Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Vina dan Rey


Setelah berbaikan tadi, kini Kanaya dan Melvin sama-sama masih berbaring dengan posisi saling memeluk. Kanaya tampak bersandar nyaman di dada suaminya, sementara Melvin memejamkan mata sambil mengusap kepala turun ke bahu istrinya.


Melvin tiba-tiba membuka mata, ia memegang dagu Kanaya lalu mengangkatnya hingga kini mereka saling menatap.


"Siap-siap gih." Tutur Melvin membuat istrinya kebingungan.


"Siap kemana, Mas?" tanya Kanaya tak paham.


"Katanya mau nyusul Nadia sama yang lain, ayo kita pergi!" jawab Melvin mengajak.


Kanaya menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau kesana, Mas. Aku mau di rumah saja, sama kamu dan Dedek." Tolak Kanaya seraya mengusap perut besarnya.


"Yakin?" tanya Melvin mengatupkan kedua belah bibirnya.


"Iya, Mas." Jawab Kanaya yakin.


"Baiklah, kita jalan-jalan berdua aja yuk. Cari makanan yang sedang kamu mau, mau makan apa?" tanya Melvin membuat Kanaya tampak berpikir.


"Makan … makan ini." Jawab Kanaya menunjuk bibir Melvin.


Bukan karena semata-mata merayu suaminya, tapi entah mengapa ia merindukan bibir kissable suaminya ini.


Melvin terkekeh, ia menangkup wajah Kanaya lalu menyatukan kedua belah bibir mereka. Mengajak bergelut lidah yang diimbangi dengan tarian-tarian penuh candu bagi keduanya.


Sementara itu di tempat lain, sepasang kekasih bersama kedua temannya sedang asik berlibur di kota lautan api. Bagai double date, keempatnya begitu serasi untuk satu sama lain. Namun Nadia dan Reno memang sudah bertunangan, sementara Rey dan Vina hanya sebatas atasan dan bawahan.


Kini mereka sedang pergi ke kebun strawberry, melihat bagaimana cara menanam dan tak lupa menikmatinya juga.


"Sayang sekali tidak ada Kanaya, padahal dia suka sekali dengan strawberry." Ujar Nadia sedikit murung.


Reno yang mendengar itu lantas merangkul bahu tunangannya, ia mencubit pipi Nadia dengan gemas.


"Lain kali kita kesini lagi, ajak Kanaya beserta anaknya dan anak kita, mungkin." Tutur Reno dengan nada begitu manis diakhiri kedipan mata genit pada calon istrinya itu.


"Apa sih!" desis Nadia malu-malu mendengar ucapan Reno.


Reno terkekeh melihat wajah malu-malu Nadia, calon istrinya begitu menggemaskan sehingga terkadang membuatnya tak tahan ingin cepat menikah.


Sementara itu Rey dan Vina sedang menanam strawberry di dalam pot. Dengan menggunakan peralatan perkebunan, Vina begitu cekatan membuat Rey benar-benar tak bisa mengalihkan pandangannya.


"Istri gue cantik banget." Celetuk Rey seketika membuat Vina menoleh.


"Apa, Pak?" tanya Vina merasa mendengar sesuatu.


Rey terkekeh, ia melihat ada noda di pipi dan kening gadis itu. Dengan lembut Rey menyeka noda itu hingga kini wajah Vina kembali bersih.


Sementara Vina berusaha menetralkan rasa gugupnya, bekerja dengan Rey memang menyenangkan, selain gaji yang besar, sifat atasannya itu juga baik. Namun dibalik itu semua, Vina selalu berusaha menyiapkan mental nya ketika Rey terus saja menggoda atau memperlakukan nya dengan berbeda.


"Hey, kenapa?" tanya Rey menyadarkan Vina dengan menepuk pundak Vina pelan.


"Hari semakin panas, ayo kita pulang!" ajak Rey tanpa permisi langsung menggandeng tangan Vina.


Vina hanya nurut saja ditarik oleh Rey, ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana, namun ia seringkali merasa tidak enak pada Nadia dan Reno, ia takut pasangan itu berpikir aneh tentangnya dan Rey.


"Pak Rey, tidak enak jika dilihat Nadia dan Reno." Ucap Vina melepaskan tangannya dari genggaman Rey.


"Haha, iya Sayang. Terserah kamu saja," celetuk Rey membuat mata Vina membola mendengar nya.


Vina segera berjalan mendahului, sesaat kemudian entah karena apa tiba-tiba Vina tersandung dan hampir saja terjerembab ke tanah jika Rey tak buru-buru merengkuh pinggang nya.


"Astaga, Pak!" pekik Vina berusaha melepaskan tangan Rey namun tak bisa.


"Hmm, masih gak mau digandeng aku? atau mau kaya gini aja? Coba bayangin kalo jatuh gimana tuh?" ujar Rey menunjuk dengan pandangan mata ke arah batu tak terlalu besar namun lancip di sana.


Vina menoleh, ia bergidik membayangkan jika kepalanya sampai berkenalan dengan batu itu. Sesaat kemudian ia kembali menatap Rey yang juga ternyata sedang menatapnya.


Keduanya terkunci dalam tatapan masing-masing, bahkan saat Rey semakin merengkuh pinggang nya membuat Vina reflek mengalungkan tangannya di leher Rey.


"Romantis banget kita ya, berasa di drama Korea?" tanya Rey dengan asal.


Namun siapa sangka Vina sempat mengangguk sebelum akhirnya gadis itu buru-buru menggelengkan kepalanya.


"Pak, lepasin. Nanti gak enak di lihat Nadia dan Rey apalagi warga sekitar." Pinta Vina berusaha menjatuhkan tangan Rey.


"Biarkan saja, siapa tahu kaya di novel, kita bisa dinikahi mendadak." Balas Rey menaik turunkan alisnya.


"Pak Rey!!" tegur Vina membuat Rey hanya bisa terkekeh.


Tak lama Reno dan Nadia datang, mereka tampak sedikit terkejut melihat bagaimana Rey dan Vina yang begitu dekat.


"Ekhmmmm … tempat umum, Mas!" celetuk Reno membuat keduanya sadar dan langsung saling menjauh.


"Apaan sih lo, gue sama Vina gak ngapa-ngapain!" balas Rey sewot.


"Iya nggak ngapa-ngapain, cuma peluk aja." Timpal Nadia tertawa.


"Nggak, Nad. Tadi Pak Rey cuma tolong aku yang mau jatuh," jelas Vina jujur.


*Ya sudah lupakan, ayo kita kembali ke penginapan." Ajak Reno kemudian berjalan duluan bersama Nadia.


"Hehehe, padahal enak ya peluk kaya tadi?" tanya Rey membuat Vina hanya bisa diam saja.


REY TOLONG JANGAN BUAT ANAK ORANG TREMOR YA 🤣🤣


BERSAMBUNG.....................................................