MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
BAB 24: AYAH DAN ANAK (2)


Dihari berikutnya Leila berhasil membujuk Noah dan si kembar untuk keluar dari mansion dan menghabiskan waktu di desa. Menghabiskan sebagai sebuah keluarga tanpa adanya pelayan dan kesatria mendampingi mereka. Tentunya Leila disini sebagai pengatur acara harus ikut.


Sejujurnya hari ini adalah hari yang sangat langkah.


Ding!


[SISTEM MEMASUKI AUTOPILOT DALAM KURUNG WAKTU 24 JAM DARI SEKARANG.]


Mana mungkin Leila menghabiskan waktunya ke ibu kota. Tentu saja mengingat Noah dan si kembar yang masih belum ada perkembangan hubungan sebagai seorang ayah dan anak.


Masih Leila ingat dengan jelas bagaimana pertemuan mereka berdua disaat berpapasan di lorong. Bisa Leila rasakan hubungan ketegangan diantara mereka berdua. Si kembar bukan anak sembarangan. Mereka mengerti perasaan dendam karena kehadiran seorang ayah yang sangat mereka butuhkan tidak pernah datang disaat siksaan demi siksaan yang bibi mereka berikan.


Plak!


"Dasar anak tidak tahu diri!"


"Ingat! Kalian hanya menumpang di sini!"


Tentu saja sasaran yang selalu bibi si kembar ambil adalah Adrian yang selalu berusaha melindungi saudaranya dan rela menjadi pelampiasan bibi mereka.


Atlas dan Arden yang pemikirannya masih kecil berbeda dengan Adrian yang mulai mengerti dunia tidak mempermasalahkannya. Itu sebabnya tubuhnya lebih rentan dan lemah dari saudaranya yang lain dikarenakan lebam biru yang masih belum menghilang saja pasti akan muncul kembali.


Meskipun Noah terkenal dengan kejeniusannya dan ketegasannya. Dimata Leila pria itu seperti kebingungan harus menanggapi si kembar bagaimana. Tanpa berpikir panjang, setelah sarapan mereka berempat Leila langsung menarik mereka untuk berbicara di tempat lain agar para pelayan maupun kesatria tidak bisa mendengar mereka, dan tentu saja tempat yang bisa Leila percayai adalah ruang kerja Noah.


"Ayo kita ke keluar hari ini!" Seru Leila berharap mereka memberikan ekspresi bahagia, akan tetapi malah.


"Masih ada laporan yang harus aku urus."


"Kami masih ada kelas, Leila."


Mendengar jawab keempatnya membuat Leila pundung dipojokan. Padahal dia berharap hari yang cerah dimana dia bisa memanfaatkan waktu ini untuk mereka berempat.


"Baiklah, aku sendiri akan keluar. Kalian nikmati waktu kalian," ucap Leila dengan lesu dan mulai berpikir apa yang akan dia lakukan dalam dua puluh empat jam dari sekarang.


"Aku dengar, Alex ingin mengajakku keluar," gumam Leila mengingat kesatria yang sering kali dia jumpai itu. Pria yang ramah dan murah senyum itu selalu membantu Leila dalam berbagai kesempatan. Meskipun masih banyak lagi pria yang membantunya.


Mendengar nama Alex disebut oleh Leila membuat keempatnya lekas menghampiri Leila.


"Hanya sebuah laporan tidak penting. Ayo, kita pergi." Noah mendorong bahu Leila dari belakang, menuntunnya untuk keluar.


"Sesekali membolos tak apa juga," ucap Adrian yang sebenarnya malas dengan kelas hari ini.


"Ayo kita jalan-jalan!" Seru Arden dengan aura berbunga-bunga yang dia buat karena tidak ingin Leila menghabiskan waktu bersama orang lain.


"Aku dengar dari pelatihku, jalan-jalan keluar membuatmu bahagia."


Entah dari mana ide Atlas yang terdengar sangat melantur itu, tapi melihat ekspresi Leila berikan berubah dari suram menjadi tersenyum lebar membuat mereka berempat bernapas lega. Dengan bantuan Noah yang berhasil menyelinap keluar mansion tanpa ketahuan Harry membuat Leila semakin bahagia. 


Di dalam kereta kuda dengan Noah dan Leila duduk bersebelahan dan si kembar duduk di depan mereka berdua dengan pakaian sederhana seperti anak desa pada umumnya. Untuk Noah, pria itu hanya memakai kemeja berwarna biru yang berwarna agak tua yang dia gulung hingga tiga per-empat bagian dan pada bagian kancing dua teratas Noah biarkan terbuka, memperlihatkan tubuhnya yang tercetak dengan jelas dan celana berwarna coklat dengan ikat pinggangnya terdapat tempat belati.


Sedangkan untuk si kembar pakaian mereka sedikit berbeda agar mempermudah membedakan mereka dengan topi baret yang mereka bertiga pakai dan terkhusus Adrian yang memakai kacamata.


