Menikah Karena Melanggar

Menikah Karena Melanggar
Bahagia dan sedih


Kondisi Kanaya dan Daffin sudah berangsur membaik, bahkan mereka sudah diperbolehkan untuk pulang, namun dengan syarat rajin mengganti perban luka ditangan Kanaya.


Melvin saat ini tengah mengemas barang istri dan anaknya memisahkan menjadi dua tas. Ia pun dibantu oleh Reno dan Nadia yang saat ini tengah mengurus administrasi.


"Cup … cup … anak Mama kenapa Nak?" tanya Kanaya berceloteh saat anaknya menggeliat.


Melvin yang mendengar itu hanya bisa tersenyum, ia mendekatiku istrinya lalu mengusap kepala Kanaya dengan sayang.


"Anak Papa jika dilihat makin tampan saja, 'ya?" tanya Melvin ikut menatap wajah mungil putranya.


"Enak aja anak Papa, ini anak Mama!" sargah Kanaya dengan wajah cemberut.


"Tapi kan aku yang buat, Sayang." Cetus Melvin asik menggoda istrinya.


"Tapi aku yang lahirkan." Timpal Kanaya semakin sewot.


"Eleh berisik kalian, ini anak gue sama Nadia!!" sambung Reno yang baru kembali setelah mengurus administrasi dan langsung disambut dengan perdebatan gamblang antara suami istri itu.


"Hahaha, iya ya Sayang. Anak kita dia ini," tukas Nadia mengambil alih menggendong keponakannya.


"Enak aja, itu anak kita!!" seru Kanaya dan Melvin bersamaan.


Nadia dan Reno hanya bisa tertawa mendengar ucapan pasangan suami istri itu. Sudah menjadi orangtua, tetapi masih saja sering bertengkar karena hal kecil.


Nadia geleng-geleng kepala, ia kembali memberikan baby D pada ibunya, tak lupa ia juga memberikan kecupan sayang di kepala keponakannya itu.


"Kenapa Nak, Daffin mau punya adik?" tanya Kanaya tiba-tiba.


"Mas, katanya Daffin mau punya adik." Celetuk Kanaya tak masuk akal seraya menarik-narik tangan Melvin.


"Aneh-aneh aja sih Sayang!" tukas Melvin gemas seraya mengusap kepala istrinya.


"Nay, baru juga mau pulang ke rumah masa udah mau nambah adik lagi untuk Daffin." Ujar Reno menatap adik iparnya itu.


"Bukan aku lho, Kak. Maksudnya kalian yang bikin anak, buat adik untuk Daffin." Jelas Kanaya membuat Nadia langsung melirik Reno.


"Kalau buat mah setiap hari Nay, tapi kita harus sabar sampai anak bisa hadir di perut kakak kamu." Ucap Reno seraya mengusap perut Nadia.


Nadia tersenyum kecil, ia menatap suaminya yang sangat ia tahu bahwa sebenarnya pertanyaan Kanaya sedikit membuat Reno tersentak. Nadia tahu bahwa suaminya menginginkan seorang anak.


"Ya udah, yuk pulang!" ajak Nadia meraih tas barang Kanaya diatas bangsal.


Reno membantu membawa satu tas lagi sementara Melvin mendorong kursi roda istrinya. Reno menarik tangan istrinya pelan, ia tersenyum lalu mencium kening Nadia dalam.


"Jangan sedih, mungkin sebentar lagi." Tutur Reno yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Nadia.


Sesampainya dirumah Melvin, mereka disambut oleh Papi dan Mami serta Vina bersama suaminya, Rey. Mereka semua tentu datang untuk menyambut baby D.


"Assalamualaikum." Salam Kanaya dan yang lainnya.


Mami Yuli mendekati Kanaya, ia mencium kening menantunya lalu beralih mencium pipi cucunya.


"Cucu Oma, selamat datang di keluarga Atmadja." Sapa Mami Yuli dengan riang.


"Terima kasih, Oma." Sahut Kanaya menirukan suara anak kecil.


"Naya, berikan cucu Papi." Pinta Papi Heryawan membuka tangannya, sejak tadi ia gemas sekali melihat cucunya yang mungil itu.


Kanaya terkekeh, ia memberikan putranya pada Papi Heryawan, membiarkan sang Opa menggendong cucunya.


"Kanaya, bagaimana kabarmu?" tanya Vina mengusap bahu Kanaya.


"Aku baik, kamu sendiri gimana?" tanya Kanaya balik.


"Baik, Nay. Bahkan saat ini Vina akan menyusul kamu, dia akan segera memiliki anak." Jawab Rey tampak begitu bahagia.


"Astaga!! Kau hamil?!" Tanya Nadia tampak girang.


"Iya." Jawab Vina malu-malu.


Nadia dan Kanaya sama-sama memberikan selamat pada Vina, mereka ikut bahagia untuk pasangan Vina dan Rey. Sebentar lagi keduanya akan menyusul Kanaya dan Melvin untuk menjadi orangtua.


"Selamat, Bro. Tokcer juga celupan nya," celetuk Melvin tanpa difilter.


"Anjirr, untung nggak ada anak lo. Bisa-bisa kupingnya kena dosa dengar ucapan Papanya." Ujar Reno memukul bahu Melvin tidak santai.


"Tau lo, kebiasaan mulut Lo." Timpal Rey tak kalah sewot.


"Ya kan Daffin nggak ada, makanya gue ngomong kasar." Ujar Melvin membela diri.


Reno tiba-tiba melirik istrinya yang tengah menatapnya, Reno melempar senyum yang dibalas senyuman pula oleh Nadia. 


Tiba-tiba suara Mami Yuli terdengar meminta mereka untuk masuk, memang sejak tadi mereka masih di teras rumah saking bahagianya mendengar kabar kehamilan Vina.


"Ayo Sayang." Ajak Reno merengkuh bahu istrinya.


"Aku tahu kamu sedih, tapi aku nggak suka lihatnya. Kamu harus tetap senyum, aku nggak akan pernah paksa soal anak karena itu anugrah dari Tuhan." Ucap Reno menjelaskan pada suaminya.


"Tapi kamu mau punya anak kan, Mas?" tanya Nadia lirih.


"Tentu saja, Sayang. Tapi aku mengerti bahwa semua butuh waktu, terlepas dari itu tujuan pernikahan bukan hanya untuk mendapatkan seorang anak." Jawab Reno lalu mencium dalam kening istrinya.


Nadia tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa mengatupkan kedua belah bibirnya demi menahan tangis yang hendak keluar setelah mendengar ucapan suaminya. Reno sangat pengertian.


MBA NADIA DAN MAS RENO YANG SABAR YA😘


BERSAMBUNG............................................