MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 23: AYAH DAN ANAK (1)


Akhirnya si kembar dan ayahnya bisa makan bersama dengan Leila berdiri dibelakang dengan ekspresi berseri-seri yang tidak bisa dia tahan. Sebenarnya Leila sudah kesal dengan pertanyaan Noah yang bertanya tentang si kembar.


"Kenapa kau tidak datang dan lihat sendiri mereka?"


"Kau ini mau bantu aku atau tidak sih sebenarnya?"


"Bantuan sih bantu, tapi sesekali habiskan waktumu dengan si kembar juga."


Leila dan Noah sekarang berada di ruangan kerja Noah. Yang mungkin sudah menjadi tempat mereka selalu menghabiskan waktu bersama, selain di kamar Noah tentunya.


Noah yang sudah siap siaga dengan segalanya tidak mungkin bodoh, tidak memasang sihirnya disetiap ruangannya. Leila yang sudah mulai akrab dengan Noah berbaring di sofa yang dimana dia bisa melihat Noah bekerja dari tempatnya.


Leila bangun dan menatap Noah yang merasa pria ini harus mengambil cuti setidaknya sehari. Lihat saja bagaimana dia sibuk sejak tadi. Bahkan dalam mengambil napasnya saja terdengar jelas dia sangat butuh istirahat.


"Hei, Noah, apa kau juga sibuk seperti ini dulu?"


Noah yang masih sibuk dengan laporan mingguan dari setiap wilayahnya datang hari ini menjawab, "Apa maksudmu?"


"Ya, pas kau masih menjadi ? Apa kau juga sesibuk ini?" Tanya Leila yang sebenarnya prihatin dengan pola kerja Noah.


"Tidak."


"Hah?! Yang bener?!"


Noah bisa melihat Leila dari ekor matanya tengah menatapnya sampai mungkin bola mata wanita itu bisa keluar.


Ada apa dengan reaksi berlebihan itu?


Merasakan tatap mengganggu itu Leila menatap sinis Noah dan berujung mereka berdua seperti sedang beradu tatapan yang entah sudah berapa lama mereka lakukan. Karena tidak tahan dengan ekspresi masing-masing mereka berdua terkekeh.


"Kau harus mengambil libur tahu," ucap Leila yang kini bersandar ke meja Noah.


"Mungkin."


"Kok mungkin. Harus dong. Jika kau terus memaksakan dirimu, kau bisa mati muda, hahahaha."


Candaan itu membuat Noah mengulas senyuman tipis. Kehadiran Leila sangat membantunya. Disaat si kembar bersama guru mereka dan Leila bingung harus melakukan apa. Noah memanggilnya. Tanpa Noah sadari dirinya membantu Leila berhasil melarikan diri dari tugas yang entah akan apa Harry berikan.


Noah hanya perlu kehadirannya. Kehadiran Leila sudah cukup baginya.


Leila yang cerewet.


Leila yang murah senyum.


Leila yang punya sifat keibuan.


Leila dan Leila.


Sepertinya Noah hanya bisa memikirkan Leila mulai sekarang.


Kembali ke meja makan sekarang. Sejujurnya Noah bingung harus mengatakan apa kepada si kembar. Melirik Leila yang terlihat tersenyum sejak tadi membuatnya hanya bisa mendesah paruh.


"Leila," seru Adrian yang tempat duduknya terdekat dengan Noah di sebelah kiri.


"Ya, Ad—, Tuan Muda." Leila bisa merasakan tatapan tajam yang Harry berikan karena hampir saja memanggil Adrian dengan sebutan nama saja.


"Kenapa kita disini?" Tanya Adrian melirik Leila yang berdiri dibelakangnya.


Suasana ini tidak biasanya bagi si kembar. Mereka akan duduk berjajar dengan Leila duduk di depan mereka. Dengan penuh kasih sayang dan perhatian yang hanya tertuju pada mereka. Leila akan selalu membantu Atlas saat kesulitan memakan daging. Mengatakan hal baik kepada Arden jika dia kesal dengan harinya.


"Untuk makan, Tuan Muda," jawab Leila dengan polosnya yang memang tidak salah.


"Dan?" Adrian melirik Noah dari ekor matanya.


"Dan?" Leila mengulangi kata Adrian masih tanda tanya.


"Kenapa harus di sini dengan orang ini?!" Pekik Atlas yang tidak tahan lagi menunjuk Noah dengan tatapan yang mengisyaratkan ketidaksukaannya.


"Tolong, bahasanya dan dimana sopan santun Anda, Tuan Muda," tegur Leila dengan lembut karena juga merasa tertekan dengan kehadiran Harry dan pelayan lainnya juga disini.


