
Kehamilan kedua Kanaya sontak membuat Nadia dan Vina sama-sama bahagia mendengarnya. Kedua ibu muda itu langsung datang ke kediaman Atmadja untuk sekedar memberikan ucapan selamat kepada Kanaya.
Saat ini Kanaya, Nadia dan Vina sedang duduk di ruang tamu rumah Atmadja, mereka berbincang di sofa sementara anak-anak main di lantai beralaskan karpet bulu lembut.
"Nay, ya ampun selamat ya. Semoga dapat anak cewek biar Arsha ada temannya." Ucap Vina sambil mengusap perut Kanaya yang masih rata.
"Pengennya gitu, Vin. Biar sepasang deh anaknya," sahut Kanaya terkekeh.
"Dijaga baik-baik kandungan ya, Nay. Astaga aku masih suka nggak nyangka jika kita sudah menikah bahkan memiliki anak." Celetuk Nadia seketika membuat Kanaya ikut teringat.
Andai kata insiden malam itu tidak terjadi, mungkin saat ini dirinya masih mengejar pendidikan sebelum bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun takdir menentukan jalan yang terbaik meski caranya salah. Dipertemukan oleh pria baik dan begitu bertanggung jawab seperti suaminya. Kini Kanaya sangat bahagia, hidup bersama suami dan anak-anaknya kelak.
"Heh, kok melamun?" tanya Nadia memukul pelan bahu adiknya.
"Aku lagi mikir kalau nggak nikah sama Melvin mungkin aku masih mengejar pendidikan sebelum mati-matian cari kerja." Jawab Kanaya diakhiri helaan nafas.
"Meski aku dan Mas Melvin bertemu dengan cara yang kurang baik, namun takdir tak akan mempertemukan tanpa adanya maksud, ternyata aku memang jodoh untuk Mas Melvin. Jika dulu aku menyesal karena kesalahan satu malam itu, kini aku bersyukur karena pria itu adalah Mas Melvin yang sangat mencintai dan bertanggungjawab sepenuhnya atas hidupku." Lanjut Kanaya dengan mata berkaca-kaca.
"Eh kok jadi mellow gini sih?" tanya Vina menjadi ikut teringat akan bagaimana suaminya yang rela melepas sebagian saham perusahaan hanya untuk dirinya.
"Kalian lebih beruntung dari aku, aku lebih menyusahkan suamiku. Rey harus rela melepas sebagian saham perusahaan nya hanya untuk orang tua ku yang gila harta." Celetuk Vina membuat Nadia dan Kanaya langsung menatapnya.
"Bisa saja Rey menjadikan aku istri dan budaknya, namun tidak demikian. Rey justru saat mencintaiku, bahkan ia memberikan banyak kebahagiaan dalam hidupku yang penuh tekanan ini." Lanjut Vina menundukkan kepalanya guna menyembunyikan air matanya.
Kanaya mengusap punggung Vina, ia paham bagaimana perasaan wanita itu.
"Sudah sudah, ini bukan waktunya untuk menangis. Aku kan jadi ingin menangis juga!" tukas Nadia mengusap ujung matanya yang mengeluarkan air mata.
"Hiks … aku cinta banget sama Reno asal kalian ingin tahu." Lanjut Nadia lirih.
Tanpa ketiganya sadari, sejak tadi ada 3 orang pria yang merupakan suami mereka sedang tersenyum mendengar ucapan istri mereka masing-masing. Dengan langkah pelan, ketiganya mendekati istri mereka lalu memeluknya dari belakang.
"Benarkah?" tanya Reno membuat Nadia terdiam.
Nadia bangkit dari duduknya, ia membalik badan lalu langsung memeluk suaminya. Reno membalas pelukan isyrunya, tak lupa ia berikan kecupan kasih sayang di kepala istrinya.
Sementara itu Vina juga ikut memeluk Rey, mengucapkan kata maaf dan terima kasih atas semua yang telah Rey berikan sebagai seorang suami yang begitu mencintai istrinya.
"Apa?" tanya Kanaya pada suaminya yang masih diam.
"Sini." Pinta Melvin meminta Kanaya mendekat dan membuka tangannya.
