MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
S2 - BAB 9: ARIA GREY (6)


Musim panas sudah datang. Musim dimana mencerminkan akan sosok wanita bersurai coklat dengan netra azure-nya yang sama seperti warna langit hari ini. Langit cerah tak berawan.


"Seandainya kerajaan ini beriklim tropis." Tapi sayangnya tidak. Leila mendesain dunia yang dia tulis dengan empat musim seperti tempat dimana dia tinggal.


Leila baru saja menyelesaikan tugas harian dimana itu adalah tugas khusus yang selalu Harry berikan. Ya, kakek tua itu masih hidup hingga sekarang. Bahkan dia bersih keras ingin melayani keluarga D'Arcy hingga akhir hayatnya.


"Sistem."


Ding!


"... Engga jadi."


Ding!


[DEWA KEMATIAN SEDANG MENGAWASI ANDA.]


[DEWA MENCIBIR KEMALASAN ANDA.]


Leila melihat pesan baru itu tidak terima dan mencibir balik si stalker itu, "Hei, aku baru saja selesai membersihkan gudang dan mengambil persediaan teh Akasha ya! Bisa jelaskan bagian mananya saya malas, hm?!"


Ding!


[DEWA KEMATIAN MERASA PEKERJAAN SEPERTI ITU TIDAK ADA BANDINGNYA DENGAN DIRINYA.]


"Apaan sih? Tinggal sortir mana yang banyak dosa sama engga aja." Cibir Leila yang merasa tidak masuk akal jika si stalker membandingkan pekerjaan mereka.


Ding!


[DEWA KEMATIAN TAK SABAR UNTUK BERTEMU DENGAN ANDA.]


Keringat dingin seketika mengalir deras.


Si*l!


Leila tidak ingin bertemu dengan si stalker ini cepat-cepat.


Ding!


[DEWA KEMATIAN MERASA TERHIBUR DENGAN EKSPRESI YANG ANDA TUNJUKKAN.]


"Sial*n!"


Leila baru saja dipermainkan, lagi. Ini bukan pertama kalinya Dewa Kematian terus bercanda tentang pertemuan mereka. Jika pun mereka bertemu Leila berharap dihari perhitungannya dia masuk surga.


Leila rasa dihari yang cerah ini lebih baik dia pergi mengunjungi Ias. Leila juga sebenarnya penasaran dengan Katedral. Lagi pula, melihat orang tampan juga merupakan suatu obat untuknya.


Obat cuci mata gratis tentunya, hehehe....


Leila lekas bangkit setelah melihat tidak ada pesan masuk lagi dan seperti yang Leila kira. Dewa Kematian itu sibuk kembali.


"Disini kau ternyata." Leila tersentak kaget menyadari siapa yang berdiri dibelakangnya tiba-tiba. "Mau kemana kau?"


Leila menelan ludahnya kepayang. Ayolah, sehari saja. Leila ingin sendirinya, tapi sepertinya itu hanya bisa terkabul dalam mimpinya saja.


"H-hai, Noah. Tiba-tiba sekali, ada apa ya?"


"Aku dapat undangan. Di hari jadi kerajaan, Calix mengadakan perburuan." Leila membayangkan bagaimana hari perburuan di era ini. "Dan kau akan ikut dan duduk bersama Nyonya dan Nona bangsawan lainnya."


"Hah? Aku tidak salah dengar, kan? Tapi, bagaimana bisa aku duduk bersama mereka?"


Melihat Noah tersenyum membuat bulu kuduk Leila merinding. Sepertinya Noah ingin membuat masalah lagi.


"Tentu saja menjadi... Tunanganku."


"TIDAK! APA KAU GILA?! BAGIMANA BISA AKU JADI TUNANGANMU COBA?!!"


"Ugh, pelankan suaramu itu." Menutup kedua alat pendengaran yang masih dia perlukan.


"KAU PIKIR AKU BISA TENANG?! TIDAK! KAU GILA PLUS BODOH, NOAH! JANGAN BICARA PADAKU!"


Setelah mengatakan itu Leila seketika berteleportasi ke mana pun asal dia tidak melihat wajah Noah dan menyembunyikan wajah memerah memalukan ini.


Melihat Leila sudah pergi tanpa mendengar penjelasan darinya Noah hanya bisa menghela napas pasrah. Noah mulai mengaktifkan kekuatannya dan mencari sisa sihir kemana rute Leila pergi.


"... Katedral?" Noah mengerjitkan dahinya. Karena biasanya Leila akan pergi ke Tanah Suci atau ke desa-desa terdekat yang masih satu wilayah kekuasaannya. "Ada apa disana memangnya?"


Sepertinya yang Leila harapkan terakhir kali. Jika Leila hitung wilayah dimana dia bisa pergi leluasa, Katedral masih bisa dia capai. Tapi, Leila yang memakai segaram pelayan hitam putih terlihat mencolok disini. Leila memutuskan ke sebuah gang dan dalam sapuan tangannya yang dimana seperti aura dengan debu keemasan keluar Leila menghempaskan dirinya ke debu itu dan seketika pakaian yang dia kenakan berubah menjadi apa yang dia bayangkan.


