
Up pagi dengan season baru, hehehe
Untuk bab kali ini lumayan panjang
Okay, cuss langsung baca aja (~‾▿‾)~
"Selamat pagi, Leila."
"Pagi~"
Sudah berapa lama yang kira-kira Leila tinggal di mansion ini?
Satu dekade?
Terlalu malas untuknya menghitung.
"Bagaimana persiapannya? Apa sudah semuanya?"
"Hanya tinggal mengecek semuanya lagi dan entah apa yang Tuan Muda bawa nantinya."
"Aku harap itu yang normal."
"Aku juga."
Leila hanya bisa terkekeh mendengar pembicaraan Jean dan lainnya yang sudah lelah dengan si kembar yang selalu diluar ekspektasi mereka.
"Oh? Leila!" sapa Jean melambaikan tangannya melihat Leila berdiri tidak jauh dari mereka.
Leila tersenyum dan balik melambai. Melihat Jean sudah memasuki usia dewasanya dan tak lama lagi pasti dia akan menikah.
Menikah?
Leila penasaran bagaimana rasanya.
"Jangan melamun—"
Leila menoleh ke sumber suara dan baru menyadari jika Noah tepat berdiri di belakangnya.
"—Itu tidak baik."
"Kau mengangetkanku, Noah."
"Dan kau menghalangi jalanku."
"Maaf, maaf." Leila menyingkir dan memberi jalan Noah.
Noah yang melihat itu terbesit sesuatu.
Noah melangkah dan berdiri menghadap Leila yang masih berpakaian pelayan khas berwarna hitam putih yang benar-benar menutupi tubuhnya. Bahkan jika dalam hari liburnya Leila memakai pakaian yang tertutup juga.
Inilah salah satu alasan kenapa Noah menyukainya.
Noah mengambil beberapa helai anak rambut Leila yang keluar. Bahkan disaat rambutnya yang tengah disanggulpun, Leila masih nampak menawan dimatanya.
Noah merapikan dan merendahkan tubuhnya untuk berbisik sesuatu yang sangat Noah sadari dari tindakannya membuat Jean dan pelayan lainnya akan membuat gosip baru hari ini.
"Kapan hari liburmu datang?" Noah yang sangat merindukan menghabiskan waktu bersama Leila seperti di desa waktu itu, tapi kali ini jika bisa dia hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja.
Leila melirik Noah dan kembali melirik Jean yang sepertinya ingin berteriak, tapi dia tahan dan perlahan berjalan pergi meninggalkan kami berdua.
Leila melirik kembali Noah, *dia* *sengaja*.
Sebenarnya setelah hari libur yang Dewa Kematian berikan padanya waktu itu, sampai saat ini Leila tak mendapat pemberitahuan tentang kapan dimana hari dia bisa bebas lagi. Lagi pula dia juga manusia, *bukan* makhluk tidak diketahui.
Masih Leila ingat setiap balasan yang sistem berikan padanya.
*Ding*!
\[**INI ADALAH HUKUMAN DARI DEWA KEMATIAN KARENA TELAH MEMBUAT BELIAU LEBIH SIBUK**.\]
Dewa kok sensi.
"Aku tidak tahu. Ini hukumanku, Noah. Lagi pula." Mengalungkan tangannya ke leher pria itu dan menariknya agar lebih dekat dengan wajahnya dan bisa Leila lihat Jean masih mengintip di sana, "Apa kau ingin membuat kesalahpahaman lagi, hm?"
Noah hanya tersenyum mendengarnya dan menarik pinggang Leila lebih dekat padanya juga.
"Jika iya, kenapa? Apa kau tidak suka?"
Lihat bagaimana cara pria itu menggoda. Tidak mempan sama sekali.
"Ya, aku suka diberi sedikit pekerjaan juga. Bahkan disaat aku berbohong tentang pinggangku yang sakit. Aku bisa mengunjungi, Ryuu."
"Bagaimana jika dilain waktu kau mengajakku untuk bertemu dengan Ryu-mu itu."
"Tidak, itu ide yang buruk."
"Ayolah, kita tidak tahu kalau tidak dicoba, kan?"
"Aku tahu isi kepalamu, Noah. Sangat jelas. Kau seperti buku yang terbuka dimataku."
"Hm, benarkah? Lalu." Noah mengangkat tubuh Leila dan menyanggah tubuh bagian bawahnya hanya dengan satu tangan dan tangan lainnya menyanggah punggung wanita itu, "Apa kau juga tahu akan hal ini?"
Netra biru azure-nya yang melebar membuat Noah semakin senang melihat ekspresi itu.
