MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan

MIMPI LEILA: Tiga Kemungkinan
S2 - BAB 11: ARIA GREY (8)


Hingga siapa sangka jika Leila harus bermalam. Semua ini karena ajakan Aria yang tidak mungkin bisa dia tolak. Katakanlah Leila seperti rela mati untuk gadis itu, tapi nyatanya tidak. Dia masih rasional.


"Nona, saya pikir ini—"


"Ohh, tentanglah Betty. Ayah pasti mengizinkan. Lagi pula kita di dekat Katedral."


Pelayan bernama Betty hanya bisa menghela napas dan menuruti perkataan Aria. Begitu pun juga penjaganya.


Leila pikir tidak. Robert Grey pasti khawatir. Terlihat jelas bagaimana dia sangat menyayangi Aria.


Lagi pula siapa sangka jika Aria River berubah nama menjadi Aria Grey. Leila menyukai yang pertama, bukan berarti dia tak menyukai yang kedua. Baik yang pertama dan kedua sama-sama Aria.


"Karena kita bermalam disini. Ayo kita minum!" Aria mengangkat bir yang berukuran besar tinggi-tinggi. Leila menatap tidak percaya apa yang dia lihat. Bukankah Aria terlalu muda untuk minum saat ini?


"No-na Aria...." Betty merasa lemas melihat Aria membawa bir. Bahkan penjaganya juga terlihat terkejut.


"Aku pikir ini berlebihan. Kita bisa minum yang lain seperti jus atau—"


"Ayolah Leila, ini hanya bir. Bukan racun yang mematikan." Potong Aria menyenggol lengan Leila dengan sikunya.


"Hahh... Jangan salahkan aku."


Siapa sangka jika dalam satu ruangan cukup besar ini semua orang kecuali Leila tumbang sebelum tengah malam. Leila meneguk gelas terakhirnya, mungkin(?)


Leila memperhatikan semua orang, bagaimana penjaga Aria yang sempat Leila dengar Aria memanggilnya Tobi alias Tobias. Leila memainkan gelasnya dan melihat bagaimana Betty dengan sudah tidur dalam keadaan yang cukup berantakan karena Aria terus melemparnya bantal yang membuat keduanya saling serang dengan bantal. Sedangkan Tobias.


"Saya tidak siap, Count!"


Suara lantang seperti tentara membuat Leila tersentak dan melihat si penjaga itu bangun dan tidur lagi. Sepertinya minuman yang Aria bawa sedikit bermasalah malam ini.


Leila membaca dengan cermat kertas yang tertempel pada label bir. Tahun pembuatannya, hingga lambangnya. Dari baunya memang tidak bermasalah.


"Ugh... Leila~"


Aria tiba-tiba bangun dan memeluknya. Penampilannya seperti anak gadis yang selesai berpesta.


Pandangan Aria yang masih kabur samar-samar melihat gelas di depan Leila yang seperti terisi air mineral dan meminumnya dalam sekali teguk. Leila hanya bisa menghela napas. Sekali lagi. Aria tenggelam dalam minuman memabukkan ini. Sudah berapa botol yang mereka habiskan.


"Huwaa! Wow, Leila ada banyak."


Lihat, dia mabuk lagi.


"Tidurlah." Leila mendorong wajah Aria untuk tidak memeluknya, tapi semakin erat gadis itu memeluknya.


"Ughh! Sakit brengs*k!"


Leila tertegun sejenak dan membiarkan Aria terus berceloteh.


Aria yang mengambil botol bir kosong dan berdiri dengan posisi botol bir dia sarungkan seperti sebilah pedang.


"Katakan padaku cepat! Kau ini... Siapa? Kenapa kau bersama itu?!"


Leila sontak memutar kepalanya, menatap Aria yang berdiri tegak disamping. Dalam keadaan wajah merah padam Aria berkata kembali, "Kau, kau ini siapa? Kenapa masa depan bisa berubah, huh?! Katakan padaku sebelum ku menebasmu!"


Itu adalah kata-kata yang biasanya Aria katakan untuk menakuti musuhnya. Itu tandanya Aria masih memberi musuhnya kesepakatan untuk hidup.


Netra biru azure itu gemetar karena tak percaya. Sekarang Leila dalam keadaan seratus persen sadar. Apa yang baru saja dia dengar bukan angin lewat begitu saja. Ini bukan seperti yang dia pikir, kan?


"Hehehe, Leila." Aria kembali memeluk Leila dan mengarahkan botol itu ke dagu Leila seakan sedang mengancamnya.


"Katakan padaku." Dengan suara yang Aria buat seperti anak kecil, "Apa yang dilakukan itu? Apa mereka mengancammu? Apa mereka mereka membuatmu jatuh dalam ilusi? Katakan Leilaa~ katakan~" Aria mengguncang tubuh Leila dengan kasar yang membuat wanita itu sama sekali tidak fokus.


"A-Aria..." Dengan berani Leila bertanya, "Apa maksudmu ?"


"Eh? Kau tidak tahu? Kau hidup dimana sih? Mereka itu penjahat yang menyerang beberapa...."


