
[384 : 16 : 34]
Leila menyadari jika sisa liburannya hanya tersisa seminggu dan terkadang dia mendapatkan notifikasi jika panggilan dari si kembar dan Ryuu ternyata bisa dia tolak.
"Ini sangat membantu."
"Membantu apa?"
Leila lupa jika Ias selalu mengikutinya ke manapun dia pergi sekarang. Padahal dia kan seharusnya ada di panti asuhan.
"Kenapa kau masih di sini?" Menahan rasa kesalnya setelah Ias mulai mengikutinya kemana pun.
"Kakak mau pergi ke sana lagi, ya?"
"Tidak, ini lebih jauh lagi."
Lupakan tentang Benua Alora itu sejenak dan berpikir tentang alur cerita 'Sungai Emas Everuz'. Ingat, ini adalah novel series yang setiap bukunya berjumlah lebih dari 500 halaman.
Coba kita ingat dimana aku bisa menemukan bocah malaikat itu dan juga kunjungan berikutnya adalah laut.
"Hah? Kakak mau menolong orang lagi?"
Leila memberikan ekspresi datarnya. Lagi pula dia tidak menolong siapa pun di sini. Jika pun iya, peran Aria akan sedikit goyah nantinya di depan teman-temannya.
"... Kenapa kau sangat penasaran sekali? Bukankah kau harus membantu Suster menjual sayuran mereka atau membantu membersihkan gereja?"
Mendapati diamnya Ias membuat Leila menyadari jika Ias baru saja melarikan diri dari tugasnya.
"Hahh... Tidak kah kau ingin jadi anak baik dan mendapatkan uang tambahan dan—" Perkataannya terpotong karena tokoh utama tak sengaja menabraknya.
"Aduh! Maaf, maaf," rintih Aria yang jatuh terduduk dan mengelus hidung dan pinggangnya yang terasa sangat sakit.
Ugh, apa yang baru saja aku tabrak? Batu?, batin Aria dan baru menyadari saat dia mengangkat kepalanya jika itu si donatur itu.
"Aria! Kau tidak apa?!"
Siapa lagi kalau buka Jasper yang berteriak itu. Leila membantu Aria bangun dan melihat Jasper semakin mendekat.
"A-ah, Nona Leila," ucap Jasper yang merasa ikut bersalah karena Aria tidak hati-hati.
"Apa ada yang sakit?" Leila menatap Aria yang terdiam saja sejak tadi.
Keras.
Tubuhnya sangat keras.
Seperti batu.
"... Tidak aku baik-baik saja," cicit Aria tidak ingin melihat Leila karena merasa aneh dengan tubuh wanita ini.
"Oi! Aria!" pekik Jasper yang tak sabaran.
Melihat sikap Jasper membuat Leila sering kali teringat Atlas yang selalu meminta penjelasan ke Adrian.
"Cih! Berisik tahu!"
"Kau ini! Cepat bantu aku cabut rumput!"
"Tidak mau, wlek! Aria alergi orang jelek!"
Setelah mengejek Jasper dan menghilangkan pemikirannya barusan Aria mengambil langkah seribu dari tugas yang tidak dia sukai.
"S**l*n kau, Ria!"
"Ih! Orang jelek tambah jelek."
"ARIAAAA!!!"
"Kabur~"
Leila tertawa melihat interaksi mereka berdua dan melihat Leila tertawa membuat Ias terus bertanya-tanya kenapa Leila lebih memilih tinggal di desa terpencil ini dari pada di mansion.
Bukannya enak ya tinggal di mansion. Punya banyak makanan, uang, dan juga punya tempat tidur, batin Ias yang merasa heran.
Pada akhirnya Leila memilih menghabiskan sisa waktunya dengan berkeliling dunia. Khususnya tempat sebelum binasa.
Padahal Ias ingin sekali ikut dengan Leila. Bahkan jika itu adalah tempat pembuangan sampah seperti waktu itu. Ias dengan sukarela akan ikut.