"Kenapa? Terkejut?"
"... Sedikit, lagi pula aku sudah memperkirakannya."
"Cih! Kau curang."
"Hei, hei, jangan cemberut seperti ini." Leila mengelus kepala Noah yang semakin membuat Jean ingin berteriak, tapi dengan dengan sekuat tenaga juga dia tahan, "Sebaiknya kita berhenti sebelum membuat anak itu mati karena lupa caranya bernapas."
Tanpa mengeluarkan suara Noah malah membawa Leila masuk dan membuat mereka berdua bisa mendengar suara seseorang berlari menjauh dari mereka berdua.
"Kau senang sekali membuat anak itu salah paham terus, ya," ucap Leila yang masih dalam gendongan Noah. Lagi pula tidak ada ruginya juga digendong Noah. Dia tidak perlu susah payah berjalan.
"Menghibur orang apa salahnya."
"Ini bukan menghibur, Noah, hahh... Kau ini." Entah kenapa rasanya Noah lebih sulit diatur daripada si kembar sekarang. Rasanya Noah seperti si bungsu yang hanya akan melakukan apapun yang dia mau.
"Ayolah, Leila jangan merusak kesenanganku."
"Baik, baiklah. Kau bosnya."
"Memang aku bosnya."
"Oke, bos. Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Tidak mungkin kau senggang dan dengan suka rela menggendongku berkeliling mansion, kan?"
"Bukan ide buruk."
"Noah."
Menatap tatapan tidak mengenakkan itu Noah terkekeh dan berkata, "Hanya ingin menikmati waktu luang sebelum ke ibu kota."
"Kali ini kalian membahas apa lagi?"
"Hanya masalah kecil. Kau tahu, tunawisma semakin banyak akhir-akhir ini dan itu datang dari wilayah barat."
Leila mencoba mengingat kembali tentang masalah diwilayah barat yang ada dalam novel.
Mungkinkah masalah tentang Benua Alora?
Tidak, yang ada benua itu tenggelam dan tidak ada satu pun yang selamat malahan.
Apa mungkin perang saudara itu, ya?
"Tidak bisakah mereka tidak bermigrasi besar-besaran ke Kerajaan Everuz? Masih banyak kerajaan lain yang bisa mereka pilih atau jangan-jangan karena itu." Leila menatap Noah yang sudah seperti yang sudah dia duga, "Itu kau, kan?"
"Aku tidak melakukan apa pun?" Langkah kakinya berhenti dan menatap Leila.
"Ini tentang ketenaranmu itu. Bahkan dari sekian banyak bangsawan yang memiliki wilayah hanya kamu yang memiliki penduduk terbanyak dan juga termakmur."
"Jangan tatap aku seperti aku melakukan kejahatan. Aku hanya menjalankan tugasku dengan baik."
"Hahh... Noah, Noah, kau ini pria yang terlalu baik." Rasanya beban dipikirannya bertambah satu lagi sekarang.
"Aku tidak."
"Ya, kau."
"Tidak."
"Kepala batu."
"Ya, ka—, Aaa!!!"
Leila tiba-tiba berpindah gendongan dari Noah ke Atlas yang main merebutnya dan dengan kembarannya disetiap sisi Atlas.
"A-Atlas, pelan-pelan," gumam Leila yang jantungnya belum siap mendapat serangan mengejutkan.
"Maaf, Leila." Suara bass-nya yang menjadi salah satu pertanda kedewasaan Atlas bisa Leila dengar.
Leila yang dalam gendongan dengan salah satu tangan Atlas disela kaki Leila dan lainnya berada disekitar daerah punggungnya, "Kalian cepat sekali sudah kembali. Apa sudah selesai latihanmu?" Menatap anak yang memiliki fisik paling unggul diantara kembar lain.
"Seperti biasa, aku bisa mengalahkan mereka semua," jawab Atlas dengan mengangkat sedikit dagunya dan menunjukkan senyuman penuh kebanggaannya.
"Bagaimana denganmu, Arden? Apa ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Leila kali ini ke si kembar yang terlihat memiliki kesan *softboy*.
"Aku tidak tahu. Ini masalah baru."
"Ayolah ini hanya sebuah kertas. Jangan terlalu banyak dipikirkan," ucap Leila menepuk punggung Arden memberinya semangat, karena mengetahui jika Noah mulai memberikan beberapa tugas kepada Arden.
"Adrian?" Leila mencoba melihat anak yang sudah tumbuh dewasa itu dari balik bau Atlas, yang dimana dia tidak mau turun.
Adrian benar-benar tidak bersuara sejak tadi.
