
Siapa pun dia.
Dia bukan orang biasa.
Aria terus memikirkan tentang sosok Leila. Bahkan disaat desanya rata oleh tanah dan entah siapa yang berhasil selamat Aria tidak tahu. Bahkan disaat dia seharusnya mampu mencegah desanya diserang oleh sekelompok monster. Aria tidak ada disana, dan disinilah dia berakhir di toko perhiasan dengan ayahnya, Robert Grey.
"Bagaimana dengan ini Aria? Apa kau suka? Ayah yakin kau akan sangat cocok."
Aria melihat perhiasan yang Robert tunjuk. Terlihat menyilaukan dan terlalu berlebihan.
"Aku rasa. Ayah tidak perlu membeli kalung ini. hadiah tahun lalu masih bagus."
"Ayolah, Aria. Hanya kali ini saja."
Melihat Robert memberikan tatapan memohon tentu saja Aria tidak bisa menolaknya hanya bisa mengiyakan saja dan sembari menunggu Robert mengurus perhiasannya. Aria berdiri di depan toko melihat pemandangan kota yang terlihat sangat jelas semua orang hidup dengan rukun disini.
Aria berada di salah satu kota yang dimana dari jarak ini dia bisa melihat mansion yang begitu megah jauh disana. Meskipun terlihat sangat kecil, tapi Aria yakin dia masih bisa menyusun rencana untuk menyusup. Aria juga tak lupa memperhatikan sekitar menyadari jika beberapa kesatria tidak bermalas-malasan dan menjalankan tugas patrolinya.
"Oh? Aria?"
Aria menoleh dan melihat wanita yang sama dia jumpai di hutan. Leila menghampirinya sembari membawa keranjang yang terlihat sudah penuh.
"Tidak, aku lupa lagi," gerutu Leila tanpa sadar, "Maafkan aku, seharusnya aku memanggilmu Nona dan berbicara dengan sopan."
"Tidak, tidak apa. Kita bisa mengobrol dengan santai, tenang saja."
Seperti yang Leila duga. Aria memiliki kepribadian yang baik hati. "Huft, baiklah. Ngomong-ngomong sedang apa kau disini?" tanya Leila tak memperhatikan jika Aria berdiri di depan toko perhiasan.
"Membeli sesuatu dengan Ayahku di sini."
"Count Grey? Wow, kau punya ayah yang perhatian, ya."
Karena dalam cerita 'Sungai Emas Everuz' Aria tak pernah menghabiskan waktu dengan orang tuanya.
"Terima kasih, dia ayah yang hebat yang pernah aku punya," ucap Aria diakhir sebuah senyuman yang bisa Leila sangat mengerti.
"Ya, kenapa kau tidak coba berikan sesuatu untuk Ayahmu?"
"Satu-satunya yang aku tahu dia suka adalah penulis Blue Felix, hahh... Sangat sulit membuat janji dengannya bahkan meminta tolong ke penerbit untuk meminta tolong tanda tangan saja sangat sulit," keluh Aria yang ingin memberi hadiah apa yang ayahnya itu suka.
Leila yang mendengarnya seakan tuli sejenak. Entah kenapa kebanyakan orang yang pernah dia tanya kenapa sebegitu sukanya dengan tulisannya. Sepertinya Leila harus memberikan hadiah yang bagus untuk Rion karena sudah mau membantu menjaga identitasnya. Menaruh kepercayaan kepada keluarganya memang tidak salah.
"Bagaimana dengan membuat puisi atau kue. Aku yakin apa pun yang kau berikan pasti ayahmu akan menerimanya."
"Aku tidak yakin," lirih Aria karena merasa hadiah yang pantas ayahnya dapatkan adalah apa yang sangat dia inginkan.
"Jangan sedih, semangatlah." Leila menepuk punggung Aria menyalurkan semangatnya.
"Terima kasih dan... Apa kau tinggal disekitar sini?" Jika benar dia bisa bertanya tentang wilayah Duke D'Arcy.
"Ya, aku tinggal di sini dan aku baru saja lari dari orang gila." Mengingat kilas balik kejadian tadi membuat bulu kuduk Leila langsung merinding.
"Orang gila? Memangnya disini ada orang gila?"
"Lebih tepatnya perkataan seseorang yang terdengar sangat gila."
"Memangnya dia berkata apa?"
Aria berhasil membuatnya mengingat kilas balik beberapa jam yang lalu.
"Leila, mau kah kau menikah denganku!"
Ya, itu suara Noah dengan nada yang gugup menggenggam kedua tangannya.
Oh, lihat saja ekspresi malu-malunya itu.
Siapa sangka orang seperti Noah akan membuat ekspresi seperti itu.
Tidak sia-sia dia hidup begitu lama.
Leila hanya menatap datar Noah yang sama sekali membuatnya tidak ingin menjawabnya, tapi karena dia temannya maka dia berbaik hati membalasnya.
"Ditolak," ucap Leila tersenyum lebar dengan aura ceria yang membuat Noah terbeku mendapatkan respon tak terduga itu.
"Jika kau sudah bertemu dengan Leila-mu itu. Kau harus mendekatinya bukan malah langsung mengajaknya menikah," ucap Leila menatap Noah yang sepertinya tidak mempunyai pengalaman cinta, mungkin?
"Apa kau tidak pernah berkencan sebelumnya?" Seharusnya orang yang terkenal genius itu mengerti setidaknya hal sederhana macam ini.
Melihat Noah yang tersentak diam. Leila sudah tahu jawabannya. "Hahh... Ini akan sulit. Kau tidak berpengalaman Noah."
Leila merasa lesu melihat Noah yang sama sekali tidak pantang menyerah. Sudah lelah dia dengan semua percobaan ini.
