Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Ketenangan hati


Kanaya dan Melvin baru saja sampai di rumah, mereka langsung pergi ke kamar dan berganti pakaian, awalnya Melvin hendak kembali ke kantor, namun ia urungkan setelah mendengar ucapan Nadia saat dirumah Kanaya tadi.


Kini Melvin sedang duduk menunggu istrinya selesai di kamar mandi, sambil menunggu Kanaya tiba-tiba ponselnya mendapatkan notifikasi dari Sesha.


"Vin, kamu dimana? Meeting sudah dimulai."


Melvin tak berniat membalas, ia melemparkan ponselnya ke ranjang. Tak lama setelahnya, Kanaya keluar dari kamar mandi dan sudah berganti pakaian.


"Kamu mau aku buatkan sesuatu?" tanya Kanaya seraya menghampiri Melvin.


"Enggak, sini duduk. Ada yang ingin aku bicarakan," pinta Melvin menepuk sofa disebelahnya.


Kanaya menurut, ia duduk disebelah Melvin seraya menatap suaminya dengan tatapan bingung.


"Kenapa?" tanya Kanaya membuka pembicaraan setelah Melvin cukup lama terdiam.


"Kamu merasa terganggu dengan sikapku selama ini, 'bukan?" tanya Melvin membuat Kanaya terdiam.


Kanaya menghela nafas, ia membalas tatapan Melvin lalu menganggukkan kepalanya.


"Kak, selama kita menikah sikap kamu selalu berubah-ubah, aku sebagai istri kamu tentu terganggu, tapi aku berusaha untuk menerima semuanya, mamahami kondisi kamu agar tidak marah apalagi membenciku." Jawab Kanaya halus.


"Aku gak akan paksa kamu untuk bersikap baik, aku hanya ingin kamu hargai sebagai seorang istri, bukan hanya sebagai seorang pemuas." Lanjut Kanaya lirih.


Melvin terlonjak, ia terkejut mendengar ucapan Kanaya barusan. Jujur, ia memang belum sepenuhnya menerima pernikahan ini, namun jika dianggap hanya menjadikan Kanaya sebagai pemuas tentu itu tidaklah benar.


"Naya, kapan aku mengatakan bahwa kamu hanya sekedar …"Melvin tak melanjutkan kalimatnya, ia masih terkejut dengan ucapan Kanaya.


"Dengarkan aku, Naya." Pinta Melvin seraya menggenggam tangan istrinya.


Kanaya mengangkat wajahnya, ia menatap Melvin dengan tatapan berkaca-kaca, sejujurnya ia pun tak berani mengatakan hal demikian pada Melvin, namun karena tak ingin semakin menjadi beban pikirannya, maka Kanaya harus mengatakan.


"Aku tidak pernah menganggap mu seperti apa yang kamu tuduhkan, meski awalnya aku belum menerima pernikahan ini, tapi aku berusaha Nay, waktu yang selama ini aku bicarakan, dan kegiatan yang selalu kita lakukan adalah salah satu bentuk usaha aku untuk menerima mu." Jelas Melvin panjang lebar, ia semakin menggenggam tangan istrinya.


Kanaya masih diam, ia berusaha menahan air mata dan rasa pusing yang kembali menyerangnya.


"Kamu mengatakan ini semua setelah tahu bahwa aku stress dan berakibat pada kandungan ku?" tanya Kanaya menatap Melvin dalam.


"Seandainya aku gak hamil, kamu juga gak akan nikahin aku, 'kan?" tanya Kanaya lagi seakan memojokkan Melvin.


"Nay." Tegur Melvin yang enggan membahas masalah lain.


"Maaf, Kak. Tapi semua ini benar-benar mengganggu pikiranku." Lirih Kanaya sebelum akhirnya air mata itu tak dapat ditahan olehnya.


Melvin mengusap kepala Kanaya lembut, ia menggeser duduknya lalu memeluk Kanaya yang semakin kencang menangis. 


"Sssttt … Sudah, baiklah maafkan aku jika sikapku terlalu labil, jangan stress Nay, kasihan anakku, aku sudah berjuang membuatnya." Tutur Melvin berusaha mencairkan suasana.


"Kak!" tegur Kanaya membuat Melvin terkekeh.


Melvin semakin mengeratkan pelukannya, ia usap sambil sesekali ia ciumi kepala Kanaya sampai si pemilik mendongak menatap Melvin.


"Apa aku boleh meminta sesuatu?" tanya Kanaya serius.


"Hhmmm, tentu saja. Apa yang kamu inginkan?" tanya Melvin mengira Kanaya ngidam.


"Cintai aku jika itu memungkinkan." Jawab Kanaya membuat gerakan Melvin yang sedang merapikan anak rambut Kanaya terhenti.


Melvin kembali menatap mata Kanaya, ia mengusap dagu Kanaya dengan lembut lalu mengecup singkat bibir istrinya sampai Kanaya memejamkan matanya.


"Tentu saja, dan itu pasti." Balas Melvin membuat Kanaya membuka mata dan tersenyum.


Kanaya kembali memeluk Melvin, ia berdoa semoga sikap baik dan manis Melvin saat ini tidak kembali berubah setelah ia membuka matanya nanti. Kanaya tak sadarkan diri dalam pelukan suaminya. Rasa pusing bercampur ketenangan hati yang hari ini didapatkannya sangat sepadan.


"Nay." Panggil Melvin merasakan Kanaya diam dan berat tubuh istrinya ia yang menopang nya.


Melvin menundukkan kepalanya, terkejut melihat Kanaya tak sadarkan diri. "Nay, bangun Nay!!" pinta Melvin menepuk pelan pipi Istrinya.


DITINGGAL ISTRI NYAHO KAMU VIN🙄


BERSAMBUNG........................................