Aria terus berceloteh tentang kehidupannya dulu. Itu sama persis seperti yang ada di dalam buku. Hingga siapa sangka jika akhir di dalam buku sangat jauh berbeda dengan kisah sebentarnya.


"Aku, hiks... Bahkan jika Dewa Dewi membenciku dan membuatku ke dalam ke waktu sebelum malapetaka itu terjadi. Setidaknya biarkan aku mati dengan tenang."


Lelah.


Aria ingin tidur.


Sebentar saja.


Dia hanya ingin tidur sebentar saja tanpa perlu mengkhawatirkan apa pun saat membuka mata nantinya.


Pemandangan mayat yang menggunung sudah biasa untuk Aria. Aria hanya ingin melihat desa Kilkast yang hidup seperti semula.


Leila mengerti. Dia mengerti semuanya. Apa yang harus dia katakan?


- Bukankah kau hanya perlu menipu lagi dan lagi?


Suara itu datang dan tepat seperti sebuah tangan melingkar dilehernya. Leila melirik dengan hati-hati sosok itu.


- Bukan begitu... Kakak.


Leila menutup kembali matanya dan mengambil napas dalam-dalam dan mulai menghitung dalam pikiran.


Satu... Dua... Tiga...


Bahkan jika Leila harus menghitung sampai seribu sekali pun, dia akan.


Setelah menangis dan mengatakan semua apa yang ada dikepala Aria tertidur pulas. Hingga siapa sangka jika sang surya sudah mulai mengintip dengan malunya dari ufuk timur. Diantara celah gunung dan rindangnya pepohonan.


Leila mengayunkan tangannya dan berkata, "Hilangkan."


Aura kuning keemasan keluar dari tangannya dan melayang perlahan menuju kepala mereka bertiga. Leila harus menghapus ingatan mereka bertiga mengenai malam ini. Termasuk juga Aria, dia harus menghapus ingatan pembicaraan mereka ini. Bahkan tidak menutupi kemungkinan jika Tobias dan Betty juga mendengarkannya.


Ding!


[‼️PERINGATAN ‼️]


Suara notifikasi itu Leila abaikan. Terlalu banyak hal yang dia pikirkan sekarang.


Cahaya matahari masuk disela-sela jendela. Leila memperhatikannya. Jika apa yang Aria katakan benar, maka Aria di depannya adalah tokoh protagonis dari cerita 'Sungai Emas Everuz' yang sudah melihat akhir ceritanya.


Ini diluar ekspektasinya. Bahkan tak sekalipun Leila terpikirkan jika Aria akan memiliki akhir seperti itu.


Ding!


[DEWA KEMATIAN TERSENYUM LEBAR MELIHAT PENGETAHUAN ANDA YANG BERTAMBAH.]


Leila melirik dengan sinis layar pipih transparan yang melayang di depannya. Hanya dirinya yang bisa melihat sistem ini dan kemungkin besar hanya dirinya yang bisa berkomunikasi dengan Dewa Kematian seperti ini.


"Ini ulahmu, kan?"


Ding!


[DEWA KEMATIAN PENASARAN DENGAN LANGKAH SELANJUTNYA YANG AKAN ANDA AMBIL.]


"Kau pikir aku bidak caturmu, hah?!"


Ding!


[DEWA KEMATIAN SEMAKIN TERSENYUM LEBAR.]


[ANJING PENJAGA GERBANG KEMATIAN MENGGONGGONG DENGAN SEMANGAT.]


[KEMATIAN AKAN DATANG DISETIAP MAHLUK YANG BERNYAWA.]


"Apa mau mu, sial*n!"


Leila sudah tidak tahan dan menggertak. Bahkan jika seseorang melihatnya saat ini berbicara sendiri. Leila tak peduli.


Ding!


[‼️PERINGATAN‼️]


[JIKA ANDA BERTANYA LEBIH JAUH LAGI ANDA AKAN DIKENAKAN HUKUMAN.]


"SIAL*N KAU, STALKER!"


Leila bukan orang bodoh dan dia pernah merasa masa hukuman itu. Leila dibawa ke alam yang sama sekali bukan seperti di bumi. Bahkan itu lebih mengerikan dari nereka. Kau tidak bisa merasakan apa pun. Hanya ruang hampa dimana pijakan tidak ada. Bahkan kegelapan yang total adalah yang bisa Leila lihat selama seratus tahun. Benar, Leila dikurung selama seratus tahun yang sangat berbeda dengan dunia luar yang hanya berjalan sehari penuh.


Bahkan Leila tidak bisa menggunakan kekuatannya. Dia merasa lemah dan ini membuatnya tak berdaya. Dia benci perasaan ini.


Bahkan dalam kegelapan total ini yang bisa Leila lakukan yang termenung diam dan mengingat masa lalunya.


Leila benci mengulang apa yang ada dipikirannya ribuan kali. Kalian harus tahu betapa membosankannya itu.


.


.


.


Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA ^^


See you next chapter guy's 👋😽