"Ini bukan masalah besar. Hanya perlu membuat Pak Tua itu terluka lain kali."
Leila yang tak tahan dengan sikap Noah, langsung melompat turun dari gendongan Atlas, dan memukul kepala pria itu.
"Sudah aku katakan berulang kali jangan terlalu keras kepada mereka! Kau ingin merasakan tinjuku lagi, huh?!"
Kilas balik bagaimana Leila pernah meninju Noah hingga membuat terbang sejauh ratusan meter. Karena selama Leila liburan selama sebulan Noah membuat pelatihan khusus untuk si kembar, dan khususnya Adrian yang memiliki bakar sihir yang sangat tinggi.
Si kembar yang melihat Noah tidak bisa membalas perbuatan Leila bersemangat dalam hati dan tersenyum melihat kemalangan Noah.
*Rasakan itu, Pak Tua*! batin si kembar secara bersamaan.
"Sudahkah persiapan kalian? Kita akan berangkat dalam kurung waktu sejam lagi."
Noah dan si kembar akan ke istana sebagai acara perwakilan keluarga D'Arcy. Noah yang sepertinya akan terjebak dengan sang Raja dan sedangkan si kembar akan melihat upacara kedewasaan gadis di seluruh negeri.
Sayang sekali. Leila ingin sekali melihat siapa wanita berhasil menarik perhatian si kembar.
"Tidak bisakah kau ikut, Leila." Arden menggenggam kedua tangan Leila dengan memberikan ekspresi memohon.
"Sayangnya tidak. Jika pun bisa aku akan memberitahu kalian."
Sekarang sudah lima jam berjalan mereka pergi dan kini Leila tengah menghabiskan waktu bersama Alex. Hanya mengobrol ringan membahas tentang Harry yang semakin hari semakin tua.
"Alex, kau seharusnya melihat disaat itu. Aku melihat Harry pernah terkena jebakan si kembar saat kecil."
"Memangnya Tuan Muda melakukan apa kalau boleh tahu?"
"Mereka memasang kotoran Rakun dan membuat... ." Alex dengan setia mendengarkannya. Lagi pula ini kesempatan juga baginya dekat dengan Leila. Meskipun sepertinya Leila tak berencana untuk menjalin sebuah hubungan.
Mereka berdua saling bercanda gurau kala sore itu. Menikmati perpindahan warna langit. Seperti seseorang baru saja menyapunya dengan kuas berwarna jingga dengan perpaduan warna kuning.
Karena Noah dan si kembar tidak ada di mansion. Para pekerja di mansion bisa bersantai sedikit dan makan besar bersama sebagai keluarga. Leila yang berada ditengah-tengah mereka juga menikmati suasana langka ini.
Sudah berapa lama dia tidak merasakan perasaan ini.
Rasa kekeluargaan ini.
Perasaan aman dan bahagia ini.
Leila merindukannya.
Setelah makan malam penuh dengan canda tawa dan sekali lagi mereka menatap Leila dengan berbagai pertanyaan karena mungkin sikap Noah tadi membuat mereka semakin memikirkan hubungan Noah dan Leila tidak menemukan jalan.
"Leila, jujur saja. Apa kau kekasih Duke?"
Satu suara yang bertanya itu berhasil membuat seisi taman di belakang beberapa kesatria terdiam dan ingin mengetahui kebenarannya juga.
Leila yang melihat wajah serius mereka tidak bisa menahan gelak tawanya yang berhasil membuat mereka tertegun sejenak, "Tidak, tidak. Aku dan Noah, maksudku Duke, hanya teman. Bagaimana kalian bisa menyimpulkan kalau aku ini kekasihnya? Lagi pula dia punya seseorang yang dia cintai." Leila mengambil segelas jus yang membuat semua orang membelalakkan dan tak bisa menahan rasa keterkejutannya.
Hanya satu pemikiran mereka saat ini, "Siapa wanita yang masih Duke cintai dari pada Leila?"
Terlihat jelas bukan, bagaimana Noah memperlakukan Leila dan membebaskan tugasnya dan pergi keluar dari mansion begitu saja.
"Bukankah Nyonya D'Arcy sebelumnya tahu? Duke juga pernah bercerita tentang beliau. Nyonya pendengaran yang baik, ya."
Leila mengingat bagaimana Noah bercerita tentang Rumi dan Noah berkata jika dia sedang mencari Leila. Bahkan setelah menikah, Noah masih mencari Leila-nya.
Leila tidak tahu harus mengucapkan apa lagi tentang Rumi. Bahkan jika Noah tidak mencintainya, Rumi masih memberinya cinta. Jika Leila terlahir sebagai seorang laki-laki dia tidak akan menyia-nyiakan cinta yang diberikan Rumi.
