
Leila berkunjung ke toko buku Rion yang membuat Leila sangat senang karena sistem hari ini sedang berbaik hati. Sepertinya si stalker itu juga sedang sibuk. Jadi, jarang mengawasinya. Tapi, herannya itu kenapa disetiap momen yang sangat tidak pas, si stalker selalu tiba-tiba muncul.
Aneh.
Keberuntungan tidak datang dua kali dan kali ini juga Leila mendapati sistem memasuki mode autopilot yang membuatnya merasa seperti orang yang paling bahagia di dunia ini. Karena dia sudah mengajak si kembar dan Noah keluar kemarin. Sekarang ini adalah waktunya sendiri. Bukan berarti dia tidak menyukai menghabiskan waktu bersama mereka, tidak. Hanya saja dia ingin bertemu Rion hari ini setelah kejadian yang mendadak waktu itu.
"Aku harap Rion tidak marah padaku."
Kring!
Dentang bel terdengar sangat jelas saat Leila masuk. Leila mulai melepas jubah khas merahnya dan mencari dimana keberadaan sang pemilik toko.
"Selamat datang, silahkan melihat-lihat!"
Suara Rion bisa Leila dengar dan bisa Leila yakini jika pria itu sedang membersihkan rak-rak buku terdalam toko. Sembari mengedarkan pandangannya, tak lama Rion datang.
"N-Nona Felix...."
Kemoceng yang Felix pegang seketika jatuh. Menatap tidak percaya siapa yang ada di depannya.
"Hehe, hai," sapa Leila dengan canggung.
"INI BENAR NONA FELIX?!"
Rion berlari mendekat dan menggenggam kedua tangan Leila dengan tangis harunya yang sepertinya, Rion berpikir tidak akan pernah bisa bertemu dengan Leila lagi.
"Sudah-sudah, berhentilah menangis."
"N-Nona Felix...."
"Iya, iya, ini aku."
"Nona...."
"Iya Rion, apa?"
Melihat Rion yang sangat mengkhawatirkannya membuat hati Leila sedikit menghangat. Setelah merasa tenang Rion mulai canggung karena tidak menjadi Tuan rumah yang baik. Aroma melatih yang menguar dan perlahan mengisi ke seluruh toko membuat hati Leila semakin tenang.
"Silahkan."
Leila mengambil duduk di depan Rion dan mengobrol santai dengan pria itu. Harinya semakin baik dengan pertemuannya dengan Rion, tapi siapa sangka ini tidak akan berjalan lama.
...~~~...
"Baiklah, rapat hari ini kita sudahi. Selamat siang, Tuan-Tuan."
Rapat rutin yang diselenggarakan setiap bulan yang dimana hampir disetiap kesempatan Noah pasti ikut berpartisipasi. Melihat sebagian orang sudah pergi dan mulai membicarakan keluarga mereka masing-masing membuat sudut hati kecil Noah meringis.
Rasanya sudah sangat lama jika diingat-ingat lagi, batin Noah mulai beranjak dari tempat duduknya.
Ingatan buram tentang kehidupan pertama Noah membuatnya memejamkan matanya sejenak. Kenangan indah sekaligus menyakitkan. Hal paling dia ingat adalah bahasa naga yang dia pelajari dengan tekun hingga membuatnya mendapatkan kekuatan sama seperti Penjaga dari Tanah Suci.
Selesainya rapat hari ini juga menandakan selesainya juga menyebarnya wabah penyakit di wilayah timur. Semua menduga ini adalah sihir yang digunakan musuh untuk melemahkan kerajaan. Akan tetapi, wabah itu murni sebuah virus yang dengan mudah ditangani para tabib dan peramu yang dikumpulkan kerajaan.
Tentu saja kesempatan selesainya rapat hari ini juga Calix manfaatkan dengan baik. Diusianya masih muda sebagai seorang Raja ke-64. Calix menyukai kesenangan sama seperti anak muda pada umumnya. Bahkan beberapa kali dia sering sekali melarikan diri dari Perdana Menterinya yang sepertinya sudah tidak kuat mendapatkan atasan sepertinya.
"Siapapun, tolong pecat saya sekarang juga," gerutu pria yang akan segera memasuki masa senjanya dengan kertas yang menggunung yang seharusnya dikerjakan oleh Calix.
"Mau langsung pulang?" Tatap Calix dengan berpose menyangga dagunya.