Jika saja Noah tidak memikirkan wanita bernama sama sepertinya, maka Noah berhasil. Leila bohong jika dia tidak merasakan jantungnya berdegup sangat keras hingga dia bisa mendengarnya sendiri.
Kami berdua sudah hidup begitu lama. Jadi, Leila tahu bagaimana perasaan Noah. Tapi, Leila kagum dengan Noah yang masih bertahan untuk mencari Leila-nya.
"Yah, aku pernah." Dikehidupan sebelumnya.
Noah menatap Leila dengan yakin sekarang dan mengambil tangan Leila perlahan dan menatap Leila hingga wanita itu bisa melihat pantulan dirinya di dalam matanya.
"Leila... ."
Oh, tidak.
"... Aku senang akhirnya kita bisa bertemu. Aku merindukanmu."
Leila hanya bisa termenung menatap Noah seakan tidak percaya apa yang baru saja dia lihat dan dengar.
"Maaf, saya sudah punya suami."
Noah langsung pundung dipojokan dengan aura suram yang membuat Leila tidak bisa menahan gelak tawanya.
"Jahat."
"Kan, tidak ada yang tahu. Ini latihan. Jaga-jaga saja jika Leila-mu itu sudah menikah atau mungkin dia bisa saja baru saja lahir sekarang. Oh, kau pedofil ternyata Noah." Menatap jijik Noah yang terlihat semakin tidak terima akan ucapannya.
"HEI! JAGA UCAPANMU ITU YA!"
Setelah pertengkaran kecil itu Leila memilih meninggalkan Noah dan siapa sangka jika dia akan bertemu Aria kembali dilain sisi wilayah Noah.
Leila menatap Aria yang terlihat cantik dengan balutan gaun seperti para Nona-Nona bangsawan. Karena kebanyakan Leila selalu menggambarkan Aria memakai kemeja putih tulang yang mulai menguning dengan rompi kecil. Dimana tempat dia memakai pelindung pada kedua bahunya. Sarung tangan hitam dengan beberapa belati yang dia sembunyikan disol sepatu boot-nya atau di ikat pahanya. Bahkan ketika surai hitamnya yang biasanya dia ikat ekor kuda akan ada diwaktu tertentu dia gerai. Ketika Aria menggerai rambutnya perkataan Ias akan menjadi kenyataan.
"Saudariku, dia akan mengikat pria manapun di dunia ini. Jika dia menunjukkan sisi wanitanya."
Leila rasa itu benar. Mungkin saja salah satu dari si kembar mungkin akan terpikat. Jika itu terjadi Leila akan mendukung karena sifatnya sudah dia ketahui.
Seseorang tiba-tiba menepuk pundak Leila. Naluri bertahan hidupnya berkata dia harus lari. Tapi, itu sudah terlambat. Orang itu mengalungkan lengannya di pinggang dan menariknya mendekat hingga membentur sebuah dada bidang yang terasa sangat keras.
"Mau kemana kau?" tanya Noah menatap Leila yang bisa-bisanya lari begitu saja dari pandangannya. Berhasil membuat wanita itu bungkam seribu bahasa tidak ingin menatapnya.
Noah yang baru saja sadar jika Leila sedang berbincang dengan seseorang dan itu kini sedang memperhatikan mereka berdua. Dari penampilannya dia sepertinya dari kalangan bangsawan, tapi yang mana?
"N-Noah... ." cicit Leila yang merasa waktunya tidak tepat untuk Noah membuat gosip lagi. Sembari mencoba melepas lengan pria itu yang malah semakin mengencang erat memeluknya.
Harus dimana Leila menaruh wajah memalukan ini di depan protagonisnya.
Terlihat jelas jika wajah Leila terlihat sangat memerah karena rasa malu yang tak tertahankan. Terlebih Noah tidak terlihat memakai penyamarannya.
NOAH BODOH!
Ahh, sudahlah aku ingin mati saja.
Ding!
[APA ANDA YAKIN?]
TENTU SAJA TIDAK! INI HANYA KIASAN!!
Noah menatap Aria yang tengah menatap balik padanya.
"Aria, maaf membuatmu menunggu lama dan, D-Duke D'Arcy?! Maafkan saya tidak memperhatikan Anda dan... ."
Count Grey rasa wanita yang sedang Duke peluk sepertinya adalah kekasihnya. Terlebih bahkan usia Noah sudah berkepala tiga, wajahnya masih diangka awal dua puluh. Duke satu ini terkenal juga akan awet mudanya.
"... Count Grey? Sepertinya Anda sedang berbelanja dengan putri Anda, ya?"
Noah mendengar berita tentang seorang Count mengangkat seorang anak dan dia menghormati semua keputusan bangsawan, khusus orang seperti Robert Grey.
Robert tersenyum mendengar jika seseorang membahas tentang putri angkatnya itu, "Ya, perkenalkan dirimu, Aria."
Aria mengangkat gaunnya sedikit dan mulai memberikan hormat kepada orang yang lebih tinggi pangkatnya dari ayahnya itu, "Aria Grey, suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Duke D'Arcy." Diakhiri dengan senyuman menawan yang Aria berikan. Bahkan Leila yang melihatnya saja terpesona. Leila menoleh untuk melihat reaksi Noah, tapi apa yang dia dapatkan adalah samar-samar warna netranya berubah. Meskipun itu hanya sekejap, tapi Leila sadar akan hal itu.
Apa Noah melihat jika Aria juga mendapatkan berkat atau apa mungkin ini seperti yang Leila pikirkan?
.
.
.
Noah, jaga matamu nak, sebelum dapet karma dari saya ( ╹▽╹ )
Leila pergi tau rasa lu ya :)
Penyesalan itu diakhir, kalau di awal ngantri
Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^
See you next chapter guys 👋😽