Noah memang bodoh.
Dia menyia-nyiakan orang yang mencintainya.
Mendengar ungkapan Leila membuat semua orang terdiam seribu bahasa. Kebayangkan dari mereka adalah orang baru dan hanya beberapa orang saja yang masih mengingat sosok Rumi Seena.
Mereka yang mengingatnya, terkhusus Harry yang bisa melihat bagaimana Rumi Seena yang tabah dan penuh kesabaran berusaha membuat Duke melihatnya sebagai Rumi bukan sebagai Leila.
*Prang*!
*Brak*!
"Aaakhhhh!!!!"
Bantingan dari meja rias, kursi kecil, dan meja di ruang tamu kecil dalam kamar baru saja dia banting semuanya. Bahkan dengan lengan kecilnya dia ingin menghancurkan kamar ini. Rasanya dia ingin menghancurkan semuanya. Perasaan yang sesak di dada ini, rasa hancur yang dibawa, dan harapan yang tak terbalaskan perlahan membuatnya muak.
"Du—duke." Rumi yang tak kuasa menahan tangisnya ambruk dan berlutut menahan matanya yang terasa sangat panas. Pandangannya yang perlahan mengabur dengan perasaan yang tak tertahankan, "Tolong, lihat saya. Tolong lihat saya dan cintai saya."
Rumi merasa hancur ketika Noah membicarakan Leila-nya. Betapa Noah sangat mengagumi wanita itu. Bagaimana pertemuan mereka begitu ajaib yang dimana Noah sengaja menceritakan semua ini berharap serpihan jiwa Leila yang Rumi punya bisa membuat ingatan jiwa terdalamnya muncul.
Suara yang gemetar karena rasa sedihnya yang tidak bisa tahan, dengan teriakan menyayat hati membuat orang bertanya-tanya.
Apa yang sudah wanita malang itu lalui?
Harry yang berdiri di ambang pintu melihat semua itu. Bagaimana Rumi yang sangat frustasi ingin mendapatkan cinta Duke. Bahkan Harry sering kali mendengar jika Rumi selalu menyebutkan wanita bernama Leila.
*Nyonya pantas mendapatkan cintanya*.
*Siapa Leila*?
*Siapa wanita rendahan itu*?!
Hingga siapa sangka sesaat setelah kepergian Rumi Seena kembali ke kediaman keluarganya yang hanya tersisa saudari dari pihak ayahnya hingga meninggal. Setelah kabar kepergiannya tak pernah sekalipun Noah berkunjung ke makamnya.
Wanita yang merawat Tuan Muda dan tinggal dipinggiran Hutan Berkabut memiliki penampilan seperti seorang anak bangsawan dan yang terpenting dia memiliki nama Leila.
Harry percaya adanya kebetulan di dunia ini, tapi bukankah ini terlalu berlebihan.
Nyonya D'Arcy, Rumi Seena pergi meninggalkan ketiga putranya dan datanglah wanita yang memiliki nama yang selalu membuat Rumi Seena frustasi yang ingin sekali mendapatkan cinta Duke.
Rumi Seena bahkan berusaha mendapatkan perhatian Duke dan dengan begitu mudahnya Leila yang sekarang menjadi pengasuh anak-anaknya begitu mudah mendapatkannya.
Lihat bagaimana Leila begitu mudah membuat Duke tersenyum.
Lihat bagaimana Leila membuat Tuan Mudanya selalu tidak ingin jauh-jauh darinya.
Lihat bagaimana semua penghuni mansion ingin Leila menjadi pasangan hidup Duke.
Lihat bagaimana mereka begitu mudahnya melupakannya Nyonya mereka.
Harry tidak menyukainya.
Dia sangat tidak menyukai kehadiran Leila.
Jika saja Leila tidak pernah muncul dan membuat semua ini terjadi maka, Nyonya-nya pasti akan ada sampai saat ini dan mendapatkan cinta yang dia dambakan.
.
.
.
**Oke, aku disini pingin kalian lihat sisi dari Rumi Seena, kasihan sih, tapi ya gimana lagi ya Noah ya juga keukeh maunya Leila 🥲**
**Kasihan loh Rumi**...
**jadi Harry disini ga benci tanpa alasan karena Leila dateng tiba-tiba dan dekat dengan Noah dan si kembar dan bisa keluar masuk mansion sesukanya okay**
**Makasih ya udah mau singgah dan baca MILA, apa lagi udah ngikutin sampai sejauh ini** ^^
**see you next chapter guys 👋😽**