Jangan lupakan jubah merahnya yang dia kenakan dan berjalan keluar dari tempat gelap dan sempit itu. Berjalan menikmati suasana disekitar katedral.


Banyak sekali biarawati disini yang seperti sedang berbelanja keperluan. Hingga Leila melihat Ias bersama Aria tengah mengobrol bersama. Leila yang penasaran refleks bersembunyi diantara kerumunan orang dan mengambil duduk membelakangi mereka berdua.


"Bagaimana kabar, kak Ias?"


Suara ceria Aria masih seperti yang Leila bayangkan.


"Semuanya baik-baik saja, dan Aria. Kau tidak perlu melakukan ini. Kau tidak perlu memaksakan dirimu." Karena semenjak Aria sudah melaksanakan upacara kedewasaannya dan diangkat menjadi putri Count Grey. Aria sering berkunjung dan berdonasi dengan nilai yang tidak kecil.


"Ini kemauanku sendiri. Lagi pula...." Aria menoleh dan melihat lingkungan sekitarnya. Dibawah pohon yang rindang mereka duduk dan melihat Katedral yang masih sama seperti dikehidupan sebelumnya.


Satu hal yang berbeda dari kehidupan sebelumnya. Sepertinya dikehidupan kali ini dia tidak mendapatkan berkat. Kekuatannya tidak akan pernah dia dapatkan kembali. Mungkin juga Ias tidak mendapatkan berkat karena penampilannya yang sangat berbeda.


"Kak Ias."


"Ya, Aria." Masih sama dengan suara lembut dan ramahnya. Aria tidak bisa membayangkan bagaimana Ias mendapatkan kabar kematiannya saat itu.


Apa dia kecewa padanya karena kalah dari itu?


Bahkan Aria masih rajin berdoa ke kuil saja dia tidak bisa mendengar suara Dewa Dewi. Apa karena mereka sudah kecewa padanya dan sekembalinya ke masa lalu untuk melihat bagaimana pahlawan yang lebih baik darinya ada?


Aria rasa tidak apa, tapi perasaan kecewa tentu saja ada. Dia masih ingin berjuang bahkan jika dia harus membalaskan dendamnya. Bahkan jika ada penjahat yang lebih tinggi dari Aria akan maju melawannya.


"Apa kakak akan menjadi ?"


Ias terdiam sejenak dan melirik siapa orang dibelakang mereka dan menatap balik Aria, "Aku tidak tahu. Aku merasa masih belum pantas."


"Tidak!" Aria menatap Ias dengan yakin. "Kakak, pasti akan menjadi ! Pasti!"


Leila terbeku diam. Tidak ada siapa pun di dunia ini selain dirinya yang tahu Ias menjadi . Lalu, bagaimana Aria mengetahuinya?


Apa karena rumor yang beredar, tapi bagaimana itu sampai ke wilayah Count Grey yang sangat jauh dari Katedral?


Ias tersentak mendengarnya, "Kau sama seperti Kakak." Gumam Ias yang langsung menatap Aria.


Kakak yang mana kau maksud?


Melihat kebingungan Aria. Ias hanya bisa tersenyum tipis dengan kekuatan mata yang dia punya. Tidak seperti yang Aria maupun Leila pikirkan jika Ias tidak mendapatkan berkat. Ias mendapatkannya dan Dewi yang terkenal akan kecantikannya menawar untuk mengubah penampilannya, tapi Ias menolak dengan halus.


Dewi yang penuh dengan aura bercahaya itu bertanya padanya, "Katakan padaku. Apa alasannya anakku?"


"Saya sudah merasa senang dengan doa saya yang Anda dengarkan. Dengan senang hati saya akan menerima berkat ini. Akan tetapi, saya tidak bisa menerima akan hadiah Anda, karena penampilan ini adalah satu-satunya dimana saya bisa menyakinkan dia." Terang Ias diakhir membayangkan Leila yang berdiri disampingnya dengan tubuhnya yang masih anak-anak. Menatap ke depan dengan yakin dan membawanya berkeliling dunia dalam satu malam.


"Katakan padaku, siapa orang yang kau maksud ini sampai kau tidak bisa menerima hadiahku ini?"


"Dia hanya seorang wanita biasa yang sangat ingin saya temui kembali dan membalas semua kebaikannya." Ucap Ias yang masih menunduk kepalaku tak berani menatap makhluk agung di depannya.


Dewi itu bergumam tanpa sadar yang membuat Ias membelalak. "... Sang , betapa beruntungnya kau bisa bertemu dengannya."


"A-apa yang Anda maksud, Dewi?"


Bahkan dalam keterkejutannya Ias mengangkat kepalanya dan masih belum bisa melihat rupa dari Dewi yang terkenal akan kecantikannya itu.


Dewi itu hanya tersenyum dan berkata, "Senang bisa bertemu denganmu, ."