Arden yang sejak tadi bergumam sesuatu yang tidak jelas menatap tajam Noah dengan aura suramnya yang bisa Noah jelas lihat dari si kembar lainnya juga.


Sepertinya kehadiranku memang sangat tidak disukai ya? Batin Noah mencoba tenang dengan minum.


"Saya akan menemani Anda ke perpustakaan setelah ini." Yang dimaksud perpustakaan disini adalah perpustakaan pribadi milik Leila. Tentu saja ini adalah rayuan yang bisa dipikirkan sekarang yang mana mungkin ditolak anak laki-laki berkacamata itu.


"Oke."


Meskipun Leila tidak bisa melihat ekspresi Adrian. Leila bisa mengira anak laki-laki itu pasti sedang bahagia membayangkan bagaimana dia berada di perpustakaannya.


"Leila." Rengek Atlas dan Arden bersamaan.


"Tuan Muda juga." Mengedipkan matanya yang jelas Leila tau apa yang mereka berdua sangat inginkan.


Suasana canggung yang terasa kental mulai mencair sekarang. Setidaknya si kembar akan menurut kali ini.


"Leila." Seru mereka berempat secara bersamaan.


"Ya?"


Melihat mereka berempat memanggilnya secara bersamaan membuat pelayan lainnya mulai saling bertatapan dan mulai berbisik sesuatu yang membuat kesalahpahaman semakin menjadi.


Mulai dari Leila yang selalu dipanggil Duke disetiap kesempatan dan juga si kembar yang sangat menempel pada Leila membuat semua kemungkinan yang mereka bicarakan akan menjadi nyata.


"Lihat, kan."


"Apa kita akan punya Nyonya baru?"


Tolong ya! Aku dengar!, batin Leila yang sudah tertekan dengan semua gosip yang beredar.


"Aku duluan," seru si kembar menatap sinis Noah.


"Aku ayahmu," balas Noah yang tak kalah sinis membuat pelayan di belakang gemas dengan tingkah ayah dan anak yang jarang sekali mereka perlihatkan.


Melihat Noah dan si kembar yang tidak ingin mengalah satu sama lainnya membuat Leila yang berdiri tak jauh dari mereka hanya bisa tersenyum masam.


Ding!


Mendengar notifikasi yang jarang sekali dia dapatkan akhir-akhir ini membuat Leila penasaran pemberitahuan apa yang dia dapatkan.


[‼️PERINGATAN‼️]


[ANDA AKAN DIPINDAHKAN SECARA PAKSA DALAM SEPULUH DETIK DARI SEKARANG.]


Selalu datang diwaktu yang tidak tepat.


"Duke! Tuan Muda!"


Yang awalnya mereka adu mulut mulai berhenti menatap wanita yang memanggil mereka.


"Saya izin pergi." Leila melihat waktunya hanya bersisa beberapa detik saja.


"Pergilah."


Noah tidak mempermasalahkannya. Lagi pula dia sudah tau jika Ryuu pasti memanggilnya, dan untuk si kembar mereka memberikan eskpresi mereka khas masing-masing.


Adrian yang melambai-lambai tangannya dengan diam.


Dengan energi yang masih banyak Atlas melambaikan tangan dengan semangat dan Arden berkata, "Hati-hati."


Mendapatkan respon mereka berempat dan mendapatkan tatapan yang semakin tajam dari Harry. Leila tidak mempedulikannya dan lekas pergi secepat mungkin sebelum seseorang melihat menghilang ditempat begitu saja.


[5...]


Leila yang tidak tau harus bersembunyi dimana lagi tanpa dia sadari perhatian oleh pelayan muda bernama Jean yang sedang membawa seember air.


[2...]


Leila yang melihat pintu kamar tamu yang sedikit terbuka lekas masuk ke dalam dengan terburu-buru.


[1...]


Jean yang penasaran dengan sikap Leila yang aneh lekas menyusul ke dalam kamar tamu yang belum Leila tutup. Jean melihat ke dalam isi kamar tamu yang kosong. Tidak ada Leila di sana.


"Leila?"


Padahal Jean sangat yakin melihat Leila masuk ke dalam sini tadi.


"Atau jangan-jangan...." Tubuhnya seketika merinding dengan apa baru saja yang dia pikirkan, "Haha, ini kan masih pagi. Mana mungkin ada hantu, hahahaha."


Setelah menutup pintu kamar tamu Jean lekas berjalan meninggalkan tempat itu yang perlahan tempo jalannya semakin cepat dan keringat dingin mulai membasahi wajahnya.


.


.


.


Siapa yg kek Jean? Saya jujur, haha (• ▽ •;)


Apa lagi kalau ada temannya juga penakut


Makasih ya udah mau singgah dan baca cerita MILA ini ^^


See you next chapter guys 👋😽