
Kanaya tampak menekuk wajahnya melihat sang suami yang sudah akan pergi bekerja. Bukan bekerja di kantor dan pulang sore hari, melainkan Melvin akan ada kerjaan di luar kota dan harus pergi meninggalkannya selama 2 Minggu lamanya.
Kanaya sejak tadi enggan melepaskan rangkulan pada lengan suaminya, wajahnya ditekuk sambil sebelah tangan lainnya mengusap perutnya yang sudah semakin membesar diusia 8 bulan ini.
"Mas, kamu tega ninggalin aku yang sedang hamil besar ini sendiri?" tanya Kanaya memelas.
"Ya nggak gitu, Sayang. Aku kan harus kerja, demi kamu dan anak-anak juga, lebih lagi kamu gak sendiri, ada Mami dan Papi." Jawab Melvin mengusap puncak kepala istrinya pelan.
"Kenapa harus dua Minggu, Mas? itu terlalu lama untukku, bagaimana jika nanti aku menginginkan sesuatu?" tanya Kanaya lagi.
Melvin menghela nafas, ia menarik tangan istrinya duduk di sofa lalu menggenggam tangan wanita tercintanya itu.
"Aku akan berusaha pulang secepatnya, Sayang. Aku juga nggak mau berjauhan dari kamu, Daffin dan Adek bayi, tapi ini tanggung jawab." Jelas Melvin dengan lembut.
"Boleh ya aku pergi?" tanya Melvin meminta izin.
Kanaya menundukkan kepalanya dan mengangguk, ia menangis tanpa suara dengan hati yang berusaha untuk kuat. Entahlah, kehamilannya kali ini memang sedikit berbeda, ia jauh lebih manja kepada suaminya bahkan seringkali menangis.
"Sini, cium Papa dulu!" pinta Melvin membuka tangan.
Kanaya memeluk Melvin dengan kepala mendongak, hal itu tentu dimanfaatkan oleh Melvin untuk memberikan kecupan di kening dan bibir sang istri.
"Lho, kamu belum berangkat juga, Vin?" tanya Mami Yuli yang baru saja selesai menidurkan Daffin.
"Mi, Daffin tidur?" tanya Kanaya melihat ibu mertuanya datang sendiri.
"Iya, baru saja dengan Opa nya." Jawab Mami Yuli mengangukkan kepalanya.
"Vin, pesawat kamu kan sebentar lagi." Ujar Mami Yuli mengingatkan.
Melvin mengangguk, ia tatap sekali lagi istrinya lalu memberikan senyuman manis. "Aku berangkat ya," pamit Melvin mengusap kepala Kanaya.
Kanaya menganggukkan. Ia melihat suaminya mencium tangan Mami Yuli kemudian benar-benar pergi meninggalkan nya untuk bekerja selama dua Minggu.
"Jangan sedih, Nay. Nanti Dedek nya ikut sedih," tutur Mami Yuli mengusap perut Kanaya pelan.
***
Hari-hari Kanaya lalui semangat meski tanpa suaminya, karena bagaimanapun jarak yang memisahkan tak membuatnya dirinya lost contacts dengan sang suami, mereka selalu telepon atau panggilan video untuk menghilangkan kerinduan dihati masing-masing.
Saat ini Kanaya sedang bermain di rumah keluarga Pramudya, tepatnya di rumah sang kakak. Kanaya dan Nadia duduk di teras belakang rumah sambil memperhatikan Daffin dan Ardian yang bermain bersama.
"Ya gitu deh, Kak. Aku suka nangis malam karena rindu sama Mas Melvin, tapi aku bisa apa." Ujar Kanaya mengeluarkan isi hatinya.
"Kakak tahu, Nay. Ditinggal suami pergi disaat kita sedang butuh kasih sayang ekstra itu sakit, tapi suami kamu kan pergi untuk bekerja dan itu sudah menjadi tanggung jawab nya. Aku juga sering ditinggal Reno, dan so pasti sedih tapi mau gimana lagi." Timpal Nadia mencoba memberi pencerahan kepada adiknya.