Setelah mengatakannya, Dewi itu menghilang dan Ias masih penasaran akan Leila. Bahkan dari sekian banyak doa yang telah terkabul. Hanya satu yang belum.


"Aku ingin melihat kakak lagi."


Hingga siapa sangka mereka akan bertemu ditempat tidak pernah semua orang sangka. Leila ada di depannya. Disebrang air mancur dan sekarang wanita itu muncul dari balik punggungnya.


"Bukankah begitu, Kak." Ucap Ias membuat tubuh Leila menegang. "Apa Kakak ingin aku panggilan para paladin?"


Si*l!


Dia mengancamku!


"Tidak!" Pekik Leila sontak berdiri tidak ingin dianggap sebagai penyusup.


Aria yang melihat Leila disini tentu saja terkejut bukan main. "L-Leila?!"


Leila menatap kikuk Aria, "Hai, kurasa?"


"Ba-gaimana? Bagaimana bisa kau disini?"


Leila bisa melihat Aria menatapnya penuh tanda tanya.


"Tentu saja." Ias bangkit dari tempat duduknya dan berdiri disamping Leila, "Mengunjungi Adiknya tersayang, iya kan?" Menatap Leila dengan senyuman manisnya.


Ias tidak bohong. Tapi, rasanya Leila ingin sekali menyangkalnya. "... Ya, aku datang berkunjung menemui Adikku tersayang." Lirih Leila merasa malu mengatakannya.


Sepertinya dia datang di waktu yang tidak tepat.


Aria menatap Ias dan Leila bergiliran. Aria tahu hubungan mereka dekat, tapi itu sepuluh tahun yang lalu dan juga bagaimana bisa mereka masih bisa berhubungan?


"T-tapi, bagaimana bisa?"


"Aria, tolong jangan katakan apa pun?" Leila sudah lelah dan dia datang kemari untuk menghilangkan rasa lelahnya, bukan menambah beban pikirannya, dan lihat bocah dekil dulu yang sekarang sangat tampan tengah berdiri disampingnya. Ias memiliki senyum menyebalkan sekarang.


Jika dilihat lagi. Ias seperti ini seperti kucing yang menunggu disampingnya untuk dielus atau dipuji.


Kucing hitam.


"Maaf mengganggu waktu kalian." Ucap Leila merasa bersalah disini.


"Tidak, tidak, sama sekali tidak." Sebenarnya iya.


Mendengar jawaban Aria membuat Leila semakin merasa bersalah dan Ias yang melihat Aria hanya menatapnya dengan wajah datar.


Di dunia ini siapa pun tidak bisa berbohong padanya. Dengan berkat yang Ias punya pada matanya. Ias bisa melihat segalanya.


Aria... Sedang berakting.


Bahkan dari hari pertama setelah Ias mendapatkan berkat. Aria berkunjung dan mengucapkan selamat padanya yang dimana disecara resmi menjadi seorang pendeta. Bahkan umpatan dalam hati dan aura penuh balas dendam terasa sangat kental padanya.


Apa tujuannya?


Bahkan di depan Leila yang wanita suka menolong ini. Aura hitamnya semakin pekat dan suara batinnya seakan berteriak keras ditelinganya.


"Bangs*t!"


"Kenapa dia ada dimana sini?!"


"Bahkan saat aku sedang bersama kak Ias. Dia ada juga!"


"Kenapa wanita menyebalkan ini muncul dimana-mana?!"


Masih banyak lagi suara batin Aria yang bisa Ias dengar. Inilah yang membuatnya malas mendapat kunjungan dari Aria. Tapi, mengingat jika dia adalah salah satu anggota panti asuhan dimana dia ditampung dan juga pendonatur. Sulit sekali untuk menolaknya.


"Kak."


"Iya, Ias. Apa?" Leila menatap Ias dengan mata bulatnya.


"Ini bukan kunjungan sebentar, kan?"


Aria menatap penuh tanda tanya interaksi keduanya.


Leila hanya tersenyum tanpa sadar mendengarnya. Pasti yang Ias maksud adakah kunjung seperti sepuluh tahun yang lalu. "Selama kau mau, aku bisa disini."


"Tinggallah disini kalau begitu."


Mata Aria membelalakkan. Apa Ias gila?!


Jika Leila tinggal disini itu berarti Leila harus mencalonkan dirinya sebagai biarawati dan menghabiskan sisa hidupnya mengabdi.


"Aku akan sering berkunjung, begitupun juga Aria." Leila tak melupakan protagonis favoritnya itu. "Kalau tidak sibuk kita berpiknik."


Bahkan dalam permusuhan tidak mengenakan dari Aria, Leila tidak melupakan kehadirannya. Ias hanya bisa berharap Leila sedang berakting juga sekarang. Karena dia tidak bisa melihat aura dan suara batinnya.


.


.


.


Pesan untuk Aria apa 😺?


Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA sampai sejauh ini, salut sih •́⁠ ⁠ ⁠‿⁠ ⁠,⁠•̀


See you next chapter guy's 👋😽