru azure, seperti langit cerah kala dia hadir di dunia ini. Seorang pria berumur dipertengahan dua puluhan itu menatap putrinya sedang bersama ibunya.


Ayah?!


Pria yang memiliki ciri fisik sama sepertinya itu tersenyum melihat interaksi dirinya dengan ibunya itu. Dengan datangnya seorang wanita yang memiliki surai hitam pekat datang membawakan makanan yang disukai Leila kecil dan teh melati yang selalu diminum oleh nenek Leila.


"Leila juga mau, Nek! Leila boleh coba?"


Mengerti apa yang cucunya itu maksud dia memberikan cangkirnya untuk Leila kecil coba.


"Ugh! Wek! Pahit."


"Anak kecil bolehnya minum susu aja. Jangan teh," seru kepala keluarga itu datang dan menertawakan ekspresi Leila.


"Cucu emang yang terbaik," gerutu Leila kecil memakan biskuitnya segera untuk meredakan rasa pahit yang masih membekas di lidahnya.


Keluarga kecil yang terlihat bahagia.


"Nenek, Nenek tahu engga? Kakak itu dateng lagi loh, main sama Leila. Leila seneng deh. Kakak juga ganteng banget," celoteh Leila disela makan biskuitnya.


Ibunya yang mendengar itu merasa penasaran dengan sosok kakak yang Leila maksud dan mulai bertanya, "Kakak siapa Leila?"


"Itu loh yang rambutnya kek nenek. Panjangnya segini," ujar Leila kecil menunjukkan seberapa panjang rambut orang yang dia maksud. "Terus, terus, pakai jubah. Matanya tuh warna emas, seperti yang ibu pakai dileher itu." Menunjuk kalung yang ibunya pakai selama ini.


"Nah, kakak itu diem terus kan Leila kesel. Jadi, Leila tarik rambutnya. Kesel karena didiemin terus, hmph!" Mengembung kedua pipinya diakhir kalimat.


Melihat ekspresi Leila membuat sang nenek tidak bisa menahan keheranannya. Cucunya ini mempunyai keberanian darimana bisa menarik rambut sosok itu.


"Tapi ya, Kakak ga suka kalau Leila panggil 'Kakak'," gumam Leila sedih.


"Kenapa tidak suka?" Tanya sang ayah yang kini mulai penasaran karena seingat tidak ada anak muda yang mempunyai rambut putih di desa ini.


"Sukanya dipanggil Tuan. Tapi kan Leila sukanya Kakak. Kakak juga cantik kalau dipikir-pikir lagi. Apa lagi kalau tersenyum. Kek ibu senyumannya." Menoleh, menatap sang ibu dengan mata berbinar.


Sang nenek mengelus surai merah pekat itu dengan penuh perasaan dan berkata, "Tuan ngapain aja saat Leila datang?"


Mendengar tanggapan sang nenek Leila kecil berkata, "Tuan sukanya diam. Leila benci didieminkan. Jadi, habis Leila tarik rambutnya kami main kejar-kejaran. Tuan ga bisa nangkep Leila, hahaha. Leila menang, yeahhhhh!!!" Kedua tangan kecilnya bersorak dengan gembira. Menunjuk senyuman lebar dengan giginya yang tidak lengkap.


Mendengar itu sang nenek tidak bisa menahan tertawanya begitu pun juga kedua orang tuanya. Jika kedua orang tuanya awalnya berpikir jika Leila bermain dengan hantu. Berbeda dengan sang nenek yang tau jelas siap yang Leila kecil maksudkan.


"Lain kali kalau Leila ketemu lagi. Harus minta maaf ke Tuan ya."


"Oke!"


.


.


.


Leila pas kecil beraninya narik rambut tuh sosok 😭😂


See you next chapter guys 👋😽