"Iya, Kak. Baru 5 hari Mas Melvin pergi dan aku masih harus sama 9 hari lagi. Ternyata rindu itu memang berat." Ujar Kanaya diakhiri helaan nafas pelan.
Tiba-tiba suara terkekeh terdengar dibelakang Nadia dan Kanaya, keduanya menoleh dan ternyata Reno lah pelakunya.
"Jadi ceritanya ada yang lagi cosplay jadi Dilan nih!" celetuk Reno mendapat cubitan maut dari istrinya.
"Kamu, jangan berani-berani gangguin adekku ya!" tegur Nadia dengan tajam.
Reno memeluk istrinya dari samping, tak lupa ia juga menciumnya agar istrinya itu tidak marah apalagi jika ancaman yang paling ditakutkan nya terjadi, yaitu tidak mendapat jatah malaman.
"Ck, kalian membuatku semakin rindu Mas Melvin." Celetuk Kanaya melihat keromantisan kakak dan kakak iparnya itu.
Nadia dan Reno sama-sama terkekeh membuat Kanaya semakin menekuk wajahnya. Andai saja ada Melvin disana, Kanaya pasti sudah mengadu dengan manja.
"Jangan ditekuk gitu wajahnya, Buk." Ledek Nadia mencubit pelan pipi bumil yang semakin chubby itu.
Kanaya hanya bisa melengos, ia akhirnya memutuskan untuk pulang karena waktu pun sudah semakin sore dan Daffin belum mandi. Kanaya berpamitan pada Nadia dan Reno kemudian segera pergi.
Tak butuh waktu berjam-jam untuk sampai ke rumahnya, Kanaya dan Daffin langsung masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum." Salam Kanaya saat masuk ke rumah.
"Waalaikumsalam. Wahh cucu Opa sudah pulang, bagaimana mainnya?" tanya Papi Heryawan pada sang cucu.
"Senang, Opa!!!" jawab Daffin dengan antuasias.
"Nay, kamu pasti lelah. Mending kamu istirahat gih, oh iya Melvin ada hubungin kamu hari ini?" tanya Mami Yuli.
Kanaya terdiam, ia baru ingat jika suaminya belum menghubungi nya sejak pagi, dan selama beberapa hari terakhir, Melvin tak pernah lupa untuk sekedar menyapanya lewat chatting sekalipun.
"Belum, Ma. Aku juga baru ingat jika Mas Melvin belum telepon aku," jawab Kanaya semakin murung.
"Mi, coba hubungi Melvin. Kericuhan disana semakin meresahkan!" ucap Papi Heryawan seketika membuat Kanaya menatap mertuanya dalam.
"Maksud Papi, kericuhan apa?" tanya Kanaya panik.
"Nay, di Kalimantan saat ini sedang ada kericuhan antar warganya dan daerah suami kamu berada ikut terdampak kericuhan. Beberapa tempat terbakar," jawab Papi Heryawan.
Jantung Kanaya serasa ingin copot, jadi ini alasan mengapa ia begitu khawatir sejak Melvin ingin pergi. Suaminya, suaminya pasti akan baik-baik saja.
Kanaya meraih ponselnya, ia mencoba menghubungi Melvin namun tak mendapat jawaban.
"Hiks … Mi, Mas Melvin akan baik-baik saja, 'kan?" tanya Kanaya menatap ibu mertuanya sendu.
"Kami juga masih belum tahu, Nay." Jawab Mami Yuli ikut khawatir.
Kanaya jatuh terduduk di sofa, ia meremat rambutnya sendiri sambil terus menangis, perutnya mulai terasa tidak enak karena tegang mendengar kabar yang diberitahu oleh mertuanya. Namun rasa sakit itu dikalahkan oleh rasa khawatir, Kanaya tak meringis ataupun mengadu, yang ia pikirkan adalah suaminya.
LANJUT GAK? PENASARAN NGGAK???
MASIH ADA EKSTRA PART YA🥰🥰