"Kenapa aku tidak boleh ikut?" cicit Ias yang mencoba memohon dengan memanfaatkan sisi anak-anaknya.
Leila hanya melirik sekilas Ias dan kembali menatap depan dimana gang sepi dan gelap dimana dia aman menggunakan teleportasi. "... Aku tidak yakin hanya singgah nanti. Ini akan jauh lebih berbahaya dari sebelumnya."
"A, Apa aku... Beban?"
Dengan berat hati Leila harus mengatakan, "... Ya."
"K-kakak... ."
Panggilan yang Ias sebutkan untuknya berhasil membuat hati kecilnya meringis, "Aku tidak ingin sesuatu menyakitimu Ias."
Sesuatu?Yang berarti itu bisa jadi bukan manusia?, batin Ias yang mulai berhenti merengek dan mengerti apa yang Leila katakan.
"Ya, jika aku tidak kembali dalam waktu dekat kita pasti bertemu lagi dimasa depan."
Ias yang masih setia menatap Leila yang tak balik menatapnya. Hembusan angin dengan langit cerah yang awalnya mendung kini perlahan menyingsing. Cahaya matahari yang perlahan merayap membuat Ias bisa melihat ekspresi Leila.
Wanita itu sedang memejamkan matanya. Terdiam dalam waktu yang terus bergerak dan tak memedulikan dirinya.
Ias ingin tahu.
Dia ingin tahu lebih banyak tentang Leila.
Dia ingin mengenal lebih dalam lagi tentang kakaknya ini.
Kenapa dia memejamkan matanya?
Apa dia memikirkan sesuatu?
Apakah dalam kondisi seperti ini pernahkah dia memikirkan dirinya?
Ias ingin tahu.
"Saat kita bertemu, jangan lupa balas budimu, oke," ucap Leila menatap Ias dengan merekahkan senyumannya. Nada bicaranya yang bercanda membuat Ias tersenyum.
Lupakan apa yang baru saja dia pikirkan. Ias tersenyum tipis mendengar perkataan Leila, "Aku akan membalas sepuluh kali lipat. Tunggu saja nanti."
"Aku menantikannya. , Osias Alluca."
Ias terus menunggu dan menunggu sosok Kakaknya datang hingga siapa sangka jika dia menarik perhatian seorang pendeta tua yang sudah berusia senja dan ingin Ias menjadi pendeta di gereja yang dia tempati.
Dengan berat hati Ias mengiyakan dan berpesan kepada suster dan yang lain jika bertemu dengan Leila beritahu dimana gereja yang dia tempati.
"Yah, kenapa Kak Ias pergi?" gumam Aria yang menatap kepergian Ias yang terlihat lebih tua darinya itu bersama seorang pendeta yang sudah memasuki masa senjanya.
Jasper yang entah datang dari mana melihat Aria menatap kepergian Osias mengepalkan tangannya sejenak dan mengalungkan tangannya ke leher Aria.
"Kenapa kau sedih, huh?! Apa kau cemburu karena kak Ias yang dipilih?!" Jasper menggosokkan kepalan tangannya ke kepala Aria.
"Ish, siapa juga yang cemburu?! Kau itu yang cemburu!"
"Hahahah, itu baru Aria yang aku kenal."
Benar.
Setelah akhir dari pertempuran yang seakan tidak ada ujungnya dia kalah. Tidak seperti yang Leila tulis jika kemenangan yang hebat Aria dapatkan. Malah kekalahan yang begitu memilukan membuat Aria adalah satu-satunya yang berdiri diantara mayat semua orang yang rela berkorban padanya.
"Lihat keyakinan orang-orang bodoh ini."
"Lihat dirimu sendiri."
Otak dari semua pertempuran ini. Pria yang tak berperikemanusiaan.
Yang pertama dari .
, Adrian.