Kanaya menekuk wajahnya, ia langsung berhamburan ke pelukan Melvin. Kanaya memeluk begitu erat, hal itu sontak membuat Melvin tersenyum sambil mengusap pelan pinggang istrinya.
"Kok kumpul-kumpul malah nangis sih?" tanya Melvin menyeka air mata istrinya.
"Ya gara-gara kamu, kamu sih baik banget, terus cinta dan sayang banget sama aku, aku kan jadi sedih tapi senang juga." Jawab Kanaya seketika membuat Melvin dan yang lainnya tertawa.
"Cium dong." Pinta Melvin menunjuk bibirnya.
Dengan manut Kanaya langsung mencium bibir suaminya seakan lupa akan kehadiran Nadia, Vina, Reno dan Rey disana.
"Heh, woy astaga!!!" pekik Rey membuat Kanaya tersadar.
Reno mengusap air mata istrinya, ia ikut mengecup bibir istrinya. "Pulang, Yuk!" ajak Reno menatap dalam istrinya.
Nadia mengangguk, ia melepas pelukan nya lalu menghampiri Ardian dan menggendong nya.
"Nay, kita balik ya." Pamit Nadia pada Kanaya dan Melvin.
Mendengar itu, Rey pun mengajak istrinya untuk pulang. Alhasil keempatnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Setelah semuanya pulang, Kanaya lantas menghampiri putranya yang masih asik main sendirian. Ia menggendong Daffin yang sontak menangis karena merasa diganggu saat bermain.
"Bobok dulu Sayang, sudah malam waktunya bobok. Iya kan, Papa?" tanya Kanaya menatap suaminya.
"Iya dong, anak Papa kan pintar jadi harus bobok dulu." Jawab Melvin mengusap kepala putranya.
Daffin akhirnya diam meski sesekali masih merengek, Kanaya merebahkan tubuh putranya di ranjang lalu hendak beranjak untuk membuat susu, namun ternyata suaminya sudah membuatkan susu untuk Daffin.
"Loh, Mas. Harusnya aku aja yang buat," ucap Kanaya namun Melvin menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa-apa, Sayang. Ya udah aku mandi ya," ujar Melvin langsung beranjak ke kamar mandi setelah memberikan susu pada anaknya.
***
Melvin baru saja selesai mandi, ia keluar hanya dengan lilitan handuk di pinggangnya. Melvin yang melihat Kanaya sedang berdiri di balkon lantas mendekat, ia memeluk tubuh istrinya dengan erat.
"Makasih ya, Sayang." Ucap Melvin tepat di telinga Kanaya.
Kanaya tersenyum, ia mengusap pergelangan tangan Melvin lalu beralih mengusap wajah tampan suaminya.
"Makasih untuk apa hayoo?" tanya Kanaya usil.
"Makasih untuk dia dan ini." Jawab Melvin menunjuk Daffin yang sudah tidur kemudian beralih mengusap perut Kanaya.
Kanaya terkekeh, ia lantas mencium hidung suaminya dengan gemas. "Ihh kok kamu tampan sih, aku kan gemas!" Celetuk Kanaya seketika membuat Melvin ikut terkekeh.
"Mas, nggak mau jenguk Dedek?" tanya Kanaya menaik turunkan alisnya.
"Boleh?" tanya Melvin balik.
"Boleh sih, tapi nggak mau ah. Kamu harus puasa sembilan bulan." Jawab Kanaya seraya menarik lilitan handuk suaminya lalu berlari masuk ke dalam kamar.
"Sayang!!!!!" erang Melvin membenarkan posisi handuknya kemudian menyusul istrinya.
Melvin melihat Kanaya berbaring bersama Daffin, buru-buru Melvin menyusul, menyusupkan kepalanya di curuk leher sang istri dan menciuminya dengan ganas.
"Mas, hahhaha awww …" tawa Kanaya disertai ringisan saat Melvin semakin mengigit leher suaminya.
"Mau jenguk Dedek, di kamar mandi yuk Sayang!" ajak Melvin membuat Kanaya melototkan matanya.
MASIH ADA LAGI EKSTRA PART NYA YAWW🤪
BERSAMBUNG...................................