"Kalian terlihat sangat cocok dengan pakaian ini," puji Leila karena sudah mulai bosan melihat pakaian formal yang selalu dikenakan mereka berempat.


"Benarkah?" Tanya Arden yang tanpa sadar memancungkan bibir atasnya sembari melihat dirinya sendiri.


"Apa aku pernah berbohong?"


"Leila juga terlihat sangat menawan dan setiap hari Leila semakin bertambah cantik!" Seru Atlas memuji penampilan Leila yang terlihat manis hari ini. Perpaduan gaun berwarna putih dengan hijau sangat cocok untuk Leila.


Mendengar pujian Atlas, para laki-laki mengangguk setuju sekali. Leila hari ini terlihat sangat manis terlebih dengan surai kecokelatannya yang dikepang dua.


"Terima kasih, Atlas juga terlihat sangat tampan hari."


"Terima kasih, Leila."


Sekarang Noah bisa melihat kenapa si kembar sangat menempel pada Leila. Noah mengambil botol kecil entah dari mana dan menuangkannya seperti obat tetes mata.


"Apa yang kau lakukan, Noah?"


Setelah memberikan obat tetes dikedua matanya Noah berkedip beberapa kali dan perlahan Leila dan si kembar bisa melihat perubahan warna netra Noah perlahan berubah menjadi hitam. Mau tidak mau mereka berempat melihat perubahan itu berdecak kagum.


"Aku tidak ingin merusak hari ini, jadi sebagai pelengkap penyamaranku saja ini," ucap Noah menyimpan kembali obat tetes mata itu.


Noah bisa mengingat dari mana dia mendapatkan benda sihir seperti obat tetes mana ini. Sebenarnya Noah bisa saja merubah warna matanya, tapi itu akan memakan waktu lama dan rasa sakit tidak tertahankan akan dia dapatkan, dan lagi setelah merubah warna matanya itu akan bertahan sangat lama. Mungkin sebulan masih ada bekasnya. Sedangkan, untuk obat tetes mata ini hanya perlu bertahan dua belas jam paling lama. Ini sebanding dengan waktu yang akan mereka habiskan.


Tak perlu waktu lama mereka sampai di desa terdekat dan hal yang pertama kali mereka lakukan adalah Leila mengajak mereka berjalan-jalan melewati kebun teh sembari menjawab semua pertanyaan si kembar yang tiada habisnya.


Noah melihat Leila tetap sabar menjawab semua pertanyaan itu khususnya Arden yang bertanya hal yang sama sekali sulit ditebak.


"Leila, kenapa daun teh disebut daun teh?"


"Leila, ada ulat bulu, tapi kenapa berbeda dengan yang ada di hutan?"


"Leila ayo kita kesana, ayo!"


Arden dengan aktif menarik tangan Leila untuk segera melihat sekelompok anak desa berlari kesana kemari dan Atlas yang diam sejak tadi melihat sekeliling dalam diam membandingkan dengan desa di selatan tempat mereka tumbuh besar.


Karena melihat sesuatu yang sama seperti yang ada di Hutan Berkabut, Atlas berlari mengejar sebuah kupu-kupu. Melihat Atlas yang lari tentu saja Arden juga ikut mengejar dan membantu Atlas.


"Tangkap dia Arden!!!"


"Siap!"


"Kalian berdua jangan lari!" Teriak Leila dengan panik karena dia masih belum hafal daerah desa disini.


Melihat ketiganya meninggalkan Noah bersama Adrian yang sejak tadi diam saja, "Kau tidak ikut?"


"Tidak."


"Aku bukan anak-anak."


Mendengar ucapan Adrian cukup membuat Noah terkejut, "Kau masih seorang anak, Adrian."


"Dan apa urusanmu denganku?"


"Bukankah nada bicaramu perlu diperbaiki."


"Terserah saya mau bicara seperti apa, Duke."


Adrian melangkah maju meninggalkan Noah termenung melihat punggung Adrian yang membuatnya bernostalgia akan masa kecilnya.


Apa aku juga seperti itu dulu, batin Noah karena sikap dewasanya yang terlalu cepat datang.


Entah dari mana Leila datang dengan membawa sekeranjang makanan yang baru saja dia beli setelah meninggal Noah dan Adrian yang menyusul Atlas dan Arden.


Leila memberikan roti bertabur bubuk gula halus kepada Arden, "Leila yang terbaik! Hump! Nyam~" Satu gigitan yang tidak bisa Arden tahan lakukanlah.


Untuk Atlas Leila harus mencari makanan yang mengandung sayur untuk anak itu karena gila akan daging. Beruntungnya Leila menemukan kebab disini, yah meskipun pada awalnya Leila pergi dari satu kios ke kios lain membeli kulit, daging, dan sayurannya sendiri.