Aria yang penuh dengan luka sayatan dari serangan monster bernama Atlas dan serangan sihir penuh perhitungan dari Arden membuat salah satu lengannya putus dan terpaksa menggantung begitu saja.
itu berhasil membuat Aria terpojok.
Adrian yang berdiri diantara kembarannya menatap rendah Aria yang selalu menghalangi rencana mereka.
"Ini akhirmu, Pahlawan."
Aria menggertakkan giginya dan menatap tajam Adrian. Tatapannya yang mengisyaratkan kebencian membuat Arden yang berada dibelakang tersenyum lebar.
Adrian menyinggung senyuman tanpa sadar, "Bagus, bagus, Aria. Itu adalah tatapan yang aku inginkan."
"Iblis!" ketus Aria yang mendapat tatapan datar dari Atlas, "Kalian iblis dan seharusnya hidup di neraka sana!"
"Ya, jika pun kami bisa. Kami tidak akan repot-repot hidup di dunia ini." Adrian seketika menendang sisi wajah Aria yang dalam kondisi terduduk. Pedang yang masih dia genggam membuatnya refleks melepaskannya.
Rasa perih yang teramat sakit bisa Aria rasakan. Surai hitam legamnya yang panjang dia ikat ekor kuda sudah dia potong sebelum pertempuran.
Tidak berhenti sampai di situ saja. Adrian yang melihat Aria masih berjuang untuk bangun sekali lagi menendangnya dan membuat orang yang selama ini menghalangi rencananya terbatuk mengeluarkan seteguk darah.
Arden tersenyum lebar melihat penderitaan Aria. Lagi. Dia ingin lebih banyak lagi wanita itu merasakan penderitaan yang terus Aria bualkan.
Apa yang Aria tahu memangnya?
Apa yang gadis kecil itu tahu tentang penderitaan mereka bertiga?!
Kami hanya memiliki satu sama lain dan tak pernah menaruh kepercayaan kepada siapapun hingga bisa sampai dititik ini.
"Biarkan aku melakukannya, Adrian. Biarkan aku!" pekik Arden yang sudah sangat bersemangat. Mengeluarkan air liur ingin sekali menarik satu persatu anggota tubuh Aria dan membuat Aria berteriak memohon padanya untuk lekas mengakhirinya.
"Tidak."
"Apa?" Arden menatap Adrian seakan tidak percaya.
Kaki kanan Adrian yang terbalut sepatu boot terbuat dari kulit hewan magis menekan secara perlahan dada Aria yang membuat wanita itu meringis kesakitan.
"U-ugh! Aaaakhhhh!!!"
Aria terus mencoba meraba pedangnya yang bisa memotong apa pun itu ternyata berada di tangan Atlas.
"Pedang s**l*n ini harus dihancurkan."
Setelah mengatakan itu dengan sekali ayunan ke atas sebuah batu pedang yang pernah sekali menusuknya itu hancur berkeping-keping.
Wajah Aria mulai menggelap melihat senjata utamanya hancur di depan matanya. Senjata yang dia dapatkan dari Reruntuhan Kuno yang dia dapatkan selama ekspedisi itu hancur. yang mengikuti keyakinan Tuan-nya akan semakin bertambah kuat seiring berkembangnya waktu.
"Sampai jumpa di akhirat, ."
Apa yang Aria ingat adalah rasa sakit yang tak tertahankan yang dimana itu membunuhnya dengan cara yang paling sadis. Disaat Aria pikir dia akan bertemu dengan teman-temannya. Aria rasa dia tidak akan punya wajah. Bahkan dengan berkat yang dia punya saja itu tidak cukup mengalahkan itu.
"Aria bangun!"
Saat Aria membuka matanya penampilan Jasper kecil yang sering menghabiskan waktunya bermain adalah yang pertama kali dia lihat.
Aria yang tidak bisa menahan rasa harunya memeluk Jasper dan mengatakan betapa dia sangat merindukannya dan lelah dengan semua pertempuran itu.