"Kenapa? Sebegitu beratnya kau merindukanku sampai tidak ingin aku pulang, hm?" Goda Noah dengan menaik turunkan alisnya.
Tentu saja mendengar perkataan Noah membuat sudut bibir Calix tanpa sadar berkedut tidak tahan, "Siapa juga yang merindukanmu, bodoh?!" Calix memukul meja tidak terima dengan yang semakin lama perkataan Noah semakin menyebalkan.
"Tutup mulutmu, Noah!"
Melihat Calix kesal adalah hiburan tersendiri bagi Noah. Mungkin saja jika Calix bukan keturunan dia, hubungan mereka berdua akan jauh lebih dekat sekarang. Tidak Noah, Calix dan dia sangat berbeda. Dia adalah dia, dan Calix adalah Calix. Tidak ada hubungannya balas dendam dengan keturunannya ini.
Tidak ada.
"Hei! Kau dengar aku tidak?!" Geraman Calix bisa Noah dengar.
Melihat Noah yang awalnya termenung diam membuat Calix khawatir sesaat. Karena tidak biasanya sahabatnya ini diam dengan tatapan aneh seperti itu, "A-ahaha, maaf. Apa?"
"Aku bertanya bagaimana rasanya menjadi seorang ayah?" Calix diakhir menunjukkan senyuman kenalannya.
"Pertanyaan selanjutnya."
"Kau pikir ini kuis yang bisa kau lewati! Ugh! Si*l! Kau membuat gula darahku semakin rendah saja, Noah!" Pekik Calix yang sudah frustasi memiliki seorang sahabat seperti Noah. Bisa-bisa dia botak sebelum waktunya.
"Kenapa kau tidak mencobanya saja?" Noah yang sudah menata barangnya hendak berdiri meninggalkan ruangan rapat.
"Kau ingin aku menikah?" Calix memberikan tatapan seakan Noah sedang bercanda sekarang, "Tidak, terima kasih. Aku masih terlalu muda untuk menikah. Lagi pula juga kenapa dia tidak muncul lagi di festival itu," gumam Calix tanpa sadar diakhir kalimatnya yang bisa Noah dengar sangat jelas.
Noah menyipitkan matanya melihat Calix sepertinya termenung memikirkan orang yang baru saja dia gumamkan, "Siapa?"
"Huh? Apanya?"
"Maksudku siapa dia? Orang yang membuatmu sampai sebegitu keras kepalanya keluar hanya untuk datang ke Festival Lampion."
Tentu saja Calix yang dalam diam meruntuti kebodohannya hanya bisa mendesah paruh.
"... Orang."
"Maksudku siapa?"
"Umm, seorang Nona mungkin?" Lirih Calix menutup matanya tidak ingin menatap mata Noah yang pasti melihatnya seakan tidak percaya.
Seperti yang Calix bayangkan, "Apa akhirnya sekarang kau membuang pandangannya jika wanita itu tidak berguna?"
"Ugh! Jangan tatap aku Noah. Kau berisik. Keluar sana!"
Calix yang tidak tahan dengan ucapan Noah mulai mendominasi pria itu untuk lekas pergi dari hadapannya.
"Hee...." Senyum menyebalkan yang walaupun Calix tak melihatnya bisa dia bayangkan, "Akhirnya kau jadi pria yang normal."
"Apa maksud ucapanmu itu?" Menatap Noah dengan tajam.
"Yah, setidak kau akhirnya bisa tertarik kepada seseorang. Khusus seorang Nona, hehe."
"Buang fantasimu itu! Aku tidak akan menyukai siapa pun di dunia ini!" Berakhir dengan suara pintu dibanting oleh Calix dan bisa Noah dengar dari dalam jika bocah itu berteriak frustasi dan mulai memanggil pelayannya Abel.
Mengingat kembali bagaimana mereka sewaktu kecil dulu dekat membuat Noah tersenyum tanpa sadar. Mengingat bagaimana bocah sombong itu memintanya berlutut membuat bocah itu malah berlutut patuh padanya. Yang berakhir bagaimana Calix mengaguminya dan berakhir dengan hubungan sebagai seorang sahabat dikehidupannya kali ini.
"Aku berharap kau bernapas lebih lama, sebelum aku berhenti bernapas nantinya."
.
.
.
Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^
See you next chapter guys 👋😽