Melihat makanan yang dia dapatkan ada dagingnya tanpa banyak komentar Atlas menikmatinya. Sedangkan, untuk profesor kecilnya. Leila melihat sesuatu yang masih pas untuk Adrian.


"Apa ini?"


Melihat bentuknya yang aneh dan untuk pertama kalinya Adian lihat.


"Itu crêpe, tidak terlalu manis. Aku jamin. Coba saja."


Adrian mengambil satu gigitan dan merasakan sensasi renyah dan manis dari susu. Rasa yang pas untuk Adrian.


"Terima kasih, Leila!" Seru ketiganya dengan ekspresi khas masing-masing.


"Sama-sama."


Melihat si kembar duduk di dekat berjajar rapi di bawah pohon membuat Leila tidak bisa menahan senyum lebarnya. Melihat mereka makan dengan lahap dan terkadang satu sama lain penasaran akan rasa makanan yang mereka miliki membuat satu ide mereka untuk berbagai beberapa gigitan.


"Adrian, apa itu sangat manis?" Tanya Arden yang melihat Adrian sangat menikmati makanannya.


"Tidak, ini. Cobalah." Adrian menyodorkan makanan tanpa pikir panjang.


"Aku juga mau. Coba punyaku," ucap Atlas yang berada ditengah-tengah Arden dan Adrian.


Melihat interaksi mereka membuat Noah dan Leila tanpa sadar tersenyum. Leila juga tak lupa membelikan sesuatu untuk Noah. Akhirnya uang yang selama ini dia tabung berguna juga.


"Aku belikan jus, maaf aku tidak bisa membelikan teh kesukaanmu," gerutu Leila di akhir dan Noah menerimanya dengan senang hati. Noah dan Leila yang masih berdiri di depan si kembar tanpa disadari menjadi tontonan si kembar.


"Tak apa, terima kasih."


"Huhu, sama-sama," lirih Leila mengingat kembali saya dia menanyakan dimana tempat orang menjual teh Akasha. Tapi, mengingat nominal yang harus dia keluar membuat Leila ingin pingsan detik itu juga.


Bagaimana bisa ada orang menikmati teh seharga tanah perkebunan itu?


Leila lupa jika orang itu berdiri disampingnya dengan menikmati jus yang Leila baru saja berikan.


"Punyamu mana?" Tanya Noah melihat keranjang yang sengaja Leila bawa sudah kosong.


"Aku tidak lapar. Lagi pula aku memberikan ini untuk kalian berempat," jawab Leila dengan wajah yang masih ceria meskipun bayangan tentang harga teh Akasha masih menghantuinya.


Arden menarik gaun Leila menyuruh wanita itu untuk melihatnya.


"Iya, Arden? Apa ingin tambah?"


"Leila, aaa~" Menjulurkan roti bertabur gula halus yang sudah dia gigit.


Melihat sikap Arden yang baik hati dan bibirnya yang penuh dengan gula halus Leila berkata, "Tidak, tidak, inikan punyamu."


"Punyaku, punya Leila juga. Leila, aaa~" Arden  yang masih bersikeras menjulurkan rotinya berharap Leila lekas menggigitnya


Leila tau jika Arden tidak akan makan jika dia tidak menurutinya, "Kalau begitu aku minta, permisi yaa."


Leila yang hentak menyobek roti itu dihentikan Arden, "Gigit saja, tidak apa-apa."


Leila akhirnya harus menurutinya karena Arden berkata jika tangannya pasti kotor. Benar juga sih.


"Leila! Makan juga punyaku!" Seru Atlas dengan semangat. Setelah melihat Leila mengambil satu gigitan punya Arden.


Untuk Adrian tanpa banyak bicara langsung menyodorkan crêpe-nya juga. Melihat tingkah ketiga putranya membuat Noah tidak bisa menahan senyumnya. Melihat bekas noda dari makanan si kembar disudut bibirnya Noah memanggil Leila.


"Leila, itu." Menunjuk noda dengan menunjukkan dirinya sendiri, tapi malah wanita itu mengelap sisi bibir satunya. Karena gemas Noah mengelap sudut bibir Leila.


Melihat interaksi mereka berdua menjadi bahan tontonan para pejalan kaki dan membuat seorang Kakek berkata, "enaknya masih muda."


Mendengar itu tentu saja Leila merasa malu, sedang Noah menganggap ucapakan itu hanya angin lewat saja.


"A-ayo kita kesana saja, hahaha. Aku dengar barang kerajinan disini sangat bagus, haha." Leila lekas mengambil jarak dari Noah dan menunjukkan jalan dimana mereka akan berkunjung selanjutnya.


.


.


.


Kek lihat keluarga harmonis ya (⁠ ⁠ꈍ⁠ᴗ⁠ꈍ⁠)


Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^


See you next chapter guy's 👋😽