"Kau ini bicara apa, sih? Ayo cepat bangun, kalau tidak kita tidak dapat makan malam!"
Hingga akhirnya Aria mengerti. Dirinya kembali ke masa lalu sebelum semuanya dimulai. Dengan keyakinannya mulai terkikis oleh itu dan keberadaan Jasper dan yang lain seakan menyembuhkannya.
Aria bertekad untuk membalas dendam , hingga apa yang berbeda dari masa depan yang dia tahu adalah seorang penulis buku membuatnya berpikir selain jalan pertempuran ada jalan lain. Menjadi orang kaya dan membuat semua orang di desa hidup bahagia hingga bencana dimasa depan tidak akan terjadi.
Jauh dari tempat Aria yang terus berdoa dan ingin lekas mendapatkan kekuatannya. Leila baru saja kembali dari berkunjung dari semua tempat yang masih dia ingat.
"LEILAAA!!!"
Sontak Leila jatuh karena si kembar berlari memeluk dirinya.
"Jangan pernah pergi tanpa seizin kami lagi!"
Jika dirinya tidak mempunyai kemungkinan besar rasa sakit yang dia terima membuat pinggangnya mati rasa sekarang.
"Aku hanya berkunjung ke kawan la—"
"Dan kenapa kami tidak bisa memanggilmu?!" potong dari suara Atlas yang terkenal akan ketidak sabarannya.
"Apa kau tidak suka di sini?" tanya Arden dengan mata berkaca-kaca.
"Itu karena—"
"Sudahku duga. Seharusnya kita membuat Pak Tua itu tahu rasa sakit dan membuat Leila kita hidup dengan bebas dari tugas pelayan." Sekali lagi perkataan Leila terpotong oleh si kembar yang kali ini adalah Adrian.
"Adrian, tunggu sebentar. Ini tak seperti—"
"Kau hanya perlu duduk manis dan biarkan kami memberi pelajaran kepada Pak Tua itu!" seru Atlas yang sepertinya mulai terpengaruh Adrian memanggil Noah dengan sebutan Pak Tua.
Engga salah sih, Noah sudah tua.
Tua jiwanya.
"Ayolah, itu tidak perlu. Aku hanya mengambil cuti selama sebulan. Bagaimana saat aku pergi sungguhan?" Leila tidak ingin terjebak dalam situasi yang berputar ini terus.
"ITU TIDAK AKAN PERNAH TERJADI!" seru si kembar serempak.
"E-eh? Tapi, aku kan tidak bisa terus disisi kalian terus. Aku kan juga punya tugas utama." Leila berharap si kembar mengerti situasinya. Mengingat juga Ryuu yang tak sabaran membuatnya khawatir.
"... Ada satu cara agar Leila bisa terus disisi kita," ucap Adrian yang sudah mengira jika hal seperti ini akan terjadi.
"Apa itu Adrian?" Arden yang tak tahan tidak bertemu Leila selama sebulan penuh ini menoleh ke saudaranya yang selalu mempunyai ratusan taktik.
Tanpa ragu sedikitpun Adrian mengatakannya, "Membuat Leila menjadi ibu kita."
Tunggu sebentar.
"Meski aku tidak suka ide mu, tapi patut dicoba," cicit Arden yang dimana si kembar satu ini masih menindih Leila.
Jika aku jadi ibu mereka berarti aku harus menikah dengan Noah.
Duda tiga anak itu?!
Ya, dia tampan dan kaya raya sih, tapi tetap saja hatinya untuk wanita lain.
Tidak, terima kasih.
Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan pria macam itu.
.
.
.
Yeahhhh~
Terima kasih sudah mau singgah dan baca MILA^^ dan juga kalau masih ada salah ejaan atau tanda baca silahkan beritahu, saya ga gigit kok, hehehehe...
see you in season 2 guys 👋😽